My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Rumah kenangan part 2



Malam itu, pukul 21.30 wita...


Hanna dan Siwan bermalam di rumah kenangan mereka.


Selesai keduanya mandi dan berpakaian, keduanya duduk di sofa menonton acara tv dan mengobrol bersama.


Hanna memakai kemeja Siwan yang berukuran panjang dan terlihat besar di tubuhnya karena dia tidak ada baju miliknya disana, Hanna tidak menyisakan satupun baju miliknya ketika dia kabur dari rumah itu.


Hanna duduk di samping Siwan di dalam dekapannya. Di depan mereka, di meja terlihat satu buah tea pot dan dua gelas yang berisi air teh yang tinggal setengahnya. Tea pot yang sengaja Siwan beli untuk dia simpan di rumah itu saat Hanna membawa pergi teapot miliknya.


Berkali - kali Hanna menarik nafasnya sedalam mungkin ketika mencium bau tubuh Siwan yang menyeruak di indera penciumannya. Aroma maskulin dan tahan lama berkat musk yang berbaur dengan berbagai aroma wood namun tetap ada sentuhan floral yang membuatnya terasa seimbang. Dari semua musk parfum yang pernah Siwan pakai, bau parfum ini merupakan salah satu favorit Hanna yang paling susah di lupakan indera penciumannya.


" Ahjussi, kau belum mengantuk ?"


" Belum, meskipun lelah bekerja, tapi aku ingin memanfaatkan waktu kita saat bersama seperti ini " Siwan menggenggam tangan Hanna dan mencium punggung tangan lembutnya itu.


" Ahjussi, kau lebih suka rambutku yang panjang atau yang pendek seperti sekarang ?"


" Apapun itu, aku suka dirimu yang rambutnya bisa terus aku sentuh dan aku belai "


" Maksudnya ?" Hanna tidak paham jawaban nyeleneh Siwan.


" Saat kau menjadi milik orang lain, percuma aku menyukaimu yang berambut panjang atau pendek dan juga lembut wangi dan indah, kalau tanganku tidak bisa meraihnya, untuk apa "


" Apa kau sudah mulai bisa mengikhlaskanku pergi ?"


" Aku tidak tahu, jangan tanyakan hal seperti itu, hanya jawaban naif yang akan keluar dari mulutku "


" Waktu kita tidak akan lama lagi, hanya 2 bulan lagi, apa ada hal yang ingin kau lakukan bersamaku sebelum kita berpisah ?" Hanna bangkit dari dekapan kekasihnya dan menatap Siwan dengan tatapan sendu.


" Tidak ada, aku hanya ingin terus memelukmu seperti ini " Siwan menarik kembali tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya.


Suasana kembali hening, bahkan volume tv yang hanya terdengar samar - samar di telinga mereka tak membuyarkan isi kepala mereka yang sedang penuh khayal semata.


Tanpa disadari, Hanna tertidur di pelukan Siwan kala mereka masih bersantai di sofa ruang tengah.


Siwan pun mematikan tvnya dan mengangkat tubuh Hanna ala - ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Setelah menidurkannya dan menyelimuti tubuh kekasihnya, tak lupa mencium keningnya, Siwan hendak pergi dan berniat tidur di kamar yang lainnya, namun, tangan Hanna langsung dengan sigap meraih lengan Siwan meskipun matanya tertutup.


" Kajima " ( Jangan Pergi )


Siwan pun akhirnya tidur di sampingnya, merebahkan tubuhnya yang sudah lemah tak bertenaga, menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala kekasihnya dan tidur sambil mendekap kekasihnya begitu erat.


Malam itu, menjadi malam yang penuh haru baginya, perasaannya berkecamuk, dilema tengah melanda pikiran dan logikanya. Mana yang harus dia pilih ??


Baik Siwan maupun Hanna nampaknya malam itu mereka tidak bisa tidur dengan lelap, berkali - kali mereka mengerjap terbangun secara tiba - tiba hanya karena posisi mereka sudah saling berjauhan di atas ranjangnya.


Pukul 02.00 wita...


" Ahjussi, aku tidak bisa tidur lagi !" ucap Hanna lirih.


" Kau lapar ?" tanya Siwan yang kini dia pun membuka matanya, mengerjap berkali - kali dan membelai rambut kekasihnya.


" Tidak, entah kenapa hatiku jadi merasa sedih seperti ini "


" Kau bermimpi buruk ?"


" Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa tadi aku bermimpi atau tidak " jawaban Hanna sangat membingungkan.


" Masih terlalu dini, lebih baik kau tidur lagi, pagi nanti kita pergi jogging, kita hirup udara segar " jari - jari tangan Siwan dengan lembut terus menyuruk kepala Hanna lewat sela rambutnya, seolah sedang melakukan stimulasi dan meninabobokan kekasihnya kembali.


Padahal, fakta yang sesungguhnya, malam itu, Hanna memang benar - benar bermimpi buruk.


" Aku harap moment seperti ini bukan hanya mimpi dan khayalku, aku berharap akan selamanya terus seperti ini, aku berharap mimpi buruk yang membuat hatiku sakit itu tidak pernah kembali hadir " Hanna terus meracau dalam mata tertutup seolah dia sedang menuju proses kembali pada alam bawah sadarnya, alam mimpi.


Siwan yang mendengar ocehan kekasihnya tak berkomentar sedikitpun, dia hanya terus membelai rambut kekasihnya dan membuatnya tertidur kembali.


*


*


Dua bulan kemudian


Masih di kamar yang sama, di rumah kenangan itu, sekitar pukul 02.00 wita, Hanna yang sedang tertidur nampak gelisah, kepalanya bergulir dari kiri ke kanan, tubuh kurusnya meringkuk mengkerut di atas kasur berukuran no 2 itu sambil mencengkeram erat selimut yang hanya menutupi setengah tubuhnya.


" No... kajima, kajimaaaaaaa " teriak Hanna lalu bangkit dari tidurnya dengan nafas terengah - engah, terduduk di atas ranjangnya dengan mata membesar dan membulat. Keringat dingin terlihat membasahi pelipis dan bagian tubuh atasnya.


Sepersekian detik seorang wanita paruh baya membuka kamarnya dan berlarian menghampiri Hanna duduk di sampingnya dan memeluknya sangat erat.


" Istigfar neng, istigfar... nyebut neng " ucap wanita itu.


" Astagfirullah, astagfirullah " ucap Hanna kemudian menangis sejadinya di dalam pelukan wanita itu.


Tidak lama kemudian datang seorang pria bertubuh tinggi dan kekar berhidung mancung dengan warna kulit sawo matang yang memakai kaos putih pendek dan celana training berwarna hitam dengan karet di bagian bawahnya, mendekat menghampiri Hanna di sisi satunya.


" Dia bermimpi buruk lagi bi ?" tanya pria itu.


" Iya nak Aji " jawab wanita paruh baya itu.


Pria yang kini berada di samping Hanna ternyata Aji, sang tangan kanan Siwan kekasihnya yang menghilang dua bulan yang lalu.


Aji mengambilkan satu gelas air putih yang sudah tersedia di atas nakas dan memberikannya pada Hanna.


" Han, minumlah " Aji mencoba menarik Hanna dari pelukan bi Asih perlahan.


Dengan masih terisak - isak Hanna melepaskan diri dari pelukan wanita paruh baya itu dan mendekat pada Aji yang menyodorkan segelas air putih padanya.


Dengan tangan gemetar Hanna mencoba meraih gelas itu namun Aji menepisnya perlahan, Aji tetap memegang gelas itu dan meminumkannya pada Hanna.


Setelah minum, Hanna sedikit lebih tenang.


" Tarik nafas, hembuskan.... tarik nafas, hembuskan.... tarik nafas lagi... hembuskan perlahan " ucap Aji.


Hanna mengikuti arahan Aji untuk mengatur jalan nafasnya kala itu.


" Bi Lastri, tolong buatkan air teh hangat !! " pinta Aji.


" Baik nak, tunggu sebentar " wanita paruh baya itu yang ternyata adalah bi Lastri pun keluar dari kamar Hanna. Bi Lastri adalah orang yang pernah di bawa Siwan untuk menemani Hanna dan membantunya membereskan rumah saat Hanna baru pulang dari rumah sakit setelah terkena penyakit tipes.


" Han, sudah hampir dua bulan, mau sampai kapan kau terus seperti ini ?" tanya Aji yang masih dengan telatennya mengeringkan air mata di pipi wanita yang sempat mengisi relung hatinya itu.


" Bli, aku masih bisa merasakan nafasnya dan detak jantungnya, aku belum melihat tubuhnya seujung kuku pun, aku tidak percaya dia sudah pergi, aku masih merasakan kehadirannya disinia, dia tadi tidur di sampingku dan memelukku dengan erat, dia tadi... "


" Cukup " pekik Aji.


Dengan mulut masih terbuka Hanna terkejut mendengar suara Aji yang lumayan keras di kupingnya.


" Hanna, hentikan, kau semakin menyiksa dirimu sendiri " Aji mulai kembali memelah karrma melihat wajah Hanna yang ketakutan.


Hanna terdiam sesaat sambil menundukkan kepalanya. Dan tidak lama kemudian bi Lastri datang sambil membawa segelas teh chamomile hangat di tangannya.


" Minum dulu ya neng, biar lebih rileks " ucap bi Lastri.


Hanna pun meminumnya perlahan, sedikit demi sedikit.


" Aku mau ke kamar mandi " ucap Hanna.


" Baiklah, ayo bibi antar " bi Lastri bangkit dari duduknya sambil membawa kembali gelas berisi teh yang kini tinggal setengahnya dan berjalan di belakang mengikuti Hanna yang terseok - seok menuju kamar mandi.


Begitu juga dengan Aji, dia mengikuti mereka dari belakang dan menunggu nya di sofa ruang tengah rumah kenangan itu.


Aji menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa secara kasar sambil menghembuskan nafas dari mulutnya. Dia menutup matanya sesaat dan kemudian bangkit membenarkan posisi duduknya.


Kedua tangannya mengusap wajahnya dan menariknya ke atas hingga ke ujung kepala. Aji sendiri nampak terlihat frustrasi dengan kenyataan bahwa Siwan kini sudah tidak ada di dekatnya.


Aji memijat - mijat kepalanya dengan sebelah tangannya sambil menutup mata dengan posisi membungkuk sambil terduduk.


Tiba - tiba bi Lastri datang menghampiri Aji dengan wajah panik.


" Nak Aji, neng Hanna ngunci pintu kamar mandi dari dalam, dia kayaknya lagi nangis lagi di dalam, dia gak mau keluar " ucap bi Lastri.


" Shit... " Aji bangkit dari duduknya kemudian berlari menuju kamar mandi di ikuti bi Lastri dari belakang.


" Hanna... buka pintunya " Aji menggedor pintu kamar mandi sangat keras, terlebih lagi saat dia mendengar suara air shower menyala, meskipun begitu suara tangisan Hanna samar - samar masih terdengar di telinganya dari balik pintu.


" Hanna, Han... ayo kita bicarakan lagi Han, buka... " teriak Aji.


Lalu Aji pun mencoba mendobrak pintu dengan sekuat tenaga, sebanyak tiga kalinya namun dia belum juga bisa membuka pintunya.


" Minggir bi " ucap Aji pada bi Lastri yang berada di belakangnya.


Dan, Aji mundur dua langkah ke belakang, setelah mengambil kuda - kuda yang tepat, setengah berlari Aji mendobrak kembali pintu kamar mandi itu dan... akhirnya pintu terbuka.


Aji berlari menghampiri Hanna yang tengah duduk di lantai di bawah kucuran air shower yang dingin sambil meringkuk memeluk kedua kakinya yang terlipat, sambil menangis pula.


" Bi, ambilkan handuknya " teriak Aji sambil memutar katup keran mematikan laju air shower yang menerpa dan membasahi tubuh mereka.


Bi Lastri secepat kilat berlari menuju kamar Hanna, mengambil handuk yang menggantung di belakang pintu kamar Hanna dan kembali ke kamar mandi.


" Buka bajunya !!" pinta Aji pada bi Lastri.


Aji bangkit dan menjauh hingga ke ambang pintu kamar mandi, dia tidak keluar dari dalam kamar mandi, hanya saja dia membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Hanna yang sedang di lucuti pakaiannya oleh bi Lastri.


Secepatnya bi Lastri membuka baju Hanna yang nampak sudah basah dan memasangkan piyama handuk di tubuh gadis berparas cantik dan bertubuh kurus itu. Bibir tipis berwarna merah jambunya berubah warna menjadi semu violet karena dia merasakan dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Bayangkan saja saat itu sekitar pukul 02.30 wita dalam suhu yang masih dingin dan langit masih nampak gelap, Hanna mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuh kurusnya yang belakangan ini jarang terisi makanan pasti dengan mudahnya merasakan sensasi dingin yang menembus pori - pori kulitnya terlebih lagi dingin karena air shower kala itu.


Selesai di pakaikan handuk, bi Lastri memapahnya agar keluar dari kamar mandi. Namun, Aji yang melihatnya menggigil kedinginan dengan tubuh yang lemas, Aji langsung mengangkat tubuh Hanna dan membawanya ke dalam kamar.


" Bi, buatkan kembali teh hangat !!" ucap Aji yang sedang membaringkan tubuh Hanna di ranjang dan menyelimutinya.


Bi Lastri langsung berlarian ke dapur.


Aji mencari sesuatu di dalam laci lemari yang ada di kamar saat itu. Sepasang kaus kaki, setelah menemukannya dia memasangkannya di kedua kaki Hanna. Lalu berpindah menuju kepala Hanna, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan mencoba menyadarkan Hanna yang masih terlihat melamun saat itu.


" Han, sadarlah Han... " Aji terus menggosok rambut Hanna agak kasar, namun Hanna tidak bergeming sedikitpun.


Bi Lastri datang membawa satu teapot berisi teh panas dan satu gelas kosong yang agak panjang. Setelah menuangkannya bi Lastri meraih kedua tangan Hanna agar menyentuh sensasi panas dari gelas berisi teh panas itu, sekalian menghangatkan tubuhnya.


Hanna yang jari - jari keriputnya akibat air mulai merasakan kehangatan sedikit demi sedikit menjalar lewat ujung kulit tangannya.


" Mimun neng, pelan - pelan saja " ucap bi Lastri.


Hanna mulai menyeruputnya perlahan, merasakan dan menyesap cairan panas itu ke dalam tubuhnya melewati kerongkongannya.


Setelah situasi agak terkendali, Aji keluar untuk mengganti bajunya yang juga sedikit basah di bagian atasnya.


Hanna pun di bantu bi Lastri memakai kembali pakaian di tubuhnya lalu mengeringkan rambut yang masih setengah basah dengan hairdryer.


" Bi, maaf ya, aku sangat merepotkan " ucap Hanna.


" Enggak neng, gapapa, bibi justru khawatir kalau ninggalin neng sendirian " jawab bi Lastri.


" Bi, aku mau tidur lagi " ucap Hanna.


" Bibi tidur disini ya neng, bibi bawa dulu kasur di kamar sebelah kesini " sahut bi Lastri.


Hanna hanya menganggukan kepalanya lalu berbaring menyelimuti tubuhnya kemudian menutup matanya dan mencoba tertidur, tanpa menghiraukan bi Lastri yang sedang berbenah di kamarnya setelah membawa kasur dari kamar sebelah di bantu oleh Aji.


" Bibi gak bakal tutup pintunya, nak Aji istirahat juga, tidur lagi aja ya !!" seru bi Lastri.


Aji pun melangkah keluar setelah sebelumnya menatap punggung Hanna yang tengah berbaring di atas ranjangnya dengan tenang.


Aji kembali berbaring di sofa ruang tengah sambil mengangkat sebelah tangannya dan menaruhnya di atas kepala.


" Kak, apa kau memang sudah pergi ?" ucap Aji dengan lirih sebelum akhirnya ia benar - benar menutup matanya.


*


*


Detik - detik episode akhir agak mengandung bawang


Jangan lupa like vote dan komennya yaa


Terima kasih banyak