
Malam hari...
Di sebuah rumah makan khas Bali, Hanna dan Siwan duduk berhadapan. Makanan sudah terhidang di meja, namun, baik Siwan maupun Hanna belum ada yang menyentuhnya seujung kuku pun.
Siwan masih sibuk menerima telepon dari ibunya dan menceritakan kejadian tentang Ayu.
Setelah selesai menelepon...
" Chagiya, kenapa kau belum makan ?" tanya Siwan.
" Tidak apa, aku menunggumu !!" jawab Hanna.
Padahal cacing di perutnya sudah berdemo dari tadi. Hanna baik Siwan belum makan lagi sejak siang tadi karena merasa khawatir dan prihatin dengan kondisi Ayu.
Setelah Siwan kembali ke rumah sakit, kebetulan keluarga Ayu yang berasal dari kota Yogyakarta pun datang. Maka Hanna, Siwan dan Arya pun pamit pulang pada Ayu dan ibunya.
Sebelum pulang ke rumah, Hanna mengajak Siwan makan di luar karena di rumahnya tidak ada nasi maupun lauk pauk, kalaupun harus masak dahulu pasti lama.
Sejak awal karena mereka memang akan pergi menghabiskan acara pergantian tahun baru di villa yang ada di luar kota. Acara mereka terpaksa harus batal karena insiden yang terjadi pada Ayu.
Saat sedang makan, mereka hanya fokus melahap nasi di piring masing - masing karena merasa sangat kelaparan. Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah Hanna.
Di perjalanan pulang, saat mobil memecah jalanan malam hari yang mulai macet, Hanna tertidur karena merasa sangat lelah.
Dan, beberapa jam kemudian, saat ia membuka matanya, ternyata dia sudah berada di kamarnya, terbaring di atas kasur.
Hanna terperanjat dan turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya setelah indera pendengarannya menangkap suara tv yang menyala di luar.
Di ruang tengah, ia melihat tv memang menyala, namun, Siwan sendiri sedang tertidur dengan posisi duduk bersandar di ujung sofa.
Hanna menyelimuti Siwan dan mematikan tv nya. Lalu dia pergi ke kamar mandi mencuci mukanya, menggosok gigi dan mandi dengan air hangat. Malam itu, dia merasa sangat kepanasan. Padahal kalau sedang di Bandung ia selalu di larang mandi malam hari oleh ibunya, takut reumatik lah, ini lah, itu lah, banyak mitos nya.
Selesai mandi, saat sedang mengeringkan rambutnya, tiba - tiba dari pintu terdengar suara ketukan.
Tok... tok... tok...
" Masuklah... " ucap Hanna melirik ke arah pintu lalu kembali menatap cermin.
" Kau baru selesai mandi ?" tanya Siwan yang berjalan mendekati Hanna.
Dan, tiba - tiba Siwan memeluknya dari belakang.
" Maaf ya, tahun ini kita hanya bisa menikmati pergantian malam tahun baru di rumah saja " ucap Siwan.
Hanna menghentikan aktivitas mengeringkan rambutnya meskipun masih setengah basah. Ia menyimpan hairdryer di meja riasnya, lalu berbalik ke arah Siwan yang masih memeluknya.
" Tidak apa, yang penting kita masih bisa bersama " ucap Hanna menatap mesra kekasihnya.
Siwan memeluknya sangat erat. Kepalanya bertumpu di pundak Hanna, nafas hangat Siwan terasa di tengkuk leher kekasihnya.
Hanna hanya setinggi ketiak Siwan, sehingga saat Siwan memeluknya, ia terpaksa harus sedikit meregangkan kakinya agar sejajar dengan wanitanya itu.
Lama - lama Siwan merasa pegal sendiri. Ia melepaskan pelukannya lalu mengajak Hanna keluar dari kamar menuju ruang tv.
Siwan mengajaknya duduk di sofa, dan saat Hanna terduduk, ia mulai merebahkan dirinya di sofa dan menjadikan paha kekasihnya sebagai bantalan kepalanya.
Hanna memahami betul bahwa kekasihnya itu sedang butuh sebuah penghiburan. Antara amarah, benci dan sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
Hanna mengelus - elus rambut Siwan dengan lembut, dengan sedikit pijatan agar Siwan merasa relax.
Tak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulut manis kekasihnya, Siwan hanya menatapnya dari bawah.
" Kau sariawan ?" tanya Siwan.
" Tidak, memang kenapa ?" Hanna merasa heran dengan pertanyaan konyol kekasihnya.
" Tidak ada ciuman untukku ? rasanya sudah berhari - hari bibirku kekeringan !!" ucap Siwan memajukan bibir bawahnya.
Hanna tersipu malu, pipinya memerah.
" Kau biasanya langsung maju duluan, tidak pernah minta di cium ataupun minta izin dariku sebelumnya " jawab Hanna.
" Aku takut kau sedang sariawan, soalnya setiap bertemu, kau selalu banyak terdiam, tidak cerewet seperti biasanya " ujar Siwan.
" Ish... perasaanmu saja mungkin ' Hanna memukul dada Siwan, ' kau tadi kemana, tidak mau menceritakannya padaku ?" tanya Hanna.
Siwan menghindari tatapan kekasihnya, ia memiringkan tubuhnya dan wajahnya terbenam di perut Hanna yang ramping.
" Pasti tidak mau menjawab, dia pasti sudah melakukan sesuatu yang tidak ingin aku ketahui " gumam Hanna di dalam hatinya.
" Baiklah kalau tidak mau cerita, tidur saja sana !!" Hanna menghentikan tangannya yang sibuk memijat kepala Siwan.
" Kau marah ?" tanya Siwan.
" Tidak, aku hanya pegal memijatmu " ucap Hanna ketus.
" Aku tidak meminta mu memijatku " ucap Siwan tanpa beban.
" Cepat minggir, aku mau tidur di kamar !!" Hanna semakin merasa kesal, alisnya terlihat sudah berkerut.
Siwan malah mempererat pelukannya dan kepalanya terus bergerak meliuk liuk di perut kekasihnya hingga membuat Hanna merasa geli dan meminta ampun.
Setelah Siwan menghentikan perbuatan jahilnya, dia terbangun dan duduk di samping Hanna. Ia lalu mengecup bibir kekasihnya yang kembali cemberut.
" Aku sedang sariawan !!" tegas Hanna.
" Mau ku gelitik lagi ?" Siwan menyeringai jahat di samping wajah Hanna yang tidak mau menatapnya.
Hanna semakin memajukan bibirnya dan mendelik pada Siwan.
" Hanya kau, tempat ternyaman ku untuk menenangkan isi kepala yang sedang berantakan, tolong mengertilah, lain kali aku akan menceritakannya padamu, ya... " Siwan menarik dagu Hanna perlahan agar dia mau menatapnya kembali.
Hanna hanya menganggukan kepalanya lalu jatuh di pelukan Siwan. Ia semakin terbenam di dada bidang milik kekasihnya kala Siwan dengan lembut nya mengelus rambut dan punggung Hanna.
Tanpa terasa, suara letusan kembang api dan terompet terdengar jelas dari luar. Nampaknya waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam memasuki pergantian tahun baru.
" Ahjussi, ayo kita keluar melihat kembang api " ajak Hanna.
" Tidak mau, di luar dingin, kita nonton di tv saja " ucap Siwan lalu mengambil remot dan menyalakan tvnya.
Hanna berdecak, sepertinya malam tahun baru kali ini dia benar - benar di buat kesal oleh Siwan.
Beberapa menit kemudian, Hanna bukannya menonton tv tapi malah fokus berselancar di dunia sosial medianya, melihat update foto idol dan aktor favoritnya. Dia merasa moodnya kembali membaik akibat melihat wajah tampan para idol favoritnya itu.
Ia bernyanyi tanpa memperdulikan Siwan di sampingnya yang sedang menonton berita dan acara musik di tv.
Hanna merasa bersemangat menyambut tahun baru 2016 dengan di temani oleh G-Dragon, ToP, Daesung, Seungri dan tentu saja Taeyang lewat mv grup musik favoritnya di yucup.
Siwan merasa di abaikan, tapi ia cukup terhibur dengan suara merdu kekasihnya yang menyanyikan lagu berbahasa Korea. Siwan bahkan mengecilkan volume suara tv tanpa sepengetahuan Hanna.
Lama - kelamaan, Siwan merasa di nina bobokan oleh suara merdu kekasihnya, tanpa ia sadari, tubuhnya terus miring, dan, kepalanya jatuh di pundak Hanna.
Hanna mematikan musik di hpnya. Ia membuka headset dari telinganya dan membetulkan posisi Siwan. Ia menidurkan Siwan di atas sofa lalu menyelimuti nya. Sebelum pergi, ia mencium kening Siwan lalu mengusap kepalanya.
" Maafkan aku, ahjussi, aku belum bisa memahami perasaanmu yang sesungguhnya, selamat malam... !!" ucap Hanna.
Lalu, ia pergi meninggalkan Siwan tidur di sofa, ia masuk ke dalam kamarnya.
Namun, tidak lama kemudian, Hanna kembali keluar dari kamarnya sambil membawa selimut tebalnya dan guling kesayangannya.
Ia pun berjalan menuju sofa di sebrang Siwan dan mengatur posisi nyaman untuk tidurnya. Hanya sebuah meja yang memisahkannya dan Siwan.
Wajahnya terlihat berkilau dan basah. Ternyata di dalam kamar ia sempat menempelkan berlapis - lapis skincare rutin tiap malamnya.
Sebelum menutup mata, ia berdoa, mulutnya tak henti memanjatkan doa dan harapannya di tahun baru yang akan ia jalani selanjutnya.
Keesokan harinya...
Siwan orang yang pertama kali membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.
Ia begitu terkejut melihat kekasihnya pun tertidur di sofa di depannya.
" Ck... ck... ck... kenapa dia tidur di sana !!" ucap Siwan.
Sebelum membangunkan Hanna, Siwan terlebih dahulu pergi ke kamar mandi mencuci mukanya, menggosok gigi, lalu membuat teh hangat untuknya dan Hanna.
Setelah menaruh tehnya di atas meja makan, ia kembali menghampiri Hanna untuk membangunkannya.
" Chagiya... bangunlah, sudah pagi !!" ucap Siwan menepuk pipi kekasihnya perlahan.
Namun Hanna tidak juga membuka matanya, ia hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Siwan.
Siwan tersenyum melihat kelakuan kekasihnya. Dan, selimut yang membalut tubuh Hanna ia tarik dan lempar ke sofa satunya lagi tempat Siwan tidur semalam.
" Ahjussi, dingin... !!" tubuh Hanna mengkerut.
" Geser, aku akan menghangatkan tubuhmu !!" Siwan menghimpit tubuh Hanna hingga menempel pada sandaran belakang sofa lalu memeluk Hanna.
" Emh... sempit, dadaku terasa sesak... " ucap Hanna terdengar manja.
" Makanya, berbaliklah padaku, jangan membelakangi ku seperti ini " ucap Siwan penuh senyum devil.
Hanna pun membalikkan badannya dan memeluk Siwan seperti memeluk guling kesayangannya, yang kini sudah tergeletak di lantai.
Tanpa di sadari, Siwan pun malah ikut tertidur kembali di atas sofa sambil berpelukan bersama kekasihnya, pagi itu.
Siangnya, kini Siwan dan Hanna sedang makan bersama di meja makan.
Sebelumnya, saat terbangun mereka memutuskan untuk memesan makanan lewat layanan pesan antar, mereka begitu malas pergi keluar rumah, juga sedang malas memasak.
Selesai makan, setelah mencuci piring, giliran Hanna mandi setelah Siwan duluan yang mandi saat Hanna mencuci piring tadi.
Selesai mandi, saat Hanna memasuki kamar, ia masih melihat Siwan mengenakan handuk dan duduk di sofa yang ada di ujung kamar dekat jendela.
" Kenapa belum pakai baju ?" Hanna langsung menuju meja rias untuk menempelkan toner dan essence pelembab di wajahnya.
" Apa tidak ada bajuku di sini ? aku mencarinya di lemari tapi tidak menemukan nya !!" ujar Siwan.
" Ish... laki - laki selalu seperti itu, kalau di suruh mencari sesuatu pasti dengan gampangnya bilang tidak ada, padahal sudah di depan mata " Hanna mendumel sambil tangannya menarik satu helai t-shirt berwarna putih lengan pendek dan celana training berwarna hitam yang ada di gantungan lemari bajunya.
Setelah itu ia berjalan menghampiri Siwan dan menyerahkan baju milik Siwan.
Bukannya menerima bajunya, Siwan malah menarik lengan kekasihnya dan mendudukan Hanna di pangkuannya.
Seketika wajah Hanna berubah menjadi tegang kala Siwan semakin mendekatkan bibirnya ke wajahnya, namun, hanya satu senti lagi bibir mereka akan saling bertemu dan menyapa, Siwan menghentikannya.
" Kau, sedang tidak sariawan kan ?" tanya Siwan dengan serius.
Kepala Hanna langsung mundur dan kedua alisnya berkerut.
" Kau mau menggodaku atau membuatku kesal ?" tanya Hanna.
Siwan tertawa mendengar jawaban kekasihnya. Sedangkan Hanna, ia sibuk memukul dada Siwan yang sedang tergelak tawa karena berhasil menjahili Hanna lagi.
Saat Hanna meronta dan akan terbangun dari pangkuannya, Siwan kembali menarik tubuh kekasihnya itu dan langsung mengecup bibirnya.
Awalnya Hanna hanya diam saja, tidak membalas ciuman Siwan karena masih merasa kesal.
Namun, karena Siwan tidak mau diam, Hanna pun merasakan kembali tubuhnya seolah menginginkan sentuhan Siwan.
Siwan mengecup lehernya dengan begitu mesra, lalu ia merangsang Hanna dengan sentuhan lembutnya.
Hanna pun merasakan tubuhnya semakin lemas dan panas, ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Siwan namun masih tetap di pangkuannya di atas sofa.
Bibir mereka pun akhirnya bertemu kembali dan saling menyapa. Dengan penuh kemesraan, selama beberapa menit mereka berdua saling melepaskan kerinduan akan sentuhan satu sama lainnya.
Lalu, aktivitas mereka tiba - tiba terhenti kala mendengat suara bel rumah menggema di speaker rumahnya.
Siwan dan Hanna saling bertatapan, sebelum akhirnya mereka mengatur nafas untuk menenangkan diri.
Siwan buru - buru memakai bajunya lalu keluar dari kamar Hanna untuk melihat siapa oranh yang berani mengganggu acara romantis bersama pasangannya kali ini.
Hanna masih duduk di sofa dan sedang membetulkan handuk kimononya yang sempat terbuka beberapa saat lalu.
Betapa malunya dia hingga menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengkerutkan tubuhnya di atas sofa.
" Untung aku masih bisa menahannya " gumam Hanna.
Beberapa menit kemudian, Hanna yang sudah memakai pakaian dan polesan di wajahnya keluar dari kamarnya.
Ia mendengar suara percakapan dua orang pria di ruang tv.
" Siapa ya ?" ucap Hanna saat masih berjalan mengendap - endap menuju ruang tv.
Saat ia sampai di ruangan itu, betapa terkejutnya Hanna saat melihat seseorang yang duduk di sofa lainnya, selain Siwan.