
Hari itu, hari minggu pagi, Hanna dan Siska pergi lari pagi bersama di kampung belakang gedung kost mereka.
Hanna yang kebetulan sedang masuk shift siang, di ajak Siska yang memang hari liburnya hari minggu.
Mereka berlari menyusuri jalanan kampung dengan pemandangan sawah hijau yang luas terbentang, menambah kesejukan pagi hari mereka.
Terlihat, ada beberapa anjing kintamani di sekitar sana, tapi Hanna tidak merasa takut kali ini karena ada Siska bersamanya.
Setelah berlari lumayan jauh hingga mereka hampir memasuki perkampungan warga, disana ada sebuah warung kecil. Mereka memutuskan untuk beristirahat disana.
Mereka membeli dua botol air mineral dan dua bungkus roti sebagai pengganjal perut kosong. Kalau saja di dekat sana ada penjual nasi, bubur, ketoprak ataupun lainnya seperti di belakang gedung kost, mereka berdua pasti sudah memasukan berbagai jenis makanan ke dalam perut masing - masing.
" Kak, kita terlalu jauh deh kayanya. " Ucap Hanna.
" Iya nih, lapar, untung ada roti ini. " Jawab Siska.
Ibu warung disana sepertinya mendengar percakapan mereka.
" Saya juga berjualan mie rebus, mau pake telur atau nasi pun bisa. " Ucap ibu warung dengan logat khas Bali.
" Wah.. gimana Han, kamu mau gak ?" tanya Siska.
" Mau deh, aku semalam gak sempet makan pulang kerja, jam segini cacing udah pada demo nih. " Jawab Hanna.
Mereka pun langsung memberitahu apa saja pesanan mereka kepada ibu warung.
Saat sedang menunggu pesanan datang, mereka berdua pun asik mengobrol.
" Kak, boleh aku tanya sesuatu ? " tanya Hanna pada Siska.
" Mau nanya apa sih, serius amat !!" seru Siska.
" Kapan ciuman pertama kakak ?" tanya Hanna kembali.
" Kamu, kenapa nanya kaya gitu ? Oh... jangan - jangan, kamu,.... " Siska tidak melanjutkan ucapannya hanya memasang wajah seperti mencurigai sesuatu.
" Apa sih.. aku cuma tanya aja. " Hanna menyahut.
" Oke.. oke.. aku paham. Dulu, pas kelas 3 smp. "
" What.. masih kecil dong.. " tukas Hanna.
" Yups... Dia, cinta pertamaku. Aku kelas 3 smp dan dia kelas 2 sma. Tetangga dekat rumah, terhalangi dua rumah saja. Aku emang udah suka sama dia dari kelas 1 Smp. Dia seorang badboy. Dia, buaya darat. Tapi selalu baik terhadapku, entah mungkin karena, aku sepupu sahabatnya. "
" Terus, gimana bisa, kalian ciuman dimana ?" Hanna penasaran.
" Emh... jadi, dulu, aku dengan polosnya bilang suka dan cinta sama dia, di rumah sepupuku waktu itu. Mereka lagi latihan band, pas aku maen ke rumahnya, kebetulan memang rumah sepupuku itu selalu jadi markas latihan band mereka. Paman dan bibiku sibuk kerja, bahkan sepupuku, hampir setiap hari bawa pacarnya ke rumahnya. "
Kak Siska berfikir sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.
" Aku mengajaknya pergi melipir ke dapur rumah sepupuku itu, aku menyatakan perasaan ku disana. Setelah itu, dia malah menciumku. Aku kaget dong, aku belum paham hal - hal seperti itu, aku hanya baru merasakan seperti apa rasanya menyukai seseorang, belum paham apa itu ciuman dan pacaran itu kaya gimana. Terus, setelah menciumku dia bilang, kalau aku masih kecil, dia gak bisa menerima perasaanku, soalnya, dia tidak mau menodai ku yang masih polos. Aku langsung pergi, pulang ke rumah dan nangis sejadinya di kamar. "
" Terus, udah, gak ada kelanjutannya ?"
" Yaudah, kelanjutannya sekarang mie rebus udah datang, mari kita lanjutkan dengan melahapnya sampai tiada bersisa. " Siska tertawa sambil menatap ibu warung yang menghampiri mereka membawa nampan dengan dua mangkuk mie rebus pakai telur, dua piring nasi dan dua gelas teh hangat.
" Terimakasih ya bu. " Ucap Hanna pada ibu warung.
" Iya, silahkan di nikmati. Kalian sepertinya bukan warga asli sini, kalian tinggal dimana?" Ibu warung bertanya.
" Kami tinggal di gedung kost teratai di depan sana bu. " Jawab Hanna.
" Oh.. kalian anak kost. Kerja atau kuliah dimana?"
" Kami sudah bekerja, bu. Saya Hanna, dari Bandung, karyawan departemen store Mentari, dan ini kak Siska, dari Jakarta, karyawan bank Indonesia." Jawab Hanna.
" Oh.. pantas saja, nada bicara kalian sangat berbeda. Ya sudah, kalian makan saja ya, kalau butuh sesuatu panggil saja saya, mbok Warti."
" Baik mbok, terimakasih ya." Ucapku sambil tersenyum.
Saat Hanna hendak makan, ternyata Siska sudah melahap habis makanan pesanannya.
" Wah.. ternyata ada yang lebih kelaparan disini.." Ucap Hanna menggelengkan kepalanya.
" Kamu dari tadi malah ngobrol terus, sih.." Jawab Siska.
Saat Hanna sedang lahap memakan mie rebus nya, tiba - tiba Siska membuat nya terkejut dengan pertanyaan nya.
" Terus, kamu udah ciuman sama siapa, Rey atau kak Wan ?" tanya Siska penasaran.
Hanna langsung tersedak, lalu minum air teh yang ternyata masih panas. Lalu ia memuntahkan minumnya kembali ke dalam gelas.
" Ih.. jorok.. " ucap Siska meringis.
" Kak, pertanyaan mu, apa - apaan itu ?" tanya Hanna.
" Kau sendiri yang membahasnya duluan, ( Siska menaikan nada bicaranya ), aku yakin kau pasti sudah melakukannya kan.. ayo ngaku.. !!"
" Emh... apa itu bisa di sebut ciuman pertama, aku tidak yakin... " Hanna menjawab.
" Gimana kejadiannya.. aku sangat penasaran.. " tanya Siska.
Hanna pun menceritakan kejadian di rumah Siwan beberapa hari lalu.
" Wah, dia mencuri start darimu.. " tukas Siska.
" Apa kan kata ku bilang, dia mencurinya dariku, jadi itu bukan ciuman pertama kan.. ?"
" Tapi tetap saja, bibirmu sudah tidak perawan. " Hahahaa... Siska tertawa.
" Ih.. jahat.. " Hanna cemberut.
" Tapi, aku salut kau bisa pura - pura tetap tidur meskipun jantungmu sedang berdetak kencang.
Flashback...
Setelah Siwan mencium bibir Hanna, dia lalu berkata..
" Aku menyukai mu, aku akan menunggu mu."
Hanna pura - pura tetap tertidur lelap. Dia memang sempat terbangun tapi tidak membuka matanya saat Siwan membenarkan posisi tidurnya.
Setelah Siwan keluar kamar, Hanna membuka matanya dan tercengang, dengan posisi yang tidak berubah dari tidurnya, dia hanya menyentuh bibirnya berkali - kali lalu mencoba tidur lagi.
" Mungkinkah ini hanya mimpi. " Ucapnya di dalam hati.
Kembali kepada Hanna dan Siska.
" Eh.. tapi aku salut loh, dia gak menyentuh tubuhmu yang lainnya. Padahal saat itu, kau hanya memakai piyama handuk, bisa saja kan kalau dia berniat jahat menggerayangi tubuhmu saat kau tidak sadarkan diri. " Ucap Siska.
" Ah.. iya, untung ya, baru terpikir olehku, aku sangat ceroboh. " Sahut Hanna.
" Yups, sebagian laki - laki normal, pasti akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka pasti tidak tahan melihat wanita berpakaian sexy apalagi hanya mengenakan piyama yang gampang terbuka seperti itu. Apalagi, kau memiliki sesuatu yang cukup besar.. " Tangan Siska menggambarkan sesuatu yang membuat Hanna malu.
" Ih.. kak, pikiranmu kotor. " Hanna menutupi payudaranya dengan kedua tangannya.
" Mulai sekarang, aku akan memberimu les tambahan.. " ucap Siska.
" Apa itu ?" tanya Hanna.
" Sex education. Kau terlalu polos untuk ukuran wanita seumur mu. Apalagi kau tinggal di Bali, kau harus memahami sesuatu yang lebih spesifik mulai sekarang. "
" Tidak mau, aku malu. " Ucap Hanna.
" Ih, kita sudah seperti kakak adik, jadi jangan malu berbagi hal seperti itu padaku, aku bahkan pernah melihatmu telanjang.. " Haha.. Siska tertawa.
" Aaarrgghhh.... jangan di bahas lagi, aku malu.... " Hanna menutup kedua telinganya.
" Tidak usah malu - malu. Nanti ku beri tips lagi ya..." Siska menggoda Hanna lalu tertawa kembali.