
Di rumah sakit
Sesampainya Aji di basement parkiran mobil rumah sakit, ia berjalan menuju lift terburu - buru sambil mencoba menelpon Hanna, namun tidak juga di angkat oleh sang pemilik nomor.
Di dalam lift menuju lantai 4, Aji nampak gelisah, untungnya hanya dia seorang yang berada di dalamnya.
Ketika pintu lift terbuka, Aji langsung berlari menuju kamar rawat inap Hanna tanpa menghiraukan security dan beberapa pegawai rumah sakit yang mencoba menyapanya.
Di depan pintu ruangan, sekuat tenaga Aji menggeser pintu kamarnya dengan rasa cemas dan lelah yang bercampur aduk, nafasnya pun terlihat terengah - engah.
Sreeettttt....
Pintu terbuka lebar.
" Bli... ada apa ?" tanya Hanna menatap Aji yang masih berdiri kaku di ambang pintu kamar dengan hanya memakai celana training, kaos oblong dan jaket boomber yang tidak di tutup resletingnya.
Selain Hanna, tentu saja bu Hani pun menatap ke arahnya dengan raut wajah penuh pertanyaan.
" Kau tadi menjerit, ada apa ?" tanya Aji yang sudah mulai bisa mengatur nafasnya karena merasa lega melihat Hanna maupun keluarganya baik - baik saja.
" Oh... itu, tadi anu bli... emh... ini " Hanna berbicara terbata - bata karena merasa sulit untuk menjelaskan sesuatu pada Aji.
" Oh... ini loh nak Aji, maaf nih tadi si Hanna kalo bikin nak Aji khawatir, tapi dia baik - baik aja kok " ucap bu Hani mencoba memberi penjelasan pada Aji yang nampak masih belum puas dengan jawaban Hanna.
" Tadi dia lagi coba ngasih asi lagi sama Hwan, pas asinya sudah keluar, dia malah kaget sendiri Ji, dia kaget bajunya basah sebelah terus.... " ucapan bu Hani terhenti saat Hanna mencubit lengannya.
" Aww... " jerit bu Hani " Apa sih ah... " sambungnya.
Saat Aji mendekat pada keduanya, refleks kedua netra Aji menatap ke arah dada Hanna. Namun, secepat kilat dia mengalihkan pandangannya karena merasa malu sendiri melihat bagian dada Hanna nampak terbuka karena sedang di pompa oleh alat pompa elektrik saat itu.
" Syukurlah kalau memang tidak ada apa - apa, aku hanya khawatir soalnya tadi aku mencoba menelepon kembali tapi tidak di angkat, bahkan nomor mu jadi tidak aktif " ucap Aji, berbicara pada Hanna maksudnya, hanya saja wajah dan pandangannya mengarah pada Hwan yang sedang tertidur lelap di box bayi.
" Maaf bli, aku lupa belum ngecash hp dari siang, maaf ya udah bikin bli panik " ucap Hanna.
" Udah lah Han, gapapa, yang penting sekarang aku bisa pulang dengan tenang lagi " jawab Aji.
Dan, tak lama kemudian Aji pun kembali pamit untuk pulang pada Hanna dan bu Hani.
Sepeninggalan Aji keluar dari ruangan tersebut.
" Heh... ampe segitunya dia cemas banget sama kami, gak di ragukan lagi, dia pasti emang suka sama kamu tuh... " bu Hani mencoba menggoda anaknya.
" Apaan sih mah, dia emang biasa kayak gitu dari dulu sama aku, tugas dia jagain dan memastikan keselamatanku tahu !" sahut Hanna.
" Gak gitu konsepnya lah, mana ada cowo yang rela jauh - jauh nyusul kesini cuma gara - gara denger suara teriakan cewe doang, kalo bukan karena ada perasaan khusus, apalagi coba !"
" Aku yakin, bli gak gitu mah, dia orang yang sangat konsisten sama komitmennya, lagian, aku juga cuma anggap dia udah kayak kakak sendiri " ucap Hanna.
" Ya bagus deh kalo emang gitu, seandainya aja dia seiman sama kita, sebetulnya mamah gak masalah sih, seneng aja kalo ada cowo yang udah ngertiin kamu sama selalu melindungi anak mamah yang selalu ngeselin ini "
" Dih... gitu banget sih sama anaknya, tega... " Hanna pura - pura cemberut.
Setelah membereskan peralatan pompa asi dan memasukkan dua kantong plastik khusus berisi asi perah ke dalam kulkas khusus asi, Hanna pun bersiap untuk tidur.
" Mah, maaf ya, aku ngerepotin terus... " ucap Hanna, pada ibunya yang tengah sibuk membersihkan pompa asi miliknya.
" Udah kamu tidur aja sana, kamu pasti lebih cape kan, mamah masih belum mau tidur, tadi di pesawat soalnya mamah tidur pules, udah kamu tenang aja, mamah yang jagain Hwan, gantian nanti sama bapak !" ucap bu Hani.
" Makasih banyak ya mah "
" Iya udah sana cepet tidur, mumpung Hwan juga masih pules, cepet tutup matanya, berdoa dulu biar mimpi indah !" pinta bu Hani.
" Ya ampun, berasa jadi anak sd yang di suruh tidur sama emaknya, hihihi... " ucap Hanna, lalu tertawa.
" Berisik, nanti Hwan bangun, sssttt... sana tidur !"
Bu Hani dengan sengajanya mencegah situasi menjadi berubah sendu, karena ia tahu, Hanna anaknya, pasti akan terus membuat dirinya menjadi terharu oleh kata - kata yang akan di lontarkan dari mulutnya, selanjutnya.
Sebelum memejamkan matanya, sekejap Hanna membayangkan kembali kejadian dimana ia mulai merasakan kontraksi beberapa jam yang lalu hari itu.
Rasanya sungguh tidak bisa di percaya, ia benar - benar masih belum menyangka akan mengalami semua ini, hamil, melahirkan, dan menjadi seorang ibu dari anak yang baru saja ia lahirkan ke dunia ini, beberapa jam yang lalu.
...***...
Flashback
Rabu dini hari, sekitar pukul 02.00 wita, Hanna kembali terbangun dari tidurnya, setelah selama 3 hari berturut -turut ia selalu bermimpi buruk tentang Siwan kekasihnya, mimpi dimana ia merasakan sakit dan sedih untuk pertama kalinya mendengar berita kepergian Siwan untuk selamanya.
Lima menit sebelum jarum panjang jam menuju angka dua belas pada jam di dinding, Bi Lastri, yang saat itu menemani Hanna tidur di kamarnya terbangun saat merasakan gerakana Hanna yang nampak gelisah dalam tidurnya.
Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, jemari Hanna terlihat menggenggam selimut di bawah tangan di kiri kanannya begitu erat.
Bi Lastri yang duduk di sofa dekat ranjang Hanna pun bangkit dan mendekat pada Hanna, melihat kening Hanna berkeringat ia langsung menyeka nya dengan tissue yang ada di atas nakas, sembari mencoba membangunkan Hanna yang nampak mengerutkan dahinya dalam keadaan mata masih tertutup.
" Neng, istigfar neng, bangun... !" ucap bi Lastri, lirih.
" Aaaaaaaaaa.. "
Hanna berteriak dan membuka matanya dengan nyalang dan terpaku hanya pada satu titik menatap langit - langit kamarnya, nafasnya terengah - engah, lalu raut wajah tegangnya berubah menjadi sendu.
" Neng, istigfar.... " bi Lastri masih mencoba menyadarkan Hanna.
" Astagfirullahaladzim... " Hanna mulai tersadar, lalu menoleh pada bi Lastri yang sudah duduk di sampingnya, di bibir ranjang.
" Minum dulu ya neng, yuk bangun pelan - pelan " bi Lastri membantu Hanna agar terbangun dan duduk bersandar di ranjang.
Setelah minum, Hanna merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di daerah sekitar vagin*nya.
" Ah, mungkin aku ingin buang air kecil " gumamnya.
" Bi, aku mau ke toilet dulu " Hanna pun membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, lalu menurunkan kakinya perlahan setelah itu berdiri di bantu oleh bi Lastri.
Saat melangkahkan kakinya, baru saja ia membuka kaki kanannya, Hanna mengurungkan niatnya untuk kembali berjalan menuju toilet.
" Kenapa neng ?" bi Lastri merasa curiga melihat tingkah Hanna saat itu.
" Bi, aku, kenapa semakin sulit melangkah, rasanya ada yang mengganjal di bawah " jawab Hanna.
" Neng udah kerasa mules belum perutnya ?" tanya bi Lastri kembali.
" Belum bi, perutku baik - baik aja !" jawab Hanna.
Dengan langkah terseok - seok, sekuat tenaga Hanna mencoba menuju kamar mandi di temani bi Lastri.
Dan, selesai dari kamar mandi...
" Bi, sakit.... " ucap Hanna yang tiba - tiba menghentikan langkahnya ketika menuju ranjang kembali. Dia sudah mulai merasakan kontraksi saat itu.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 02.20 wita.
" Udah kerasa neng, masya Alloh, sudah waktunya neng, bentar, bibi panggil Aji dulu, neng duduk dulu yaa !" bi Lastri memapah Hanna hingha ke bibir ranjang, lalu berlari secepatnya keluar kamar menuju kamar Aji.
Tok tok tok....
" Ji, bangun Ji... "
Ceklek... pintu terbuka setengahnya...
" Iya bi, kenapa ?" tanya Aji yang wajahnya menyembul keluar dengan muka bantalnya.
" Neng Hanna, udah kerasa perutnya, udah mau lahiran kayaknya !" ucap bi Lastri.
Aji pun kembali ke dalam kamarnya, masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu mengambil kunci mobil, hp serta dompetnya yang berada di atas nakas. Tak lupa ia mengambil sebuah jaket yang menggantunh di belakang pintu kamarnya.
Aji berlari menuju kamar Hanna. Di dalamnya sudah ada bi Asih pula yang terbangun karena di gedor juga pintu kamarnya oleh bi Lastri.
" Han, kita ke rumah sakit sekarang yaa... " ucap Aji.
Hanna tidak mampu menjawab, ia hanya menatap Aji sambil menganggukkan kepalanya sambil meringis kesakitan.
Bi Lastri sudah siap dengan dua buah tas yang berisikan pakaian Hanna serta perlengkapan kebutuhan bayi untuk di rumah sakit.
Bi Asih membantu memapah Hanna untuk keluar dari kamarnya.
Sesampainya di ujung tangga, sebelum turun, Hanna sempat terdiam kembali karena rasa sakitnya tiba - tiba muncul kembali.
Tanpa menunggu lama, Aji langsung menggendong Hanna ala bridal style dan berjalan perlahan menuruni tangga, dengan hati - hati.
" Bli, turunkan saja, aku jalan kaki saja sampai ke mobil !" ucap Hanna, ketika mereka sudah sampai di lantai satu.
" Tidak apa, supaya kau cepat sampai di rumah sakit " jawab Aji.
Setelah memastikan Hanna duduk dengan nyaman di kursi mobil belakang, Aji pun menghampiri kursi kemudi dan duduk di atasnya.
Sebelum mulai menyalakan mesin mobil, ia terlihat mengatur laju nafasnya terlebih dahulu.
" Ji, tenang... apa kau sanggup menyetir mobil kali ini ?" tanya bi Asih yang duduk di sampingnya di depan.
" Bi, aku harus menelepon rumah sakit dulu, bibi juga belum di beritahu kan ?" tanya Aji.
" Biar bibi yang kasih tahu mbak Yu, kau telepon dulu saja rumah sakit !" jawab bi Lastri.
Aji memasang handsfree di telinganya, lalu mengambil hp dari dalam saku celananya dan menelepon rumah sakit.
Sambil mulai menyalakan mesin mobilnya, ia mencoba menghubungi rumah sakit saat itu.
Setelah teleponnya di angkat, Aji langsung memberitahukan bahwa mereka sedang dalam perjalanan membawa Hanna yang sudah kontraksi sejak beberapa menit lalu dan meminta mereka bersiap menunggu kedatangannya di sana.
Selesai menelpon, Aji yang nampak tegang sesekali menatap Hanna dan bertanya tentang kondisi Hanna.
" Kau fokus saja Ji, tidak apa, memang seperti itu kalau mau melahirkan, bawa saja mobil ini dengan hati - hati !" ucap bi Asih.
Nampaknya Aji merasa cemas melihat Hanna meringis kesakitan seperti itu. Dia sudah seperti seorang suami yang kini sedang tegang menghadapi situasi istrinya yang hendak melahirkan bayinya.
" Tarik nafas neng, keluain pelan - pelan lewat mulut, begitu saja kalau rasa sakitnya datang lagi, jangan lupa sambil berdzikir yaa... " ucap bi Lastri yang duduk di samping Hanna, mencoba menguatkan dan memberi arahan pada Hanna.
Sesampainya di rumah sakit, Hanna langsung di sambut oleh beberapa perawat yang sudah menyiapkan kursi roda.
Hanna di bawa menuju ruang pemeriksaan dahulu sebelum menuju ruang persalinan.
Setelah di periksa oleh dokter, posisi bayi sudah bagus, hanya saja pembukaan jalan lahirnya masih kecil, jadi Hanna di minta oleh dokter untuk bersabar dan berdoa, juga di sarankan untuk berjalan - jalan kecil di ruangan demi membantu meningkatkan pembukaan selanjutnya pada bayi.
Tentunya di temani oleh Aji di dalam ruangan, karena hanya di perbolehkan satu orang yang menemaninya.
Bi Asih dan bi Lastri berjaga di luar ruangan sambil menelpon bu Shinta, juga keluarga Hanna di Bandung.
Di dalam ruangan, Hanna di bantu oleh Aji berjalan mengitari ruangan, ada seorang perawat yang mengawasi di dalam, mendampingi mereka sambil memantau keadaan Hanna.
Sesekali langkah Hanna terhenti karena sakit yang di rasanya kembali datang dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya.
" Bli... sakit... " Hanna meneteskan air mata sambil berpegangan pada lengan Aji. Dan tanpa di sadari ia mencengkeramnya begitu kuat hingga Aji pun terlihat meringis menahan sakit karena kuku dari jari - jari tangan Hanna menancap di lengannya.
" Sabar yaa... kau pasti kuat, kau pasti bisa Han... " ucap Aji.
Lalu, tiba - tiba perawat menghampiri mereka.
" Pak, coba ibunya sambil di peluk, lalu usap - usap punggungnya, buat istrinya senyaman mungkin saja, supaya mengurangi rasa cemasnya !" ucap sang perawat.
Aji nampak canggung karena ucapan perawat itu, bagaimana tidak bingung, karena dia bukan suami Hanna, dia tidak mau berbuat lancang seperti itu, terlebih lagi ia tidak mau di anggap mencuri kesempatan dalam kesempitan.
" Sus, saya bu... " ucapan Aji terhenti seketika saat Hanna tiba - tiba merangkulnya, melingkarkan kedua lengannya di lehernya begitu erat.
Aji nampak tegang dan terkejut.
" Nah begitu pak, sekarang coba di usap - usap secara perlahan, buat ibunya merasa nyaman, beri semangat dan kekuatan lewat kata - kata, semoga bisa meringankan kecemasan sang calon ibu " ucap susternya kembali.
Aji pun mengalah, ia mengusir rasa canggungnya demi Hanna dan calon bayinya, ia dengan sukarela memberi Hanna kekuatan dengan mengusap kepalanya, punggungnya, juga memberikan semangat lewat ucapannya.
Sesekali Hanna kembali berjalan - jalan kecil kembali. Duduk pada birthing ball, mengatur laju nafasnya, minta di pijat kakinya oleh Aji, juga sesekali ia memeluk Aji saat kontraksi mulai muncul kembali.
Dengan sabar Aji selalu menuruti keinginannya, bahkan mengusap keringat dan air matanya yang terlihat sesekali mengalir begitu derasnya.
Selama hampir dua jam Hanna menahan rasa sakitnya, nampaknya ia mulai kelelahan.
" Suster, aku lelah, aku mengantuk... " ucap Hanna.
" Aduh ibu, maaf ya bu, tapi ibu jangan tertidur dalam situasi seperti ini, bahaya loh bu... begini saja, bagaimana kalau ibu istirahat saja dulu di ranjang, minum dulu teh manis hangatnya ya bu, saya panggilkan dulu dokternya !"
" Pak, tolong jangan sampai istri bapak tertidur, apapun lakukan saja bagaimana caranya supaya istri bapak tetap terjaga ya pak, soalnya bahaya sekali kalo sampai istri bapak ketiduran " sambung sang perawat.
Ketika perawat keluar dari ruangan untuk memanggil dokter, Aji memutar otaknya, mengatur strategi supaya Hanna tetap fokus pada alam sadarnya, di saat alam bawah sadarnya sudah mulai meronta - ronta menarik kelopak mata atas dan bawah Hanna supaya merapat satu sama lain.
Mengajaknya mengobrol maupun bercanda gurau nampaknya tidak berhasil, meskipun Hanna sempat tertawa, namun matanya terlihat jelas tak seirama dengan ekspresinya.
" Hanna, hey... kau pasti bisa, sadarlah... " Aji menepuk pipi Hanna dengan lembut berkali - kali. Dan berhasil membuatnya kembali tersadar dan kembali pula meringis kesakitan.
" Bli, aku gak sanggup lagi, sakit banget, aku lelah !" ucap Hanna.
" Sabar ya Han, perjuangan kamu sedikit lagi Han, kamu pasti bisa, kamu wanita hebat " sahut Aji.
Dan, tiba - tiba Aji melayangkan ciuman di kening Hanna. Lalu, ia pun mendaratkan bibirnya di atas bibir tipis Hanna.
Sontak Hanna pun terkejut di buatnya. Dia hanya melotot dan terpaku.
Selama beberapa detik bibir mereka menempel satu sama lainnya.
" A-apa ini... kenapa dia menciumku seperti ini... " gumam Hanna.
Nampaknya usaha Aji kali ini berhasil membuat Hanna menghilangkan rasa kantuknya.
" Aish... gila, kenapa gue mendadak cium dia, pasti dia kira gue lagi mikir mesum, maen nyosor aja " batin Aji yang nampaknya ia pun terkejut dengan kelakuannya.
Dan untung saja saat itu pula dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan sehingga rasa canggung di antara mereka bisa terlupakan.
...***...
Perjuangan ibu yang mau melahirkan berbeda - beda biasanya gaess... memang salah satunya ya ini, akibat rasa lelah menahan sakit karena pembukaan yang panjang dan lama, terkadang rasa kantuk yang tak tertahan menjadi satu - satunya rasa takut bagi para ibu yang sedang berjuang hendak melahirkan anaknya.
Makasih masih mau menunggu update cerita selanjutnya.
Gak bosen - bosen nya othor minta maaf karena jarang update.
Maklum mau lebaran, sibuk bikin kue !! Hehe...
Tolong yang komen sering nanyain Siwan, move on yaa... xixixi
Suka ataupun tidak suka, othor sudah punya jalan cerita sendiri, jadi mohon pengertiannya !!
Terima kasih.