
Acara resepsi dan ulangtahun Hwan berlangsung sangat meriah meski tidak banyak orang yang menghadirinya. Hanna memang sengaja hanya mengundang saudara kerabat dekat dan para sahabatnya saja dari Bandung, sedangkan dari Bali dia mengundang beberapa saudara bu Shinta, pengurus dan seluruh anak asuhnya di panti. Siwan hanya mengundang beberapa rekan bisnisnya dan sebagian anak buahnya yang ia juga tugaskan untuk berjaga di sekitar resort.
Acara berlangsung sangat intim, antara satu sama lainnya terjalin keakraban dan saling menghargai di tengah perbedaan mereka.
Selesai acara, saat malam tiba, Hanna yang merasakan badannya pegal dan lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah ia selesai mandi.
Tak lama kemudian, Siwan masuk ke dalam kamar.
"Dimana Hwan?" tanya nya pada istrinya yang sedang melamun.
"Ibu membawanya, dia menculiknya, hihi... " jawab Hanna, lalu bangkit dan bersandar pada headboard ranjang.
"Ibu memberi kita untuk menghabiskan waktu malam berdua saja," Siwan mengecup pipi istrinya.
"Sayang, mandi dulu, tubuhmu berkeringat !!" seru Hanna, menahan tubuh Siwan yang sudah siap menerjang ke arahnya.
"Kenapa kau mandi saat aku belum sampai, aku ingin mandi bersamamu," Siwan mengendus rambut Hanna yang wangi yang masih terasa lembab karena belum sepenuhnya kering.
"Mau ku temani?" tanya Hanna, sambil melingkarkan lengannya di leher suaminya.
Lalu tanpa Hanna sadari, tangan Siwan yang sudah berada di bawahnya bersiap mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Malam itu, cuaca terasa panas terlebih lagi lokasi mereka sedang berada di pesisir pantai, mandi berkali-kali pun tidak masalah bagi Hanna, apalagi setelah mereka melakukan aktifitas panas dan penuh gairah yang membuat peluh mereka kembali bercucuran.
Keesokan harinya...
Hanna terbangun dalam keadaan tanpa sehelai pakaian yang menempel di tubuhya, hanya selimut lah yang berhasil menyembunyikan kemolekan tubuhnya saat itu.
Siwan terlalu menggempurnya habis-habisan saat malam kemarin.
Saat terbangun, ia tidak mendapati suaminya di sampingnya. Kemudian ia melihat ke atas nakas untuk mencari hpnya.
Hanna menelepon ibunya dan menanyakan tentang Hwan. Saat ia sedang berbicara di telepon dengan ibunya, tiba-tiba Siwan keluar dalam keadaan basah dan hanya dililit handuk dari pinggang hingga ke lututnya.
"Siapa, ibu?" bisik Siwan.
Hanna menganggukkan kepalanya.
Setelah itu menutup teleponnya.
"Hwan belum bangun, dia semalam tidur pulas," ucap Hanna.
"Sarapan sudah datang, mau sarapan dulu atau mandi dulu?" Siwan duduk di bibir ranjang dan mendekat pada istrinya.
"Aku... " Hanna menjeda ucapannya lalu menyeringai.
"Kau mau melanjutkan sesi latihan kita?" tanya Siwan, mulai menangkap curiga pada raut wajah istrinya.
"Kau tidak lelah? semalam kau melakukannya berkali-kali, aku sampai kewalahan," cetus Hanna.
"Aku ingin secepatnya memberi Hwan adik baru, usiaku sudah tidak muda lagi, selagi staminaku masih kuat, aku tidak akan memberimu ampun barang sedetikpun," Siwan langsung menyambar bibir tipis istrinya yang berwarna pink cherry yang sangat menggodanya. Pagi itu, Hanna harus kembali melayani ***** suaminya yang memang ia inginkan pula. Setiap melihat tubuh sexy suaminya itu, Hanna tidak bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuh dan di sentuh olehnya. Tidak ada halangan lagi bagi mereka untuk melakukannya kini. Justru hal itu menjadi sebuah ibadah dan kewajiban bagi masing-masing.
Selesai sarapan dan mandi, Hanna dan Siwan keluar dari kamar mereka untuk mencari anaknya yang kini sedang bermain di pantai bersama nenek dan kakeknya serta di kelilingi oleh para penjaga mereka.
"Sayang, kemarilah, bubu merindukanmu... " Hanna berlari ke arah anaknya, begitu pula dengan Hwan, ia berlarian menuju ibunya yang kini berada beberapa meter di depannya.
Hwan langsung menelusuk ke dada ibunya.
"Aish... kau pasti menagihnya, kau belum minum susu?" tanya Hanna.
"Di sudah menghabiskan dua botol pagi ini, tapi dia tidak mau makan, hanya dua suap," sahut bu Hani.
"Kau merindukan bubu ya... baiklah, sini, kemarilah... " Hanna mengangkat tubuh Hwan dan duduk di sebuah kursi pantai dengan payung di atasnya membuat orang yang berada di bawahnya merasa teduh. Saat itu, mereka sedang menikmati udara pagi menjelang siang di pinggiran pantai, resort tersebut menyuguhkan pemandangan hamparan lautan dan ombak yang tenang, sebuah resort dengan fasilitas private beach yang merupakan salah satu dari sekian banyaknya milik Siwan di Pulau Bali.
Siwan terlihat sedang mengobrol dengan ayah mertuanya dan adik iparnya, Abdul di kursi lainnya.
Sedangkan Hanna di temani oleh bu Hani, ibunya, karena bu Shinta pulang lebih dulu ke dalam kamarnya di antar oleh bi Asih.
Di sudut kursi lainnya terlihat bi Lastri dan Elsa sedang menikmati camilan sambil terus memantau keadaan di sekitarnya.
"Kau sudah siap hamil lagi? suamimu pasti sudah menanam kembali benihnya di dalam rahimmu, " tanya bu Hani secara tiba-tiba.
Hanna meliriknya dengan wajah bersemu merah.
"Kenapa wajahmu seperti udang rebus, kau malu, hahaha... " bu Hani tertawa.
"Aku tidak pernah membahas hal itu dengan sahabatku, apalagi dengan ibu, aku malu merasa canggung," ucap Hanna yang sedang menyusui Hwan.
"Kau sudah menjadi ibu dan istri, hal semacam itu kau masih perlu edukasi, tapi wajar sih, kau masih pengantin baru, nanti juga kau akan tahu hal apa saja yang perlu di gali lebih lanjut," ucap bu Hanni, kemudian menyeruput orange juicenya.
"Apaan sih ah... " Hanna tambah merasa kikuk.
"Kupikir kau itu orang mesum, dilihat dari sifatmu kau pasti sering menonton dan membahasnya dengan temanmu selama ini, " cetus bu Hani, seolah belum puas menyindir anaknya.
"Makanya, jangan menilai seseorang dari casingnya saja," sahut Hanna.
"Oh ya, setelah makan siang, ibu mau belanja oleh - oleh, tetangga kita pasti mengharapkan sesuatu yang ibu bawa dari sini, secara mereka merasa sedih karena tidak bisa menyaksikan acara pesta pernikahanmu, "
"Ya, jangan lupa belikan mereka yang paling mewah, supaya mereka berhenti menggosipkanku disana,"
Bu Hani terkekeh melihat anaknya yang masih dendam dengan para tetangga julid di kampungnya. Hanna dan keluarganya seolah menjadi primadona kampung mereka yang tiada habisnya para netizen mengorek kehidupan pribadinya sejak ia pulang membawa Hwan ke rumah orangtuanya.
Keesokan hari...
Waktu bergulir lebih cepat, kebersamaannya bersama keluarga dan para sahabatnya harus berakhir hari itu juga.
Mungkin di lain waktu dalam situasi dan kondisi yang berbeda mereka akan kembali bertemu dan saling bercengkerama.
Air mata haru membanjiri Hanna dan ibunya.
Seakan pelukan tak cukup untuk mewakili kesedihan mereka karena harus kembali berpisah.
Hanna, Hwan dan Siwan sedang berada di bandara untunk mengantarkan kepulangan mereka.
Pulang dari bandara, Siwan mengajak Hanna langsung pulang ke kediamannya untuk beristirahat.
Di rumah hanya ada dirinya, Siwan, Hwan, bi Asih dan Seno yang selalu berjaga di pos depan setiap malam.
Elsa kembali dengan tugas barunya yang entah misi apa yang di berikan Aji padanya, dan bi Lastri, ia di beri waktu cuti selama beberapa hari untuk pulang kampung, ikut rombongan keluarga Hanna hingga ke Bandung, dari sana ia melanjutkan pulang ke kampungnya.
Saat malam hari tiba, baru saja selesai makan malam, Siwan mendapat telepon dari seseorang, ia pun mengangkat teleponnya dan pergi dari ruang makan.
Hanna yang sedang membersihkan sisa makan Hwan merasa curiga, karena sebelum mengangkat teleponnya, raut wajah suaminya berubah drastis.
Selesai dengan Hwan, lantas Hanna pergi mencari suaminya yang tak kunjung kembali setelah beberapa menit mengangkat telepon dari seseorang.
Hwan di titipkan pada bi Asih, mereka bermain di ruang keluarga, menonton acara favorit Hwan seperti biasanya. Bi Asih bahkan lupa dengan acara sinetron favoritnya belakangan ini, karena sering menemani Hwan menonton video cocomelon songs dan pinkfong yang terus di putar sebelum Hwan sendiri yang bosan.
Hanna mendapati suaminya sedang duduk di kursi dekat kolam renang.
Ia menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Hanna.
"Entahlah, aku pusing... " ucapan Siwan terdengar ambigu. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
"Kau sakit?" tanya Hanna. Mengecek suhu tubuh suaminya.
"Tidak, bukan karena sakit," jawab Siwan, kemudian bangkit dan menatap wajah istrinya yang selalu mampu menyejukkan hatinya.
"Chagiya, aku harus kembali ke Seoul, ada masalah yang belum aku tuntaskan disana,"
"Lalu?" sela Hanna.
"Aku tidak mau berpisah denganmu dan Hwan, tapi, aku takut kalau kalian ikut, kalian bisa saja dalam bahaya," Siwan menundukkan kepalanya.
"Apa ini tentang keluargamu itu?"
Siwan hanya menganggukan kepalanya.
Hanna menangkup kedua pipi Siwan.
"Kemana pria yang dulu ku kenal, yang selalu terlihat tegas dan kuat," Hanna mencium bibir suaminya.
"Pergilah, aku akan selalu mendoakanmu agar kau selalu selamat, fokuslah pada urusanmu terlebih dahulu, selesaikan secepatnya dan segera kembali, aku yakin, kali ini kau akan kembali, ayahmu tidak akan menahanmu lagi dan membiarkanmu terluka, dia sudah berjanji padaku !!"
Siwan terlihat sangat terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Siwan.
Ia lalu berdecak.
"Ck... ria tua licik itu, pantas saja dia mengizinkan kita pulang, ternyata dia hanya memberiku waktu untuk menyelesaikan urusanku disini,"
"Dia ayahmu, mas, dia butuh pertolonganmu, hanya kau yang dia percaya, bantulah dia, aku yakin kau juga akan mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini, bukankah kau memang ingin menuntaskan misi ini sejak beberapa bulan ke belakang,"
"Apakah aku bisa menjamin kau dan Hwan akan baik-baik saja disini?" terdengar ada keraguan dari nada ucapan Siwan. Ia pun takut bahwa kepergiannya ke Seoul hanyalah pancingan agar istri dan anaknya jauh darinya dan seseorang mungkin akan kembali mengancam keselamatan mereka. Taktik seperti ini seringkali di lancarkan oleh para musuhnya dulu.
"Hei... Insyaalloh, yakinlah pada kekuasaan Alloh, kau ingat, kau sudah menjadi seorang muslim, jangan pernah lelah untuk berdoa pada-Nya, dan jangan pernah meninggalkan kewajibanmu, selain itu, kau banyak memiliki anak buah kan disini, mereka pasti akan menjagaku dan Hwan, ada bli Aji dan Elsa juga kan,"
Siwan memeluk tubuh istrinya dengan ringkih.
"Aku akan segera kembali, secepatnya, tunggulah, setelah itu, kita pergi berlibur, kemanapun yang kau inginkan," ucap Siwan lalu mengecup kening istrinya.
"Baiklah, aku akan menagihnya di lain waktu," pungkas Hanna.
Siwan dan Hanna pun masuk ke dalam rumah mereka karena hawa di luar semakin dingin.
Dua hari kemudian, Siwan di antarkan ke bandara oleh Aji, Elsa, Hanna dan Hwan.
Kali itu, Hanna terlihat murung, kedua alisnya terus berkerut. Bukan karena sedih akan berpisah dengan suaminya, itu sudah pasti tidak perlu di ragukan lagi, hanya saja, yang membuatnya resah ialah kehadiran seseorang yang menemani Siwan kali ini ke Seoul adalah seseorang yang tidak ia duga.
"Mbak, beri saya kesempatan untuk kedua kalinya, saya akan menjaga suami mbak meskipun nyawa taruhannya, saya tahu, mbak pasti masih marah pada saya, mbak tidak mungkin mempercayai saya, tapi saya janji, tidak akan kembali menyiakan kepercayaan mbak dan kak Wan," ucap pria bernama Prasetyo alias Tio, orang yang membantu Austin dalam menjalankan misi balas dendamnya pada Siwan.
Saat itu Hanna dan Tio berbicara empat mata, namun suami dan anaknya serta Aji dan Elsa tidak berada jauh dari posisinya.
"Bawa dia kembali dengan selamat, pastikan dia tidak terluka !!" ucap Hanna lalu meninggalkan Tio mematung di posisinya dan tersenyum senang.
Tio kemudian melangkah menyusul Hanna menghampiri Siwan dan yang lainnya.
Hanna tentu masih merasa kecewa, Tio pun sempat menjadi orang yang dia percaya dulu saat Siwan menugaskannya mengantar jemputnya.
Dan, kali ini, Siwan memberi Tio yang notabenenya seorang pengkhianat, pastilah ada alasan khusus di baliknya yang belum Hanna ketahui karena Siwan belum pernah membahas hal ini dengannya.
Mungkin, pengorbanan Tio untuk Siwan setelah kejadian hari itu yang patut menjadi bahan pertimbangan mereka karena saat berhasil kabur, Tio tidak langsung pergi meninggalkan Siwan begitu saja, dia pun berkali-kali berusaha mati-matian untuk membawa Siwan pergi dari tangam musuh meskipun pada akhirnya gagal.
"Percayalah, Tio tidak akan mengecewakan kita untuk yang kedua kalinya, terlebih lagi, kau harus percaya pada keputusanku ini," ucap Siwan sebelum pergi.
"Baiklah, aku percaya padamu, kau harus tetap berhati-hati, jangan lengah, jangan lupa kabari aku ya, jangan telat makan dan, akurlah dengan ayahmu, dia sudah sangat rapuh, hanya kau yang bisa ia percaya !!"
Siwan lalu memeluknya erat dan menciumnya. Kemudian pergi meninggalkannya dan Hwan dengan wajah sendu.
Hanna dan Hwan kini sesang menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Semoga takdir kembali mempersatukan kita kembali, kau, aku, dan Hwan, harus bahagia, setelah ini. Aamiin!!" gumam Hanna.
Aji dan Elsa pun mengantarkan Hanna pulang kembali ke kediaman Siwan. Elsa dan Aji kembali menemani Hanna di rumah selama Siwan pergi demi keamanan Hanna dan Hwan.
...****...
Bagaimana ini ending ceritanya yaa enaknya.
Masih harap harap cemas othor nih takut berubah pikiran jadi jahat lagi kaya di season 1. Haha...
Mohon maaf ya sekali lagi kalo sekarang jadi lama updatenya padahal udah di detik-detik akhir.
Hehe... setelah ini selesai, othor mau mulai menuntaskan karya othor lainnya, mudah-mudahan tidak mengurangi antusias kalian yaa, nanti jangan lupa mampir di karya aneh othor lainnya.