My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Mabuk



WARNING,, mengandung adegan 21+


Kepada readers di bawah umur, tolong sadar diri !!


Malam itu, di sebuah ruang karaoke berukuran small, Aji nampak mencoba menelpon seseorang lewat hpnya.


Layar kaca tv di ruang karaoke tersebut masih menyala namun tidak ada yang memegang mic sama sekali untuk bernyanyi. Suasana nampak sepi, hanya terdengar bunyi tuut... tuut... di telinga Aji yang masih mencoba menelpon seseorang di hpnya.


Aji pikir Hanna tumbang, tak sadarkan diri karena dia bersandar pada sofa tanpa bergerak sama sekali setelah sebelumnya berkali - kali memukul Aji dan meracau di depannya.


Tuut... tuuut...


" Hallo, ada apa Ji... ?" tanya orang di seberang sana...


" Hallo, Ji... ?" orang di seberang sana kembali memanggil Aji karena Aji tidak menjawabnya.


Aji mematung... dia terkejut karena mendapat serangan secara tiba - tiba. Hanna mendaratkan bibirnya di bibir Aji. Hanya beberapa detik, Hanna menarik kembali bibirnya perlahan dan kembali meracau.


" Kau sudah tidak mencintaiku lagi, kau tidak mau menciumku, ish... " Hanna kembali menjauh dari Aji, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Aji tersadar, dia pun menyahut orang yang masih belum mematikan telepon darinya.


" Hallo Bram, buruan kesini, bawa mobil, lokasinya nanti gua kirim lewat whussup !!" ucap Aji lalu mematikan teleponnya dan mengetik sesuatu di hpnya.


Saat menunggu Bram datang, Aji mencoba mengechek kondisi Hanna. Dia membetulkan posisi duduk Hanna.


" Sepertinya dia tak sadarkan diri... " ucap Aji. Dan, dia pun kembali menidurkan Hanna di atas sofa lalu menyelimutinya dengan jaket miliknya.


Aji pun duduk menjauh darinya, sambil terus memperhatikan Hanna.


Selama satu jam lebih Aji menunggu Bram, akhirnya dia datang juga.


" Ji, kenapa ? tanya Bram.


" Dia mabuk... bla... bla... bla... " Aji mencoba menjelaskan kronologis kejadiannya.


Saat Aji dan Bram mengobrol, tanpa mereka sadari Hanna kembali terbangun karena mendengar suara berisik mereka yang sedang berdiskusi.


Hanna merasa tenggorokannya kering, dia melihat sebotol minuman yang isinya masih ada walau hanya sedikit, Hanna langsung meneguknya kembali dan, dia kembali bersendawa.


Aji dan Bram terkejut, mereka langsung menoleh pada Hanna yang berada di belakang mereka.


" Hehe... hai, hallo... mau minum ?" tanya Hanna, dan tidak lama kemudian dia pingsan setelahnya.


Aji mengernyit dan menghampiri Hanna terburu - buru.


" Bram, motor gua di parkiran utama nih kuncinya " Aji menyerahkan kunci pada Bram.


Aji menggendong Hanna di punggungnya, di ikuti Bram di belakangnya yang membawakan jaket dan tas milik Hanna. Mereka keluar dari ruang karaoke tersebut menuju parkiran mobil yang di bawa oleh Bram.


Setelah memasukkan Hanna ke dalam mobil..


" Ji, lu gak mabuk kan ? hati - hati bawa mobilnya " ucap Bram.


" Tenang aja, gua gak mabuk !!" Aji pun masuk ke dalam mobil dan menyetir mobilnya dengan perasaan campur aduk.


Sesekali dia melihat ke arah kursi belakang lewat kaca spion untuk memastikan kondisi Hanna.


Sesampainya di halaman rumah Hanna, Aji langsung mengendong Hanna dan turun menuju pintu rumahnya.


Saat di depan pintu, ia baru ingat bahwa Hanna sudah mengganti pasword pintunya.


" Aduh, gimana nih, kalau nanya sama kak Wan dia pasti curiga... !!" ucap Aji.


Dia pun kembali memasukkan Hanna ke dalam mobil dengan susah payah.


Lalu menyetir kembali mobilnya hingga ke markas terdekat yang hanya terhalangi beberapa rumah dari rumah Hanna.


Di markas nampak sepi, dia baru ingat kalau Tio dan Bram hari ini pulang ke rumah masing - masing karena malam ini tugas Aji yang menjaga Hanna.


Tenaga Aji nampak terkuras malam ini, berkali - kali dia harus menggendong Hanna yang bertubuh sintal, dan akhirnya kini dia merasa lega, setelah bisa menidurkan Hanna di atas ranjang yang berada di salah satu kamar yang ada di dalam markas tersebut.


Aji membuka sepatu yang di pakai oleh Hanna, lalu menyelimutinya. Hanna nampak bergerak sesaat, namun tiba - tiba ia terbangun karena merasa mual. Dia menutup mulutnya sekuat tenaga.


Aji yang menyadari bahwa Hanna ingin muntah langsung menggendong nya kembali ala bridal style menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Hanna langsung memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam closet duduk yang sudah di buka oleh Aji.


Aji dengan setia membantunya mengeluarkan bubur campur alamiah produksi lambung manusia itu. Aji terus menepuk dan memijat pundak Hanna tanpa rasa jiji sedikitpun.


Setelah selesai, Hanna yang masih merasa pusing merayap menuju wastafel untuk mencuci mulutnya, dia yang melihat ada cairan mouthwash di sana langsung membukanya dan memasukkan ke dalam mulutnya beberapa tutup botol dan berkumur - kumur dengan cairan tersebut.


Setelah itu dia mencuci wajahnya. Aji masih menunggu di belakangnya, dia takut Hanna terjatuh karena efek minuman masih ada di dalam dirinya. Aji membantu Hanna mengeringkan wajahnya dengan beberapa lembar tissue.


Hanna yang masih terlihat lunglai dan pusing antara sadar dan tidak langsung memeluk Aji yang berdiri di belakangnya sedari tadi. Dia memeluknya sambil memejamkan matanya.


Jantung Aji kembali berdegup kencang, dia benar - benar menahan diri sekuat tenaga agar bentengnya tidak roboh setelah Hanna berkali - kali mencoba menjebolnya.


Namun, Aji hanyalah seorang pria normal, dia tidak bisa lagi menahan nafsunya, terlebih lagi di depan wanita yang dia sukai. Aji kembali menggendong Hanna ala bridal style menuju ke atas ranjang, dia merebahkan Hanna dan mengecup bibir wanita yang berada di bawahnya kini, namun ia kembali menjauh perlahan, dadanya naik turun, ia mencoba mengatur nafasnya, ia seolah terkejut sendiri dengan tingkahnya kali ini.


Hanna pun merasa terkejut, dia membuka matanya, samar - samar ia melihat wajah seseorang yang dia kenalnya, antara Siwan dan Aji, namun ketika bibirnya mengucap sebuah kata...


" Bli... " dan Hanna menarik wajah Aji lalu mencium bibirnya.


Aji yang seolah mendapat angin segar pun membalas ciuman Hanna kali ini, dia lupa bahwa wanita yang saat ini bersamanya adalah wanita milik tuannya.


Mereka berdua pun melakukan adegan panas di atas ranjang, Aji bahkan sempat membuka kancing kemeja Hanna satu persatu saat dia dan Hanna tengah ******* mesra lidah dan bibir mereka dengan penuh gairah.


Aji mulai beranjak, dari bibir ke leher, dia mengecup mesra leher panjang dan belakang telinganya sehingga Hanna merasa terangsang oleh kecupan yang Aji berikan. Hanna terlihat sangat menikmati setiap sentuhan yang Aji lakukan padanya.


Namun, saat Aji mulai turun ke area dadanya, ia kembali tertegun, ia begitu ingin menikmati tubuh wanita cantik yang berada di hadapannya kini, di sisi lain, dia masih mampu berpikir bahwa dia harus berhenti sebelum dia melakukan kesalahan fatal nantinya.


Untuk sesaat, Aji terkulai di atas dada Hanna yang menyembulkan gundukan daging di atasnya, lalu Aji menghindar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, di samping Hanna.


Dia menarik nafas sedalam mungkin, dan menghembuskannya perlahan lewat mulutnya.


Hanna nampak tidak bergeming di posisinya, ia terlihat menutup matanya dengan keadaan kemejanya sudah terbuka lebar, nampaknya dia masih belum sepenuhnya tersadar.


Selama beberapa detik mereka terdiam. Dan, Aji pun berusaha bangkit dan hendak pergi meninggalkan Hanna agar dia bisa beristirahat dengan tenang. Begitupula dengan dirinya, dia tetap membatasi dirinya untuk tidak menuruti hawa nafsunya.


Namun, saat dia terbangun dan hendak turun, Hanna seolah menyadari gerakannya, dia memeluk Aji dari belakang.


" Jangan pergi... tetaplah bersamaku, tetaplah di sisiku " ucap Hanna, entah dia sadar atau tidak, perbuatan nya kali ini benar - benar membuat pertahanan Aji benar - benar jebol.


Mereka kembali berciuman, Hanna membuka kemejanya dengan tangannya sendiri, dan melemparkan nya ke bawah. Dia menindih tubuh Aji dan membuka t-shirt Aji dan melemparkan nya juga ke sembarangan arah, mereka terus berciuman begitu panasnya.


Tangan Aji meraba setiap inchi tubuh putih mulus dan sintal Hanna, lalu tangannya membuka pengait bra yang Hanna pakai, dan, saat kedua gunung kembarnya menyembul keluar, tanpa berlama - lama Aji langsung menghisap put*ng berwarna merah jambu milik Hanna dengan penuh nafsu, sesekali dia *******, menggigit, memutarnya dengan lidahnya dan sebelah lagi ia tidak mau membiarkannya menganggur begitu saja, tangan Aji terlihat mer*mas dan memel*nt*r put*ng merah jambu milik Hanna, hingga terdengar desahan dari mulut manis Hanna di telinga Aji yang semakin menaikan gairahnya ke level yang lebih tinggi.


Aji kembali membalikkan posisinya mendominasi Hanna dari atas. Perlahan tangannya turun ke bawah, menyentuh bagian intimnya yang nampak sudah basah, membuka resleting celananya perlahan, dan dalam hitungan detik seluruh pakaian di tubuh Hanna sudah tertanggal di lantai.


Perlahan Aji mengendus bau organ intim Hanna dan menj*l*tnya perlahan, ia nampak begitu tidak sabar, sedari tadi pusaka miliknya terus meronta - ronta ingin segera beraksi.


Aji membuka celananya dan melemparkan nya ke lantai. Kini sudah tidak ada sehelai kain pun yang menempel di tubuh keduannya, di atas sebuah ranjang berukuran 160x200 cm itu mereka sudah siap untuk menyatukan tubuh mereka.


Aji menatap wajah Hanna yang kedua pipinya sudah merah merona. Hanna menyentuh tubuh Aji yang kekar dan berotot perlahan dengan begitu mesranya, seolah memberi isyarat padanya untuk segera melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Aji pun mulai memasukkan benda pusaka miliknya perlahan, terdengar erangan dari mulut manis wanita di hadapannya, ia tahu, Hanna baru pertama kali melakukannya, dia pun berbisik di telinganya...


" Aku akan memasukkannya perlahan, kau tahan saja, lakukan apa saja padaku semaumu... rileks.. oke.. " ucap Aji.


Hanna pun menganggukkan kepalanya perlahan. Dia sudah siap area bawahnya untuk di bobol oleh lelaki di hadapannya kini.


Aji terus melakukan rangsangan lainnya sebelum akhirnya dia memasukkan seluruh benda pusakanya ke dalam sarungnya.


Hanna terdengar menjerit, namun Aji langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya. Sepersekian detik, Aji pun mulai melakukan aksinya, berkali - kali ia menghentakkan benda pusaka miliknya dan, akhirnya dia membobol keperawanan seorang wanita yang dia cintai.


Tubuh Hanna terlihat menggeliat, melengkung dan menikmati hentakan demi hentakan yang Aji lakukan. Saat Aji mulai menaikkkan ritmenya, suara desahan terus meningkat dari volume rendah ke volume sedang. Nafas keduanya semakin berpacu dada mereka naik turun, dan dalam satu hentakan terakhir, keduanya nampak seperti sedang melayang di udara, rasa nikmat di puncak penyatuan tubuh mereka akhirnya dapat di rasakan oleh keduanya. Desahan dan erangan dari keduanya membuat kegaduhan di ruangan kamar berukuran 3x3 meter persegi itu. Di tengah dinginnya malam, keringat nampak bercucur deras di antara tubuh mereka.


Kini, Aji yang nampak lemas pun mulai berbaring di samping wanita yang dia cintai. Dia nampak begitu puas dapat melampiaskan hasratnya yang selama ini ia pendam. Keduanya nampak memejamkan mata di bawah selimut yang sama malam itu, beristirahat sejenak dari aktivitas yang hampir menguras seluruh tenaga mereka.