
Keesokan harinya...
Selesai sarapan bersama bu Shinta, Hanna meminta izin untuk pergi jalan - jalan keluar panti bersama bi Lastri.
Karena bu Shinta dan pengurus serta beberapa anak di panti akan pergi beribadah, Hanna yang merasa kesepian pun ingin pergi melihat dunia luar.
Dia sudah janjian akan bertemu dengan teman - temannya, sebetulnya, hanya saja dia tidak berani mengungkapkan alasan yang sesungguhnya.
Beberapa jam kemudian...
" Hanna.... " pekik seorang perempuan yang sudah duduk di bangku taman di sebuah daerah di salah satu kota di pulau Bali.
Hanna yang dari kejauhan sudah bisa melihat sosok yang ia cari pun melambaikan tangan ke arah perempuan itu dan berjalan perlahan, menghampiri wanita dan beberapa teman lainnya, di ikuti oleh bi Lastri dari belakang.
" Ya ampun... kangen banget sumpah " ucap seorang perempuan lainnya.
" Gimana kabarmu dan si utun ini ?" tanya wanita itu.
" Alhamdulillah baik kak, kalian gimana kabarnya ?" tanya Hanna yang kini berhadapan dengan ketiga temannya dulu. Melly, Reni dan Teguh.
" Sehat, kita semua sehat, ya kan... " jawab Melly yang masih belum melepaskan genggamannya dari Hanna.
" Ya ampun, ternyata perutmu sudah terlihat membuncit, terakhir kali ketemu belum begini, ini gara - gara kembung akut kali yaa... " sahut Teguh.
" Hih... dasar " sinis Melly.
" Hahahaha.... " mereka pun tertawa bersamaan.
Tak lupa mereka menyapa bi Lastri yang menemani Hanna sejak kedatangannya tadi. Mereka tentu sudah tahu siapa bi Lastri, karena dulu saat Hanna depresi di rumah kenangan, bi Lastri yang menemaninya di rumah, jadi ketika mereka berkunjung untuk melihat kondisi Hanna, mereka sudah berkenalan dengan bi Lastri.
Flashback...
Sejak pertemuan Hanna dengan Teguh di salah satu Plaza di kota Denpasar, Hanna langsung mendapat serangan dari grup chat yang bernama " Modus " yang hanya beranggotakan Teguh, Hanna, Melly dan Reni.
Hanna langsung di cerca oleh pertanyaan yang menanyakan kebenaran akan informasi apa yang Teguh sampaikan saat itu.
Melly : " Pliss Han, jelasin apa yang di maksud Teguh "
Hanna : " Maafkan aku, faktanya memang begitu "
Reni : " Anjrit... kenapa gak cerita dari awal sih Han, kenapa ? loe takut kita gak mau temenan lagi sama loe ?"
" Loe sengaja kabur dari kita, cuma buat nutupin aib loe yang loe pikir kita gak bakal mau lagi anggap loe temen, gitu " menggebu - gebu meskipun hanya lewat teks chat di grup whussup.
Hanna : " Maaf, bukan gitu kakak kakakku yang cantik, aku cuma bingung, semua terlalu dadakan, aku sampe gak tahu harus mulai ngomong darimana "
Melly : " Kenapa loe pendem sendirian sih, loe anggap kita apa ? loe gak percaya sama kita - kita ?"
Hanna : " Maaf, bukan begitu kak " mengirim emoticon sedih.
Reni : " Coba aja kalau di Teguh gak liat loe kemarin di Plaza, pasti loe bakal sembunyiin selamanya kan, kehamilan loe, kembalinya loe ke Bali, kesel gue dengernya "
Melly : " Iya Han, kenapa sih, ceritain aja masalahnya apa, baru kita bisa paham dan mau maafin loe "
Teguh : " Jangan ada yang di tutupin lagi "
" Apapun masalahnya, kita tuh udah temenan lama, masa temen lagi kena masalah kita cuek aja, kita bukannya kepo, tapi justru kita pengen ikut meringankan masalah loe Han, kita pengen tetep saling support "
Dan Hanna yang baru sampai di rumah bu Shinta hari itu, saat sedang beristirahat di dalam kamarnya, merasa tersentuh dan menitikan air mata membaca chat di grup Modus yang mempertanyakan alasan apa di balik kembalinya dia ke Bali secara diam - diam dan tentang kehamilannya.
Hanna pun menjelaskannya secara detail, tentang awal mulanya dia tahu kalau dia sedang hamil dan memutuskan untuk segera pulang ke Bandung tanpa sepengetahuan siapapun, lalu alasan dia kembali ke Bali serta curhat panjang lebar.
Dan, pada akhirnya, obrolan panjang di grup hari itu banjir air mata serta support untuk Hanna dari kejauhan.
Melly : " Maaf ya, kita gak sabaran banget Han "
Reni : " Iya Han, maaf ya, tolong jangan tersinggung sama perkataan kita tadi "
Hanna : " Iya gaess, gapapa aku juga salah kok, maaf ya "
Melly : " Eh... kita boleh kan nemuin loe disana, kalo libur kita maen deh ke panti "
Reni : " Yoi... nunggu jadwal cuti gue dulu lah, gue lagi sering lembur nih "
Melly : " Ah elah... kelamaan nungguin loe mah Ren "
Reni : " Dih... perjalanan dari lokasi gue ke panti lebih jauh kali, bolak balik cape di jalan, tau "
Teguh : " Yaudah... next liburan di kota xxx sambil nengokin si Hanna sama dede utunnya "
Melly : " Siyap... !!"
Hanna : " Di tunggu ya onty dan om "
Teguh : " Dih, gue udah mau punya ponakan, gak nyangka "
Reni : " Kalian kapan lah, friendzone mulu, gak bosen apa ?" maksud Reni pasti menuju Melly dan Teguh.
Melly : " Apaan, si Teguh udah punya gebetan keles... "
Hanna : " Eh.. iya ka Guh, siapa cewe yang kemarin nemenin di Plaza ?"
Teguh : " Sodara "
Melly : " Bulshit, jangan percaya, si Teguh lagi proses jadi fuckboy"
Teguh : " Heh... sembarangan, gak lah, gue mah setia sama loe, cemburu yaaaaa.... "
Melly : " Halah.... modus "
Reni : " Hahahaha.... cekcok rumah tangga, udah ah, silahkan lanjutkan, aku gak ikut campur urusan rumah tangga orang "
Hanna : " Iya ah, rumit, aku pergi juga ah... bye... "
Melly : " Hey... kalian napa sih, jangan gitu lah "
Percakapan mereka hari itu pun berakhir dengan saling berkirim stiker yang saling mengejek satu sama lainnya. Membuat masing - masing tersenyum lalu tertawa melihat perang stiker dan meme kocak di grup Modus hari itu.
Flashback Off
...***...
Selesai bercengkerama bersama ketiga temannya, Hanna pun di kejutkan oleh kedatangan seseorang.
Seorang pria dengan gaya perlente memakai kemeja polos berwarna mocca dan skinny pants berwarna beige serta sepatu kets coklat dan rambut yang di tata dengan rapih, menghamipiri Hanna dengan membawa seikat bunga mawar berwarna pink.
" Hai... lagi pada kumpul disini ternyata " ucap Austin.
" Kak Oz, kok ada disini, lagi ngapain ?" tanya Hanna yang merasa terkejut melihat kedatangan Austin yang secara tiba - tiba.
" Tentu saja, aku akan selalu tahu kemanapun kau pergi " jawab Austin.
" Cieee.... " ucap ketiga temannya.
Bi Lastri hanya tersenyum biasa saja.
" Apaan sih " sahut Hanna menatap ke arah ketiga temannya.
" Hehe... bercanda Han, sudah 3 hari aku tugas di rumah sakit xxx dekat daerah sini, dan aku ada pertemuan dengan temanku sejak tadi di cafe ini, aku melihatmu dan, aku kemari menyapamu " jawab Austin.
" Duduk sini kak Oz, gabung dengan kita saja !!" sahut Melly.
" Tidak, terima kasih, aku harus segera pergi ke rumah sakit " jawab Austin " dan ini, untukmu, tadi ada penjual bunga keliling lewat " sambung Austin sambil menyerahkan seikat bunga yang sejak tadi berada di tangannya.
" Ya ampun... sweet banget sih, kak Oz " Melly terpukau dengan sikap Austin pada Hanna.
" Terima kasih kak Oz, kalau begitu hati - hati yaa, selamat bekerja !!" ucap Hanna.
" Sampaikan salamku pada bibi, nanti kalau aku libur aku akan berkunjung ke panti " ucap Austin.
" Oke !!" Hanna menganggukkan kepalanya.
" Siap nak Oz !!" jawab bi Lastri.
Setelah Austin berlalu...
" Neng, bibi ke toilet dulu yaa !!" ucap bi Lastri.
" Baik bi, santai saja !!" jawab Hanna.
" Han, sepertinya persaingan ketat nih !!" ucap Melly.
" Maksudnya ?" tanya Hanna, masih belum paham.
" Loe gak tahu apa pura - pura, udah jelas banget diantara keduanya punya perasaan khusus sama loe " jawab Reni.
" Kak Oz maksudnya ?" tanya Hanna.
" Iya, bukan cuma dia, bahkan bli Aji juga, aku bahkan udah tahu dari dulu kalau bli Aji tuh punya perasaan khusus sama loe " jawab Reni.
" Betul tuh Han, apa yang di katakan Reni, lagipula kan wajar aja Han, loe udah harus move on, kehidupan loe dan kebahagian masa depan loe harus segera di bentuk, jangan terus terpaku sama masa lalu, loe kan udah ikhlasin Om Korea loe, biarin dia tenang dan bahagia di alam sana, dan loe juga bahagia dengan kehidupan loe selanjutnya " ucap Melly.
Teguh yang kebanyakan diam hanya menepuk pundak Hanna untuk memberinya semangat.
" Tapi, aku, mana bisa memilih salah satu di antara mereka !" ucap Hanna.
" Kenapa ?" tanya Reni penasaran.
" Mereka juga gak seiman sama aku, kak !" jawab Hanna.
" Tapi kalo misalnya salah satu di antara mereka ada yang siap pindah keyakinan demi loe, gimana ?" tanya Reni.
" Itu, masalahnya beda lagi, masih banyak pertimbangan lainnya yang pastinya harus di pikirkan secara matang " jawab Hanna.
" Hadeuh... terserah loe lah, kita liat aja nanti " sahut Melly.
Pukul 13.00 wita...
Hanna dan bi Lastri kini sedang berada di perjalanan pulang ke panti.
Karena merasa lelah, di dalam taksi Hanna tertidur di pundak bi Lastri.
Sesampainya di rumah
Hanna yang masih setengah sadar berjalan di papah oleh bi Lastri hingga ke halaman rumah bu Shinta.
Dan, di depan pintu masuk, ia langsung di kejutkan oleh kedatangan orang yang sangat ia rindukan.
" Mamah... bapak... " pekik Hanna.
Hanna menghampiri kedua orangtuanya dan langsung memeluknya bergantian.
" Kamu darimana aja sih, keluyuran terus.. " ucap bu Hani, ibunya Hanna, sambil mengusap perut anaknya.
" Ketemu temen mah, baru juga kali ini aku pergi keluar, kalian datang kok gak bilang dulu sih, kalo tau mau pada kesini kan aku gak bakalan pergi kemana - mana " ucap Hanna, cemberut.
" Kan namanya mau ngasih sureprise lah... " jawab ayah Hanna.
Bu Shinta yang sejak tadi berada di antara mereka pun ikut menyela.
" Hanna, udah makan belum ?" tanya bu Shinta.
" Udah bu, tadi di cafe, sama bi Lastri juga " jawab Hanna.
" Yasudah, kalau begitu kau temani dulu kedua orangtua mu yaa, ibu mau ke panti dulu " ucap bu Shinta " saya tinggal dulu yaa, kalian santai saja disini, anggap saja rumah sendiri " sambungnya, pada kedua orangtua Hanna.
" Iya bu, terima kasih banyak, maaf kalo kami merepotkan " sahut bu Hanni.
" Tidak kok, jangan begitu, kalau butuh sesuatu tanyakan saja pada bi Lastri ya Han.. ibu pergi dulu " ucap bu Shinta, lalu pergi meninggalkan perkumpulan keluarga Hanna di ruang tamu rumahnya.
Kini, di ruang tamu, tinggallah Hanna, ayahnya dan ibunya. Bi Lastri pamit pergi ke belakang rumah untuk mengecek dapur sebentar.
" Bu, kalian cuma berdua ? si Dul gak ikut ? terus dari bandara naik apa ? kalian gak kesasar kan ?" tanya Hanna memberondong kedua orangtuanya dengan pertanyaan.
" Si Dul ikut kok, dia lagi pergi sama Aji, lagi survei villa " jawab bu Hanni.
" Apa ? villa ? sama bli Aji ?" tanya Hanna.
" Iya, Aji yang jemput kita di bandara tadi pagi, terus langsung kesini, sebelumnya adikmu yang kontekan sama dia terus minta di rahasiain segala sama Aji kalo kita bakal kesini " jawab bu Hanni.
" Ih... kerjasama yang terkoordinasi sekali yaa... " Hanna menyunggingkan atas bibirnya sebelah.
" Tapi seneng kan... kita datang kesini, maaf yaa, kita baru bisa nengokin kesini, soalnya si Dul pengen ikut, harus liat jadwal kuliah yang mata kuliahnya santai katanya, dia takut izin kalo pas bagian mata kuliah dosennya yang killer " sahut pak Bagyo.
" Hahaha.... " Hanna tertawa.
Dan, ketika mereka bertiga sedang asyik mengobrol tentang hal lainnya, tiba - tiba datanglah Abdul, adik Hanna yang baru pulang melihat lokasi villa terdekat dari panti, untuk tempat menginap keluarga Hanna yang datang ke Bali untuk sekalian berlibur.
" Aduh... ini ibu hamil darimana, kita datang kesini gak di sambut sama sekali " ucap Abdul.
" Cih... kalian datang gak bilang - bilang sih " ucap Hanna sambil menjewer kuping adiknya yang sudah duduk di sampingnya.
" Aaaarrggh... ampun teh, ampun... " pekik Abdul.
" Jadi, kalian gak akan menginap disini ?" tanya Hanna.
" Malu lah teh, kita tadinya mau cari penginapan sendiri, cuma nak Aji sudah bersedia menyiapkan tempatnya buat kita, kau juga ikut yaa, selama kita di Bali, kau harus tinggal dengan kita " ucap pak Bagyo.
" Emh... tentu saja, tapi, aku harus bilang dulu sama bu Shinta, pak, gak enak kan main pergi gitu aja " sahut Hanna.
" Tadi ibu udah bilang sih teh, tapi ya lebih bagus teteh bilang lagi aja sama bu shinta sendiri " timpal bu Hanni.
" Baik bu " ucap Hanna.
Dan, beberapa menit kemudian, Hanna keluar dari rumah bu Shinta menuju ke panti untuk mencari dan meminta izin pada bu Shinta untuk menemani keluarganya selama di Bali.
Namun, baru saja ia melewati rumah pohon yang ada di taman, ada suara siulan seseorang yang cukup keras terdengar di kedua kupingnya.
Hanna menghentikan langkahnya dan berkeliling mencari sumber suara siulan tersebut, namun tidak juga menemukan kehadiran seseorang di sekelilingnya.
Dan, ketika siulan kedua terdengar kembali di telinganya, Hanna mencoba menengadah ke atas lalu melihat seorang pria yang sedang tersenyum menatapnya dari atas rumah pohon.
Pria itu melambaikan tangannya.
" Bli... lagi apa di situ ?" tanya Hanna.
" Lagi sembunyi !" jawab Aji, lalu turun ke bawah lewat tangga yang menempel pada rumah pohon tersebut.
Dan, sepersekian detik, kini Aji sudah berada di hadapan Hanna.
" Bli, ih... kesel, sebel " Hanna memukul dada Aji berkali - kali.
" Kalian sekongkol yaa, gak bilang - bilang kalo keluargaku mau datang kesini, jahat... " sambung Hanna, kembali memukul dada Aji.
Aji menghentikan aksi Hanna, menahan kedua tangannya lalu menggenggamnya.
" Maaf, aku cuma menuruti kemauan adikmu, dia memohon - mohon padaku, yaa... aku sih iya kan saja " ucap Aji.
" Hih... coba kalo kasih tahu, aku gak bakal pergi ketemu temen - temenku hari ini " ucap Hanna.
" Nah... kamu tadi ketemu siapa ? dimana ?" tanya Aji.
" Aku ketemu kak Melly, kak Reni sama kak Teguh di cafe La Farm, emh... udah gitu, ada kak Oz juga, aku ketemu dia disana " ucap Hanna.
" Austin... ?" tanya Aji, seperti keheranan.
" Iya, kak Oz, katanya sudah beberapa hari dia tugas di rumah sakit xxx dekat sini " jawab Hanna.
" Benarkah ? kenapa aku tidak tahu ya !" ucap Aji dengan lirih, dan terdengar samar - samar di telinga Hanna.
Aji berpikir sejenak, mencoba mencerna perkataan Hanna barusan. Dan, tanpa ia sadari, ia kala itu masih menggenggam kedua tangan Hanna begitu erat, membuat Hanna menjadi salah tingkah sekaligus merasa senang namun gugup, lalu tersenyum tanpa sepengetahuan Aji yang masih nampak berpikir keras menatap ke arah salah satu sudut taman.