
Selesai menyimpan barang ke dalam kamar, para gadis turun ke bawah untuk berkeliling sambil berfoto. Hampir di setiap sudut mereka berfoto secara bergiliran. Bisa di bilang norak lah yah.. Hihihi..
Saat melewati dapur, Hanna melihat Aji berada disana, sedang memperhatikan dua orang karyawan resort, karena terlihat dari seragamnya, mereka sedang menyiapkan makan siang untuk para tamunya.
Saat mereka hendak berfoto bersamaan, tentu saja Hanna meminta tolong Aji untuk memfoto mereka.
" Bli, ahjussi, apa dia sedang tidur ?" tanya Hanna.
" Dia sedang tiduran, tapi sepertinya dia belum tidur, katanya mau makan siang bersama dulu. Kau lihat saja sana ke kamar !!" ucap Aji.
Lalu Hanna pergi meninggalkan Aji dan ketiga sahabatnya yang sedang berfoto di belakang di pinggiran kolam renang.
Perlahan, Hanna mengetuk pintu kamar Siwan, lalu membukanya perlahan. Setelah masuk ke dalam, dia lalu menutupnya.
Perlahan dia menghampiri Siwan yang sedang berbaring di atas kasur dengan wajah tertutup oleh sebelah punggung tangannya.
Hanna duduk di sampingnya, dia tidak membangunkannya, dia hanya menatapnya sebentar, lalu beranjak lagi dari duduknya. Akan tetapi, saat ia hendak melangkah, Siwan menarik lengannya dan membuka matanya, lalu menatap kekasihnya.
Hanna berbalik, lalu duduk kembali di samping Siwan.
" Ahjussi, aku pikir sedang tidur. " Ucap Hanna.
" Kemarilah, sebentar saja." Siwan menarik Hanna ke dalam pelukannya.
" Ahjussi, apa kau sedang merasa lelah ?"
" Sedikit, tapi sekarang aku lega, sudah bisa bersamamu lagi. Aku lelah memikirkan mu sepanjang hari, sejak hari itu." Ucap Siwan.
" Maaf, aku langsung marah padamu tanpa mengetahui hal yang sebenarnya."
" Tolong, jangan menjauh lagi, aku tidak sanggup." ucap Siwan, lalu mereka saling bertatapan dan mereka berciuman. Mereka saling merindukan satu sama lain, sebetulnya mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja, tapi tidak lama mereka menghentikannya. Mereka sadar bahwa saat itu, ada orang lain selain mereka yang sedang menunggu.
" Ayo kita makan, aku tunggu di luar ya.. !!" seru Hanna.
" Baiklah, nanti aku menyusul ya !!" ucap Siwan.
Lalu Hanna pun dengan berat hati meninggalkan Siwan pergi keluar untuk menyusul sahabatnya yang terlihat masih asyik berfoto di area pinggiran kolam.
Dan, beberapa menit berlalu, kini mereka semua sudah berada di meja makan, mereka sedang makan bersama. Makan siang yang kelewat siang. Karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita.
Para gadis makan bersama di meja makan berbentuk lingkaran, sedangkan Siwan dan Aji makan di meja bar yang berada di dapur.
Suasana hening dan sepi, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Entah karena canggung atau karena lelah selama di perjalanan tadi.
Lalu, tidak lama seseorang mulai mengeluarkan suaranya.
" Girls, habis ini kita mau kemana dulu ?" tanya Karina yang sudah menyelesaikan makannya.
" Yah, udah pasti kita mantai lah.. kita pemotretan lagi aja dulu.. besok baru kita menyambut sunrise sambil main air di pinggir pantai... Setuju ?" tanya Audrey.
" Aku ngantuk, Rey.. " ucap Yasmin.
" Yas, gak bagus loh udah makan terus tidur, nanti aja tidurnya kalo udah main ke pantai, oke... " ucap Karina.
" Oke deh, tapi aku butuh penyegaran nih, itu, jus lemon punyamu, buat aku ya.." ucap Yasmin.
" Yang kamu kemana ? udah kosong lagi, di buang apa gimana... ?" tanya Karina.
" Ih... kamu mah kaya yang gak tau aja, Yasmin kan kalau makan pasti sambil banyak minum." Jawab Hanna.
" Hehehe... aku bagaikan unta di padang pasir, sini kasih buat aku aja gelasmu.. " Yasmin meminta Karina menyodorkan satu gelas ice lemon miliknya.
Setelah selesai makan, mereka bersiap - siap di dalam kamar masing - masing, berganti pakaian dan tidak lupa memakai tabir surya.
Setelah mereka siap dan berkumpul di ruang tengah, Siwan dan Aji terlihat sedang bersandar di kursi sambil menonton tv.
Hanna menghampiri Siwan dan duduk di sampingnya.
" Ahjussi, aku dan ketiga sahabatku mau pergi ke pantai dulu ya, emh.. kami saja yang pergi, kalian istirahat saja disini, ya.. " ucap Hanna.
" Tidak mau ku antar?" tanya Siwan.
" Tidak usah, kami saja, kalian istirahat saja ya, lagi pula ke pantai tidak terlalu jauh kan dari sini."
" Oke.. bye.. " Hanna tersenyum dan beranjak pergi menghampiri ketiga sahabatnya yang sudah menunggu di ambang pintu.
Sepeninggalan para gadis, Aji dan Siwan membicarakan tentang mereka.
" Kak, ku pikir, pacarmu bukan wanita ya polos seperti yang ku kira...." ucap Aji.
" Kenapa memangnya ?" tanya Siwan.
" Kau tidak paham tentang apa yang mereka bicarakan tadi di perjalanan ? soal film itu ?" tanya Aji.
" Memangnya kau tahu ?"
" Benarkah kau tidak tahu sama sekali ?"
Siwan hanya mengangkat sebelah alisnya dan membenarkan posisi duduknya, lalu memasang raut wajah penasaran menatap Aji.
" Sebaiknya kau nonton sendiri saja filmnya, ini film baru yang masih hangat di perbincangkan. Judulnya fifty shades of ***. Bahkan novelnya, aku sudah membacanya." Aji terdengar membanggakan dirinya.
" Novel. Apa judulnya.. ?" tanya Siwan.
" Ya ampun.. kak.. kau ini.. " Aji menepuk jidatnya merasa tidak percaya Siwan ternyata orangnya kuno dalam hal seperti itu.
Lalu Aji menjelaskan tentang film dan novel yang sedang dia bahas sedari tadi. Dengan seksama Siwan mendengarkannya.
" Makanya kak, kau jangan terlalu fokus dengan pekerjaan mu, kau hanya bisanya membaca IHSG setiap hari." ucap Aji.
" Kau ini, bisnis itu lebih penting bagiku, itu juga untuk masa depan keluargaku nanti. " Siwan membela diri.
" Sudahlah, lebih baik aku menyusul mereka ke pantai saja. " Ucap Siwan sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan Aji sendirian.
Beberapa menit berlalu, kini para gadis yang baru sampai di pinggiran pantai merasa sangat bahagia. Mereka berlarian dan menyentuh air pantai serta bercanda riang bersama - sama. Berfoto di setiap sudut tak pernah mereka lupakan.
" Wah... akhirnya, aku bisa berkunjung ke pantai ini..." Ucap Audrey setengah berteriak.
" Ssstt... jangan norak deh... " sahut Karina.
" Enak ya Na, kamu bisa tiap minggu main kesini.. " Ucap Yasmin pada Hanna.
" Aku sebetulnya jarang, bahkan ini baru pertama kalinya aku ke pantai ini. " ucapan Hanna membuat kaget ketiga sahabatnya.
" Serius, masa sih, udah setahun lebih kamu disini dan ini pertama kalinya menginjakkan kaki di pantai yang indah ini... " ucap Audrey.
" Aku gak begitu suka pantai, apalagi lautan luas. " Ucap Hanna.
" Wah, sayang banget, kalau aku tinggal disini, pasti tiap libur kerja main ke pantai, dari ujung ke ujung Bali pasti aku datangi. " Ucap Karina.
" Iya, terus kerjaan mu berjemur ampe kulit berubah jadi eksotis, terus berharap ada cowo bule yang ngelirik, iya kan.. ngaku deh.. pasti maunya begitu. " Ucap Yasmin.
Hahahaha... mereka tertawa bersama.
Beberapa menit kemudian, karena merasa lelah dan haus, mereka memutuskan untuk membeli air kelapa yang berada agak jauh dari pantai, karena lokasinya terlihat teduh di bawah pepohonan rindang.
Saat mereka sudah berada di lokasi, mereka melihat Siwan sedang duduk santai sambil menyedot air kelapa, langsung dari kelapanya. Siwan yang sudah berganti pakaian memakai kemeja pantai pria dan mengenakan kaca mata hitamnya terlihat begitu berkharisma di mata para gadis itu, terutama di mata Hanna, kekasihnya.
" Ahjussi, sudah lama disini?" tanya Hanna.
" Emh.. sejak sepuluh menit yang lalu. " Siwan melihat jam tangannya sebentar lalu menatap wajah kekasihnya lagi yang sudah duduk di hadapannya.
" Kalian mau minum air kelapa ? silahkan, pesan saja. " Ucap Siwan pada ketiga sahabatnya Hanna.
" Siyap... " jawab Audrey.
Kini mereka sudah fokus dengan air kelapanya masing - masing. Karena kelapanya terlihat besar, maka mereka hanya memesan dua butir kelapa. Audrey dan Yasmin, Hanna dan Karina, mereka berpasangan menyedot air kelapa tersebut hingga habis.
" Kalian terlihat seperti sepasang kekasih.." ucap Siwan menggoda.
" Kau cemburu ya, pasanganmu ku pinjam dulu ya... " Jawab Karina.
" Hahahaha.." Siwan tertawa.
Hanna dan ketiga sahabatnya tidak pernah berhenti bercanda tawa. Dia terlihat sangat bahagia dan natural di hadapan ketiganya, mungkin karena mereka merupakan orang yang paling dekat dengannya dan orang yang sangat ia percayai, makanya dia terlihat begitu ceria di depan mereka. Siwan sangat menyadari betapa lucu dan gemas tingkah pasangannya kali ini. Bahkan dia sendiri merasa bahwa dia ini hanyalah terlihat seperti seorang kakak bagi mereka, yang sedang menemani pergi liburan atau menjaga mereka atau seorang ayah, bagi anak gadisnya.