My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Izin



Keesokan harinya...


Sebelum berangkat kerja Hanna dan bi Lastri berbincang sebentar sebelum akhirnya mereka berpisah, sambil sarapan bersama di meja makan.


Di halaman rumah, mereka sempat berpelukan dan saling memberi saran dan pesan sebelum mereka masuk ke dalam mobil masing - masing.


Hanna naik ke mobil Siwan untuk pergi bekerja, sedangkan bi Lastri naik ke mobil Bram untuk kembali ke mess di gym center.


Di perjalanan...


Hanna masih terdiam dan cemberut karena masih kesal pada Siwan dengan obrolan semalam di telepon.


Siwan pun dengan sengaja mengacuhkan Hanna. Sesekali dia melirik Hanna dan tersenyum jahil melihat kekasihnya yang tidak mau melihatnya sebentar saja.


Sesampainya di parkiran departemen store, saat mesin mobil Siwan berhenti, Hanna langsung membuka seatbeltnya dan tanpa berpamitan pada Siwan, dia hendak langsung membuka pintu mobil.


Namun ternyata Siwan dengan sengaja belum membuka kuncinya.


Hanna menatap Siwan secara tajam tanpa berkata apapun.


Siwan hanya tersenyum sambil berpose so imut, karena berhasil membuat Hanna kesal.


" Iih... kesel... " Hanna melipatkan kedua tangannya di atas dada dan menatap lurus ke depan.


" Kau sangat ingin pergi berlibur dengan temanu ?" tanya Siwan.


" Tentu saja, kapan lagi coba aku bisa pergi dengan teman - temanku, kau selalu mengikatku kalau tidak kau selalu mengekori ku " jawab Hanna dengan nada kesal.


" Aku hanya khawatir padamu, kalau kau tidak mau aku ikut, baiklah, Aji yang ikut denganmu, atau Bram, atau Tio, atau mereka semua, pilih siapa ?" tanya Siwan.


" Cih... tidak sama sekali, tidak mau, tidak ada bedanya kau ataupun mereka, cepat buka pintunya, aku sudah telat !" ucap Hanna.


Siwan pun membuka kunci pintunya dan secepat kilat Hanna langsung keluar tanpa menoleh pada Siwan sedikitpun, Hanna terus berjalan hingga masuk ke dalam tempat kerjanya lewat pintu keluar masuk karyawan.


Siwan menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


Beberapa jam kemudian, saat tiba waktunya istirahat, Hanna curhat pada Melly dan Teguh bahwa Siwan tidak mengizinkannya pergi kalau dia tidak ikut.


" Tuh kan, bener dugaan gue, posesif banget sih jadi cowo, baru juga pacaran apalagi kalo jadi istrinya lu, di kurung tiap hari kayaknya " ucap Teguh.


" Kasihan sekali nasibmu wahai cintaku... cup cup cup... jangan sedih ya zheyeng... " Melly menarik Hanna ke dalam pelukannya.


" Aku mesti gimana, aku juga pengen menikmati liburan di Bali tanpa dia, kenapa sih dia gitu amat sama aku... hiks... " Hanna mulai menitikan air mata.


" Ah elah, gitu aja nangis, dasar lebay, yaudah lu kabur aja, napa mesti nurut segala sih, suami juga bukan... " Teguh mulai memprovokasi Hanna.


Hanna terbangun dari pelukan Melly.


" Oke, betul banget, gue mesti kabur, gak peduli gue dia mau ngapain habis itu, yang penting gue bisa liburan bareng kalian " Hanna penuh semangat.


" Yups... setuju, gua bakal bantuin lu " sahut Melly.


Sedangkan Teguh terlihat seperti sedang berpikir sesaat...


" Eh tapi, tunggu bentar, gue agak ngeri nih, cowo dia kan gangster, anak buahnya dimana - mana, bisa berabe nih urusannya " ucap Teguh.


Seketika mental Hanna langsung anjlok, terlebih lagi Melly pun menyahut ucapan Teguh.


" Dih... iya juga ya Guh, bukan perkara sulit buat cowo dia nyari orang yang bisa bikin kita end dalam hitungan detik... " Melly memotong - motong lehernya dengan tangan.


" Yah.. kalian bisa banget ya bikin aku melayang ke udara udah gitu kalian jongklokin aku ke dalam jurang seketika, labil banget... " sahut Hanna terlihat kesal.


Beberapa jam berlalu, saat jam pulang sudah tiba, seperti biasa Hanna melihat mobil jemputannya sudah berada di titik penjemputan seperti biasa.


Dan, rasa kesal Hanna semakin bertambah kala melihat plat mobilnya ternyata milik Siwan.


Rasa malas menghampiri Hanna untuk pulang bersama Siwan. Namun, dengan terpaksa ia terus melangkahkan kakinya hingga tepat berada di depan pintu mobilnya.


Hanna pun langsung masuk ke dalamnya. Seperti tadi pagi, tidak ada sambutan apalagi senyuman tercetak di wajah Hanna.


" Hari ini kita makan di luar ya... " ucap Siwan yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Hanna tidak menjawabnya, dia hanya meliriknya sedikit dengan sudut matanya.


Sesampainya di restoran cepat saji, Hanna begitu senang karena Siwan membawanya makan di restoran ayam kaepsi, ayam krispi favoritnya.


Tanpa berlama - lama Hanna langsung memesan makanannya.


Hanna sangat senang bisa makan kembali ayam krispi meskipun tanpa saos sambal, saos tomat pun tidak apa, yang penting dia bisa mencium kembali bau wangi yang sangat menggoda dari kepulan asap daging krispinya saat di belah.


" Hemh... wanginya... " ucap Hanna, lalu melahap dengan rakus ayam di tangannya setelah membaca doa.


" Pelan - pelan, nanti kai tersedak " ucap Siwan.


" Kulitnya, untukku ya... " ucap Hanna menunjuk ayam krispi milik Siwan yang belum tersentuh karena Siwan sibuk meminum cola di tangannya.


" Ah... tentu saja, ini... " Siwan dengan terpaksa memberikan kulit krispi miliknya, padahal dia juga sangat menginginkannya.


" Mau pesan lagi ? tapi satu saja ya, kau belum boleh terlalu banyak makan seperti ini, kalau sudah benar - benar stabil, aku belikan satu ember untukmu " ucap Siwan.


" Tidak usah, ini sudah cukup " jawab Hanna.


" Moodnya sudah normal, hanya karena sepotong ayam krispi, sungguh lucu sekali " gumam Siwan.


Selesai makan, Hanna dan Siwan langsung kembali pulang ke rumah, karena Hanna merasa badannya lengket memakai seragam kerja dari pagi.


Di perjalanan pulang, mereka terjebak macet lagi seperti kemarin.


" Chagiya, aku akan mengizinkanmu pergi, maafkan aku ya, kemarin aku belum mencerna semuanya dengan benar " ucap Siwan.


" Really ? jinjja ? benarkah ? seriously ?" Hanna merasa tidak percaya.


" Yap... aku tidak akan ikut, atau menyuruh orang membuntutimu, aku percaya padamu " ucap Siwan.


" Asyiikkk.... thank you so much, i love you... cup... " Hanna mengecup pipi Siwan.


Seketika Siwan langsung merona, dia sangat senang melihat kekasihnya tersenyum kembali.


" Tapi... ada syaratnya... " ucap Siwan.


" Hah... syarat... apa itu ?" tanya Hanna, merasa curiga.


" Malam ini, aku mau di rumahmu ya, sudah lama aku tidak memelukmu " ucap Siwan.


" Ish... merayu... " Hanna tersipu malu.


Sesampainya di rumah...


" Aku mau mandi dulu ya, ahjussi, apa kau sudah mandi ?" tanya Hanna.


" Mau mengajakku mandi bersama ?" tanya Siwan, tersenyum jahil.


" Ish... sudah ah " Hanna langsung berlari menuju kamar mandi.


Siwan tersenyum lalu berjalan menuju ruang tengah.


Beberapa menit kemudian, Hanna yang sudah mandi dan memakai baju pun menghampiri Siwan yang sedang menonton acara komedi di tv.


" Ahjussi tidak mau ganti baju dulu ?" tanya Hanna.


" Nanti saja, ini juga masih bersih, sebelum menjemputmu aku sempat mandi dulu " jawab Siwan.


Hanna menyodorkan satu gelas teh hangat untuk Siwan.


Siwan menerimanya dan langsung menyeruputnya.


" Ah... hangat... " ucap Siwan.


" Lebay... " sahut Hanna.


Hanna ingin memulai percakapan, sebetulnya banyak sekali yang ingin ia sampaikan dan tanyakan belakangan ini, hanya saja, ia menepisnya kembali, ia pikir ini bukan saat yang tepat, kali ini dia ingin menikmati moment malam romantisnya bersama Siwan saja.


Terlebih lagi Siwan menarik Hanna ke dalam pelukannya. Membuat Hanna tidak dapat berkata - kata saat bibirnya pun di kecup oleh Siwan. Lama kelamaan kecupan mesra berubah menjadi ciuman hangat dan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Tanpa di sadari Hanna kini sudah berada di atas pangkuan Siwan. Selama beberapa detik aktivitas ciuman panas mereka berhenti untuk mengambil nafas masing - masing.


Kening Hanna dan Siwan beradu, lalu kedua ujung hidung mereka pun bersentuhan. Kecupam mesra terakhir dari Hanna menandai semua aktivitas gila mereka harus berakhir sebelum nantinya terjadi hal - hal yang sangat diinginkan. Nafsu menggebu - gebu mereka harus terhenti demi kebaikan bersama.


Hanna pun turun dari pangkuan Siwan. Dia kembali duduk normal di samping Siwan dan menyandarkan kepalanya di pundak Siwan.


" Terima kasih ahjussi, untuk semuanya, kau selalu memberikan yang terbaik untukku, meskipun aku tidak bisa membalasnya dengan hal yang lebih dari ini, kau selalu mencintaiku dan selalu berusaha menghormatiku meskipun rasanya pasti sangat sulit bagimu, tapi sejauh ini kau masih bisa menahannya " ucap Hanna panjang lebar.


" Aku tidak ingin mengecewakan mu, sebetulnya banyak cara bagiku untuk bisa menggenggam mu dan memilikimu seutuhnya, tapi, untuk apa, jika caraku salah, aku malah menghancurkan harapan dan perasaanmu " ucap Siwan.


" Ahjussi, apa aku salah jatuh cinta padamu ?" tanya Hanna.


" Apa kau menganggap hubungan kita sebuah kesalahan ?" tanya Siwan.


" Tentu saja tidak, ini semua takdir, aku yakin ini semua takdir " jawab Hanna.


" Begitupula dengan perasaan kita, rasa cinta kita, semua bukan kesalahan, tapi itu adalah takdir " ucap Siwan.


Siwan mengelus dan mengecup kening Hanna berkali - kali. Hanna semakin terbenam di dalam pelukannya.


" Aku merindukan mu, ahjussi... " ucap Hanna.


" Aku pun sangat merindukanmu " sahut Siwan.


Tanpa terasa mata mereka sudah terlihat lelah dan mengantuk.


Siwan mengajak Hanna tidur di kamar.


Untungnya Hanna sudah menggosok gigi dan membersihkan wajahnya tadi, jadi saat masuk ke dalam kamar dia langsung meringkuk di atas ranjang di bawah selimut tebalnya.


Sedangkan Siwan, dia harus pergi memastikan semua pintu sudah aman dan kemudian membersihkan wajahnya menggosok giginya dan mengganti bajunya.


Setelah selesai melakukan rutinitas sebelum tidurnya, Siwan pun langsung menyusul Hanna naik ke atas ranjang dan tidur menyamping memeluk Hanna dari belakang. Dalam hitungan detik Siwan pun sudah berada di alam mimpi menyusul Hanna.


Tiga hari berlalu....


Kini tiba saatnya bagi Hanna dan teman - temannya untuk pergi berlibur bersama. Akhirnya mereka menutuskan untuk pergi ke salah satu pulau terdekat dari wilayah mereka.


Mereka tidak jadi pergi ke pulau Nusa Penida, apalagi ke Lombok, jaraknya terlalu jauh, Teguh hanya mendapat jatah cuti 4 hari, jadi mereka mengejar waktu.


Sebelum pergi bersama teman - temannya, Siwan membuat Hanna kembali kesal.


Di karenakan dia memberi syarat tambahan pada Hanna, yaitu, dia harus memberinya kabar 3 jam sekali, lalu dia harus memberitahu Siwan kemana saja dia akan pergi beserta bukti fotonya.


" Cih.. apa - apaan ini, dasar over protektif " ucap Hanna yang kini sedang berdiri di halaman rumahnya menunggu jemputan datang.


Saat Hanna melihat mobil yang menjemputnya sudah datang, tanpa menunggu lama dia langsung masuk ke dalamnya.


Reni yang baru bertemu lagi dengannya merasa senang dan memeluk Hanna dengan erat.


" Kangen aku sama kamu tsayy... " ucap Reni.


" Iya kakak seniorku, aku juga sama " balas Hanna.


" Are you ready ladies.... ?" tanya Teguh.


" Yes... lets go go go.... " ucap ketiga wanita yang ada di dalam mobil Apivi milik kakak Teguh.


Saat mobil Teguh mulai melaju pergi dari halaman rumahnya, Hanna baru menyadari bahwa ada seseorang yang duduk di samping Teguh di depan.


" Pak Rama.... " ucap Hanna merasa terkejut karena melihat Rama yang sedang santai duduk di depan tiba - tiba menoleh ke arahnya.


" Yap... aku join, gapapa ya... " ucap Rama.


" Si Hanna belum tahu pak Rama ikut, Mel ?" tanya Reni.


" Hehe.. maaf Han, lupa ngasih tahu " ucap Melly.


" Ya... gapapa juga sih, aku cuma kaget aja gitu " jawab Hanna tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Dua hari yang lalu....


Melly yang baru saja keluar dari toilet di saat jam kerjanya, langsung merasa terkejut ketika melihat Rama sudah berdiri di depan pintu kamar mandi seperti sengaja menunggu Melly.


" Mel... " ucap Rama.


" Ikut saya sebentar ya... !!" ucap Rama.


Melly pun mengikuti Rama dari belakang menuju ruang khusus staff yang saat itu sedang kosong.


Dada Melly berdebar lebih kencang, pria bertubuh tinggi berhidung mancung dan kharismatik di depannya kini mengajaknya mengobrol berduaan di dalam ruangan khusus staff yang sepi dan kosong.


" A-ada apa pak ?" tanya Melly.


" Emh... ini " Rama memperlihatkan secarik kertas dari sakunya yang terlipat rapih. Ternyata itu merupakan kertas jadwal karyawan fashion lantai 2.


" Ini, aku mau tanya soalnya penasaran, apa bener kamu, Hanna dan Teguh ngambil jadwal cuti barengan ?" tanya Rama.


" Ah.. itu... emh... mungkin hanya kebetulan saja pak, kami kan berbeda divisi " iawab Melly.


" Serius, jangan takut, santai aja kali sama saya " ucap Rama.


" Ya ampun, senyumnya pak Rama aduhai, mirip banget sama Park Bogum... " gumam Melly merasa terpincut oleh ucapan Rama.


" Tapi pak, jangan di cancel plist... aku mohon, kita udah sepakat mau liburan bareng, oopss... " Melly menyesal telah mengatakannya dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Oh... begitu rupanya, gak ngajak, tega banget " ucap Rama.


" Hah... " Mata Melly nyalang menatap Rama.


" Oh... gak boleh ya aku ikut gabung ?" tanya Rama.


Melly yang merasa tidak enakpun mengajaknya pergi berlibur bersama.


Dan, tanpa menunggu lama - lama, Rama pun langsung merubah jadwal shiftnya dan minta jatah cuti pada Satria. Untungnya Satria mau memberikan jatah cuti milik Rama, dan secepatnya tanpa harus menunggu pengajuan cuti selama satu bulan sebelumnya.


Begitulah cerita Melly tentang Rama yang belum Melly beritahu pada siapa saja.