My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Detektif gadungan



Malam itu, di sebuah kamar yang gelap tanpa setitik cahaya dari sudut manapun, Siwan nampak sedang berbaring dan tertidur lelap.


Namun, tiba - tiba, kedua alisnya berkerut, ia bermimpi, bayangan masa lalu nya sempat melintas di mimpinya kembali, ia ingin bergerak dan membuka matanya, terbangun dari mimpi masa lalunya yang sangat mengenaskan, namun terasa sangat sulit, seolah ada yang menahannya. Ia merasa seolah sedang menahan sakit dan kehabisan nafas, tercetak dari raut wajahnya yang meringis dan bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri namun tetap dalam keadaan tertutup.


Bayangan masa lalunya tentang perpisahan ayahnya, kematian sahabat kecilnya, juga kematian istrinya Yuri, kembali menghantui mimpi Siwan.


Setelah beberapa detik berlalu, Siwan pun dapat membuka matanya, ia terbangun lalu terduduk di atas ranjangnya dengan nafas terengah - engah, dadanya naik turun, keringat bercucuran di pelipisnya. Sorot matanya begitu tajam, namun, lambat laun, berubah menjadi tatapan sendu.


Siwan pun tersadar, ia menyalakan lampu meja kamarnya dan mengambil hpnya yang ada di atas nakas.


Siwan melihat waktu itu, masih pukul 01.00 wita, dan, ada sebuah pesan masuk di aplikasi whatsupp nya, dari Aji.


Setelah membaca pesan dari Aji, Siwan bangkit dan turun dari ranjangnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Sekilas, dengan wajah yang masih terlihat basah, Siwan menatap cermin di depannya dengan penuh kebencian. Sebelah tangannya mengepal di atas meja wastafel. Ingin sekali rasanya ia meninju cermin itu hingga hancur berkeping - keping, namun, hal itu ia urungkan saat tangannya yang sekitar satu senti meter lagi bersentuhan dengan cermin, ia tahan dan tarik kembali.


Siwan pun menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Siwan keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya.


Selama beberapa menit, yang ia lakukan hanyalah duduk di meja kerja dengan tangan kanan mengepal menahan kepalanya yang miring, lalu tangan kirinya memegang sebuah gelas berisi minuman.


Tatapannya kosong, namun alisnya terus berkerut, ia sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.


...****...


Kembali pada beberapa waktu yang lalu...


Saat hari natal, Siwan berkumpul bersama ibu dan keluarga nya di panti asuhan milik ibunya.


Indera penglihatan nya terus berputar di sela - sela obrolannya bersama keluarganya saat itu. Ia seolah sedang mencari kehadiran seseorang di sana.


Setelah percakapan bersama ibunya di taman belakang, Siwan masih duduk termenung sendirian mengenang masa kecilnya yang sering memanjat pohon saat sedang berada di panti asuhan ini. Makanya, ibunya membuatkan khusus rumah pohon untuknya supaya dapat bermain di atas pohon dengan tenang, tanpa rasa takut akan terjatuh lagi.


Tiba - tiba, saat sedang asik berkilas balik akan masa kecilnya itu, seorang wanita berjalan perlahan mendekat padanya dan duduk di sampingnya.


Seorang wanita seumuran dengan Aji dan Austin kiranya, terduduk dan menyapa Siwan yang tengah melamun itu.


" Kak, sudah lama tidak berjumpa, kau pasti sibuk bersama kekasihmu terus, iya kan... ?" tanya wanita cantik berambut ikal sedada itu.


" Ayu, maaf, aku jarang menemuimu, awal bulan lalu aku ke tokomu dan kau tidak ada, kau sehat kan ? tanya Siwan.


" Aku sehat kak " jawab Ayu dengan senyuman yang seperti di paksakan.


" Mana suami mu ? aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya !!" Netra Siwan berkeliling mencari seseorang di sekitar sana.


" Dia tidak ikut kak, dia sedang tidak enak badan, aku tadinya tidak akan kemari, tapi dia mengizinkanku pergi jadi aku menurut saja !!" jawab Ayu. Dia adalah sepupu Siwan dari keluarga ibunya. Dia yang mengelola bisnis kue bersama suaminya di salah satu gedung milik Siwan yang dekat dengan kostan Hanna dulu.


" Sakit apa dia, kalau begitu ayo, kita pulang, aku ingin menemuinya !!" ujar Siwan penuh semangat.


Saat Siwan berdiri dari kursinya, Ayu menarik lengannya agar Siwan duduk kembali.


" Kak, tidak usah, biarkan dia istirahat saja, aku.... lagi pula aku masih merindukan saudaraku, aku masih belum mau pulang !!" tutur Ayu menengadah pada Siwan yang kini sudah berdiri di depannya.


Siwan pun duduk kembali di samping Ayu.


" Baiklah, lain kali aku akan menjenguk nya " sahut Siwan.


Ayu menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong. Siwan merasa curiga padanya.


" Apa dia sedang tidak sehat ? kenapa matanya terlihat sembab, dan juga kenapa dia memakai riasan sangat tebal " gumam Siwan di dalam hatinya. Sesekali ia menatap wajah Ayu yang masih terlihat melamun.


" Ada yang tidak beres ini " gumam Siwan kembali.


Ayu yang dia kenal adalah seorang wanita yang malas berdandan, meskipun begitu, wajahnya memang terlihat sudah cantik tanpa riasan. Dia malas menggunakan make up tebal karena baginya untuk apa, dia bukan menjual wajahnya, saat di dapur, dia hanya akan bergelut dengan tepung dan bahan kue lainnya, bahkan kadang wajahnya tercoreng adonan cake dan pastry buatannya.


...****...


Pagi harinya, saat Aji keluar dari kamar tidur nya dan langsung menuju meja makan, ia dengan santainya melahap sendirian menu sarapan yang telah bi Asih siapkan beberapa menit lalu.


Bi Asih datang menuju dapur dengan membawa satu keranjang cucian dari kamar Siwan.


" Ji, kok sendirian, den Wan mana ?" tanya bi Asih.


" Memangnya di kamarnya tidak ada bi ?" tanya Aji dengan mulut penuh makanan.


" Tidak ada, kamarnya tadi masih gelap dan berantakan, bibi kira sedang lari pagi, tapi pagar masih di gembok, semalam si Oz gak pulang, tidur si rumah sakit !!" ucap bi Asih panjang lebar.


Aji pun meneguk air putih di gelasnya pertanda sarapannya sudah usai. Ia pergi meninggalkan bi Asih dan langsung bergegas menuju lantai 2.


Aji langsung masuk ke dalam ruang kerja Siwan. Dan, matanya langsung tertuju pada meja kerja, dimana di atasnya ada Siwan nampak tertidur berpangku sebelah lengan di atasnya sebagai bantalan kepalanya.


Semakin mendekat, Aji melihat segelas dan satu botol kosong berada di sisi lainnya di atas meja.


" Kak, mau pindah ke kamar ?" tanya Aji sambil menggoyangkan tubuh Siwan perlahan.


" Heemhhh... " Siwan tidak membuka matanya sesenti pun.


Aji pun nampaknya sudah paham apa yang harus ia lakukan. Ia perlahan mengangkat kepala Siwan, menarik lengannya, lalu menggendong tubuh Siwan di punggung nya.


Aji membawanya menuju kamar tidurnya, lalu membaringkannya di kasur dan menyelimutinya. Setelah itu ia kembali ke ruang kerja dan memrapihkan kembali meja kerja Siwan.


Siang harinya...


Aji dan Siwan kini sedang berada di dalam sebuah mobil yang berbeda dari yang sebelumnya, kali ini, mobil sports nya berwarna silver. Mereka berdua nampak memakai kacamata hitam dengan pakaian dan topi seperti seorang detektif. Nampaknya mereka memang sedang melakukan pengintaian karena mata mereka selalu tertuju pada satu arah. Siapa yang mereka selidiki kali ini ?


Saat sedang fokus mengawasi pada satu titik tersebut, hp Siwan berbunyi...


" Hallo, chagiya... " ucap Siwan.


" Iya, maaf aku lupa memberitahumu, namanya Doni, dia yang akan mengantar jemputmu hari ini, aku dan Aji sedang ada urusan penting !!" ucap Siwan.


" Tidak, dia memang salah satu karyawanku, maaf ya, aku lupa mengabarimu " ucap Siwan kembali.


" Oke... hati - hati ya, kalau ada apa - apa langsung kabari aku "


Setelah itu Siwan kembali menaruh hpnya di saku mantelnya.


Aji melirik sesaat padanya.


" Aku lupa mengirim pesan padanya !!" ucap Siwan menatap Aji.


Beberapa menit berlalu, kini, mata mereka berdua nampak membelalak, sepertinya mereka berhasil mendapatkan target mereka kali ini.


Aji dengan kemampuan fotografi nya langsung memasang long focus lens pada kamera dslr terbarunya. Beberapa jepretan ia dapatkan sengan kualitas gambar yang sangat baik.


Mereka mengintai seorang pria dan wanita yang tengah bergandengan tangan baru keluar dari sebuah pusat perbelanjaan menuju parkiran mobil sambil menenteng beberapa tas belanjaan di tangan mereka.


Saat mobil target melaju keluar dari parkiran sebuah departemen store itu, Siwan langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil target mereka dari belakang.


Mobil target berhenti di basement sebuah hotel bintang 3 saat itu. Target keluar tanpa membawa barang belanjaan mereka dan masuk ke dalam hotel tersebut.


Siwan dan Aji masih di dalam mobil saat itu, memperhatikan langkah target yang mulai menjauh.


" Siapa pemilik hotel ini ?" tanya Siwan.


" Aku kurang tahu, tapi sepertinya temanku bekerja di sini, aku lihat dulu kontak di hpku yaa " Aji mengeluarkan hpnya lalu memeriksa daftar nama di kontak hpnya itu.


" Ah.. ini... sepertinya dia " ucap Aji menghentikan jemarinya yang naik turun menggeser layar touch screen hpnya.


Seseorang dengan nama Albert xxx ( nama hotel ) tercetak di layar hpnya. Ia langsung menelpon temannya itu dan mengutarakan maksudnya menelpon dirinya kali ini.


Beberapa saat kemudian, kini Siwan dan Aji sudah berada di meja resepsionis bersama seorang pria bernama Albert dan dua orang pegawai hotel bagian resepsionis.


Dengan beberapa perjanjian, Albert mengizinkan Siwan dan Aji melanjutkan penggerebegan pada salah satu kamar yang di pesan oleh targetnya tadi.


Di dampingi salah satu pegawai hotel lainnya selain Albert, Siwan dan Aji pun semakin tidak sabar ingin segera sampai di depan kamar tersebut.


Dan, sesampainya di depan pintu kamar, sebelum membuka pintunya, Aji mengeluarkan kamera miliknya yang ia masukkan ke dalam tasnya tadi.


Sang pegawai hotel terlihat gelagapan, ia ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya di tutp oleh tangan Siwan, dan ia di beri beberapa lembar uang berwarna merah oleh Siwan.


" Tutuplah mulutmu, lakukan saja perintahku !! seru Siwan.


Setelah pintu kamar terbuka, mereka berjalan perlahan menghampiri kamar yang di tunjukan sang pegawai hotel di dalamnya.


Pintu kamar tidak terkunci, saat pintu kamar terbuka, Aji langsung melancarkan aksinya, beberapa jepretan ia layangkan di hadapan pria dan wanita yang tengah bermadu kasih di atas ranjang hotel tanpa busana.


" Kau... brengs*k, Aji, hentikan " ucap pria itu yang tengah berebut selimut bersama wanitanya.


Siwan maju hingga ke ujung ranjang mendekati pria itu.


" Selamat bertemu di pengadilan agama " ucap Siwan.


Saat Siwan baru saja mundur satu langkah dan berbalik, pria itu langsung menarik kerah lengan Siwan.


" Kak, tolong, ampuni aku !!" ucap pria itu.


Siwan menatap lengan pria itu yang sedang menarik kerah lengannya.


Dan, karena tatapan tajam Siwan yang begitu menusuk, pria itu melepaskan tangannya dan menunduk.


" Apa kau lebih memilih langsung menuju pusara mu sendiri ? " tanya Siwan berbalik kembali ke hadapan pria itu.


Pria itu hanya menunduk dengan tangan gemetar, tanpa menjawab pertanyaan nya. Sedangkan sang wanita hanya terdiam dengan raut wajah frustrasi sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya.


" Bagus, kau sangat cerdas " ucap Siwan sebelum meninggalkan kamar tersebut.


Pria di kamar itu meremas selimut dengan tatapan marah dan penuh dendam. Sehingga wanita yang bersama nya pun merasa ketakutan. Wanita itu turun dari ranjang dan memungut bajunya yang berserakan di lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi.


...****...


Beberapa hari kemudian...


Hari kamis, merupakan hari favorit Hanna setiap minggunya. Karena itu adalah hari liburnya. Setelah kembali bekerja, ia bahkan belum berani mengambil jatah hari libur penggantinya karena minggu lalu hari kamis bertepatan dengan hari natal, dia di wajibkan kerja lembur. Maka hari liburnya di gantikan di hari lain.


Siang itu, Siwan mengantar Hanna ke rumah sakit untuk chek up memar di paha nya yang belum juga hilang.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan Siwan dan Hanna memutuskan akan langsung pergi menuju villa di luar kota yang akan mereka singgahi sebagai tempat menghabiskan akhir tahun mereka.


Saat sedang asiknya mengobrol di lorong rumah sakit, beberapa meter menuju pintu keluar masuk rumah sakit, dari luar terlihat ambulance berhenti dan beberapa perawat menghampiri nya, membuka pintu belakang dan mengeluarkan ranjang yang mengangkut pasien di atasnya.


Hanna terlihat begitu tegang, dari kejauhan ia berdiri terpaku di samping Siwan dan beberapa orang lainnya guna memberi jalan pada para perawat membawa pasien menuju igd.


Saat itu fokus Siwan pun tertuju pada pasien yang tergelak tak berdaya di atas ranjang itu, dengan luka memar dan darah segar di seluruh wajahnya.


Hanna tak kuasa melihatnya, ia membelakangi pasien tersebut dan bersembunyi di balik dekapan Siwan yang masih terdiam membeku.


" Kak, kak Wan !!" ucap seorang pria mencoba membuyarkan lamunan Siwan.


" Arya, kau... " ucapan Siwan terpotong saat pria bernama Arya itu mengucapkan sebuah nama.


" Ayu kak... " pria itu menunjuk ke arah pasien yang baru saja di bawa oleh para perawat yang baru keluar dari ambulance tadi.


Hanna nampak belum paham situasi di antara mereka.


Siwan kala itu langsung berlarian menuju igd menyusul pasien yang bernama Ayu itu.


Hanna dan Arya pun ikut berlari menyusulnya di belakang.


Siwan nampak kebingungan di depan pintu igd yang tertutup rapat.


Hanna di belakangnya bertanya pada Arya tentang apa yang terjadi, dan siapa Arya dan Ayu, pasien tadi.


" Saya Arya, pegawai toko kue kak Ayu, dia sepupunya kak Wan, dan kak Ayu habis bertengkar dengan suaminya dan di hajar habis - habisan olehnya karena tidak mau bercerai " ucap Arya dengan nafas terengah - engah.


Hanna pun menghampiri Siwan yang nampak cemas mondar mandir di depan pintu igd.


" Ahjussi... " ucap Hanna.


Langkah Siwan terhenti, ia menatap Hanna dengan tajam, lalu berubah menjadi tatapan sendu.


Siwan pun terduduk di kursi yang ada di sekitar sana. Hanna duduk di sampingnya.


Belum juga ia berucap sepatah kata pun, Siwan nampak belingsatan mencari hpnya yang bergetar di saku dalam mantelnya.


" Ahjussi, biar aku saja " ucap Hanna.


Hanna pun mengambil hp Siwan yang berada di saku depannya. Saking merasa kalutnya, Siwan sampai lupa letak hpnya yang ia taruh di saku depan mantelnya.


Di layar hpnya, tertulis nama Aji sedang meminta sambungan telepon pada hp Siwan.


" Dari bli, aku saja ya... " ucap Hanna meminta persetujuan Siwan.


Siwan hanya menganggukan kepalanya.


Bersambung....


Terima kasih sudah setia menunggu...


Mohon maaf kalau mulai besok updatenya hanya satu bab atau waktu updatenya malam hari, karena sudah mulai mendampingi anak yang banyak tugas sekolah lagi.


Terima kasih banyak sekali lagi sudah setia menanti update ceritanya.


Jangan lupa klik favorit, like, komen dan vote. Hatur nuhun....