My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Pemotretan



Keesokan harinya....


Pagi hari, pukul 08.30 wib...


Hanna terlihat sedang berusaha menelepon seseorang di dalam kamarnya, sambil mengawasi Hwan yang sedang bermain bersama mainannya di atas ranjang.


"Hallo, A Rey, ih... kemana sih baru di angkat, aku kan udah whatsupp dari subuh tadi, belum di baca apa gimana "


"Iya, oke, hari ini jadi kan mau jadi model brand baju muslim Hanna, cepet siap - siap dari sekarang, nanti sebelum di make up, kita facial dulu, mumpung masih banyak waktu,"


Hanna lalu menutup teleponnya.


"Hwan sayang, kamu baik - baik di rumah sama nenek ya, bubu mau kerja dulu, cari cuan buat masa depan kita, oke sayang, jangan rewel yaa... "


Tiga puluh menit kemudian...


Rayhan sudah sampai di depan pagar rumah Hanna.


Hanna pun berpamitan pada ibunya dan Hwan anaknya, lalu pergi bersama Rayhan.


Di dalam mobil...


"Gimana, di kabulin gak permintaanku ?" tanya Rayhan.


"Hemh... !" Hanna hanya fokus pada layar tabletnya membaca pesan masuk pada emailnya.


"Kok cuma hemh sih," Rayhan terlihat tidak puas dengan jawaban Hanna.


"Huft... ' Hanna menatap ke arah Rayhan sebentar ' iya - iya, Hanna kabulin, oke !" lalu kembali fokus pada layar tabletnya.


Sesampainya di kantor Hanna, terlihat parkiran sudah penuh oleh beberala mobil dan motor.


"Rame banget hari ini !" ucap Rayhan.


"Kan kita mau pemotretan A, orang dari studio pada kesini, dari salon juga udah Hanna booking biar kita gak bolak - balik, nanti di jalan keburu luntur lagi kalo kepanasan make upnya, "


"Hehe... " Rayhan hanya cengar - cengir.


Hari ini, Hanna dan timnya akan melakukan pemotretan untuk produk fashion muslim yang akan mereka launchingkan bulan depan.


Pemotretan di lakukan di salah satu sudut kantor Hanna dan kawan - kawannya.


Sebuah ruangan yang berada di lantai dua, khusus mereka siapkan untuk pemotretan berbagai macam produk yang di luncurkan oleh brand fashion mereka.


Hanna dan Rayhan kini sudah berada di dalam ruangan kantor.


"Kak Hanna, Salsa baru otewe, bentar lagi dia nyampe katanya," Rindy langsung laporan tentang salah satu model yang akan mengikuti pemotretan hari ini.


"Oke !" jawab Hanna.


"Kak Hanna, dari studio xxx sudah hadir, mereka lagi ngatur dekorasinya dulu di atas, sambil cek kamera, " ucap Elsa, karyawan Hanna yang lainnya.


"Siyap !" jawab Hanna kembali.


"Mbak Hanna, konsumsi baru nyampe, dibawa ke atas sekarang aja atau nanti ?" tanya mbak Yu, karyawan bagian pantry.


"Sekarang aja ya mbak Yu, kasihan kasihan nanti mereka takutnya pada laper !" jawab Hanna juga.


Sedangkan karyawan lainnya ada yang duduk di depan komputer masing - masing, dan ada juga yang heboh mondar - mandir mempersiapkan kostum untuk pemotretan ke lantai 2.


Hanna pun langsung mengajak Rayhan ke lantai 2 kantornya.


Suasana ramai mulai terasa, beberapa orang tengah berdiskusi dengan tim masing - masing.


"Hai syantik, eikeu udah nunggu daritadi loh, mana sih modelnya, kok belum pada muncul !" seorang pria lemah gemulai menyapa Hanna ketika langkah Hanna mulai mendekat padanya.


"Sorry ya Incess, kita telat, gapapa ya, jengong marah, nanti cepet keriputan loh " goda Hanna pada pria yang di panggilnya Incess itu.


"Iwh... amit - amit deh, eh... mana sih modelnya ? sapose cyin, eikeu penasaran nih... "


"Modelnya... emh... kita berdua !" ucap Hanna, dan langsung membuat Incess dan asistennya, juga Rindy merasa terkejut.


"Kak, gak salah denger aku kan ? kalian berdua beneran mau jadi modelnya kali ini ?" tanya Rindy.


"I-iya, kenapa sih ? gak cocok ya kita ?" tanya Hanna. Rayhan yang sedari tadi berdiri di sampingnya hanya terdiam sambil menahan wajahnya yang sudah memerah karena malu.


"Bu-bukan gitu, cocok, kalian cocok banget, wah... seratus persen cocok, iya kan !" Rindy menatap Incess dan memberinya isyarat lewat mata untuk menyetujui perkataannya.


"Wah... perfecto !" Incess bertepuk tangan sambil tersenyum cerah.


Tidak ada yang tidak mengetahui tentang Hanna dan Rayhan di kantor ini, bahkan Incess MUA dari salon langganan kantor mereka pun sudah tahu tentang status hubungan mereka.


Rayhan yang terlihat selalu bergerilya untuk mendapatkan hati Hanna, selalu mendapatkan dukungan dari orang - orang di sekeliling Hanna, termasuk orang - orang di kantornya.


Hanya saja, Hanna masih saja menutup hatinya untuk pria lain, sekalipun dia adalah Rayhan, sang cinta pertama Hanna.


"Tapi kak, Salsa gimana ?" tanya Rindy.


"Dia tetep jadi model kita, dia nanti pake baju yang seri ini nih " Hanna mulai membuka file di tabletnya dan menjelasakan pada Rindy perubahan rencana mereka.


"Nah, nanti aku sama Rey yang bakal bawain produk couple muslim nya, ngerti ya ampe sini ?" tanya Hanna.


"Ahsiyappp.... !" jawab Rindy.


"Yaudah, aku sama A Rey mau maskeran dulu, kamu siapin pemotretan produknya dulu aja sama Elsa, "


Hanna dan Rayhan pun mulai duduk di kursi di depan cermin untuk memulai perawatan wajah mereka.


"Ya ampun cyin, kenapa gak dari dulu aja yey yang jadi modelnya, cucok meong padahal yey itu, body aduhai, muka syantik, bening, biarpun tingginya kurang semampai, banyak highheels kan sekarang, gak usah mikirin soal tinggi, gampang itu mah, yakan Rey... !"


"Ish... lambemu itu Ncess, bisa diem gak sih, buruan kerja !"


Rayhan hanya tersenyum sambil mulai menikmati sentuhan tangan sang asisten yang memijat wajahnya, melakukan perawatan sebelum akhirnya di pakaikan masker dan di make up oleh sang asisten si Incess.


Ternyata syarat yang di berikan oleh Rayhan malam tadi adalah, di ingin agar model wanita yang menjadi couple nya saat pemotretan hari ini adalah Hanna sendiri.


Dia tidak mau kalau model wanitanya selain Hanna.


Sebetulnya Hanna memang sejak dulu selalu di tawarkan menjadi model produk fashion mereka, hanya saja Hanna selalu menolak karena merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sekarang. Tidak seramping dahulu ketika ia belum hamil dan melahirkan Hwan ke dunia ini.


Karena kesibukan yang ia jalani, maka tidak ada waktu baginya untuk sekedar berolahraga membentuk kembali otot - otot perutnya dan mengecilkan pahanya.


Setiap hari liburnya sebisa mungkin ia selalu habiskan waktunya bersama Hwan dan keluarga di rumah.


Bahkan untuk piknik atau berlibur bersama pun hanya bisa di hitung oleh hitungan jari.


Satu jam kemudian, Hanna dan Rayhan sudah siap dengan pemotretannya.


Setelah sang fotografer memfoto Salsa dan berbagai model baju yang akan di jual, kini giliran Hanna dan Rayhan yang akan di foto.


Rayhan merasa kaku, ia bahkan berkali - kali meminta maaf karena membuat acara pemotretan mereka malah terlihat seperti acara melawak.


"A Rey, santai aja, anggap aja mereka gak ada, hihi... " Hanna pun malah terbawa suasana, jadi tidak bisa berkonsentrasi melihat wajah pucat Rayhan dan gayanya yang kaku.


"Senyum aja, senyum lima jari, rileks aja, anggap aja lagi foto keluarga, "


"Duh, keceplosan " gumam Hanna.


"Really ?" Rayhan terlihat senang mendengar apa yang di ucapkan oleh Hanna, senyumnya kini mulai merekah.


"Oke, siap ya, kita mulai lagi yo... " teriak sang fotografer.


Dan, akhirnya pemotretan pun selesai.


Setelah membereskan peralatan masing - masing, mereka melanjutkan acara makan bersama di salah satu rumah makan sunda terdekat dari kantor Hanna dan timnya.


"Hanna, ini gimana make upnya kok susah ilang sih !" Rayhan menghampiri Hanna dengan wajah basah kuyup, dia mencuci wajahnya di salah satu wastafel yang ada di dekat kamar mandi di lantai 1.


"Dih, si Incess gak bersihin make up ka Rey tadi ?" Hanna pikir Rayhan sedang di bersihkan wajahnya oleh Incess karena setelah ganti baju tadi Hanna masih berada di lantai 2 fokus melihat hasil pemotretan di layar laptop sang fotografer.


"Gak, aku gak mau, hih... !" Rayhan bergidik ngeri.


"Hahaha... oke, kalo gitu aku bantu bersihkan ya, kak Rey duduk aja dulu di dalam ruanganku !"


Rayhan pun masuk ke dalam ruang kerja Hanna, sedangkan Hanna masih harus berdiskusi dengan karyawannya diluar ruang kerjanya.


Lima menit kemudian, Hanna pun masuk ke dalam ruangan kerjanya, lalu ia menghampiri Rayhan yang sudah duduk bersandar di atas sofa.


"Sini, aku bersihin pake kapas sama micellar water, makeup tuh apalagi waterproof mana bisa bersih cuma pake air kran tau "


"Ya mana kutahu, aku kan gak pernah pake makeup kek gini " sambar Rayhan dengan lirih.


"A Rey kenapa ? ngantuk ?"


"Heemh... agak aku ngantuk, soalnya semalem di ajak bergadang tanding maen ps sama si Umay,"


Umay adalah adiknya Rayhan.


"Yaudah, diem aja gitu, aku bersihin mukanya sebentar, tapi jangan tidur ya, kita kan mau makan di resto depan perempatan sana,!"


"Hemh... " Rayhan hanya berdehem sambil menutup matanya.


Hanna mulai mengusapkan kapas basah ke wajah Rayhan dengan perlahan, dan otomatis jarak mereka lebih dekat dari sebelumnya.


Saat Hanna sedang fokus membersihkan wajah Rayhan, tiba - tiba Rayhan membuka kedua matanya.


"Hanna, sampai kapan aku harus menunggumu ?"


Hanna merasa terkejut, ia pikir Rayhan memang sudah tertidur.


"A Rey, ku pikir kau tidur !"


"Hanna, jangan mengalihkan pembicaraan !" Rayhan mulai beraksi, dia merangkulkan lengannya di pinggang Hanna, dan menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya.


Hanna menahan dengan kedua tangannya, ia berusaha mendorong Rayhan dengan menekan dadanya dengan telapak tangannya supaya ada sedikit ruang di antara mereka berdua.


Kedua bola mata mereka saling menatap.


Rayhan menatapnya dengan penuh harap.


"A Rey, jangan begini, nanti kalo ada yang tiba - tiba masuk kesini gimana, mereka pasti nuduh kita macem - macem, " Hanna berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Rayhan.


"Aku gak peduli Hanna, mereka bahkan mendukung hubungan kita, apa kau tidak menyadarinya ?"


Sebetulnya, Hanna bukannya tidak menyadari atau tidak peka, perlakuan Rayhan selama ini padanya, memanglah selalu mendapat dukungan dari orang - orang di sekelilingnya, termasuk dari keluarganya sendiri.


Ia ingin Hanna kembali menata kehidupan asmaranya, dia harus segera melupakan masa lalunya dan memulai kembali kehidupanmya bersama pria yang tulus menerima dan mencintainya. Daripada harus memulai denga pria yang baru dikenalnya, keluarga Hanna lebih setuju jikalau anaknya itu menjalin hubungan dengan orang yang sudah mereka kenal dan mereka ketahui sikap, sifat dan kepribadiannya.


"A Rey, aku... "


Ucapan Hanna terhenti kala bibirnya terkunci rapat, karena Rayhan mengecup bibirnya secara tiba - tiba.


Rayhan terus mencium bibir Hanna dan menyesapnya lebih dalam, namun ia harus kecewa, karena tidak ada reaksi apapun dari Hanna sendiri. Tidak ada balasan dari ciuman yang di layangkan olehnya saat itu. Hanna hanya terdiam dan terpaku, seakan tubuhnya pun mencoba meneliti, apakah memang ada hasrat untuk membalas kecupan mesra dari Rayhan saat itu, namun rupanya tidak ada, dia tidak merasakan apapun saat itu.


Lalu, tiba - tiba, pintu ruangan Hanna terbuka secepat kilat.


"Kak Han, udah be-res belum " volume suara Rindi berubah dari penuh semangat jadi melemah kala ia merasa terkejut dan tidak mempercayai akan pemandangan apa yang baru saja ia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Rindi langsung mundur dan menutup pintu ruang kerja Hanna kembali serapat mungkin.


"Rin, kenapa, mana kak Hanna udah siap belum, kita udah laper nih !" sahut Elsa di depan pintu ruang kerja Hanna.


"Kita duluan aja, oke, kak Hanna bilang nanti nyusul sama kak Rey, yuk cepet kita pergi aja, aku juga udah lapar nih, bwahahaha... "


Elsa merasa heran dengan kelakuan Rindy yang tiba - tiba tertawa aneh.


"Hei, ayo cepetan kosongkan kantor ini, semua pintu udah di kunci kan ? pintu depan biar nanti kak Hanna aja yang ngunci katanya, ayo semuanya kita pulang dan makan bersama, hahaha... !" Elsa kembali mengakhiri perkataannya denga tawa lepas seperti seorang psikopat.


"Lu kenapa sih, takut gue liat loe kek gini Rin, kesurupan hantu model apaan sih loe, hih... " Elsa bergidik ngeri dan berlari menuju mobil yang sedang menunggu mereka, meninggalkan Rindy di belakangnya yang masih tersenyum dan berbicara sendiri seperti orang gila.


"Yes, akhirnya mereka jadian juga, aku mesti laporan sama tante Hani nih, eh tapi jangan deh, masa aku aduin kalo anaknya lagi ciuman sama si kak Rey, belum muhrim kan nanti mereka berdua malah di marahin !"


"Rindy, loe mau matung terus disitu, apa mau jadi ikut mobil kita pergi ke resto !" teriak Elsa yang menyembul lewat jendela mobil milik salah satu rekan kerja mereka.


"I-iya tunggu, gue ikut nebeng !" Rindy pun berlarian menuju ke arah mobil yang terparkir satu meter di depannya.


Kembali pada Hanna dan Rayhan.


Karena tidak ada respon dari Hanna, Rayhan pun melepaskan bibirnya yang melekat pada bibir Hanna.


Ia pun mulai melonggarkan lengannya yang melingkar di tubuh Hanna.


"Maaf, aku gak bisa menahan diri kalo lagi deket sama kamu Han, aku gak bisa mengontrol situasi !"


"Justru Hanna yang minta maaf, pasti Hanna udah sangat mengecewakan A Rey !"


"Aku, sejujurnya aku kecewa, tapi aku sekarang jadi paham, bagaimana harus bersikap ke depannya terhadapmu Han, sudahlah, ayo kita makan - makan, aku udah laper banget nih !"


"Ah, ya, o-oke... !" Hanna jadi nampak kaku, ia jadi merasa bersalah terhadap Rayhan.


Ia menatap punggung Rayhan yang semakin menjauh dan menghilang lewat pintu ruang kerjanya.


Beberapa menit kemudian, setelah Hanna mengunci pintu depan gedung kantornya, ia pun bergegas menuju mobil Rayhan yang sedang menunggu dirinya.


"Udah terkunci semua ?" tanya Rayhan saat Hanna mulai membuka pintu mobilnya dan duduk di sampingnya, di depan.


"Udah A, tinggal depan aja kok, yang lain udah di kunci sama mbak Yu !"


"Oke, let's go ! bismillah !" Rayhan mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya perlahan.


Mobil mitshubasi xpendor berwarna hitam miliknya melaju di keramaian jalanan kota Bandung di sore hari, pada hari senin, di awal bulan april saat itu.


Seolah tidak terjadi sesuatu apapun terhadap mereka sebelumnya, Rayhan masih bersikap seperti biasanya pada Hanna.


Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol dan berdiskusi juga bercanda ria tentang semua hal yang terjadi selama acara pemotretan mereka siang tadi.