
*
*
Malam itu, setelah perpisahannya bersama Melly, Teguh dan Rama, orang terdekat Hanna di departement store tempatnya bekerja, Hanna pulang secara diam - diam di tengah kerumunan karyawan yang keluar juga malam itu.
Hanna sengaja mengenakan jaket hoodie menutupi tubuh terutama wajahnya, tak lupa ia memakai masker dan kacamata bening untuk menyamarkan penampilannya. Karena dia tahu, seseorang masih selalu mengintainya di jam pulang bekerja. Hanna tahu, Siwan masih menyuruh anak buahnya mengawasi Hanna dari kejauhan. Dan untungnya hanya saat Hanna pergi dan pulang bekerja saja.
Hanna berjalan bersama beberapa karyawan lainnya menuju halte bus, dia akan mulai mengendari kendaraan umum kemana - mana karena sore tadi dia sudah menjual motor maticnya pada salah satu karyawan lantai 3 yang kebetulan sedang membutuhkan motor untuk adiknya.
Beberapa hari lalu tanpa sengaja Hanna lewat di depannya yang sedang bercakap - cakap dengan temannya di loker karyawan.
Hanna pun mencoba menawarkan motor miliknya dan kemudian temannya itu merasa cocok, setelah tawar menawar dan mencapai kesepakatan bersama, akhirnya pada hari minggu sore itu motor maric berwarna pink milik Hanna sudah berpindah tangan, lengkap dengan surat - suratnya.
Hanna menyerahkan motornya setelah temannya itu mentransfer uang ke rekeningnya, dan minggu sore saat temannya yang membeli motornya itu masuk kerja shift pagi, saat pulang dia membawa motor Hanna.
Lalu kemana barang - barang berupa baju dan peralatan lainnya yang selama ini selalu Hanna bawa ke tempat kerjanya, tiba - tiba hilang begitu saja ? atau Hanna buang di tong sampah toko ? tentu saja tidak Marimar...
Hanna sudah menyusun semua rencananya dengan rapih, dia sengaja membawa barang pribadinya ke toko dan membungkusnya dengan rapih, dia bahkan meminta izin security untuk menyimpan barangnya di pos satpam, dia menjelaskan bahwa dia akan pindah kostan, setelah sang security memeriksa barangnya Hanna selalu menyimpannya di sudut ruangan di dalam pos satpam, lalu memesan jasa kurir paket untuk mengantarkannya ke tempat tujuan yang menjadi tempat hunian baru untuk Hanna nantinya.
Satu minggu sebelum kepergian Hanna.
Hanna yang sedang masuk shift pagi berjalan menuju ruangan Satria sang Kepala Personalia di tempatnya bekerja.
Tok.. tok.. tok..
" Masuk " suara Satria menggema dari dalam ruangan lewat pintunya yang sedikit terbuka.
" Hanna, silakan duduk " Satria menunjuk kurssi di depannya.
Setelah menutup pintu dengan rapat, Hanna duduk di hadapan Satria, hanya terpisahkan oleh meja tulis di tengah mereka.
" Pak, apa saya bisa ambil tawaran bapak ? masih ada kesempatan kah untuk saya ?" tanya Hanna.
Satria terlihat berpikir, " emmmh... maaf, yang mana yang kamu maksud ?" tanya Satria.
Hanna terlihat sedikit kecewa, ia merasa bahwa dia sudah menyia - nyiakan kesempatan emas di depannya beberapa waktu yang lalu.
" Sudah terlambat !" batinnya.
" Han, Hanna, yang mana ? kan ada dua penawaran untukmu, kau mau pilih yang mana ?" tanya Satria.
" Ah... iya, maaf, itu, pindah ke kantor pusat, pak !" jawab Hanna.
" Owh... tentu saja, kantor pusat sedang membutuhkan seorang staff baru disana, menggantikan staffnya yang resaign, kamu mau ambil tawaran yang itu ?" tanya Satria.
" Iya pak, kalau memang saya layak menurut bapak " jawab Hanna.
" Aku pikir kamu malah lebih cocok dengan tawaran kedua yang bu Merry rekomendasikan, kenapa ? padahal jadi ikon toko apalagi jadi model katalognya itu bayarannya lebih besar loh, kamu juga jadi terkenal " ucap Satria.
" Saya tidak mau terikat kontrak baru lagi pak, saya bekerja di perusahaan ini hanya sampai tanggal perjanjian kontrak awal sudah habis " sahut Hanna.
" Kau pasti di perpanjang lagi, bahkan mungkin di angkat jadi karyawan tetap !" timpal Satria.
" Saya tidak bisa pak, saya sudah berjanji akan pulang pada kedua orangtua saya dan tinggal di dekat mereka kembali " jawab Hanna.
" Baiklah, kalau memang itu keputusanmu, jadi staff di kantor pusat pun bagus, kau mengalami peningkatan dalam karirmu, aku akan urus prosesnya secepat mungkin, kau bisa tunggu kabar dariku, dan pastinya bu Merry akan sangat kecewa padamu, kau harus datangi dia di ruangannya setelah aku memberimu kabar selanjutnya, oke !" ucap Satria.
" Baik pak, terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu !" ucap Hanna, pamit lalu keluar dari ruangan Satria.
Saat keluar dari ruangan Satria, ada Melly yang sedang menuju ruangan loker untuk menyimpan sesuatu di dalamnya.
" Han, ada apa ? kok keluar dari ruangan si pak Sat.. " Melly nampak penasaran.
" Ah, itu, pemindai absensi error kayaknya, lagi urus masalah absensiku yang gak ada di laporan " jawab Hanna, berbohong.
" Maafin aku kak, aku bohongin kamu terus akhir - akhir ini, maaf ya " gumam Hanna.
Hanna sengaja tidak memberitahu orang terdekatnya agar rencananya berjalan sesuai harapannya.
Dan, dua hari berikutnya sebelum Hanna libur, hari itu hari rabu, saat Hanna masuk shift siang.
" Hanna, bisa ke ruangan saya sebentar ?" tanya Satria pada Hanna yang baru datang dan sedang bersiap di depan cermin di lokernya.
" Baik pak !" jawab Hanna.
Sepersekian detik, Hanna masuk kedalam ruangan 5x4 meter itu dan duduk di hadapan Satria seperti biasanya.
" Han, saya sudah dapat balasan dari pusat, kau bisa pindah dan mulai bekerja disana hari senin besok !" ucap Satria.
" Benarkah ? alhamdulillah..." ucap Hanna.
" Jangan lupa datang ke ruangan bu Merry, dia sampai jam 5 sore hari ini " ucap Satria.
" Baik pak, terima kasih banyak atas bantuannya " ucap Hanna, mengulas senyumam di bibir tipisnya.
" Sudah tugas saya, kebetulan saya ingat kamu saat tim pusat menghubungi saya, saya ingat kamu bisa mengerjakan tugas sekertaris saya saat dia cuti hamil, jadi saya mencoba rekomendasikan kamu ke tim pusat " sahut Satria.
Hanna kembali mengingat momen dulu saat insiden itu belum terjadi, Satria memang sering meminta Hanna membantunya duduk di layar komputer untuk memproses data karyawan, serta mengerjakan hal - hal lain yang menjadi tugas seorang sekertaris di mejanya. Hanna bisa melakukannya karena dulu di Bandung dia bekerja menjadi seorang staff back office di perusahannya tempat ia bekerja.
" Pak, tapi, bisakah saya meminta tolong satu hal ?" tanya Hanna.
" Apa, katakan saja ?" tanya Satria.
" Bisakah bapak memberitahu orang yang bertanya pada bapak tentang saya, kalau saya mengundurkan diri dari perusahaan ?" tanya Hanna.
" Siapa ? maksudmu yang akan bertanya nanti ?" tanya Satria.
" Seseorang pasti datang kesini untuk mencari saya !" ucap Hanna.
" Ada apa ? apa kau sedang merencanakan sesuatu ? kau sedang ingin menghindari seseorang ?" tanya Satria.
" Bisakah bapak tidak bertanya masalah pribadi saya ?" tanya Hanna.
" Oh... jadi masalah pribadi ? baiklah, bawakan surat pengunduran dirimu, aku akan membuangnya segera kalau memang itu tidak berguna, aku tahu apa maksudmu, kak Siwan kan ?" tanya Satria.
Mata Hanna menyalang, secepat itu Satria bisa menebak apa yang ada di pikiran Hanna saat itu.
" Anggap saja ini permintaan maaf yang tulus dariku, aku tahu kamu masih kesal saat melihat wajah saya, baiklah... saya akan membantumu " ucap Satria.
" Terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu !" ucap Hanna.
Dan, sesuai arahan Satria, Hanna sempat menemui bu Merry sang Manager toko di tempat kerjanya.
Hanna berpamitan dan berterima kasih atas kebaikan sang manager yang selalu memperhatikan nasib karyawannya, bahkan selalu menjadi tameng saat ada konsumen yang datang hanya untuk marah - marah karena merasa tidak di layani dengan maksimal oleh karyawannya atau kecewa karena barang yang mereka inginkan tidak sesuai Ekpektasi.
" Jujur, aku kecewa sama kamu, aku udah terlalu berharap banyak sama kamu, padahal kamu cantik, sexy, cocok jadi model, pasti nanti lebih banyak job di luar juga yang bakal nyamperin kamu, ish... aku gak ngerti lagi jalan pikiran cewe macam kamu ini Han... " bu Merry geleng - geleng kepala.
" Maaf bu, aku gak nyaman kalau harus bergaya di depan kamera " sanggah Hanna.
" Alasan kamu, emangnya saya gak tahu di instagrem kamu kaya gimana, followers mu juga lebih banyak di banding saya, foto - foto sama gayamu keren, saya juga followers kamu tahu " ucap Merry sang Manager.
" Hehe... maaf, tapi makasih banyak loh bu, ibu udah pernah milih saya sebagai kandidat " ucap Hanna.
" Iya ya.. udah ah, saya lagi banyak kerjaan, kesel aku sama kamu !" ucap Merry.
Dengan wajah cemberut Merry sang manager meraih uluran tangan Hanna.
" Iya, semoga sukses ya di tempat barunya !" ucap Merry.
Hari kamisnya...
Saat Hanna libur bekerja, dia memutuskan untuk tidak pergi kemanapun, dia menelepon seseorang di seberang sana dan meminta bantuannya mencarikan tempat kostan yang baru, murah tapi mewah haha...
" Lu tinggal bareng gue aja lah, patungan aja gitu, gue jadi ada temen ngobrol kalo lagi di kostan " ucap Reni.
Ya, Reni mantan seniornya di departement store yang kini bekerja di hotel xxx sebagai seorang resepsionis memang tahu rencana kabur Hanna, bahkan dia yang membantunya. Namun dia bersekongkol dengan Hanna, pura - pura tidak tahu saat Melly menelponnya memberitahu Hanna resaign di malam perpisahannya dengan Hanna.
Hanna sengaja tidak memberitahu Melly dan Teguh, karena dia yakin, Siwan akan mencari mereka dan bertanya tentang dirinya pada teman - temannya itu. Hanna tidak ingin rencananya gagal oleh sandiwara yang akan Melly dan Teguh lakoni di depan Siwan.
Sekecil apapun, Siwan pasti bisa mengendusnya. Makanya lebih baik untuk sementara waktu dia tidak memberitahu kedua temannya itu.
Malam itu...
Bus yang Hanna tumpangi berhenti di terminal terakhir di kota itu. Sebetulnya perjalanan masih jauh, karena memang tujuannya pulang kali ini lokasinya berada di sebuah perbatasan kota Denpasar. Masih merupakan kota yang menjadi lokasi wisata di pulau Bali, hanya saja sudah termasuk daerah kabupaten.
Hanna menyewa sebuah ojeg menuju alamat barunya, meskipun dadanya berdebar karena takut di bawa kabur oleh tukang ojeg, namun dia tetap memaksakan diri. Sepanjang perjalanan mulutnya tak henti memanjatkan doa agar sang tukang ojeg yang dia pilih merupakan orang yang baik budi pekertinya, orang yang kuat iman dan takwanya, serta orang yang setia pada pasangannya supaya tidak tergoda oleh pesona Hanna. Apaan sih thor...
" Bli, masih lama gak ?" tanya Hanna.
" Sebentar lagi mbak, satu belokan lagi " jawabnya.
Hanna pun terlihat masih harus menahan nafas mendengar jawabannya. Di tengah malam yang gelap gulita dan sepi ini, dia berduan berboncengan pada sebuah motor matic dengan orang asing yang berprofesi sebagi tukang ojeg.
Namun, saat motor matic tersebut sudah sampai di belokan berikutnya, Hanna terlihat tersenyum gembira dan menghela nafas panjang serta menghebuskannya perlahan dengan penuh rasa syukur saat melihat wajah Reni tengah menunggunya beberapa meter dari belokan tersebut.
" Alhamdulillah sampai, makasih banyak ya bli, ini ongkosnya " ucap Hanna.
" Wah, kebanyakan ini mbak " sahut tukang ojeg.
" Gapapa, rezeki bli ambil aja, makasih udah nganterin saya dengan selamat " ujar Hanna.
" Baiklah, terima kasih banyak kalau begitu, saya pergi dulu " ucapnya.
" Hati - hati di jalan ya bli... " timpal Hanna.
Setelah bercakap dengan sang tukang ojeg, Hanna dan Reni berpelukan.
" Kangen aku padamu... " ucap Reni.
" Makasih ya kak, mau nungguin aku malam - malam gini " ucap Hanna.
" Ih.. kamu sih, mau aku jemput tapi gak mau " sahut Reni.
" Gapapa kak, kasihan kakak pasti kecapean pulang kerja, udah gitu bebenah kosan sendirian lagi " jawab Hanna saat di perjalanan menuju rumah kostan barunya.
Sesampainya di halaman depan rumah kostanya.
Untuk sesaat mata Hanna memendar ke seluruh lokasi rumah kost barunya itu, melalui cahaya lampu temaram, manik matanya menelaah bangunan kecil itu dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah.
" Tada.... welcome zeyeng... mulai sekarang ini tempat tinggal kita berdua " ucap Reni.
" Wah, kelihatannya sejuk banget ya, banyak pepohonan rindang " Hanna tersenyum senang.
" Yap... aku beruntung banget, mana yang punya kostannya ganteng lagi, hehehe... " ucap Reni.
Sebuah rumah Kost yang berada tidak jauh dari pinggir jalan raya namun hanya bisa masuk kendaraan bermotor saja saat masuk ke dalamnya.
Sebuah rumah kost kecil yang terlihat seperti rumah kontrakan karena hanya bangunan satu lantai dengan halaman cukup luas. Namun ada 3 rumah yang berhimpitan dengan rumah kost mereka yang bergaya minimalis dan sama. Sepertinya pemiliknya masih orang yang sama.
" Masuk yuk, udah malem kita istirahat " ajak Reni, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
Saat hendak masuk ke dalam, tidak lupa Hanna mengucapkan kata salam dan berdoa saat kakinya melangkah untuk pertama kalinya.
" Ritual ya... " Reni yang seorang umat kristiani nampak aneh melihat kelakuan Hanna yang berdoa sambil masih mengangkat kakinya sebelah.
" Aamiin " Hanna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tanda doanya sudah selesai dan mulai menginjakkan kakinya di lantai dalam rumahnya " bismillahirrohmanirrohim " ucap Hanna.
" Biar betah, berkah dan selamat kak, hehehe... " ucap Hanna.
Reni mulai melakukan room tours di dalamnya.
" Kamar sebelah sini ya, cuma satu, kita sekamar aja, aku udah beli kasur sesuai pesananmu, tuh lihat... " Reni membukakan pintu kamarnya lebar - lebar.
Dua buah single bed tanpa ranjang berada di dalam kamar agak berjauhan, berada di sisi kiri dan kanan terpisahkan oleh sebuah meja rias milik Reni.
" Kamu nanti kalau mau beli barang lagi bisa lah atur - atur aja deh " ucap Reni.
" Oke kak... " jawab Hanna.
" Lanjut, nah, ini kamar mandi kita, kecil sih tapi ya lumayan lah ya buat ukuran rumah kost, udah gitu airnya bersih terus seger lagi, dan maaf, gak ada shower air panasnya, cuma air dingin, hihihi... " ucap Reni.
" Its oke, no problem " ucap Hanna.
" Nah di dapur udah banyak barang sih menurutku cukuplah buat kita berdua, jadi mending kamu gak usah beli alat dapur lagi sayang kan uangnya, tv udah ada, hampir semua udah ada, jadi, santai aja lah kita hidup dengan damai aja berdua disini, deal ?" pinta Reni.
" Emh... kalo gitu, uang bulanannya aku 70 persen kakak 30 persen aja ya, soalnya semua udah lengkap, aku cuma tinggal bawa baju sama bawa bed aja, gak enak dong " ucap Hanna.
" Dih, gak usah lah, fifty fifty aja ah, jangan sungkan gitu kali sama gue Han " sahut Reni.
" Gak mau ah, aku yang gak enak nih kak " ucap Hanna.
" Yaudah 60 40 aja, deal, udah yah gak ada tawar menawar lagi " ucap Reni.
" Oke deal... !" Hanna menjabat tangan Reni.
" Yaudah ayok malam ini kita tidur yuk, besok kamu kerja pagi kan, aku juga sama "
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar.
Hanna masih sibuk mengeluarkan barangnya dan menata di atas kopernya yang belum terbuka.
" Han, maaf ya aku belum buka isi kopermu kecuali yang isinya makanan udah aku taruh di kulkas, aku gak berani soalnya " ucap Reni yang sudah berbaring dan akan memasuki alam bawah sadarnya.
" Gapapa kak, aku gak mau repotin kakak " jawab Hanna.
" Itu kasur sama bantal udah aku kasih seprai sama sarungnya, selimutnya juga bersih semuanya baru, pake aja, punyaku masih ada kok, terus kalo mau beli lemari buat baju - baju loe, beli aja kalo ada duitnya, kalo gak ada ntar gue transfer " ucap Reni yang sudah menutup tubuhnya dengan selimut.
" Ada kok kak, aku kan habis jual motor, nanti aku beli besok pulang kerja, makasih banyak yaa bantuannya " ucap Hanna.
" Iya, udah ya gue udah ngantuk banget nih !" Reni pun sudah mulai berpindah ke alam mimpi.
Hanna hanya tersenyum melihat Reni dari kejauhan. Dia pun bergegas menuci wajahnya dengan micellar water dan kapas, lalu membawa peralatan mandinya menuju kamar mandi, menyusunnya di atas keranjang yang menggantung di dalam kamar mandi itu. Lalu menggosok gigi dan mencuci wajahnya kembali dengan face scrub.
Sebelum kembali ke kamar, Hanna pergi ke dapur untuk: melihat - lihat isi kulkas dan lemari dapur.
" Ish... dia pasti jarang masak " Hanna meringis melihat isi rak bumbu dapur yang hanya ada gula dan kaldu saja, bahkan isi kulkas pun hanya beberapa stok fast food yang Hanna bawakan dari rumahnya.