My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Last time... with you



Mengandung adegan 18+


Bwehehehe...


Hari minggu pagi...


10 hari sudah Hanna dan Siwan tidak berjumpa, bahkan memberi kabar lewat chat ataupun telepon pun tidak.


Kan mereka sudah putus hubungan... haha.. author tertawa mode jahat.


Sebetulnya di lubuk hati yang paling dalam mereka saling merindukan satu sama lainnya.


Namun ego dan gengsi terlalu berkuasa di tahta mereka.


Pagi itu, Hanna bangun siang, sekitar pukul 07.00 wita, dia baru membuka matanya karena semalam pulang kerja shift malam, bukannya langsung tidur dia malah menonton film drakor yang sedang booming kala itu, kisah percintaan dokter Kang Mo Yeon dan Kapten Yoo Si Jin.


Karena sudah tertinggal beberapa episode, dia menonton secara marathon hingga lupa waktu. Pukul 03.00 wita dia baru tertidur dengan mata yang sudah sangat berat.


Pagi itu, pukul 07.05 wita Hanna turun dari ranjangnya. Dia terpaksa bangun meskipun malas karena mendengar suara bel pintu terus berbunyi.


Saat dia sampai di depan pintu, ia tidak langsung membukanya, Hanna mengintip dari lubang kaca yang ada di pintunya.


Dan, Hanna mundur perlahan dengan raut wajah shock saat melihat siapa orang yang berdiri di depan pintunya dari luar.


Mau tidak mau dia pun membuka pintunya secara perlahan.


Dan, saat pintu di buka....


" Hai, chagiya... " ucap Siwan sambil tersenyum aneh.


" Ahjussi... k-kau... " belum juga dia melanjutkan perkataannya, Siwan langsung tak sadarkan diri di pelukannya.


Sekuat tenaga Hanna menahan berat beban tubuh Siwan. Dia bersusah payah menarik tubuh Siwan hingga ke ruang tengah, dan menidurkannya di atas sofa.


Air mata menetes begitu saja kala Hanna mencium bau alkohol dari tubuh Siwan.


Lalu dia pun berdiri hendak ke dapur untuk mengambil air dan lap ingin menyeka wajah dan mengganti baju Siwan yang basah karena minuman beralkohol.


Namun, baru juga hendak melangkah, Siwan menarik lengannya dan berkata...


" Kajima... kajima chagiya "


" Jangan pergi, jangan pergi sayangku "


Ucap Siwan sambil masih menutup matanya.


Hanna pun duduk kembali di samping tubuh Siwan di sofa. Dia mencoba menepuk wajah Siwan perlahan untuk menyadarkannya.


" Ahjussi... kau bisa dengar aku... " ucap Hanna.


Siwan malah menarik kedua tangan Hanna dan menjadikannya bantalan untuk wajahnya yang kini menyamping di atas sofa.


Hanna menariknya sekuat tenaga.


" Ahjussi, bangun, bajumu basah, ayo ganti baju dulu " Hanna menarik tubuh Siwan agar dia duduk untuk mempermudah Hanna saat membuka bajunya.


Siwan bersandar di sofa setelah Hanna membuka bajunya. Lalu Hanna menutup badan Siwan dengan selimut kecil yang ada di atas sofa.


Hanna pun berjalan menuju kamarnya dengan niat mencari baju ganti untuk Siwan.


Namun, saat dia sedang fokus menarik baju milik Siwan yang berada di rak paling atas lemarinya, tiba - tiba Siwan memeluk tubuhnya sangat erat dari belakang.


Hanna pun tidak jadi mengambil baju Siwan. Dia kembali menutup pintu lemarinya.


" Ahjussi... kau mabuk ?" tanya Hanna.


" Tidak, aku tidak mabuk, aku hanya mabuk cinta " jawab Siwan.


" Ahjussi, jangan seperti ini, kita tidak bisa terus seperti ini... " ucap Hanna sambil terus berusaha melepaskan lengan Siwan yang melingkar erat di tubuhnya.


Kini, Hanna dan Siwan sedang berhadapan, sesaat mereka saling bertatapan penuh kerinduan, kedua mata mereka terlihat berkaca - kaca. Dan... Siwan mencium Hanna dengan penuh nafsu lalu mendorong tubuh Hanna hingga membentur lemari, Hanna mencoba mendorong tubuh Siwan, namun Siwan menarik kedua tangan Hanna dan menahannya ke atas.


Karena Siwan terus ******* bibirnya, Hanna pun mulai terpancing oleh rasa rindunya yang menggebu, dia pun membalas ciuman Siwan.


Siwan mulai melepaskan tangan Hanna kembali, lalu menarik kaki Hanna ke atas hingga ia menggendong tubuh Hanna ala koala.


Siwan memutar tubuhnya dan membawa Hanna ke atas ranjang dengan masih saling berciuman. Siwan menindih tubuh Hanna, tangannya mulai menggerayangi tubuh Hanna, seraya merangsangnya.


Siwan terus bergerilya untuk menyerang Hanna yang nampak sudah kehilangan tenaga untuk melawannya.


Setelah mencium bibirnya, Siwan mulai mencium leher dan dada Hanna, tangannya sudah mulai merayap ke bagian bawah.


Hanna terlihat seperti pasrah, dia ingin menghentikannya, namun dia pun menikmati perbuatan Siwan atas dasar rindu di hatinya.


Hanna sudah mulai mengeluarkan suara - suara desahan dari mulut manisnya kala Siwan sudah mulai mengh*s*p area sensitifnya.


Dengan satu tarikan Hanna sudah berhasil di lucuti pakaian atasnya oleh Siwan.


Sesaat dia menarik Siwan ke dalam pelukannya. Hanna memeluk tubuh Siwan sangat erat.


" Ahjussi, apa kau mabuk ?" Hanna kembali bertanya.


Namun Siwan tidak menjawabnya, dia hanya menatap kedua netra Hanna dan menjalankan aksinya kembali. Siwan mencium mulut Hanna dengan lembut kali ini, lalu, dia menghentikan ciumannya, mengusap kedua pelipis Hanna dan kembali menatap Hanna.


" Apa kau mabuk ?" Hanna terus melontarkan pertanyaan seperti itu pada Siwan.


Siwan pun terbangun dan ambruk di samping Hanna. Siwan membelakangi Hanna. Saat itu, mata Siwan terlihat berkaca - kaca, Siwan buru - buru menyekanya sebelum ketahuan oleh Hanna.


Hanna menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Siwan yang bagian atasnya sudah terbuka.


Untuk sesaat Hanna melamun menatap langit - langit dengan posisi terlentang di samping Siwan. Lalu, Hanna bergerak menyamping menatap punggung Siwan, Hanna mulai menyentuh punggungnya, menyentuh tatto yang ada di atasnya, tatto kepala harimau yang nampak sudah pudar. Hanna menyentuhnya dengan lembut sehingga Siwan yang sudah mulai tenang pun merasa terpancing kembali.


Siwan berbalik dan menatap Hanna sambil menggenggam tangan Hanna yang tadi menyentuhnya.


Siwan mengh*s*p jari - jari lentik milik Hanna.


Dan, seketika, dari mulut Hanna, terlontar kata - kata yang sangat membuat Siwan terkejut dan membuat matanya nyalang.


" Ayo, kali ini, lakukanlah, aku ingin kau yang pertama menyentuhku, apapun yang terjadi ke depannya, aku ingin kau menjadi orang yang pertama untukku, anggap saja ini salam terakhirku untukmu " ucap Hanna, lalu tanpa terasa air mata kembali mengalir di kedua sudut matanya.


Begitu juga dengan Siwan, air matanya menetes bersamaan dengan Hanna yang memeluk tubuhnya sangat erat sambil menangis juga.


Beberapa jam kemudian....


Hanna mulai terbangun dari tidurnya. Saat melihat jam, ternyata sudah pukul 11.00 wita.


Dia terbangun perlahan dengan merasakan pegal di sekujur tubuhnya, dan, saat ia mulai menurunkan kakinya ke lantai, saat berdiri dan bergerak, Hanna merasakan sakit di bagian bawah, di area intimnya.


Dia mulai mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Hanna pun ambruk di lantai, mendadak kakinya terasa lemas dan sekujur tubuhnya kaku.


Hanna berusaha bangkit, merangkak keluar kamar dan berjalan terseok - seok menuju kamar mandi.


Di bawah kucuran air shower yang dingin, Hanna menangis sejadinya, dia bahkan kembali ambruk di lantai dan menangis tersedu - sedu.


Selesai mandi, dengan masih memakai handuk, Hanna menelepon seseorang di hpnya.


" Hallo, kak, aku ingin bertemu, ini penting, kau dimana ?" tanya Hanna.


" Baiklah, aku akan ke tempatmu, sekarang juga " ucap Hanna pada seseorang di seberang sana.


Satu jam kemudian...


Pukul 12.00 wita, Hanna sudah berada di lorong sebuab rumah sakit swasta, dia sedang menunggu seseorang sambil duduk di sebuah kursi yang ada di sana.


Tiba - tiba, seorang pria berwajah bule datang mendekat padanya. Pria itu memakai skinny pants berwarna hitam dan kemeja berwarna tosca lengan panjang.


" Hai cantik, apa kabar ?" tanya pria itu yang ternyata adalah Austin.


" Kak Oz, aku... " Hanna terlihat menahan tangisnya.


" Kau kenapa ?" Austin nampak terkejut melihat mata Hanna yang sudah merah karena menahan tangisnya.


Beberapa menit berlalu, kini Hanna dan Austin sudah berada di dalam ruangan kerja pribadi milik Austin.


Hanna kini duduk di sofa, Austin duduk di sampingnya namun ada jarak di antara mereka.


" Minumlah dulu, supaya kau lebih tenang " ucap Oz.


Hanna pun meneguk air putih di hadapannya sedikit lalu menaruhnya kembali di atas meja.


" Kak, aku takut hamil !" ucap Hanna.


" What... hamil... si-siapa, maksudmu kau ?" tanya Oz yang nampak keheranan.


Hanna menganggukkan kepalanya sambil menatap Austin.


" Tunggu, kau melakukannya dengan siapa ?" Oz nampak kepo.


" Tadi pagi, ahjussi datang ke rumah, dia mabuk, lalu aku... " Hanna mulai menitikkan air matanya dan menunduk karena malu.


" Oke.. oke tunggu, emh... apa dia mengeluarkannya di dalam ?" tanya Oz.


" Hah... apanya yang di dalam ?" Hanna malah terlihat bingung.


" Astaga... susah kalo ngobrol sama mantan perawan baru beberapa jam, itu maksudku kak Siwan bla bla bla....... " Austin menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.


" Owh... begitu ya, emh... mungkin di dalam, sepertinya bersamaan " jawab Hanna.


" Ya Tuhan... " Oz menahan kepalanya dengan kedua tangannya sambil menunduk.


" Bagaimana ini kak, aku takut hamil... " ucap Hanna.


" Sebentar, untuk kasusmu yang baru pertama kali sih memang biasanya jarang terjadi pembuahan, tapi untuk pencegahan, aku akan memberimu obat, kau tunggu saja disini sebentar " ucap Austin, lalu pergi keluar meninggalkan Hanna.


Beberapa menit kemudian Austin kembali dan duduk di samping Hanna lagi.


" Ini, minumlah, aku susah payah merayu temanku untuk mendapatkan ini " Austin menyodorkan sebuah botok kecil berisi 2 butir pil pada Hanna.


" Sekarang ?" tanya Hanna.


" Kau mau minggu depan pun tidak apa, paling beberapa calon anak Siwan sudah ada yang berkunjung di dalam rahimmu " Oz tersenyum jahil.


" Ish.. kau ini, maksudku tidak apa - apa aku minum ini sebelum makan ?" tanya Hanna.


" Ya harus makan dulu lah, kau belum makan dari pagi ?" tanya Oz.


Hanna menggelengkan kepalanya.


" Ya Tuhan, si Siwan itu bisa - bisanya bikin aanak orang sengsara, yasudah... ayo makan denganku, aku juga belum makan siang, ayo kita ke kantin " Austin berdiri dari kursinya.


" Aku harus kerja kak... " ucap Hanna.


" Kau tidak bisa minta izin, cuma sebentar kita makan lalu kau pergi, mau tidak, kau harus segera minum obat itu " sahut Austin.


" Oke, aku akan telepon supervisorku dulu " ucap Hanna.


Sambil berjalan menuju kantin, Hanna menelpon Rama dan meminta izin untuk datang agak telat ke toko karena harus melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Tentu saja Rama mengizinkannya.


Di kantin....


Hanna dan Austin sudah mulai menyantap makanan di depan mereka, terutama Hanna, dia makan dengan lahap dan terburu - buru supaya dapat secepatnya meminum obat yang di berikan oleh Austin.


" Pelan - pelan, nanti kau tersedak... " ucap Austin.


Hanna tidak menggubris ucapan Austin.


Dan, selesai makan, setelah minum air putih, Hanna terlihat mengambil nafas sejenak, memberi ruang pada lambungnya untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


" Kak, semuanya berapa, aku harus bayar berapa, katakan saja !" ucap Hanna.


" Sombongnya... sudah, tidak usah kau pikirkan, aku sejujurnya malah ingin bayi Siwan tumbuh di dalam perutmu " ucap Austin.


" Aku, takut, aku benar - benar belum siap, orangtuaku pasti mengusirku dari rumah " ucap Hanna.


" Dan kak Wan akan dengan senang hati menyambutmu ke dalam pelukannya, hahaha... " Austin tertawa seperti orang gila.


" Kau, sungguh gila, aku menyesal curhat padamu " ucap Hanna, lalu mengeluarkan sebutir pil yang di beri Oz dari botol dan meminumnya.


" Kak, bisakah kau merahasiakan hal ini dari ahjussi ataupun bli Aji, please.... " Hanna memasang wajah memelas.


" Iya sudah, mau bagaima lagi, demi kedamaian di dunia ini, aku akan mengunci rapat - rapat mulutku " ucap Austin.


" Terima kasih banyak kak, aku benar - benar merasa tertolong olehmu " Hanna menggengam tangan Austin.


Dan, seketika, seseorang mengejutkan mereka.


" Dokter Oz, dia pacarmu ? cie... di kunjungi pacar pas jam istirahat, romantis bener... " ucap seorang dokter pria yang berdiri di samping Austin.


Hanna langsung menarik tangannya, menyadari adanya kesalahan pahaman yang di buatnya.


Sang dokter pria terus menggoda dan meledek Austin.


Austin memberi isyarat pada Hanna lewat tangannya untuk segera pergi dari sana.


" Maaf, permisi, aku harus pergi, sampai jumpa " ucap Hanna lalu pergi berlarian meninggalkan Austin dan temannya.


" Hei, kita belum berkenalan... " teriak teman Austin, membuat orang - orang di sekitar mereka menatapnya dengan tatapan aneh.


...***...


Pukul 14.10 wita, Hanna tiba di parkiran departemen store tempatnya bekerja.


Rama sudah berada di ambang pintu keluar masuk untuk menolong Hanna agar bisa tetap masuk ke dalam area toko. Karena peraturan di tempatnya bekerja, barang siapa yang terlambat datang bekerja lebih dari 5 menit, maka akan di anggap alpa dan tidak boleh masuk ke dalam toko, artinya harus pulang kembali.


Rama membantunya menjelaskan pada security di sana agar Hanna tetap di izinkan masuk kerja karena sudah mendapat persetujuan izin darinya, bahkan Hanna memberikan surat dokter yang tadi ia minta dari Austin.


Selang beberapa menit, Hanna sudah siap untuk kembali bertugas menyambut dan melayani konsumen yang datang berbelanja.


Dia masih berada di area loker, baru saja dia selesai mengunci lokernya, tiba - tiba dia merasa mual.


" Ah, mungkin ini efek samping dari obatnya, kak Oz tadi bilang seperti itu " gumam Hanna.


Beberapa saat lalu..


Sebelum sampai di kantin, Austin sempat membicarakan tentang kemungkinan adanya efek samping setelah meminum obat tersebut.