My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Failed sureprise



Di sebuah mall yang ada di pusat Kota Bandung, Hanna nampak sibuk memilih beberapa tas, sepatu dan baju bersama Siwan.


Meskipun ia sudah menolak, tapi Siwan tetap memaksanya untuk membeli beberapa barang.


Tentu saja, Hanna tidak mungkin menolaknya lagi karena Siwan sudah memasang tampang menyeramkan di wajahnya, ia tidak ingin ada lagi kata penolakan terlontar dari bibir kekasihnya itu.


Setelah puas berbelanja, bahkan tangan Siwan pun terlihat penuh dengan beberapa paper bag, Hanna mengajaknya untuk pulang karena sudah merasa lelah.


Sebelum mengantarkan kekasihnya pulang ke rumahnya, Siwan mengajaknya untuk makan bersama di salah satu rumah makan yang mereka lewati di perjalanan.


Pak Adi pun ikut makan bersama mereka, hanya saja pak Adi duduk di meja berbeda bersama mereka. Padahal Hanna dan Siwan sudah mengajaknya duduk bersama, tapi, pak Adi sepertinya tahu, ada sesuatu yang akan di sampaikan oleh Siwan pada Hanna saat itu.


" Chagiya, besok pagi aku akan terbang ke Bali " ucap Siwan di sela waktu mereka menunggu pesanan datang.


" Apa ada pekerjaan penting ?" tanya Hanna.


" Tidak juga, hanya saja, ada sesuatu yang harus aku urus " jawab Siwan.


" Baiklah, kalau begitu kembali lah, nanti aku akan menyusulmu ke Bali " ucap Hanna.


" Kapan kau akan pulang ?" tanya Siwan.


" Hari kamis pagi, aku akan terbang kesana, tunggulah " ucap Hanna.


" Tentu saja, aku akan menunggumu " sahut Siwan, lalu tersenyum.


" Ah, jangan tersenyum terus di hadapanku, nanti aku jadi diabetes !!" ucap Hanna.


" Ih... setelah manis itu kah senyumanku !!" uhar Siwan.


" Bahkan tidak ada yang akan menyangka kau sudah berumur 40 tahun lebih " jawab Hanna.


" Benarkah, apakah aku terlihat lebih muda dari umurku ?" tanya Siwan kembali.


" Heem... beri aku tips dan triknya, kenapa bisa begini !!" sahut Hanna.


Siwan tertawa terbahak - bahak mendengar pernyataan kekasihnya itu.


Dua jam kemudian, kini Hanna sudah berada di depan pintu pagar rumahnya, ia menurunkan belanjaannya di bantu oleh pak Adi. Ia menyuruh Siwan diam saja di dalam mobil agar orang di rumahnya tidak ada yang melihatnya.


Saat itu, hari sudah gelap, jadi jalanan pun sudah nampak sepi. Pukul 19.15 wib ia sampai di depan rumahnya.


" Assalamualaikum " ucap Hanna saat masuk ke dalam rumahnya.


" Waalaikum salam " terdengar suara ibunya dari dalam kamar, menjawab Hanna tanpa keluar dari dalam kamar.


Hanna pun terburu - buru masuk ke dalam kamarnya yang ada di bagian depan di samping ruang tamu.


" Syukurlah, aman " ucap Hanna.


Ia lalu memasukkan barang - barangnya ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya dan mengganti bajunya secepat kilat.


Tok... tok... tok...


Suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya terkejut.


" Teh, udah makan belum ?" tanya ibunya dari luar kamar.


Hanna buru - buru memasukkan sebagian belanjaannya ke dalam lemari dan menguncinya.


Lalu berjalan menuju pintu kamar dan membukanya untuk menjawab pertanyaan ibunya


" Udah mah, tadi makan di luar " jawab Hanna.


Lalu kembali ke kamar mengambil satu kantong berisi satu kotak cake and pastry yang tadi ia beli di mall.


" Abis dari mana ?" tanya ibu Hanna yang kini duduk di kursi dan melihat Hanna membuka kotak makanan tersebut.


" Tadi abis shopping, hehehe... " jawab Hanna.


" Tumben, udah gak punya baju bagus ya ?" tanya ibunya kembali.


" Iya, udah pada kucel, mau aku bawa ke Bali " jawab Hanna.


Lalu, ibunya mengajaknya mengobrol perihal adiknya selama di Bali. Dan sempat menanyakan soal hubungannya dengan Siwan.


Namun, saat Hanna akan menjawabnya, datanglah ayahnya dan adiknya yang baru pulang dari masjid selesai menunaikan sholat isya berjamaah.


" Assalamualaikum " ucap ayah dan Abdul.


" Waalaikum salam " jawab Hanna dan ibunya.


" Heh, baru pulang, darimana hayo... " tanya adiknya.


" Abis shopping lah... " jawab Hanna.


" Dih, gak ngajak, shopping sama siapa hayo... " tanya adiknya kembali.


Hanna langsung membelalak, adiknya seperti sengaja menggodanya di hadapan kedua orangtua nya.


" Sama Audrey lah, emang sama siapa... " ucap Hanna.


Adiknya tertawa dengan mulut penuh makanan. Ia seperti sudah mencium bau kebohongan dari mulut kakaknya.


" Kenapa Dul, emang kamu pikir dia pergi sama siapa ? pacarnya ? yang mana ? kamu pasti tahu ya kalau si teteh udah punya pacar ?" tanya Ayahnya.


Hanna melotot pada Abdul.


" Engga pak, bercanda " jawab Abdul.


Untuk mengalihkan topik pembicaraan, Hanna bertanya tentang kegiatan adiknya yang kini sudah beberapa hari sejak ia pulang ke Bandung.


Adiknya pulang ke Bandung setelah perjanjian di antara ayahnya dan adiknya di setujui oleh kedua belah pihak.


Ayahnya akan membatalkan rencana untuk memasukkan adiknya ke pesantren, dengan syarat adiknya harus mau membantu ayahnya setiap hari berdagang di pasar membantunya.


Maka, tahun depan adiknya akan di biayai kuliah oleh ayahnya. Bukan tanpa sebab, ayahnya melakukan perhatian berlebih terhadap adiknya. Karena, ia takut anak laki - lakinya terbawa arus pergaulan temannya yang tidak baik.


Salah satu temannya sudah masuk daftar dpo, setelah salah seorang nya lagi di tangkap karena kasus narkoba.


Ayah tidak ingin anak laki - lakinya ikut terbawa - bawa dalam lingkungan pergaulan seperti itu. Meskipun Abdul sudah bersumpah bahwa ia tidak pernah menyentuh barang haram tersebut, tapi ia tetap melarang untuk bergaul bersama teman yang sudah pernah menjadi tahanan kasus narkoba itu. Apalagi, temannya itu belum bertaubat, sudah pernah masuk sel, di keluarkan oleh keluarganya, bukannya bertaubat malah lebih parah merangkap menjadi pengedar.


Ayah begitu ketakutan, karena ia sangat berharap banyak pada anak laki - lakinya. Makanya, ia seolah mengekang aktifitas adiknya di luar sana, bahkan ia sudah melarang beberapa temannya berkunjung ke rumahnya meskipum hanya untuk sekedar mengobrol di halaman.


Ia takut salah satu temannya sedang menjadi incaran polisi, dan menggerebeknya saat berada di rumah mereka. Polisi pasti akan menangkap setiap orang yang ada di sana tanpa pandang bulu. Meskipun mereka tidak ada kaitannya, tetap saja, orang yang berada di tkp pasti akan ikut di ringkus.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, Hanna sudah merasa mengantuk dan lelah setelah seharian pergi bersama Siwan.


Ia pun pamit untuk tidur duluan pada ayah dan ibunya.


Sebelum tidur, ia membersihkan wajahnya terlebih dahulu, menggosok gigi dan melakukan ritual skincare malam sebelum ia benar - benar membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Keesokan harinya...


Selesai sholat subuh, Hanna tidur kembali di kamarnya. Ayah dan adiknya sudah berangkat ke pasar mengendarai motor mereka masing - masing, karena ayahnya pulang lebih sore di bandingkan adiknya yang pulang siang hari.


Pukul 07.00 wib, Hanna terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara dering hpnya berbunyi.


Ternyata Siwan yang menelponnya. Ia memberi tahukan bahwa saat itu sudah berada di bandara akan terbang menuju Bali.


Setelah menutup telponnya, Hanna keluar dari kamarnya dan terduduk di ruang makan, ia menatap meja makan yang masih kosong di hadapannya. Ibunya berada di dapur, sedang fokus memasak.


" Astagfirullah " ucap ibunya yang merasa kaget saat hendak menyimpan piring dan melihat Hanna yang sedang melamun di meja makan.


" Mah, aku masih berhubungan sama dia, aku semakin sulit berpisah dengannya, dia terlalu memperlakukanku dengan baik penuh perhatian, dia selalu menjagaku meskipun dia sedang jauh dariku, bagaimana caranya, aku takut, tidak bisa lepas darinya " ucap Hanna secara tiba - tiba.


Ibunya yang baru satu langkah menuju dapur, menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan seksama curhatan anak gadisnya di pagi hari.


" Lalu, apa kau mau berkorban demi cintamu padanya ?" tanya ibu.


Hanna dengan perlahan memutar kepalanya, menoleh pada ibunya.


Ia begitu terkejut saat melihat ibunya yang kini sudah memegang sebuah pisau besar dan sedang memainkan ujungnya.


" Mah, ngapain itu ?" tanya Hanna merasa ketakutan.


" Gak ngapa - ngapain, mamah cuma mau ngasah pisau, ini udah tumpul kayaknya " ucap ibunya lalu meniup ujung pisaunya.


Tiba - tiba Hanna merasa sakit perut, ia langsung berjalan terburu - buru menuju kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, ibunya mengajaknya sarapan bersama di meja makan.


Sambil melanjutkan obrolan yang tadi tanpa ada pisau di antara mereka.


" Mamah percaya, kau bisa mengatasinya, iman dan rasa cintamu terhadap insan, tidak mungkin kau tukar posisinya di hatimu." Ujar ibunya.


" Aamiin mah, semoga selalu seperti itu " jawab Hanna.


" Sebanyak apapun dosamu, jangan pernah tinggalkan sholat, hanya itu yang menjadi penolong benteng pertahanan imanmu " ucap ibunya.


" Siyap 86 " jawab Hanna.


Selesai sarapan, Hanna membantu ibunya mencuci piring.


" Teh, bagaimana kabar Rayhan ?" tanya ibunya yang sedang membersihkan kompor di dekatnya.


" Baik mungkin !!" jawab Hanna.


" Kamu udah gak pernah ketemu sama dia ?" tanya ibu.


" Sibuk banget dia, udah gitu kayanya dia udah punya pacar, jadi lupa sama aku " jawab Hanna.


" Dih... apaan sih, ngeledek ceritanya ?" tanya Hanna.


Selesai mencuci piring, Hanna pun mandi karena ia berencana mengunjungi sahabat masa kecilnya yang tidak jauh dari rumahnya.


Satu jam kemudian...


Hanna berjalan menyusuri jalanan di kampung halamannya, ia kembali teringat kenangan masa kecilnya dulu saat berjalan bersama sahabatnya sepulang sekolah dan mengaji.


Di sebuah persimpangan jalan...


" Kezia.... " pekik Hanna.


" Hai, Hanna, apa kabar, ih kangen banget aku... " ucap Kezia lalu memeluk Hanna.


" Kebetulan banget ketemu di jalan, aku baru mau ke rumahmu " ucap Hanna.


Lalu mereka berdua berjalan menuju rumah Kezia.


Di rumahnya, ada ibu Kezia dan bayinya yang sudah berumur 7 bulan.


" Ya ampun Hanna, makin cantik aja " ucap ibu Kezia.


" Apa kabar bu, sehat ?" tanya Hanna sambil tersenyum.


" Alhamdulillah sehat " ucap ibu Kezia.


Lalu selanjutnya ibu Kezia banyak bertanya tentang pekerjaan dan kehidupannya di Bali. Mereka mengobrol sambil mengasuh bayi Kezia yang sedang di beri makan oleh ibunya.


Selesai memberi makan bayinya, ibu Kezia mengajak cucunya itu bermain di halaman dan memberi kesempatan bagi Kezia dan Hanna untuk mengobrol berdua.


" Kez, gak nyangka ya kamu sekarang udah bisa ngurus anak, dulu padahal kamu paling cuek masalah beginian, di suruh ngasuh adik aja kamu sering kabur - kaburan ke rumahku " ucap Hanna.


" Yaelah, ya masa sekarang anak sendiri mau di telantarin gitu aja Na, semua butuh proses, kamu kapan nih, eh btw udah ada calonnya belum ?" tanya Kezia.


" Aku, entahlah, masih belum kepikiran, rumit, masalah asmaraku tidak semulus pantat bayi " ucap Hanna.


" Hahaha... ada - ada aja lu, terus kamu masih suka ketemu sama a Rey gak ? eh dia udah punya toko sendiri sekarang, dia udah gak kerja lagi di perusahaan xxx. " Ucap Kezia.


" Wah, yang bener, sejak kapan ?" tanya Hanna.


" Kamu beneran gak tahu, udah gak pernah ketemu sama dia ?" tanya Kezia kembali.


" Udah lama juga kayanya gak ketemu, ngasih kabar juga engga, sibuk sama kegiatan masing - masing. Nanti kalau kembali ke Bali aku samperin dia deh " jawab Hanna.


" Ck.. ck.. ck... katanya cinta pertama, ampe bela - belain nyusul dia jauh - jauh ke Bali " ucap Kezia.


" Dia udah punya pacar kayanya, lagi pula, aku juga udah punya pacar juga kok " sahut Hanna.


" Masa sih, gak mungkin ah, dia udah cinta mati sama kamu !!" ucap Kezia.


Hanna merasa terkejut mendengar perkataan sahabatnya.


" Apaan sih, jelas - jelas dari dulu dia selalu nolak aku " sahut Hanna.


" Lain di mulut, lain di hati kali, aku seratus persen denger dia curhat soal kamu sama suami ku pas terkahir dia pulang ke sini " ucap Kezia.


" Tapi kenapa, alasannya apa, dia dulu selalu menghindar tentang perasaannya sama aku, Kez " ucap Hanna.


" Mungkin dia hanya belum percaya diri Na, kalau kamu masih memberinya kesempatan, aku yakin, dia pasti akan maju terus, apalagi usianya udah cukup buat dia ke jenjang yang lebih serius " jawab Kezia.


" Entahlah Kez, aku, di hatiku udah ada seseorang yang menggantikan posisi Rey, tapi aku masih belum terlalu yakin " ucap Hanna.


" Kenapa, masalahnya apa ?" tanya Kezia.


...****...


Setelah pulang dari rumah Kezia, Hanna lalu merebahkan dirinya di kasur. Ia mencoba mencerna kembali obrolannya tadi tentang Rayhan dan Siwan.


Lalu, Hanna memutuskan untuk kembali ke Bali besok pagi.


Ia memesan tiket pesawat lewat online dan memberitahu ibunya kalau dia akan pulang besok pagi.


" Kenapa buru - buru, katanya mau pulang kamis pagi ?" tanya ibu.


" Iya, aku lupa harus datang ke acara undangan manager toko, malu kalau gak hadir !!" ucap Hanna.


Memang sebetulnya ada undangan di hari Rabu sore dari bu Merry sang manager tempatnya bekerja. Acara ulang tahun anaknya. Apa penting bagi Hanna ?


Tentu saja tidak, itu hanya alasan agar dia tidak selalu berbohong pada ibunya. Soal dia datang atau tidak, kita lihat saja nanti.


Keesokan harinya, pagi hari pukul 06.30 wib, Hanna sudah berada di bandara di antarkan oleh ayah dan ibunya. Sedangkan adiknya tetap menjaga toko milik ayahnya di pasar.


" Hati - hati ya, jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Bali !! seru ibu.


" Iya mah, pasti !!" jawab Hanna.


Beberapa jam berlalu, kini Hanna sudah sampai di Bali. Ia lalu pulang menuju rumahnya dengan mengendarai taxi karena merasa lelah terlalu banyak barang bawaannya dari Bandung.


Di dalam taxi ia menelpon ibunya, memberitahu bahwa anaknya sudah sampai dengan selamat.


Setelah menutup teleponnya, ia berniat untuk menelpon Siwan untuk memberitahu juga. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyimpan hpnya ke dalam tas. Ia berpikir akan memberinya kejutan seperti yang Siwan lakukan padanya tempo hari.


Sesampainya di depan rumah, sang supir taxi membantu Hanna mengeluarkan koper dan tas dari dalam bagasi.


" Terimakasih banyak ya bli " ucap Hanna pada sang supir taxi.


Lalu ia masuk ke dalam rumah. Dan, hal yang pertama kali ia lakukan adalah menelpon Aji. Dia bertanya tentang posisi Siwan saat ini.


" Kau di mana ?" tanya Aji.


" Aku, di Bandung, lagi di rumah, cuma mau tahu aja ahjussi di mana sekarang, soalnya aku chat belum dia balas dari tadi !!" ucap Hanna berbohong pada Aji.


" Dia, sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis " jawab Aji.


" Iya di mana, daerah mana, apa di sana tidak ada sinyal sampai ahjussi belum membalas pesanku dari tadi ?" tanya Hanna kembali.


" Di jalan xxx di cafe xxx sebrang gedung xxx " jawab Aji tanpa rasa curiga apapun.


" Owh... dia sedang sibuk sepertinya, yasudah, kalau begitu terima kasih ya, bye... " ucap Hanna lalu menutup teleponnya.


Setelah berhasil mendapat alamat lokasi Siwan berada, Hanna pun terburu - buru memesan taxi online untuk pergi menghampiri Siwan.


Sambil menunggu taxi datang, ia mebereskan beberapa makanan yang ia bawa dari Bandung ke dalam kulkas. Koper berisi baju - bajunya hanya ia taruh di dekat pintu kamar.


Ia lalu bergegas keluar rumah setelah taxi yang ia pesan sudah datang.


" Pak, ke jalan xxx ya " ucap Hanna pada pak supir.


Ternyata lokasinya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 10 menit bagi Hanna untuk sampai di lokasi tersebut.


Setelah turun dari taxi, Hanna bergegas menuju pintu masuk cafe dengan perasaan riang gembira karena akan memberi kejutan pada kekasihnya.


Namun, saat ia beberapa langkah lagi hendak menuju ke dalam cafe, ia melihat Siwan sudah berjalan menuju keluar, dan, di belakangnya ada seorang wanita yang mengikutinya.


Hanna langsung bersembunyi di antara deretan mobil yang terparkir di sana.


Ia mengendap - endap melihat Siwan dari kejauhan yang sedang berjalan menuju mobilnya bersama wanita itu. Dan, mereka berdua masuk ke dalam mobil.


" Rekan bisnis, sangat cantik, sexy lagi " ucap Hanna di balik mobil sambil berjongkok melihat mobil Siwan keluar dari halaman cafe.


Saat mobil Siwan sudah menjauh, Hanna langsung menghentikan taxi yang lewat di depannya. Ia langsung masuk ke dalam.


" Pak, tolong ikuti mobil yang ada di depan sana ya, tapi jangan sampai ketahuan, ya " ucap Hanna.


" Baik nona " jawab pak Supir.


Setelah beberapa menit mengikuti mobil mereka, akhirnya Siwan berhenti di sebuah villa. Mobil Siwan masuk ke dalam halaman villa tersebut.


" Pak, tolong tunggu di sini ya, jangan kemana mana, aku turun dulu sebentar " ucap Hanna.


" Baik, saya tunggu " ucap pak Supir.


Hanna pun turun dari taxi dan berjalan mengendap - endap menuju pintu gerbang villa.


Dari kejauhan, ia mengintip di balik lubang pagar. Ia melihat Siwan dan wanita itu turun dari mobilnya, lalu berjalan menuju pintu masuk. Namun, mereka tidak segera masuk, mereka mengobrol di depan pintu.


Dan, setelah beberapa menit mengintip, Hanna begitu terkejut karena melihat mereka berdua berpelukan.


Ia merasa tidak percaya akan apa yang ia lihat dengan mata kepala nya sendiri.


" Ahjussi... " ucap Hanna, lalu tanpa terasa air mata menetes dan mengalir di pipinya.


Dan, saat Siwan mulai masuk kembali ke dalam mobilnya, Hanna pun terburu - buru masuk ke dalam taxi dan pergi dari lokasi tersebut.


Di dalam taxi ia melamun dan bersandar di sandaran kursi dengan lemas.


" Apa mungkin dia adiknya, tapi... wajahnya terlihat seperti sudah berumur " ucap Hanna.


Supir taxi berkali - kali menatap Hanna lewat kaca spion nya.


" Lebih baik di tanyakan saja, daripada berburuk sangka, siapa tahu memang adiknya " ucap sang supir taxi.


" Entahlah pak, tadinya aku yang baru tiba di Bali ini ingin memberi kejutan padanya, tapi malah aku yang merasa di beri kejutan tak terduga olehnya " jawab Hanna.


Sesampainya di halaman rumah, Hanna berjalan dengan lemas menuju pintu masuk rumahnya. Dan saat ia hendak masuk ke dalam, dari belakang, ada seseorang yang memanggilnya.


" Hanna... "