My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sayonara...



Selesai makan siang, Hanna dan teman - temannya kembali ke toko untuk melanjutkan pekerjaannya hingga sore nanti.


Saat ia bekerja dan sedang melayani salah seorang konsumen di konternya, dari kejauhan dia melihat Satria naik ke lantai tiga lalu menghampiri pak Rama yang sedang mendandani mannequin di area promosi bersama Melly.


Lalu, tidak lama kemudian pak Rama menghampiri Hanna yang sudah selesai melayani konsumen, dia sedang merapihkan kembali pajangan di area konternya.


Pak Rama menyuruh Hanna untuk mendata siapa saja karyawan yang akan membuat t-shirt untuk acara piknik bersama para karyawan karyawati setiap tahunnya.


" Kenapa harus dia, biasanya kak Reni atau kak Melly." Ucap Hanna di dalam hatinya.


Lalu Hanna berkeliling di lantai tiga, mendata setiap karyawan/ti yang akan membuat t-shirt dan ukurannya. Setelah selesai dia harus melaporkan semuanya pada Satria.


Saat itu waktu sekitar lima menit sebelum jam pulang tiba. Hanna sedang berada di ruang personalia berhadapan dengan Satria. Hanna melaporkan datanya dengan sangat detail hingga membuat Satria langsung memahaminya.


" Oke, makasih banyak ya Han, udah bantuin saya !!" Ucap Satria menatap Hanna penuh senyuman.


" Iya pak, sama - sama. Nanti kalau ada yang mau menyusul dan perihal biayanya mungkin dua atau tiga hari lagi akan terkumpul. Nanti saya langsung laporkan sama pak Satria." Ucap Hanna.


" Oke, aku percayakan sama kamu ya !!" Timpal Satria.


" Kalau begitu, apa masih ada yang lainnya pak ?" tanya Hanna.


" Emh... sepertinya tidak ada, sudah jam tiga, silahkan barangkali kamu sudah mau pulang. " jawab Satria.


" Baik pak, saya permisi dulu ya !!" Ucap Hanna pamitan lalu keluar dari ruangannya.


Karena memang jam pulang sudah tiba, Hanna langsung pergi menuju loker dan bersiap untuk pulang.


Namun, tiba - tiba, dari belakang ada seseorang yang memanggilnya. Dan, yang memanggilnya adalah pak Rama, dia meminta Hanna untuk ikut meeting dadakan bersama para tim panitia acara wisata nanti, dari lantai tiga, Hanna di pilih pak Rama sebagai wakil dari lantai tiga untuk menjadi panitia tour gelombang pertama menemaninya.


Hanna tidak bisa menolaknya, karena ini merupakan pilihan pak Rama sebagai supervisornya. Beda lagi kalau yang memintanya Reni atau Melly, Hanna bisa saja menolaknya. Sebetulnya dia memang tidak mau ikut menjadi panitia acara, dia malas harus sibuk mempersiapkan semuanya, pasti akan banyak menyita waktunya.


Terlebih lagi, kali ini dia ingat, Siwan akan menjemputnya, dia merasa kecewa harus menyuruh Siwan menunggu. Hanna dengan buru - buru mengambil hpnya di loker lalu mengabari Siwan bahwa dia belum bisa pulang karena harus ikut meeting. Hanna menyuruh Siwan untuk tidak menunggunya karena di takutkan akan berlangsung lama acara meetingnya. Dan Siwan pun mengerti, dia yang sudah berada di lokasi penjemputan pun kembali melajukan mobilnya dan pergi entah kemana.


Dan, di ruang meeting, ternyata ada juga Satria disana, dia merupakan orang yang memberi arahan pada panitia sebagai pemimpin acara tour gelombang pertama.


Tanpa menaruh rasa curiga apapun, Hanna tetap mengikuti acara meetingnya dengan serius. Dia bahkan sempat mengutarakan berbagai pendapat yang sering di keluhkan karyawan/ti lainnya saat acara tour berlangsung setiap tahunnya.


Tanpa terasa, satu jam sudah akhirnya meeting pun selesai. Semuanya bubar dan kembali ke tempat masing - masing, ada yang pulang dan ada pula yang melanjutkan pekerjaannya karena sedang masuk bekerja shift siang.


Saat Hanna melihat di lokasi penjemputan, dia tidak melihat mobil Siwan di sana, ternyata Siwan tidak menunggu nya. Namun, dia tidak merasa kecewa karena dia sendiri yang menyuruhnya untuk tidak menunggu. Lalu Hanna pun memutuskan untuk pulang berjalan kaki saja dan akan naik ojeg pangkalan di perempatan dekat tempat tinggalnya yang baru.


Saat sedang berjalan menuju pangkalan ojeg, tiba - tiba dari belakang ada sebuah suara klakson motor. Hanna menghentikan langkahnya sebentar dan membalikkan badannya ke arah belakang, dan tiba - tiba motor tersebut berhenti tepat di samping Hanna.


Sebuat motor sport berbodi besar berwarna silver and blue berhenti di samping Hanna. Lalu, sang pengendara pun mulai membuka helm full face nya. Ternyata dia Satria.


" Han, mau pulang, ke arah mana ?" tanya Satria.


" Owh, aku sekarang tinggal di jalan xxx, dekat kok dari sini." Jawab Hanna.


" Jalan kaki ? aku anter yuk ?" ajak Satria.


" Emh... tidak usah, makasih atas tawarannya, aku mau naik ojeg pangkalan di depan sana saja. " Jawab Hanna.


" Kenapa, takut pacarmu lihat ya, terus marah. " Sahut Satria.


" Sebenernya sih ia, tepat sekali, masih nanya pula. " Ucap Hanna di dalam hatinya.


" Ah, anu pak, bukan begitu, saya takut karyawan di toko ada yang melihat, nanti takut ada gosip yang aneh - aneh, kan gak enak jadinya. Lebih baik tidak usah pak terima kasih banyak ya !!" Ucap Hanna menolak ajakan Satria.


" Oke, kalau kamu tidak mau, aku jalan duluan ya !!" Ucap Satria lalu memakai kembali helmnya dan pergi melajukan motornya.


" Huft... ngapain sih, sok sok akrab segala, aku gak bisa akrab sama staf di tempat kerjaku." Hanna menggerutu sambil melanjutkan perjalanannya.


Setibanya di rumah, Hanna langsung membersihkan dirinya karena sudah merasa sangat lengket dengan keringat yang bercucuran saat sedang bekerja.


Selesai mandi, dia langsung menelpon Siwan, memberitahunya bahwa dia sudah berada di rumahnya.


Lalu, tiga puluh menit kemudian, Siwan sudah berada di depan pintu rumah kekasihnya. Dia memencet bel berkali - kali, namun tidak ada yang membuka pintunya sama sekali. Lalu, karena dia memegang card key cadangan dan mengetahui kode sandi rumah Hanna, dia langsung bisa mengaksesnya tanpa kesulitan.


Siwan kini sudah berada di dalam rumah Hanna, dan, ia melihat kekasihnya sedang tertidur pulas di atas sofa sambil masih memegang hpnya yang masih menyala dan belum terkunci.


Seolah mendapat kesempatan emas, Siwan mengambil hp Hanna perlahan. Dia tidak segera membangunkan kekasihnya, karena dia ingin melihat - lihat isi hp kekasihnya itu. Namun, dia tidak menemukan apapun, di galeri hpnya hanya penuh oleh foto selfi dirinya, foto bersama Siwan, keluarga dan sahabatnya serta bersama rekan kerjanya.


Lalu beralih pada aplikasi whatsupp, dia hanya menemukan chat dari Siwan sendiri, keluarganya, grup sahabatnya dan dari Rayhan. Namun, saat ia membuka isi chatnya, dia tidak bisa memahami isinya, karena semua teksnya berisi percakapan bahasa sunda. Yang bisa ia pahami hanya kata - kata motor saja.


" Oh... mungkin dia sedang membahas motornya. " Ucap Siwan di dalam hatinya.


Dan, tidak lama kemudian, Hanna bergerak dari posisinya. Namun masih belum membuka matanya. Dan Siwan pun langsung menyimpan hp milik Hanna di atas meja, takut ketahuan oleh Hanna bahwa ia sedang melihat - lihat isi hpnya tanpa sepengetahuan Hanna.


Dan Siwan pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Hanna.


Sekitar satu jam kemudian, Hanna mulai membuka matanya, dan seketika terperanjat dari posisi tidurnya. Dia merasa terkejut mendengar suara berisik ketel dan sutil yang beradu di dapur.


Namun, saat melihat sebuah kunci mobil di atas meja, dia langsung menyadari bahwa itu pasti Siwan, kekasihnya. Hanna langsung berlari menuju dapur dan, ternyata memang benar, Siwan sedang asyik dengan acara masaknya di sana.


" Ahjussi, sejak kapan kau di sini ?" tanya Hanna menghampiri Siwan lalu memeluknya dari belakang.


" Hampir satu jam, lebih malah, aku kasihan melihatmu tertidur lelap di sofa, kau pasti lelah bekerja." Jawab Siwan.


" Iya, aku agak lelah hari ini, mungkin karena ini hari pertamaku kembali bekerja, belum terbiasa kembali." jawab Hanna.


" Kalau begitu, ayo makan dulu, kau pasti belum makan !!" Seru Siwan.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Siwan sedang menikmati makan malam bersama. Saat mengobrol, Siwan mencoba memancing Hanna tentang Rayhan.


" Oh iya, ahjussi, besok tidak apa kan kalau a Rey datang kemari ? dia mau mengembalikan motorku. " tanya Hanna.


" Tentu saja, tapi jangan biarkan dia menginap di sini ya !!" Seru Siwan menggoda Hanna.


" Ish... ahjussi, hanya kau seorang yang berani melakukannya, percayalah, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, dia pun hanya menganggapku sebagai adiknya saja, jadi, percayalah !!" Sahut Hanna.


" Oke, baiklah, aku percaya padamu, tapi tidak padanya, biar bagaimana pun, dia itu seorang pria, kau harus menjaga sikapmu padanya. " Ucap Siwan.


" Iya, tenang saja, cepat habiskan makan mu !!" Seru Hanna.


Selesai makan malam, mereka mengobrol santai sambil menonton acara komedi di tv. Siwan meminta Hanna untuk memijatnya kembali, Siwan merasa ketagihan dengan sentuhan pijatan kekasihnya itu.


Saat sedang memijat kepalanya, Hanna melihat ada sehelai uban di antara rambut Siwan yang hitam. Dia mencabutnya dan memperlihatkannya pada Siwan.


" Aku sudah tua rupanya. " Sahut Siwan.


" Ish... cuma sehelai, belum semuanya. Hihi.. " Timpal Hanna tertawa kecil.


" Kau pasti merasa malu kalau jalan bersamaku saat rambutku sudah menjadi putih semua. " Ucap Siwan menarik lengan Hanna yang sedang memijat kepalanya.


" Kau ini, berfikir negatif itu tidak baik, aku mencintaimu bukan karena rambutmu !!" Ucap Hanna.


" Lalu, karena apa... ?" tanya Siwan penasaran.


" Karena...... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya.


Siwan menunggu jawabannya dengan raut penasaran.


" Karena apa ?" tanya Siwan kembali.


Hanna menggelengkan kepalanya, tidak mau memberitahu Siwan.


" Owh, tidak mau memberitahu ku ya... baiklah, ini rasakan... " Siwan menggelitik perut Hanna hingga dia lemas karena menahan geli dan terus tertawa. Mereka berdua terlihat bahagia saat bersama.


Beberapa jam kemudian, karena sudah malam, Siwan pamit pulang, besok pagi sekali dia harus terbang ke Seoul. Dia harus mempersiapkan perlengkapan yang akan dia bawa.


Hanna merasa sangat berat untuk melepaskan kepergian Siwan, dia takut Siwan akan lama kembali lagi ke Indonesia seperti terakhir kalinya dia pergi ke Seoul.


Mereka berpelukan sangat lama sambil duduk di sofa.


" Tetaplah bersamaku, walau kita berjauhan. Aku tidak pandai merangkai kata manis, namun aku akan tetap mencoba menjaga hatiku tetap untukmu. " Ucap Siwan lalu mengecup bibir kekasihnya dengan lembut penuh kemesraan. Lalu Siwan mengecup kening kekasihnya dan kembali memeluk Hanna sangat erat.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna sedang berdiri di samping mobil Siwan di luar, dia terus melambaikan tangannya sampai kini mobil Siwan tidak nampak lagi di depan matanya. Lalu ia masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia terduduk di sofa, mengelus - elus sandaran sofa yang tadi di duduki oleh kekasihnya. Dia merasa hampa walau baru beberapa menit di tinggal pergi oleh kekasihnya.


Tanpa terasa, setelah beberapa menit terduduk, Hanna pun tersungkur dan tertidur pulas kembali di sofa.


Hingga sekitar pukul 02.00 wita ia terbangun, lalu pindah ke kamarnya melanjutkan tidurnya kembali.


Pagi harinya, seperti biasa pukul 05.00 suara alarm membangunkan Hanna dari tidurnya. Seperti biasa dia melakukan aktifitas paginya sebelum berangkat bekerja.


Sesampainya di tempat kerja, di loker, setelah merapihkan riasan dan seragamnya, dia tidak langsung pergi menuju tempat doa, dia masih memegang hpnya dan berkirim pesan bersama Aji. Karena Siwan sekarang mungkin sedang dalam perjalanan menuju Seoul. Siwan sempat menelpon Hanna saat ia hendak naik pesawat. Kebetulan saat itu Hanna sedang di dapur menyiapkan sarapan dan bekal untuknya.


Tanpa terasa jam doa pagi akan segera di mulai. Tapi Hanna masih belum menyadarinya padahal sebagian karyawan/ti berlalu lalang di hadapannya menuju area doa.


" Han, ayo, udah mau mulai doa paginya. " Ucap seorang pria membuat Hanna yang sedari tadi menatap layar hpnya tersadar kembali.


Saat Hanna meliriknya, ternyata dia Satria.


" Ah, iya pak, baiklah, saya lupa !!" Ucap Hanna dan buru - buru menyimpan hpnya di dalam loker lalu menguncinya.


Satria dan salah seorang security masih berdiri di pintu masuk karyawan untuk memastikan tidak ada karyawan/ti yang masih berada di area loker.


Selesai doa pagi, Hanna dan beberapa rekannya langsung meluncur menuju lantai tiga ke konter masing - masing.


Selama bekerja, dia menjadi kurang fokus karena masih mengkhawatirkan Siwan. Apa dia sudah sampai dengan selamat. Semoga saja, dia terus berdoa di dalam hatinya.


Hingga waktu istirahat tiba, Hanna masih belum menyadarinya hingga Melly menghampirinya dan mengajaknya untuk turun bersama menuju loker.


" Kamu kenapa, melamun terus ?" tanya Melly.


" Iya nih, sedih kak, pacarku lagi pergi ke Seoul tadi pagi." Jawab Hanna dengan nada lemas.


" Wah, berapa lama ?" tanya Melly.


" Gak tau kak, masih belum pasti. Katanya lagi ada proyek di sana, adiknya meminta bantuannya lagi. " Jawab Hanna.


" Pacarmu berarti orang yang sangat di percaya dan bisa di andalkan sama keluarganya, sabar, anggap aja dia lagi menabung untuk masa depan kalian." Ucap Melly sambil merangkul Hanna.


Kini mereka berdua sedang berjalan menuju pintu keluar karyawan setelah mengambil hp masing - masing dan bekal, di loker.


Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka di belakang. Dia adalah Satria. Dia tersenyum penuh arti menatap Hanna dari belakang yang kian menjauh dari hadapannya.


Saat sedang makan siang, Hanna akhirnya mendapat kabar dari Siwan bahwa dia sudah tiba dengan selamat. Dia bahkan di kirim foto Siwan yang sedang duduk santai bersama adiknya di Seoul. Akhirnya Hanna merasa lega dan kembali tersenyum. Melly dan beberapa temannya menggodanya hingga mereka tertawa terbahak - bahak.


Beberapa jam berlalu, kini tiba untuk Hanna dan beberapa karyawan shift pagi lainnya untuk pulang. Saat Hanna sudah di depan pintu keluar karyawan, dari belakang terdengar seorang pria memanggilnya. Dia adalah pak Rama yang mengajak Hanna meeting kembali. Dia minta maaf karena tidak sempat memberitahu nya saat dia tiba di toko karena dia masuk shift siang dan langsung sibuk mengerjakan laporan di kantornya.


Hanna langsung menuju loker kembali untuk menyimpan tas dan hpnya di dalam. Lalu mengikuti pak Rama ke ruang meeting.


" Meeting apalagi sih, perasaan tour masih lama." Ucap Hanna menggerutu di dalam hatinya.