My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Apalagi...



Pagi hari, Denpasar, pukul 05.30 wita..


Hanna sudah berada di ruang makan menemani suaminya di meja makan, sekedar hanya menikmati segelas teh hangat mengisi perut Siwan yang masih kosong.


"Mas, tidak mau sarapan dulu?" tanya Hanna.


"Nanti saja di pesawat, ini terlalu pagi bagiku untuk sarapan !" jawab Siwan.


Aji yang sudah menghabiskan secangkir kopinya sejak tadi sudah siap dengan tasnya dan menunggu di garasi mobil bersama Elsa yang baru selesai berolahraga.


Sebelum pergi, Siwan pun sempat berpamitan pada ibunya yang baru terbangun dan sedang menginjak anak tangga terakhir. Siwanpun sempat mengecup kening Hwan yang masih tertidur lelap di atas ranjangnya.


Berat rasanya saat ia harus pergi meninggalkan buah hatinya hari itu.


Hanna mengantarkan Siwan ke depan halaman rumah.


"Mas, jangan lama ya, cepat kembali, kau harus sehat dan selamat saat kembali kerumah," Hanna terus memeluk Siwan dengan erat, sepanjang ia melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah.


"Doakan aku ya, chagiya, lain kali, aku akan membawa kalian kemanapun aku pergi, bersabarlah... !" Siwan mengecup pucuk kepala istrinya dan mengecup bibir Hanna.


Mereka melupakan beberapa pasang mata yang mengawasi kemesraan keduanya.


"Aish... jomblo, bisa apa !" ucap Aji yang kemudian memalingkan wajahnya setelah tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuatnya kesal.


"Makanya, kau juga harus cepat-cepat mencari jodoh, ingat, umurmu sudah hampir di penghujung kepala tiga," celoteh Elsa, membuat Aji seketika nyalang dan menatapnya tajam.


"Kkau... " Aji menghembuskan nafasnya kasar, "jadi, sekarang kau berani menyindirku, mentang-mentang kau sudah punya gebetan !" sambung Aji, tersenyum licik.


"S-siappa? tidak ada, jangan membuat gosip !" imbuh Elsa, merasa terancam.


"Kau pikir aku tidak tahu, hah... " Aji kembali tersenyum devil. "Aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu, tapi kau haris ingat posisimu, jangan sampai membuatnya dalam posisi berbahaya, kalau kau belum bisa melindunginya, ingat itu !!" Aji menepuk pundak Elsa yang terdiam membisu mendengarkan saran yang Aji berikan padanya.


Aji tentunya sudah tahu, siapa orang yang berada dalam percakapan mereka saat itu. Elsa tahu persis, bagaimana sifat Aji, dilain pihak ia memberi tugas dan kepercayaan padanya, tapi di sisi lain, Aji tidak pernah melepaskan pandangannya dari seseorang saat ia memiliki sebuah tugas atau misi yang sangat penting baginya, karena itu, ia julukannya adalah 'EAGLE' Elang, karena matanya selalu tajam bagaikan mata burung Elang.


Beberapa menit kemudian...


Hanna sedang berdiri tegak di samping Elsa melihat kepergian suaminya. Ia menatap mobil yang di tumpangi Siwan semakin menjauh dan melesat dengan cepat setelah keluar dari gerbang rumahnya.


"Elsa, apa kau tahu, sejak kejadian hari itu, aku selalu takut dia tidak akan kembali lagi saat berpamitan padaku," ucap Hanna.


"Kak, percayalah, saat itu dia hanya sedang lengah, tapi dia tidak akan pernah membiarkan hal itu untuk kedua kalinya, karena aku tahu, dia bukan orang yang lemah," sahut Elsa.


"Semoga saja doa yang kupanjatkan untuknya selalu dikabulkan, aamiin " lantas Hanna pun berputar dan melangkah menuju pintu masuk rumahnya. Di susul oleh Elsa.


Siang harinya, setelah Hanna selesai memandikan, memberi makan dan menyusui Hwan, ia berpamitan pada ibu mertuanya untuk pergi berbelanja kebutuhannya dan Hwan.


Hanna pergi bersama Elsa berdua. Di rumah, Bram dan Seno yang menjaga keamanan rumah.


Elsa menyetir mobil dengan sangat hati-hati.


Mereka pergi menuju salah satu Mall ternama yang ada di daerah Denpasar.


Saat keduanya sampai di basement, Hanna mengajak Elsa untuk membeli pakaian terlebij dahulu, baru kemudian membeli bahan makanan untuk mpasi Hwan dan kebutuhan dapur lainnya yang sudah kosong karena tadi bi Asih sempat memberi Hanna list belanjaan apa saja yang kosong di dapur.


Selesai berbelanja pakaian, Hanna dan Elsa memutuskan untuk makan siang di salah satu foodcourt yang ada di Mall.


Saat sedang menunggu makanan tiba, Hanna mendapat panggilan telepon dari suaminya.


"Assalamaualaikum, mas, sudah sampai?" tanya Hanna pada Siwan di seberang sana.


"Waalaikum salam, aku baru sampai di kamar hotel, aku sedang istirahat sebentar, setelah itu aku akan makan siang dengan Aji, bagaiamana si kecil Hwan, apa dia rewel?"


"Tidak, dia baru saja makan siang dengan ibumu, aku masih belum pulang, aku juga sedang menunggu makan siangku dengan Elsa, "


"Baiklah, jangan terlalu lama ya, kasihan Hwan !"


"Iya, aku tahu, tadi sebelum pergi aku sempat memompa ASI untuknya, hanya untuk dua kali minum saja, setelah ini aku akan membeli sayuran dan pulang kok,"


"Baiklah, nanti aku telepon lagi, tetap berhati-hatilah, Chagiya !!" seru Siwan, dan menutup perbincangan mereka selanjutnya setelah masing-masing mengucapkan salam.


Setelah pesanan makanan tiba, baik Hanna dan Elsa langsung menyantapnya, sambil sesekali mengobrol. Mungkin lebih tepatnya wawancara ekslusif yang di lakukan Hanna pada Elsa.


"El, boleh aku bertanya?" Hanna memulai aksinya untuk membayar rasa penasarannya selama ini.


"Silahkan !!" jawab Elsa, singkat.


"Waktu itu, saat kau menolongku bersa Hwan dan Rayhan, kau tiba-tiba muncul dengan penampilan yang berbeda, emh... sebenarnya kau yang asli seperti apa?"


Hanna masih merasa penasaran karena saat itu, Elsa muncul dengan rambut blonde lurus dan matanya juga tentu berbeda, karena saat itu Elsa tidak menggunakan kontak lensa, meskipun saat itu malam hari, namun Hanna bisa melihatnya dengan jelas dengan perubahan tersebut.


"Saat kau melihatku malam hari itu, itulah wujud asliku, rambut dan mataku seperti ayahku, karena aku keturunan Eropa, ibuku dari Jawa Timur, namun tinggal di Bali," ucap Elsa.


"Eropa, negara mana?" Hanna kembali bertanya.


"London !!"


"Owh... London, emh... tapi, kenapa saat ini kau menrubah warna dan gaya rambutmu? apa ini merupakan syarat saat kau melakukan tugasmu? bahkan kau menggunakan kontak lensa, apa kau merasa nyaman terus memakainya?"


"Ya, tugasku adalah melakukan penyamaran, dimanapun aku berada, namun terkadang aku muncul dengan wujud asliku untuk beberapa alasan tertentu, atau sedang terburu-buru mungkin, hihi... " Elsa tertawa tengil.


"Kau pasti orang yang benar-benar ahjussi dan bli percaya, tugasmu pasti sangat melelahkan, apa kau tidak jenuh?"


"Tidak, sama sekali tidak, aku senang berpetualang, dan juga, aku masih harus membalas budiku Cobra dan Eagle, " Elsa mengucapkannya tanpa melihat ekspresi wajah Hanna yang berubah penuh rasa keingin tahuan karena Elsa sedang fokus menyantap es campur pada mangkuknya sambil menunduk.


"Cobra? Eagle?" Hanna mengangkat sebelah alisnya dan menunggu penjelasan Elsa selanjutnya.


Elsa mengangkat kepalanya dan menatap Hanna dengan kaku.


"Ah, itu, maksudku, kak Wan dan bli Aji !" ucapnya.


"Oke, apa itu semacam nama samaran saat menjalankan sebuah misi, aku anggap begitu, tenang saja, anggap saja aku tidak pernah mendengarnya, aku tidak akan bertanya lagi tentang hal itu, " Hanna mengedipkan sebelah matanya pada Elsa.


"Tapi, apa boleh aku bertanya lagi soal hal lainnya?" Hanna kembali bersemangat.


"Apa itu?"


"Emh, apa kau dan Rayhan sedang sering menjalin komunikasi dan semacamnya brlakangan ini?"


Pertanyaan Hanna sontak membuat Elsa yang sedang menyeruput kuah es campurnya menjadi terbatuk-batuk karena tersedak.


"Kau kenapa, ini minum air putih dulu !!" Hanna membuka sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Elsa.


Setelah pernapasannya kembali normal, Elsa mulai kembali mengeluarkan suaranya.


"A-aku..."


Hanna langsung menyela, "tidak usah kau jawab, kalau kau merasa tidak nyaman, tidak apa, aku hanya asal bertanya saja," imbuhnya.


Tanpa terasa, waktu sudah hampir pukul 13.30 wita, dan Hanna menyudahi sesi belanjanya hari ini dengan beberapa kantung keresek sayur, buah dan pelengkap dapur lainnya.


Setelah itu mereka kembali pulang karena khawatir pada Hwan, takut Hwan rewel saat di tinggalkan oleh ibunya.


Sesampainya di rumah, benar saja, saat itu Hwan sedang menangis merindukan ibunya.


"Ya ampun, anak bubu, kasian, kangen bubu yaa... " Hanna langsung di sambut oleh tangisan anaknya.


"Dia tidak mau tidur siang, padahal matanya sudah mengantuk, " ucap ibu mertua Hanna, bu Shinta.


"Maafkan bubu ya sayang, sebentar, bubu cuci tangan dulu ya, " Hanna pun buru-buru pergi ke kamar mandi mencuci tangan dan wajahnya, lalu mengambil alih Hwan dari pangkuan neneknya.


Hanna menimang Hwan sambil berdiri, ia tidak menyusuinya karena Hwan baru saja menghabiskan satu botol asi perah beberapa menit sebelum Hanna sampai di rumah.


"Maaf ya bu, aku merepotkan ibu, Hwan pasti rewel saat aku tinggal pergi," Hanna jadi merasa tidak enak hati.


"Tidak apa, dia belum terbiasa denganku ataupun Asih, mungkin nanti kami akan menjadi akrab seiring berjalannya waktu, lagi pula dia hanya rewel belum lama ini, mungkin dia sudah benar-benar mengantuk," bu Shinta menangkap rasa tidak enak hati dari raut wajah menantunya.


"Sebaiknya kau bawa saja Hwan tidur di atas, biarkan Asih yang mengurus belanjaan di dapur !!" seru bu Shinta.


"Baik bu, aku bawa dia keatas dulu, " jawab Hanna, kemudian pergi meninggalkan bu Shinta yang masih duduk santai di ruang keluarga.


Di dapur...


Elsa yang sejak kembali menemani Hanna berbelanja merasa sedikit lelah, namun ia tetap membantu bi Asih di dapur membereskan sayur, buah, daging dan ikan, mencuci dan menatanya di dalam kulkas.


Saat membuka pintu kulkas, sejenak Elsa membiarkan pintunya terbuka untuk beberapa saat, karena ia sedang menata beberapa wadah hasil belanjaan tadi. Namun, nampaknya Elsa larut dalam kesejukan yang di ciptakan oleh hawa dingin yang menyembur dari dalam kulkas. Ia menikmatinya sesaat, bahkan ia terlihat terdiam melamun di ambang pintu kulkas, ia sedang teringat kembali dengan ucapan Hanna sesaat sebelum ia turun dari mobil.


Flashback mode on


"Elsa, kalau kau penasaran tentang Rayhan, tanyakan saja padaku," Hanna kembali mengedipkan sebelah matanya di depan Elsa lalu turun lebih dahulu dari mobil dan mengeluarkan beberapa kantung belanjaan dari dalam bagasi.


Elsa masih terdiam, nampaknya ia masih tercengang dengan apa yang di ucapkan Hanna baru saja.


Hanna yang melihatnya dari belakang hanya tersenyum merasa senang sudah menjahili Elsa dengan perbuatannya.


"Aku yakin, mereka memang sedang melakukan pendekatan, hah... biarkan saja lah, mereka masih single, tidak ada salahnya kan.." batin Hanna sepanjang langkahnya masuk kedalam rumah.


Flashback mode off


"Aish... kenapa aku jadi resah seperti ini, kak Hanna jadi curiga padaku, tidak... tidak... aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kenapa aku harus cemas, hahaha... " Elsa menggumam, ia bahkan sempat tertawa aneh, sehingga bi Asih yang melihatnya menegurnya dari belakang.


"Heh, kau kenapa Elsa? mematung di depan kulkas, cepat tutup kulkasnya," pekik bi Asih.


"I-iya bi, heheh... " Elsa kembali tersenyum kaku.


...***...


Malam kembali datang, menyambut kegelisahan hati seorang insan yang sedang dilanda resah dan gelisah, menanti kabar dari orang terkasih nan jauh disana.


Hanna sedang termenung di balkon kamarnya, menatap langit yang di penuhi oleh bintang-bintang yang menyibakkan cahayanya di kegelapan malam. Bulan yang bersinar terang seakan menjadi saksi kerinduan yang menyelimuti tubuh dan pikirannya yang belum juga 24 jam di tinggal pergi oleh orang terkasihnya.


"Kenapa dia belum menghubungiku lagi? jam berapa ya di Seoul sekarang?" ucap Hanna dengan lirih, sambil sesekali memandangi layar hpnya yang belum juga mendapat notifikasi pesan masuk ataupun sebuah panggilan masuk. Saat itu, waktu di rumahnya menunjukkan pukul 21.00 wita, perbedaan waktu antara Indonesia dan Korea Selatan kurang lebih sekitar dua jam.


Karena terlalu lama di balkon, Hanna pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu menuju balkon dengan rapat.


Ia menaruh hpnya di atas nakas, lalu karena merasa haus, ia hendak mengambil air minum dari dispenser mininya yang ada di dalam kamar. Namun, ternyata galonnya sudah kosong, air pun tidak menetes sedikitpun.


Sebelum pergi ke dapur untuk mengambil air minum, Hanna sempat menghampiri Hwan dan melihat wajahnya yang masih tertidur lelap, begitu tenangnya wajah Hwan hingga mampu mengikis rasa gelisah yang ada di hatinya.


Hanna pun keluar dari kamar, bermaksud untuk mengambil air minum di dapur. Namun, sebelum ia menuruni daru persatu anak tangga, ia melihat lampu di dalam ruangan kerja Siwan masih menyala. Dan ia pun mendekat bermaksud melihat apakah memang ada di dalamnya.


Pintu ruang kerja pun ternyata tidak tertutup dengan benar. Saat ia sudah berada di depan pintu, Hanna yang berniat mendorongnya, tangannya yang sudah melayang seketika tertahan saat mendengar suara seseorang di dalamnya.


Ia tidak jadi melakukan niatannya yang ingin masuk ke dalam ruangan kerja suaminya itu.


Ia masih mematung di depan pintu, ia sedikit menguping pembicaraan antara mertuanya dan Elsa. Ada sedikit celah yang memungkinkan Hanna untuk bisa melihat ke dalam meskipun hanya samar-samar.


"Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan padanya, Elsa, aku tidak sanggup memberitahunya tentang kabar ini, tapi dia juga berhak tahu karena dia....'seketika ucapannya terhenti, lalu menghirup udara sepanjang munkin, dan menghembuskannya dengan kasar, "ah... , cobaan apalagi ini..." sambung ?bu Shinta, menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit ruang kerja itu.


Elsa hanya berdiri dan mengawasi bu Shinta, takutnya terjadi sesuatu padanya.


Wanita di hadapannya itu sudah berusia lanjut, bahkan beberapa penyakit sempat menghinggapi tubuhnya. Elsa mengkhawatirkan kondisi bu Shinta yang sudah berusia tua namun masih disuguhi masalah yang bertubi - tubi karena keluarganya.


Elsa tentu tahu dan sudah mengenal bu Shinta, karena ia sudah cukup lama menjadi salah satu anak buah Siwan.


"Mereka sedang membicarakan apa? kenapa ibu terlihat sedih?" batin Hanna.


...****...


Ada apa lagi ini Miskah...