
Kamis, 17 Agustus 2017
Pukul 10.00 wita, di rumah sakit, di sebuah kamar rawat inap vvip room, seorang wanita berusia 25 tahunan tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.
Di sampingnya, terdapat sebuah box bayi yang di atasnya tergelak seorang bayi lucu berpipi tembem berkulit putih agak kemerahan memakai kain bedong serta kupluk di kepalanya, sedang bergerak ke kiri dan ke kanan sambil menjulurkan lidahnya dan membuka mulutnya berkali - kali seolah mencari sesuatu yang bisa ia gapai dengan mulut mungilnya.
Seorang pria mendekat ke arah box bayi tersebut, melihat sang ibu tertidur lelap, ia seolah mendapat kesempatan untuk meraih bayi sang bayi dengan tatapan ambigu.
Namun, tiba - tiba, sang ibu membuka matanya, terbangun dari tidurnya.
" Kak Oz... " ucap Hanna, sambil mengucek kedua matanya dan terbangun perlahan lalu bersandar di ranjang pada tumpukan bantal.
Ternyata pria yang kali ini datang ke rumah sakit secara diam - diam adalah Austin, pria yang di kenalnya.
Lalu, pada episode sebelumnya, ada seorang pria yang bersembunyi di kamar mandi, siapakah dia ?
" Hai... maaf ya, kedatanganku pasti mengganggu tidurmu !" ucap Austin yang kini mendekat pada Hanna, dan mengurungkan niatnya untuk menggendong bayi Hwan.
" Gapapa kok santai aja, aku tadi cuma ketiduran pengaruh obat, kak Oz sendirian ?" tanya Hanna, kepala dan matanya berkeliling menjelajah seisi ruangan.
" Iya, aku masuk kesini juga udah sepi, kau disini dengan siapa semalam ?" tanya Oz.
" Semalam aku di temani kedua orangtuaku, lalu pagi tadi mereka pulang ke rumah ahjussi, aku di temani bli dan adikku, tapi sekarang kemana ya mereka.... ?" Hanna merasa heran tidak menemukan batang hidung keduanya.
" Lagi cari sarapan kali, atau mungkin lagi ikut upacara bendera, xixixi... "
" Ah iya lupa, hari ini kan HUT RI, kebetulan sekali ya, bayiku lahir di antara tanggal HUT RI dan HUT Korea Selatan, negara kelahiran ahjussi " Hanna menghembuskan nafas perlahan sambil melamun sesaat, karena teringat akan Siwan, kekasihnya.
" Eh... baidewey, selamat ya, kau sudah jadi seorang ibu sekarang, bagaimana rasanya melahirkan ?" tanya Oz.
"Warbiyasah... 'Hanna mengacungkan kedua jempolnya' nikmat sekali ternyata," sambungnya.
"Perjuanganmu tapi tidak sia - sia, kau berhasil melahirkan bayimu dengan selamat dan sehat, bayi lucu ini, namanya siapa ?" tanya Oz, lalu menghampiri box bayi Hwan.
"Hwan, panggil saja Hwan kak, sementara belum ada nama lengkapnya"
"Boleh ku gendong ya, bayimu sepertinya sedang gelisah," ucap Oz.
"Mungkin dia sudah mulai lapar lagi kak, sebentar, aku harus minum dulu !" ucap Hanna.
Saat Austin menimang bayi Hwan di pelukannya, datanglah Abdul dan Aji ke dalam ruangan secara bersamaan.
Mereka nampak terkejut melihat seseorang kini menemani Hanna dan Hwan di dalam kamar.
"Bli, kalian darimana ?" tanya Hanna yang kini sedang berusaha meraih gelas di atas nakas samping ranjangnya.
Dengan sigap Aji menghampirinya dan membantu Hanna mengambil gelas setelah sebelumnya menuangkan air hangat ke dalamnya.
"Maaf, aku tadi menerima telepon dari Woods studio, aku takut mengganggu kalian jadi aku keluar sebentar," jawab Aji, dengan pandangan awas menatap Austin yang sedang menggendong bayi Hwan sambil mengobrol dengan adik Hanna.
"Kak, dia lapar sepertinya, lihat, kepalanya menelusuk ke dalam ketiak kak Oz, hahaha lucunya," ucap Abdul.
" Iya Han, ini, kau susui dulu dia, kasihan !" Austin menyerahkan bayi Hwan pada Hanna.
"Dul, tolong kemarikan pompa asinya !" ucap Hanna.
Karena produksi asinya sangat banyak, daripada terbuang percuma, lebih baik saat menyusui, PD sebelah lagi, selalu Hanna pompa saat bayi Hwan asyik menyedot amunisi tubuhnya.
Abdul yang sudah di beri tutorial dalam membantu kakaknya oleh ibunya tadi pun dengan sigap membantu Hanna menyiapkan alat pompa asi elektriknya.
Dan, ketika Hanna mengeluarkan sebelah PDnya untuk di susukan pada bayi Hwan, dan sebelah lagi di masukan pada corong pompa asi, Austin masih dengan polosnya menatap ke arah mereka, ke bagian dada Hanna dan bayi Hwan.
Aji yang merasa heboh sendiri memberi sinyal pada Austin agar mengalihkan pandangannya dari mereka, terutama pada bagian dada Hanna yang kini terekpose kemana - mana.
Austin sebetulnya menyadari sinyal yang di berikan oleh Aji, namun ia dengan sengaja menghiraukannya dan malah mengkompori Aji dengan terus mengajak Hanna mengobrol membahas masalah Asi dan payu*aranya.
"Sudah keluar banyak asinya ternyata, syukurlah," ucap Oz.
"Iya kak Oz, a-aku merasa lega meskipun kenapa rasanya sakit sekali," Hanna meringis karena merasakan sakit pad pu*ing payu**ranya saat bayi Hwan mulai menghisapnya.
"Tidak akan lama kok, kau sabar saja ya, nanti kau minta saja salep pada perawat, ada salep yang aman kalaupun tertelan oleh bayimu," jawab Austin.
"Tapi, saran dari ibuku, setiap selesai menyusui, oleskan saja cairan asi ini di seluruh put*ngnya sampai mengering, cara tradisional supaya lecetnya cepat hilang," tanpa rasa canggung sedikitpun Hanna membahas hal tersebut dengan Oz, karena dia paham dengan basic profesi Oz yang notabene seorang dokter meskipun bukan dokter ahli kandungan.
"Ya tidak ada salahnya juga sih, cara itupun kalau berpengaruh ya lebih bagus karena lebih alami," sahut Austin.
Setelah cukup lama berbincang bersama Hanna, sesekali dengan Aji dan adik Hanna, Austin pun pamit setelah melihat bayi Hwan kembali tertidur setelah mabuk asi ibunya.
" Baiklah Han, kalian istirahat ya, jangan lupa banyak makan sayur dan buah supaya asimu sehat, lain kali aku akan berkunjung menemui kalian lagi," ucap Oz.
"Terimakasih banyak ya kak atas kunjungannya, terimakasih juga buat kadonya ya, semoga rezekinya selalu lancar."
" Aamiin, semoga kalian sehat dan bahagia, yasudah, aku pergi dulu," Austin pun berpamitan pada adik Hanna dan Aji.
Saat Austin melangkah keluar dari pintu ruangan kamar inap tersebut, Aji pun menyusulnya keluar, berusaha menyusul Austin, entah apa yang mereka bicarakan saat itu.
Sementara di dalam ruangan...
" Kak, aku mencium aura persaingan diantara keduanya," ucap Abdul.
" Apa sih ah, ngomong yang jelas dong !" ucap Hanna.
" Dih, ampun dah, peka dikit napa sih, gak sadar gitu tatapan mereka beda banget, dulu sama sekarang, perbedaannya jauh banget, aku bisa merasakan aroma kebapakablean di antara mereka, juga jiwa ingin melindungi kalian seolah meronta - ronta di dalam benak mereka," ucap Abdul.
" Lu ngomong apaan sih, ngaco banget, kagak ngarti gue, udah deh diem, bantuin gue tidurin nih Hwan ke ranjangnya, pusing gue denger ocehan lu," ujar Hanna, seneweun.
Abdul pun menggendong dan menidurkan bayi Hwan di atas ranjang mungil khusus bayi itu dengan perlahan dan hati - hati.
Sedangkan Hanna kini masih sibuk dengan pompa asi dan PDnya, mengeluarkan cairan asi miliknya untuk di simpan sebagai stock asi perah agar tidak terjadi penumpukan asi di dalam payuda**nya yang biasanya membuat PDnya menjadi bengkak dan sakit hingga meriang.
...***...
Beberapa jam berlalu...
Hanna kini sedang berkeliling di dalam ruangan, berjalan perlahan guna memulihkan seluruh kekuatan dan tenaganya untuk bisa kembali beraktifitas meskipun belum boleh beraktifitas senormal seperti biasanya.
Karena ia masih harus menjaga kondisi rahim dan bagian bawahnya setelah melahirkan. Begitu banyaknya aturan yang di beritahukan oleh ibunya yang harus di taati selama jaitan di bagian bawahnya belum kering, terlebih lagi sebelumnya Hanna sempat mengalami pendarahan pasca melahirkan.
Hanna masih di temani oleh Aji dan adiknya. Saat itu, setelah makan siang, Hanna di temani Aji untuk berjalan - jalan di sekitar ruang kamarnya.
Tangan Hanna melingkar di lengan Aji yang berdiri di sampingnya.
"Kalau sudah lelah, istirahat saja, yang penting kau tidak seharian tiduran di ranjang kan seperti yang di katakan oleh dokter," ucap Aji.
"Bukan begitu, jangan salah paham, kau ini sensitif sekali, aku hanya takut kau kelelahan, sejak kedatangan Oz tadi kau belum tidur lagi kan ?" tanya Aji.
"Eh iya bli," Hanna menghentikan langkahnya dan menatap Aji dengan seksama.
"Apa kapan kau memberitahu kak Oz kalau aku sudah melahirkan ?" tanya Hanna, dengan kening yang mengkerut.
"Tidak, kukira kau yang memberitahunya, "jawab Aji.
"Aku mana sempat, teman - temanku saja belum kuberitahu, rencananya akan kuberitahu kalau kita sudah pulang saja ke rumah," ucap Hanna.
"Lalu," Aji merasa curiga terhadap sesuatu, namun langsung menepisnya "ah, mungkin bibi yang memberitahunya, sudahlah, tidak apa kan, lagipula dia kan orang terdekat kita, " ucap Aji.
"Iya, mungkin bu Shinta yang meneleponnya, sudahlah, aku mau tidur saja, rasanya sekarang aku sangat mengantuk," Hanna pun berjalan menuju ranjang.
Namun, karena kakinya belum bisa terbuka lebar, ia merasa kesulitan saat hendak naik kembali ke atas ranjang.
Tadi sih saat adiknya belum tidur, setelah dari kamar mandi, Hanna di bantu di gendong oleh adiknya.
"Sini, kau pegangan padaku, hati - hati, jahitan bawahmu masih basah, "
Hanna menyentil telinga Aji saat mendengarnya mengucapkan hal tersebut.
Aji meraih tubuh Hanna dan mengangkatnya ke atas ranjang tanpa mempedulikan tatapan kesal Hanna.
Setelah membenarkan posisi Hanna di ranjang, ia lantas menyelimutinya.
"Tidurlah, aku tidak akan pergi kemana - mana lagi seperti tadi, aku akan menjaga Hwan, " ucap Aji.
"Bli, terimakasih banyak ya, terimakasih selalu menemaniku dan membantuku, maaf aku selalu merepotkanmu !" ucap Hanna, dengan nada bersungguh - sungguh.
"Oke, tidur sana !" jawab Aji dengan nada acuh.
Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya menuju bayi Hwan.
"Eh bli, kemarilah, sebentar saja !" pinta Hanna.
"Ada apa lagi ?" tanya Aji, berbalik arah menuju Hanna kembali.
"Sini, mendekat, aku mau melihat leher belakangmu, ini kenapa ?" tanya Hanna, merasa ngeri karena baru melihat bekas luka di belakang leher Aji.
"Ah, ini, kau baru melihatnya tapi belum menyadarinya ternyata," ucap Aji.
Dan, Hanna pun teringat sesuatu.
"Ya ampun, hehe.... maafkan aku bli, aku baru ingat, pasti sakit ya, maaf ya, aku tidak sengaja !" ucap Hanna merasa bersalah.
"Sudahlah, hanya perih, aku sudah mengobatinya, tidak seberapa dengan rasa sakit yang kau alami saat melahirkan kemarin, " jawab Aji.
Luka yang ada di leher belakang Aji adalah luka bekas cakaran dari kuku tajam Hanna saat tengah berusaha mengeluarkan bayi Hwan ke dunia ini hari kemarin.
Saat tengah mengejan mengeluarkan seluruh tenaga melalui otot perutnya, sambil menahan rasa sakit, tanpa di sadari salah satu lengan Hanna melingkar di leher Aji dan mengeratkan cengkeramannya hingga meninggalkan bekas luka pada leher Aji.
"Aku jadi merasa bersalah, sungguh, aku masih minta maaf, bli,"
Aji menarik lengan Hanna yang sejak beberapa menit yang lalu menyentuh area lehernya, drpan dan belakang. Lalu Aji pun menghadap ke depan wajah Hanna, setelah tadi membelakangi Hanna.
"Iya, aku kan sudah bilang, tidak apa - apa, hanya luka kecil, aku masih bisa menahannya, aku lebih tidak tega melihatmu kesakitan seperti kemarin, hatiku juga merasa sakit melihatmu menderita, " ucap Aji.
Hanna merasa tersentuh mendengar kata - kata yang keluar dari mulut Aji. Kini mereka sesang saling memandang satu sama lain.
Dan, jarak diantara mereka yang begitu dekat mampu membuat seseorang salah paham apabila melihatnya.
Dan benar saja, tanpa mereka sadari, sejak beberapa detik yang lalu, adik Hanna sudah terbangun lalu terduduk kini dapat menyaksikan kemesraan di antara keduanya dari kejauhan.
Aji yang menggenggam kedua tangan Hanna, juga tatapan di antara keduanya yang saling membalas mesra, membuat adik Hanna merasa canggung sendiri melihatnya.
"Duh, gimana nih, apa gue pura - pura tidur lagi gitu," gumamnya di dalam hati sambil menggaruk kepalanya padahal tak ada yang gatal sama sekali.
Tanpa menunggu lama, saat mendengar suara pintu kamar terbuka, adik Hanna langsung menjatuhkan badannya di atas sofa dan menutup kembali matanya.
"Teh, gimana Hwan ?" tanya bu Hani, ibu Hanna yang baru saja masuk bersama bu Shinta dan pak Bagyo.
Untung saja saat mendengar suara pintu terbuka, Aji langsung melepaskan genggaman tangannya dan mundur menjauh dari hadapan Hanna.
"Lagi tidur, alhamdulillah gak rewel kok, " jawab Hanna.
"Aish, cucuku, pintar sekali ya," bu Shinta menghampiri box bayi Hwan dan menatap wajah bayi mungil yang menjadi penyemangat hidupnya kali ini.
Hanna dan bu Hani mengobrol berdua, sedangkan Aji dan pak Bagyo mengganggu adik Hanna yang tengah meringkuk di sofa.
Dia masih saja pura - pura tertidur dan tak menghiraukan pemandangan yang berhasil ia tangkap beberapa menit yang lalu.
Begitulah suasana hangat di dalam kamar rawat inap Hanna saat itu. Mereka semua sudah sangat akrab satu sama lainnya, rasa bahagia yang kini tengah menyelimuti mereka karena kehadiran anggota baru di keluarga mereka mampu menghapus semua rasa gundah dan sedih yang tengah di rasa sebelumnya.
Hwan merupakan obat pelipur lara mereka, terutama bagi Hanna.
Namun, di sisi lain, di sebuah daerah yang jauh disana, seseorang tengah berjuang mempertahankan hidupnya, merangkak dari satu sudut menuju sudut lainnya, bersembunyi di antara semak - semak menghindari sekelompok orang yang bersenjata dengan tatapan siaga tengah mencari sesuatu atau mungkin seseorang di antara redupnya cahaya di hutan pada siang hari kala itu, matahari yang hanya mampu menembus sedikit melalui celah namun menggantung di atas permukaan tanah karena tertutup tumpukan dedaunan dari pepohonan yang menjulang tinggi dan rimbun.
Di sebuah hutan yang terdapat rawa - rawa di kelilingi beberapa mahkluk yang juga tengah bersiap dengan mode awas hendak menerkam mangsanya, membuat sekelompok orang bersenjata tersebut menghindar dan menjauh perlahan ketika melihat beberapa pasang mata predator di hadapannya.
Pria yang tengah bersembunyi itu merasa lega melihat orang - orang yang bersenjata menjauh dari posisinya, dari celah semak - semak tersebut ia mampu melihat mereka pergi dan mengubah arah perjalanan mereka.
"Hah... syukurlah... " ucap pria itu.
Namun, ia tidak menyadari bahaya apa yang kini berada di depan matanya.
Ketika pria itu menyandarkan kepalanya di antara semak - semak sambil menutup mata, ia merasakan aura di sekitarnya menjadi lebih mencekam, dingin menembus kulit arinya, lalu, ketika ia membuka matanya, seketika bulu kuduknya berdiri dan ia terpaku menatap ke depan, mulutnya mengaga terbuka lebar namun sekita pula jalan nafasnya seolah terhenti.
Tanpa bernafas dan berkedip sedetikpun, ia menyaksikan pemandangan luar biasa mencekamnya, beberapa ekor buaya keluar dari rawa - rawa beberapa meter di hadapannya.
Mata pria itu bergiliran menatap kedua bola mata dari satu buaya ke buaya yang lainnya, salah, bukan buaya, namun alligator...
Di dalam hatinya, pria tersebut menghitung dengan seksama banyaknya buaya yang tengah mengelilinginya.
"Sa-satu, ddu-dua, ti-tiga....., hingga hitungan terakhir, dedelap-pan... " barulah ia bernafas kembali setelah menelan air liurnya.
Siapakah dia ???
Yang bisa nebak.... hebat deh...
...Hahahaha...