
Keesokan harinya...
Selesai sholat subuh, Hanna selalu rajin membaca Al - quran, sesuai amanat ayahnya terlebih lagi saat ini kondisi Hanna sedang mengandung, ayahnya menyuruh Hanna untuk sering - sering membaca kitabnya.
Selain untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhannya, juga untuk menentramkan hatinya dari berbagai masalah yang menghadapinya belakangan ini.
Hanna mengecilkan volume suaranya saat melantunkan ayat - ayat suci kali ini, untuk menghargai bu Shinta yang mungkin masih terlelap, tidak seperti saat hidup sendiri di rumahnya dulu, ia membacanya dengan suara keras.
Selesai sholat subuh, Hanna turun ke bawah, ke lantai 1, perlahan dan hati - hati. Ia berjalan mengendap - endap menuju dapur. Ia mencari sesuatu yang bisa di makan saat itu juga, namun, di meja makan, ia hanya melihat buah - buahan saja, melihat isi kulkas pun kosong, saat membuka lemari, ia melihat ada mie instan, ada beberapa butir telur juga di dekat kompor, tapi Hanna merasa mual kalau pagi - pagi sarapan dengan telur.
Dan, akhirnya ia menemukan beberapa biskuit kelapa di dalam sebuah lemari lainnya.
Karena ia merasa lapar, akhirnya ia mengambil biskuit tersebut dan melahapnya sambil mencelupkan ke dalam teh manis hangatnya, serta ia memakan satu buah pisang yang ada di meja makan.
Setelah itu ia mencoba berkeliling rumah dan membukakan tirai - tirai sekeliling rumahnya.
Ketika ia membuka jendela, udara pagi yang sejuk menelusuk ke dalam paru - paru lewat hidungnya.
Ia pun keluar dari rumah dan duduk di teras samping rumah yang berdampingan dengan kolam ikan kecil dengan air mancur.
Hanna mencoba meregangkan otot nya sambil mengatur jalan nafasnya.
Melihat ikan - ikan kecil di kolam membuatnya sangat bahagia, matanya berbinar seperti anak kecil yang ingin menangkap ikan - ikan tersebut dengan tangannya sendiri.
" Kakak, sedang apa ?"
Hanna terkejut, karena tiba - tiba ada seorang anak laki - laki berusia sekitar 5 tahun berdiri di belakangnya dan bertanya padanya.
" Eh, kau sudah bangun ? namamu siapa ya ? maaf kakak lupa !" ucap Hanna.
" Bisma !" jawabnya dengan suara dan mimik yang lucu.
" Oh, Bisma, sini, mau lihat ikan bareng kakak gak ?" tanya Hanna, mengulurkan tangan pada anak itu.
Bisma meraih tangan Hanna dan berjalan mendekat padanya.
Kini Hanna dan Bisma sedang meneliti pergerakan setiap ikan yang sangat bebas berenang di sekitar kolam air mancur itu.
" Lucu ya, kakak jadi mau tangkap satu " ucap Hanna.
" Gak boleh kak, ibu ketua bilang nanti Oma besar marah, ikannya harus tetap di kolam, nanti bisa die alias mati " sahut Bisma sambil menjulurkan lidahnya dan memiringkan kepalanya.
" Aih... benarkah ? memangnya Oma besar galak ya ?" tanya Hanna.
" Emh... sedikit " jawab Bisma sambil merapatkan jempol dan telunjuknya.
" Ekhem.... "
Dari belakang, bu Shinta mencoba memecah percakapan pagi mereka yang terlihat akrab itu.
Saat keduanya menoleh ke belakang...
" Astaga, Oma besar " pekik Bisma lalu bersembunyi di dalam dekapan Hanna.
Hanna tersenyum melihat tingkah lucu Bisma yang nampak terkejut dan ketakutan " Ibu, kami hanya melihat - lihat saja, tidak mengganggu ikannya kok " ucap Hanna sambil mengusap kepala Bisma.
" Hahaha.... kalian ini, sudahlah, aku tidak akan marah kok, Hanna, ayo masuk, masih dingin begini, kau tidak pakai jaket pula "
" Dan kau, anak pintar tapi penakut, cepat kembali ke asrama, nanti ibu ketua pusing mencarimu, cepat sana, nanti siang kau baru boleh main lagi kesini, ok... !!" Bu Shinta membujuk Bisma dengan penuh kelembutan.
Bisma pun bangkit dari pelukan Hanna.
" Kakak, aku nanti kesini lagi, dadah... " Bisma melambaikan tangannya pada Hanna.
Sebelum pergi, Bisma pun membungkuk sambil merapatkan kedua tangannya dan menyimpannya di dada, membungkuk pada bu Shinta juga pada Hanna, setelah itu ia berlari menuju asrama yang lokasinya cukup jauh dari taman rumah bu Shinta.
Kini Hanna dan bu Shinta sudah berada di dalam rumah, bu Shinta mengajak Hanna menuju dapur.
" Kau lapar ? pagi ini aku hanya bisa membuatkanmu telur dadar atau ceplok kalau kau mau, soalnya aku sudah mengosongkan isi kulkas dan dapurku, nanti siang aku akan berbelanja dengan orang yang akan membantu kita disini, mereka sedang dalam perjalanan kemari " ucap bu Shinta.
" Siapa bu ?" tanya Hanna.
" Nanti kau lihat sendiri saja, oh ya, mau telur dadar atau mata sapi ?" tanya bu Shinta kembali.
" Tidak usah bu, aku tidak bisa makan telur pagi hari saat semenjak hamil, lagipula aku tadi sudah memakan hampir setengah bungkus biskuit kelapa dan sebuah pisang, juga dengan teh manis, sudah cukup mengganjal perutku kok bu " jawab Hanna.
" Baiklah, kalau begitu aku buatkan sarapan untukku saja, kau tunggu saja, Aji pasti membelikanmu sarapan di jalan, aku sudah pesan padanya kemarin "
" Bli Aji mau kesini lagi ?" tanya Hanna yang kini sudah duduk di meja makan di depan sisa biskuit yang tadi ia makan beberapa menit yang lalu.
" Iya, bersama orang yang akan membantu kita disini !" jawab bu Shinta.
" Bu, memangnya selama ini ibu di rumah sendirian ? tidak ada yang membantu mengurus rumah ? ibu melakukannya semua sendiri ?" tanya Hanna, mode penasaran.
Bu Shinta yang sudah menenteng sepiring nasi beserta telur ceplok di tangannya pun duduk di kursi dekat Hanna di meja makan.
" Tentu saja ada, aku kan sangat sibuk, mana sempat mengurus rumah, seorang pengurus panti selalu membantuku menyiapkan dan mengurus rumah, hanya saja mulai saat ini aku akan menggantikannya, supaya kau merasa nyaman dan tidak was - was, terutama dalam hal makanan, makanya aku mengosongkan isi kulkasku dan nanti akan menggantinya dengan bahan masakan yang aman dan halal untukmu, jadi kau bisa makan tanpa merasa cemas " ucap bu Shinta.
" Ya Alloh bu, terima kasih banyak ya, aku terharu, ibu sangat perhatian dan pengertian padaku, aku sendiri tidak berani mengungkapkannya karena takut menyinggung perasaan ibu " Hanna mulai berkaca - kaca.
" Aku paham, Siwan selalu memberitahuku kalau kau juga pemilih dalam makanan, tapi bukan karena rasa, itu karena kehalalannya, begitu kan ? di Bali memang kebanyakan non muslim, makanya Siwan kadang kebingungan mencari restoran yang bisa kau makan saat dia mengajakmu pergi makan di luar, dia selalu bertanya padaku tentang restoran yang halal atau tidak, karena aku sudah lama tinggal disini, tentu saja aku tahu... " ucap bu Shinta.
" Benarkah begitu bu ?"
" Kau tidak percaya ya, anakku begitu memperhatikan dirimu luar dan dalam " jawab bu Shinta.
Tok... tok... tok...
Sepersekian detik, terdengar bunyi ketukan di pintu depan rumah bu Shinta.
" Biar aku saja bu, ibu lanjutkan saja sarapannya !" Hanna bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu masuk untuk melihat siapa orang yang berada di luar kini.
Dan, saat membuka pintunya, Hanna begitu terkejut saat melihat seseorang yang berdiri di hadapannya kini ternyata....
" Bi Lastri.... " pekik Hanna.
" Assalamualaikum neng, apa kabar ?" tanya bi Lastri.
" Waalaikum salam bibi, aku baik, ya Alloh bi, aku kangen bibi " Hanna memeluk bi Lastri yang masih mematung di hadapannya.
" Ayo masuk bi !" ajak Hanna.
Bu Shinta yang sudah selesai sarapan pun menghampiri mereka yang kini sudah berada di dalam rumah, di ruang tengah.
Bu Shinta dan bi Lastri berkenalan dan saling menjabat tangan.
" Nah, ini loh Han, bi Lastri, dia yang akan membantu mengurus kita dan rumah ini mulai hari ini " ucap bu Shinta.
" Ya ampun bu, aku gak kepikiran sama sekali ibu bakal membawa bi Lastri kesini " Hanna begitu senang karena dia memang sudah merasa cocok dengan bi Lastri. Selain kegesitannya, masakannya pun enak, juga bi Lastri sering menjadi teman ngobrol Hanna dulu, lebih tepatnya teman curhat.
" Ini semua rekomendasi Aji, dia begitu peduli padamu, dia ingin kau hidup nyaman disini " sahut bu Shinta.
" Bli, makasih banyak ya... " Hanna menoleh pada Aji.
Aji yang merasa gugup di tatap penuh kemesraan oleh Hanna langsung salah tingkah.
" Apa sih, sudahlah, ini, sarapan untukmu, maaf sedikit terlambat " ucapnya sambil menerahkan satu kantong berisi beberapa kotak makanan.
" Terima kasih...!!" ucap Hanna kembali.
" Heem " jawab Aji so jaim.
Hanna dan Aji menuju ruang makan, sedangkan bi Shinta mengajak bi Lastri berkeliling sambil menerangkan apa saja tugasnya dan menunjukkan letak kamar bi Lastri yang berada di lantai 2 dekat dengan kamar Hanna.
Di ruang makan...
" Bagaimana tidurmu semalam ? nyenyak ?" tanya Aji.
" Alhamdulillah, aku merasa relax, mudah - mudahan seterusnya suapaya aku betah " jawab Hanna yang terlihat lahap memakan nasi campur Bali pagi itu.
" Sepertinya kau sudah mulai rampus lagi, mual mu sudah hilang ?" Aji tersenyum senang melihat Hanna yang makan begitu lahapnya.
" Ini karena lambungku sudah baik, lidahku sudah mulai bereaksi kembali melihat makanan enak, intinya aku tidak boleh telat makan, itu karena di yang ada dalam perutku juga membutuhkan sari - sari makanan lebih banyak " jawab Hanna.
" Baguslah, kalau kau mulai terbiasa, emh... Austin bilang dia akan mengunjungimu akhir pekan ini, katanya kau harus periksa kandunganmu, dia yang akan menemanimu pergi ke rumah sakit selain bibi " timpal Aji.
" Kau tidak mau menemaniku juga ?" Hanna terlihat agak kecewa.
" Aku harus pergi ke daerah xxx, ada rapat dengan klien, tidak bisa di tunda, lagipula aku tidak bisa menemanimu masuk ke dalam ruangan kan, jadi, kalian pergi saja tanpaku " jawab Aji.
" Baiklah, bekerja lah yang giat ya, aku akan mendoakanmu semoga kau sehat dan selamat dimanapun kau berada " ucap Hanna.
" Aamiin !!" Aji tersenyum simpul.
" Kau kenapa tidak makan ? ini kan masih banyak !" Hanna menunjuk pada dua kotak makanan lain yang ada di atas meja.
" Aku sudah makan tadi, itu semua untukmu, bibi bilang dia belum bisa menyediakan masakan di rumah ini, dia mengajakku berbelanja siang nanti "
" Boleh aku ikut ?" tanya Hanna.
" Kau tanya saja pada bibi, aku tidak bisa memutuskannya !" jawab Aji.
Hanna cemberut, itu karena ia ragu bu Shinta akan mengizinkannya ikut pergi berbelanja.
Siang harinya, ketika bu Shinta, Aji dan bi Lastri bersiap berbelanja kebutuhan dapur dan rumah, Hanna pun sudah bersiap dengan penampilannya. Padahal tidak ada yang mengajaknya.
" Hanna, bukannya ibu tidak mau mengajakmu, hanya saja, kau nanti kelelahan, berbelanja kebutuhan rumah dan dapur pasti lama, sebaiknya kau di rumah saja, atau bermain di panti bersama anak - anak, bu Rika akan menjagamu, aku sudah katakan padanya " ucap bu Shinta.
" Ah... iya bu, aku paham, aku memang mau pergi ke panti setelah mengantar kalian pergi " ucap Hanna.
" Baguslah, kalau begitu, ayo kita ke depan " ajak bu Shinta.
Bu Shinta dan bi Lastri berjalan beriringan, sedangkan Hanna di belakangnya tertunduk lesu.
Aji yang berjalan di sampingnya menahan tawa.
Hanna menoleh padanya dan mengerlingkan matanya sambil masih memajukan kedua bibirnya ke depan.
Setelah menyaksikan kepergian ketiganya, Hanna yang sudah di temani seorang pengurus panti asuhan bernama bu Rika kini berjalan beriringan menuju ke dalam panti.
Kemarin, karena bu Shinta langsung menyuruhnya istirahat, jadi Hanna belum sempat masuk ke dalam panti dan berkeliling.
Di dalam panti asuhan, saat masuk, ruangan yang pertama kali ia lihat merupakan sebuah ruang tengah yang sangat besar dengan sebuah tv lcd yang besar pula menempel di dinding ruangan.
Di selasar sebelah kiri merupakan ruangan yang terbagi menjadi beberapa kelas sesuai umur, tempat belajar untuk anak paud dan tk yang tentunya di lengkapi dengan mainan edukasi maupun mainan kesukaan para anak balita, ruangan sd yang di lengkapi dengan buku - buku yang tersusun rapih di rak, juga ruangan untuk anak smp dan sma.
Meskipun mereka sudah bersekolah di lembaga sekolah milik pemerintah maupun swasta lainnya, tapi para pengurus selalu membuat jadwal khusus untuk mereka mengerjakan pr bersama ataupun berbagi materi pelajaran bersama setiap harinya.
Selain itu, tidak jauh dari luar ruangan sebelah kiri terdapat sebuah gereja yang merupakan tempat beribadah para pengurus panti dan anak - anak di sana.
Menuju ke selasar sebelah kanan, merupakan sebuah dapur besar dengan ruang makan yang besar pula, terdapat tiga baris meja makan yang berbeda ukuran menyesuaikan umur masing - masing anak di panti asuhan.
" Selain kami para pengurus disini, biasanya anak - anak yang sudah remaja selalu kami ajarkan untuk berbagai cake, cookies, pastry ataupun memasak, laki - laki maupun perempuan kami sama ajarkan, tidak ada perbedaan gender, ilmu dapur pasti sangat bermanfaat kan kalau pun nanti mereka hidup mandiri setelah dewasa dan keluar dari panti asuhan ini " ucap bu Rika.
" Betul sekali bu, wah... ternyata para pengurus disini begitu memperhatikan masa depan anak - anaknya ya " Hanna tersenyum sambil matanya berkeliling melihat beberapa alat dapur yang sangat modern tertata rapih di ruangan tersebut.
Lanjut ke lantai 2, merupakan kamar untuk para anak dan beberapa pengurus panti yang menjaga anak - anak yang masih bayi.
" Kalau nak Hanna mau bertemu dengan semua anak - anak disini, datanglah saat malam hari, mereka pasti sudah kembali ke panti, karena kalau hari minggu, kadang sebagian anak setelah beribadah mereka bermain ke rumah temannya, itupun hanya bagi anak yang sudah remaja " ucap bu Rika.
" Baik bu, nanti aku kembali kesini saat malam tiba " sahut Hanna.
Sementara itu, Hanna tidak menyadari bahwa sejak tadi hp di saku bajunya menyala. Hanna di beritahu oleh bu Rika, barulah ia menyadarinya.
Sebuah nomor telepon rumah masuk ke hpnya, hanya saja Hanna tidak tahu kode dari daerah mana nomor tersebut, dan baru saja Hanna mengangkat panggilan teleponnya, sebuah suara tembakan terdengar di telinganya, beriringan dengan suara jeritan seorang pria di seberang sana, lalu sambungan teleponnya pun terputus.
Hanna merasa shock, selama beberapa saat ia mematung dan tak bereaksi apapun.
" Nak Hanna, kamu kenapa ?" bu Rika mencoba menyadarkan Hanna dengan menepuk pundaknya, dia berpikir Hanna mungkin Hanna sedang di hipnotis oleh oknum pelaku kejahatan lewat telepon yang akhir - akhir ini marak sering terjadi.
" A-aku baik - baik saja bu, aku hanya terkejut barusan ada yang berteriak di seberang sana " jawab Hanna, mencoba menutupi kegugupannya.
Setelah itu, Hanna buru - buru pamit kembali ke rumah bu Shinta dengan alasan perutnya sudah merasa lapar lagi.
Bu Rika menemani Hanna hingga ia masuk ke dalam rumah bu Shinta.
Hanna yang kini sedang duduk di ruang makan di depan makanan yang di bawakan oleh Aji pagi tadi, menjadi tidak bersemangat dan tidak berselera gara - gara kejadian telepon masuk dari nomor aneh tadi.