My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Hasil Tes DNA



Satu bulan kemudian....


Pukul 04.30 wita, suara tangisan bayi memekik di telinga penghuni salah satu kamar di lantai dua kediaman Siwan saat itu.


Hwan, bayi Hwan yang mungil terbangun dan berteriak sangat kencang membuat Hanna sang ibu membuka mata terbangun dan terperanjat menghampiri box bayi Hwan saat itu juga.


Dengan sigap, sebelum mengangkat tubuh Hwan, Hanna mengecek bagian tubuh bayinya, bagian belakang.


"Ya ampun... anak bubu ternyata gak nyaman ya, udah penuh pempersnya, uuu kacian... yuk, ganti dulu yuk."


Ternyata Hwan sudah tidak nyaman dengan area bawahnya, popoknya sudah penuh dengan urin dan p*p nya.


Hanna mengangkat dan membaringkan Hwan di area ranjang ganti popok di dekat pintu kamar mandi ruang kamarnya.


Satu bulan sebelum melahirkan, Hanna sudah berhasil merombak satu ruang kamar Siwan, menjadi kamar bayi mereka. Dengan berbagai barang tambahan dan ornamen serta wallpaper yang nampak lucu sudah berhasil memenuhi salah satu sudut kamar milik Siwan saat itu.


Kamar yang awalnya terlihat dingin, kosong dan sepi, kini terlihat lebih hangat, penuh, ramai dan terang.


Selesai mengganti popok Hwan, Hanna kemudian membawa Hwan ke atas ranjangnya kembali menyusuinya dengan posisi sambil tidur menyamping agar bayinya kembali tertidur pula.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar di ketuk dari luar.


"Masuk !" ucap Hanna.


Dari balik pintu kamar, terlihat wajah bi Lastri menyembul dan tubuhnya menerobos masuk ke dalam.


"Kenapa neng ?" tanya bi Lastri yang ternyata mendengar suara tangisan Hwan dari bawah


"Biasalah bi, dia p*p, udah di ganti kok barusan," jawab Hanna.


"Kenapa gak panggil bibi aja, kasihan neng pasti kurang tidur lagi dari semalam, " sahut bi Lastri.


Hanna menjawab sambil masih berusaha membuka matanya yang terlihat menahan kantuk.


"Gapapa bi, udah tugas seorang ibu kan begini, kasihan bibi tiap hari juga banyak pekerjaan, " jawab Hanna.


Bi Lastri hanya menggelengkan kepalanya melihat kekerasan hati seorang ibu baru yang bertekad mengurus anak bayinya seorang diri.


Setelah pulang dari rumah sakit, Hanna memutuskan untuk mengurus bayi Hwan sendiri, maksudnya, segala aktivitas pengurusan bayi dari mulai memandikan, mengganti popok, sendirian.


Bi Lastri paling hanya membantu mencuci dan menyetrika baju, membersihkan dan merapihkan kamar. Sedangkan bi Asih seperti biasa bertugas menjadi koki, menyiapkan makanan bagi penghuni rumah.


Melihat Hanna dan Hwan sudah nampak tertidur pulas kembali, bi Lastri pun membantu Hanna menidurkan kembali Hwan ke ranjang bayinya, lalu menyelimuti Hanna yang nampak tidak bergeming dari posisi tidur miringnya meskipun bi Lastri sempat menyentuh area dadanya, mengancingkan kembali baju Hanna.


Setelah itu bi Lastri membereskan dan membersihkan kamar mereka.


Selesai melakukan tugasnya, bi Lastri keluar dari kamar ibu dan anak tersebut.


"Mereka masih tidur bi ?"


Suara seorang pria dari kejauhan berhasil mengejutkan bi Lastri yang terlihat mengendap - endap keluar dari kamar, mencoba meminimalisir suara gaduh supaya bayi Hwan tidak kembali terbangun.


"Sssst.... iya, baru pada tidur lagi, " jawab bi Lastri, menatap Aji yang sepertinya baru bangun pula dari tidurnya.


Dua jam kemudian...


Hanna kini sudah berhasil memandikan bayinya.


"Masya Alloh, sudah tampan, wangi pula, anak bubu, keren banget pake jumpsuit," Hanna mengendus anaknya dan menghisap bau - bau khas bayi yang menempel di tubuh Hwan, menjadikannya candu.


"Sini neng, biar bibi bawa Hwan berjemur di belakang, neng siap - siap aja mandi dulu, setelah itu sarapan, biar bibi yang jaga Hwan, " ucap bi Lastri.


"Iya bi, tolong jagain Hwan ya, aku udah gak enak, rasanya lengket sekali badanku, aku harus segera mandi," timpal Hanna.


Seperti biasa, setelah mempunyai anak, rasanya Hanna tidak bisa berlama - lama di dalam kamar mandi.


Dia bahkan biasa mandi secepat kilat akhir - akhir ini. Tidak ada waktu untuk berendam apalagi luluran. Di telinga nya selalu terngiang suara tangisan bayi hingga membuat ia terburu - buru membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Padahal terkadang Hwan sedang asyik tidur ataupun bermain bersama para pengasuhnya. Seolah kepalanya selalu tersugesti seperti itu saat ia menginjakkan kaki di dalam kamar mandi.


Selesai mandi, Hanna turun ke bawah, menghampiri Hwan yang tengah berada di pangkuan Aji di ruang tengah.


"Bli, belum berangkat ke kantor ? bukannya ada rapat hari ini ?" tanya Hanna, sambil menyapa bayinya dengan mimik wajah lucunya.


"Rapatnya di undur besok pagi, katanya klien ada urusan mendadak jadi tidak bisa hari ini, " jawab Aji.


"Kau belum sarapan kan, cepat sana makan dulu, biar Hwan aku yang jaga, " sambung Aji.


Hanna pun pergi ke ruang makan untuk mencari asupan energinya pagi itu.


Selama menyusui, nafsu makannya belum normal seperti biasanya, malah tambah seperti orang kelaparan di bandingkan saat hamil beberapa waktu lalu.


Intensitas mengASIhi Hwan yang terbilang cukup sering dengan durasi yang lama, di tambah kegiatan memompa asinya yang juga cukup sering pula di karenakan produk asinya yang begitu melimpah, membuat Hanna banyak menyetok asi perahnya untuk di sumbangkan pada para bayi laki - laki di panti asuhan.


"Neng, pelan - pelan makannya, jangan lupa di makan buah - buahannya udah bibi siapin di dalam kulkas, " ucap bi Asih yang juga berada di dapur, dekat dengan meja makan.


"Iya bi, makasih banyak ya, nanti aku makan siang ini, " jawab Hanna.


Bi Asih yang sedang asyik memotong sayur dan bahan untuk memasak makan siang dan malam nanti hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya ketika melihat Hanna berbicara dengan mulut terlihat penuh oleh makanan.


Beberapa menit kemudian...


"Alhamdulillah ya Alloh, energiku sudah terisi kembali, " Hanna duduk dan bersandar di sofa di samping kereta bayinya.


Hwan sudah nampak tertidur pulas di atasnya, setelah di beri asupan energi pula oleh Aji, lewat botol yang berisikan asi perah yang sudah di siapkan oleh bi Lastri sebelumnya.


Saat Hanna mandi atau makan, bi Lastri maupun orang rumah tidak pernah mengganggu waktu Hanna ketika mencharge tubuhnya supaya ia tetap bisa menjaga kondisi kesehatannya di tengah kesibukan mengurus Hwan.


Kadang sungguh kasihan bagi para ibu baru ketika menyusui anaknya hingga lupa waktu makan ataupun mengurus dirinya sendiri.


Awal kepulangan Hanna ke rumah ia bahkan sempat terlihat stress karena belum bisa membagi waktu yang adil antara mengurus Hwan dan mengurus kebutuhannya sendiri.


Untung saja, baik bi Asih, bi Lastri terutama bu Shinta yang selalu mendukung dan memberinya semangat terutama arahan baginya agar bisa berlaku seimbang. Selain ibunya yang selalu menelepon dari kampung halamannya, orang di sekitar Hanna terlihat begitu peduli padanya dan bayinya. Membuat Hanna merasa nyaman dan melupakan kesedihannya yang selama ini ia rasakan.


"Han, sore ini jadwal Hwan di imunisasi kan, aku yang akan mengantar kalian, sekalian mengambil hasil tes DNA Hwan, pihak rumah sakit sudah memberitahuku bahwa hasilnya sudah ada, " ucap Aji.


"Baiklah, nanti aku siap - siap, paling bi Lastri yang bakal ikut kita nanti, bi Asih hari ini kan ada jadwal pertemuan dengan ibu - ibu kampung sebelah katanya, " Hanna berbicara dengan mata tertutup.


"Han, apa kau merasa deg - deg an dengan hasilnya ?" tanya Aji, dengan nada serius.


"Apa maksud dari pertanyaan ini ?" Hanna membuka matanya dan terlihat curiga.


"Aku tidak bermaksud meragukanmu, hanya saja untuk berjaga - jaga dengan segala kemungkinan yang ada, aku hanya bertanya bagaimana pendapatmu nanti, "


"Aku percaya Hwan pasti anakmu dan kak Wan, aku tidak pernah meragukannya, " sahut Aji.


"Yaiyalah... memangnya, selama ini aku berhubungan dengan siapa selain dengan ajjushi ? bli kan tahu sendiri, bahkan kau selalu membuntutiku dan mengawasiku kemanapun aku pergi, tentu saja dia anakku dan ajjushi," ucap Hanna dengan penuh percaya diri.


Aji menatap Hanna dengan tatapan penuh arti. Namun terlihat begitu ambigu. Apa maksud dari tatapannya kali itu.


...***...


Sore harinya...


Pukul 15.05 wita, Hanna serta bayinya sudah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit di temani Aji dan bi Lastri.


Sesampainya di rumah sakit, Hanna dan bi Lastri menemui dokter anak untuk melakukan imunisasi Hwan, sedangkan Aji menemui dokter di ruangan lainnya untuk membawa hasil tes DNA saat itu.


Sekitar 30 menit kemudian mereka bertemu kembali di sebuah titik masih di lokasi rumah sakit.


Hanna yang menggendong Hwan dan bi Lastri yang menenteng tas bayi menghampiri Aji yang tengah duduk dan bersandar pada dinding sambil memejamkan matanya.


"Bli, kau sudah selesai rupanya, bagaiamana hasilnya ?" tanya Hanna.


Aji nampak terkejut lalu berdiri dari kursinya.


"Iya, hanya sebentar saja kok, hasilnya sudah tentu 99 persen Hwan adalah garis keturunan kak Wan, tidak ada yang harus di cemaskan lagi mulai sekarang !" jawab Aji.


"Alhamdulillah, kalau begitu syukurlah tidak ada lagi hal yang mengganjal lagi sekarang, emh... tapi mana suratnya, aku mau lihat hasilnya, mana ?" tanya Hanna, dengan raut penasaran.


"Ah... itu, maafkan aku, surat hasil tes DNA yang keluar sudah di bawa oleh lawyer kita, untuk di proses secepatnya, ternyata bibi sudah memberitahu pak Willy untuk bertemu denganku disini mengambil hasil tes DNA, " jawab Aji.


"Oh... begitu ya, padahal aku ingin melihatnya," sahut Hanna.


"Sudahlah, kau tidak akan mengerti istilah medis, yang penting kan hasilnya akurat, " timpal Aji.


"Yasudah, sekarang kita pulang saja, kasihan Hwan terlalu lama di luar, dia masih rentan sekali, kita pulang saja, " sambung Aji.


Di dalam mobil, karena saat itu Hwan terbangun dan sedang di ASIhi oleh ibunya, tidak ada percakapan apapun di antara ketiga orang dewasa yang berada di dalam kemudi.


Masing - masing seolah larut dalam pikirannya sepanjang perjalanan.


Hanya saja, ada sesuatu yang nampak mencurigakan bagi Hanna, melihat gestur wajah Aji yang seolah menghindari tatapannya ketika mata mereka beradu di kaca spion tengah yang berada di dalam mobil. Berkali - kali Aji menghindari tatapan Hanna, maupun bo Lastri.


"Apa yang sebetulnya terjadi, kenapa bli terlihat aneh sejak kita pulang dari rumah sakit tadi, apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku ?" batin Hanna.


Sesampainya di rumah...


Semuanya nampak berjalan normal seperti biasanya, tidak ada yang berubah, seperti kecurigaan Hanna saat di mobil tadi.


"Ah, mungkin bli Aji sedang memikirkan masalah pekerjaan, sudah beberapa hari ini dia memang terlihat sibuk, baru hari ini dia berada di rumah dan bersantai dengan Hwan, mungkin kecurigaanku salah, "


Hanna menepis semua keresahannya di dalam hatinya.


Hingga malam tiba, selesai makan malam, Aji masuk ke dalam ruang kerja saat itu.


Tanpa Aji ketahui, Hanna mengikutinya dari belakang.


Aji bahkan lupa mengunci pintu ruang kerja saat itu.


Ia nampak sibuk menatap secarik kertas yang ia keluarkan dari dalam sebuah amplop besar. Membaca dan meneliti dengan seksama kata demi kata yang tertera di atasnya.


Hanna yang perlahan mendekatinya dari belakang nampak tak di sadari kehadirannya oleh Aji.


Hingga sekitar hanya tinggal satu meter jarak di antara mereka.


"Bli... " ucap Hanna.


Aji nampak terkejut, kedua bola matanya membulat, dan membelalak ketika menoleh ke belakang, Hanna sudah berada di dekatnya saat itu.


Aji langsung menyembunyikan kertas yang ada di tangannya.


"Han-Hanna, kau, sejak kapan ada di situ ?" Aji terlihat gugup.


"Kau kenapa bli, kau sangat serius sekali sampai tidak sadar aku mengikutimu dari belakang, "


"Ah, itu, aku sedang.... " ucapan Aji terpotong.


"Apa itu, kau sedang membaca apa ? surat cinta ya... !" Hanna nampak menggoda Aji, menjahilinya.


"Bu-bukan, i-ini hanya surat... " ucapan Aji kembali terputus, namun kali ini karena suara dering telepon dari hp milik Hanna yang berada di saku sweater rajutnya.


Hanna buru - buru mengangkat teleponnya saat itu. Dan Aji tanpa berlama - lama langsung menyimpan kembali kertas tersebut ke dalam amplopnya dan menyembunyikannya kebali ke dalam saku jaketnya saat Hanna fokus berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Hallo, ia kak, ada apa ?" tanya Hanna pada seseorang di seberang sana.


"A-apa, benarkah ? bagaimana mungkin !" Hanna terlihat menganga, matanya membelalak, mendengarkan dengan seksama oleh kupingnya yang sudah nampak memerah, seseorang berbicara panjang lebar, entah siapa, dan apa yang mereka bicarakan saat itu.


Setelah menutup sambungan teleponnya, Hanna terduduk lemas di atas sofa yang ada di ruang kerja saat itu.


"Kau kenapa ? siapa barusan yang meneleponmu ?" tanya Aji menghampiri Hanna.


Selama beberapa detik Hanna terdiam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya tanpa menghiraukan pertanyaan Aji.


"Han, ada apa " Aji terlihat curiga.


Hanna membuka kedua telapak tangan dari wajahnya.


Aji nampak terkejut melihat kedua mata Hanna yang sudah nampak berair dan merah saat menoleh padanya.


"Bli, kau berbohong padaku," ucap Hanna.


"Maksudmu ?" Aji masih belum paham apa yang di katakan oleh Hanna saat itu.


"Bli, katakan padaku yang sejujurnya, kenapa kau berusaha menyembunyikannya dariku, apa kau memiliki motif dan tujuan tersendiri di belakangku ?" tanya Hanna.


"Iya apa maksud ucapanmu sebenarnya, katakan dengan jelas, supaya aku bisa memahami arah pembicaraan kita ini, " sahut Aji.


"Hasil tes DNA Hwan, kau berbohong kan, hasilnya tidak seperti yang kau ucapkan padaku tadi, benarkan ?" tanya Hanna kembali.


Deg... dada Aji berdebar lebih kencang, kali ini, ia seolah seperti orang yang sedang di interogasi di sebuah ruangan sempit dan gelap.


Bibirnya mendadak menjadi kaku, seketika ia mematung dan membeku menatap wajah Hanna yang di kelilingi oleh raut penasaran.