My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Teman baru



Tanpa terasa, sudah satu bulan lamanya aku tinggal di ibukota provinsi Bali. Kehidupanku berjalan seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang berbeda.


Orang tuaku masih selalu menelponku, walaupun tidak setiap hari, tapi kami masih selalu berkomunikasi satu sama lain terutama dengan ibuku. Ibuku tidak pernah lupa memberi ku kabar terbaru yang terjadi pada keluargaku di Bandung. Baik itu kabar suka maupun duka.


Dan, sahabat-sahabatku di sana, mereka sedang merencanakan acara liburan ke Bali, katanya agak sulit saat harus mencocokan jadwal cuti secara bersamaan.


Oh ya, aku punya 3 orang sahabat di Bandung. Mereka sahabat karibku semenjak aku sma.


Yasmin,


Dia berhijab, seperti keturunan orang Arab, matanya besar dan hidungnya mancung. Dia yang paling dekat denganku. Komunikasiku lebih intens dengannya di banding sahabatku yang lainnya.


Audrey,


Dia anak tunggal, ayah dan ibunya menikah saat usia 40 tahun. Katanya, ada suatu kendala pada rahim ibunya sehingga tidak bisa mengandung anak lagi setelah melahirkannya. Makanya, dia selalu antusias jika kita bermain ke rumah Yasmin karena selain mengobrol dengan kami, dia selalu menggoda adik Yasmin yang masih kecil. Katanya, dia sangat kesepian di rumah. Dia sangat ingin memiliki seorang adik.


Karina,


Dia sahabatku yang paling populer di antara mata para lelaki, dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan berisi, bentuk tubuhnya menjadi daya pikat tersendiri. Dia rajin berolahraga, katanya cita - citanya ingin menjadi atlet volly ball. Saat ini, dia sedang sering mengikuti pertandingan bersama club volly.


Aku sangat merindukan mereka.


Tapi, bila di pikirkan, selama di Bali, aku belum memiliki seorang teman. Yang ku kenal hanyalah Rayhan.


Dulu, sebelum pindah ke ibukota, aku sering mengobrol dengan kak Putri dan bli Agung, tapi itu pun hanya mengobrol di sela - sela waktu senggang atau pun istirahat saat bekerja. Kami belum pernah pergi bermain bersama di luar jam kerja.


Di kostan pun, tidak ada penghuni kost lainnya yang ku kenal. Tapi, kalau sekedar hanya berpapasan dan tersenyum sih pernah, hanya saja belum sempat mengobrol karena kami sibuk bekerja satu sama lain.


Bahkan, di tempat kerja sekarang pun aku belum memiliki seorang teman yang bisa ku ajak jalan bersama atau mampir ke rumahnya atau ke kostan ku. Hanya sekedar rekan kerja dan teman istirahat kerja saja.


Hari ini, hari minggu tanggal 2 februari, aku sedang shift pagi.


Saat sedang bekerja melayani konsumen di konter, tiba - tiba ada seorang wanita menyapaku.


" Hai, kamu yang kost di lantai 2 gedung teratai kan ?" tanyanya padaku.


" Eh.. iya kak, kakak juga ya ? tanyaku padanya, aku pernah berpapasan dengannya di tangga gedung kostan.


" Iya, aku di kamar no 02. Kamu kerja disini ternyata !!" ucapnya.


" Iya kak, aku kerja disini. Kakak sendiri bekerja atau sudah menikah ?" tanyaku.


" Aku belum menikah, ini lagi nganter pacarku belanja. Aku kerja di kantor bank Indonesia."


" Oh... senang sekali bisa bertemu dan mengobrol dengan kakak."


" Aku Siska, aku dari Jakarta.." Dia mengulurkan tangannya padaku.


" Aku Hanna kak, aku dari Bandung. " Timpalku sambil menjabat tangannya.


" Nanti kalau ada waktu kita ngobrol di kostan yaa, kamu mampir aja ke kamarku.. "


" Iya siap kak, nanti aku mampir kesana."


" Siippp... yaudah aku lanjut belanja lagi ya, pacarku, sepertinya sudah keluar dari fitting room. "


" Iya kak, silahkan, selamat berbelanja. " Jawabku sambil tersenyum.


Pukul 15.00 wita, jam kerjaku sudah selesai. Aku dan rekan satu shiftku turun ke lantai 1 menuju loker, bersiap - siap pulang kerja. Di antara kerumunan karyawan dan karyawati ada seseorang yang memanggil namaku.


" Han... Hanna... "


Aku menoleh ke samping dan belakang mencari di mana sumber suara itu.


" Ini, di sini.. " dia melambaikan tangannya padaku. Dia ternyata seniorku di konter ladieswear.


" Ada apa kak ?" tanyaku dengan hati - hati.


" Minta pin bb donk, punya kan ?"


" Ada kak, sebentar aku ambil hpku di loker. " Jawabku lalu menuju laci loker. Saat sedang bekerja kami tidak di perbolehkan memegang hp, jadi kami selalu menaruh barang berharga kami di loker dan tentu saja di kunci agar aman.


Saat sedang bertukar pin bb kami sempat ngobrol sebentar, dia menanyakanku tinggal di mana, begitupun aku sebaliknya padanya.


" Kamu libur hari kamis kan, aku juga sama, kapan - kapan kita ngumpul bareng yuk sama tim kamis lainnya !!"


" Boleh kak, kalau ada waktu dan sedang sehat aku ikut gabung deh. "


" Sippp... nanti aku masukin ke grup tim kamis yaa di bbm."


" Boleh kak, makasih banget yaa ka Mel udah ajak aku gabung. "


" Yups.. santai aja lagi, biar aku, kamu dan yang lainnya makin akrab kita kan satu tempat kerja jadi harus ada kerja sama yang baik, saat kerja maupun di luar jam kerja."


" Wah.. bener banget tuh kak. Aku setuju. "


Aku pergi menuju halte bus, di sana sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu datangnya bus juga.


Halte selalu padat saat jam sibuk. Pagi, saat pergi bekerja dan sore saat pulangnya. Masyarakat di sini sepertinya lebih senang menaiki bus di banding ojeg pangkalan ataupun taksi.


Mungkin karena harga yang murah dan fasilitas nya pun cukup nyaman. Kali ini, aku tidak akan langsung pulang ke tempat kost, karena besoknya aku shift siang, jadi aku akan pergi ke toko perabot rumah tangga, membeli salah satu perabot yg belum aku punya. Lokasinya dekat toko buku.


Setibanya di sana, aku sangat antusias melihat begitu banyaknya perabotan rumah tangga yang berjejer rapih dan unik. Meskipun belum menikah, tapi jiwa keibuan ku mendadak muncul, aku senang melihat berbagai macam koleksi panci dan ketel dari berbagai macam bahan. Saat ku lihat harganya ternyata wow, sungguh membuat dompetku meringis. Dari mulai kualitas dan harga A sampai Z semua ada.


Aku berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya secara perlahan menikmati dan menyentuh beberapa macam barang yang ada di rak. Seketika, di sana. Sebuah tea pot berbahan dasar kaca bening anti panas dan di dalamnya terdapat saringan stainless steel dengan ukuran sedang bermotif simple tapi elegan. Aku secepat mungkin menghampirinya.


Dan, saat tanganku hendak meraihnya, tiba - tiba ada seorang laki-laki mendahuluiku meraih tea pot tersebut. Seketika, dari wajah dan mataku yang bersinar, aku mendadak menjadi seseorang yang terlihat sangat lesu. Mataku terus tertuju ke arah tea pot itu saat sang pria itu memegang, mengangkat dan memutar, seperti sedang meneliti barang tersebut. Aku tidak melihat siapa wajah pria itu, karena mataku hanya tertuju pada pergerakan tea pot tersebut. Kulihat di rak itu hanya ada satu pajangan tea pot dengan motif yang ku inginkan itu.


Tapi, tidak lama kemudian, si pria itu menaruh kembali tea pot itu di atas rak. Dan secepat kilat aku langsung mengambilnya dan memeluk tea pot itu, aku menciumnya dengan penuh kebahagiaan seperti seorang anak kecil yang berhasil mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Tapi, tidak lama kemudian, ku dengar si pria tadi memanggil pegawai toko..


" Mas, tolong, bisa kemari sebentar.. ?" tanyanya pada salah satu pegawai toko.


Aku masih belum melihat wajah pria itu, aku hanya melihat punggungnya dari belakang saat dia memanggil pegawai toko itu.


" Iya pak, ada yang bisa saya bantu..?" tanya pegawai toko.


" Ini, apakah barang ini masih ada stok, atau hanya yang ada di sini saja?" tanya pria itu, sambil menunjuk ke lokasi rak penyimpanan tea pot tadi.


" Maaf pak, yang mana yaa ?" tanya kembali pegawai toko.


" Tea pot yang iii..... " dia tidak melanjutkan perkataannya saat dia melihat bahwa di atas rak tidak ada barang apapun alias kosong. Dan dia langsung melihat ke arahku yang sedang memegang tea pot yang dia maksud.


Tapi, betapa terkejutnya aku maupun dia karena ternyata kami saling mengenal satu sama lain.


" Hanna... " ucap pria itu.


" Ahjussi... " ucapku.


" Kamu mau membeli tea pot itu ?" tanya paman padaku.


" Iya, sudah lama aku menginginkan ini.." dengan wajah memelas. Kali ini, aku tidak boleh memberikan kesempatan apapun padanya untuk mendapatkan barang yang ku pikir hanya tinggal satu lagi.


" Ini mas, tolong barang yang ini, apa masih ada stoknya ?" paman menunjuk pada arah tea pot yang sedang ku pegang.


" Baik pak, di tunggu sebentar ya, akan saya cek dahulu di gudang. " Dan pegawai itu pun pergi dari lokasi menuju ke arah gudang.


" Sebaiknya kamu jangan membeli yang ini." Pinta paman padaku.


" Kenapa memangnya, apa ahjussi juga mau membelinya dan berharap aku menyerahkannya padamu?" tanyaku dengan nada sedih.


" Bukan, bukan itu maksudku.. Kau lihat saja bagian bawahnya, ada sedikit goresan, takutnya itu membuatnya tidak kuat dan menjadi cepat pecah. Ini kan bahan kaca."


Lalu, aku langsung memeriksa kondisi barang tersebut dan, ternyata memang benar ada goresan kecil di bagian dasarnya.


Tidak lama kemudian, pegawai tokonya kembali dengan membawa sebuah kotak bergambar tea pot itu. Dari kejauhan mataku sudah bisa menebak bahwa itu adalah tea pot incaranku.


" Ini pak, tinggal satu lagi yang ini, yang ada di gudang. "


" Oke mas, terimakasih ya. " Dan pegawai toko itu pun pergi meninggalkan kami berdua.


Paman langsung mengeluarkan tea pot dari dalam kotak dusnya, dan melihat kondisi barangnya dengan teliti.


" Ini, untukmu saja, yang ini kondisinya sangat bagus. " Sambil menyerahkan tea potnya padaku.


" Lalu, ahjussi sendiri, bagaimana ? tidak akan jadi membelinya ?" sambil ku simpan tea pot yang sebelumnya ke atas rak pajangan.


" Aku, tidak apa - apa. Masih banyak motif lainnya. Ini, kau ambil saja yang ini. " Menyodorkan kembali tea pot yang sudah dia masukkan kembali ke dalam kotak penyimpanan nya.


" Baiklah, terima kasih, ahjussi, sudah mau mengalah padaku. "


Dia hanya tersenyum padaku. Lalu..


" Masih ada yang ingin kau beli?"


" Emh.. tidak ada, aku hanya ingin membeli ini saja."


" Kau sudah mau pulang? aku antarkan yaa?"


" Tidak usah repot - repot ahjussi, aku pulang naik bus saja. "


" Jangan, aku antar saja ya, sudah lama kita tidak bertemu dan mengobrol. "


" Apa kau tidak keberatan, aku hanya takut kau sedang sibuk."


" Tidak, aku sedang tidak ada kegiatan apapun. "


" Baiklah kalau begitu, aku ke kasir dulu ya. "


" Oke, aku tunggu di luar saja kalau begitu. " Paman pun pergi ke luar dari dalam toko tersebut.