
1 Januari 2018..
Pria yang katanya bernama Asep, kini sedang berada di atas sebuah perahu nelayan menyebrangi lautan menuju sebuah tempat.
"Aku harus segera bertemu ibu dan memberitahunya berita penting ini, " gumamnya yang sedang terduduk di bagian depan perahu.
Sebelumnya, beberapa hari yang lalu, bahkan hampir satu bulan lamanya, Asep pamit pulang dari rumah penduduk yang menyelamatkannya yang berlokasi di hutan pedalaman daerah NTT.
Setelah kondisinya benar - benar pulih, Asep pun di izinkan untuk pulang oleh orang yang merawatnya, dan berjanji akan kembali untuk membalas budi atas kebaikannya selama ini yang telah bersedia membantu menyembuhkan semua luka yang ada di tubuhnya meskipun dengan cara yang tradisional.
Awalnya ia pulang dengan berjalan kaki, lalu menumpang pada motor salah satu warga yang melintas setelah membawa hasil kebun, menumpang pada truk kayu, naik bus, menyebrang lautan dengan perahu nelayan, kemudian berjalan kaki lagi, menumpang dengan kendaraan kereta kuda, kadang menumpang kembali pada truk yang melintas, menaiki speed boat, kemudian kembali harus menyebrang lautan menuju suatu tempat dengan menumpang perahu nelayan di tengah perjalanan karena speedboat yang ia tumpangi mendadak kehabisan bahan bakar.
Pria yang mengaku bernama Asep itu tentu saja sedang dalam perjalanan menuju pulau Bali, tempat dimana ia menghabiskan hampir sebagian hidupnya disana.
Sesampainya di salah satu dermaga yang ada di pulau Bali, perjuangannya untuk kembali tentu saja tidak semulus yang ia bayangkan.
Ia bahkan sudah tahu dan memprediksi apa yang akan terjadi padanya apabila ada salah satu anak buah mantan bosnya yang menemukannya.
"Astaga, hampir saja aku ketahuan, " ucap Asep di dalam hati.
Ia pun mengendap - endap menuju sebuah lokasi yang sepi, tidak banyak orang yang mengenalinya saat itu, melihat penampilannya kini sudah berambut gondrong dan berkumis serta berjanggut lebat. Namun ia harus tetap waspada.
Berbekal uang yang ia miliki di sakunya, ia menaiki bus dari satu tempat menuju satu terminal, ke satu tempat dan terminal lainnya.
Ia masih harus menunggu moment yang selama ini ia tunggu - tunggu, moment dimana ia ingin mengungkapkan segalanya pada seseorang.
Setelah berjam - jam berada di pulau Bali, kini ia berhenti di sebuah lokasi yang nampaknya tidak asing lagi di matanya.
Ia melihat ke kanan dan ke kiri, matanya awas, berkeliling dari satu sudut ke sudut lainnya.
Setelah ia rasa cukup aman, ia pun kini menyebrangi sebuah jalan, untuk menuju sebuah lokasi, yaitu panti asuhan.
Panti Asuhan yang ia ketahui di kelola oleh bu Shinta.
Ia berjalan menuju gerbang, dan masuk secara perlahan.
Seseorang menyadari kehadirannya.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang suster yang tengah mengawasi anak - anak panti yang tengah bermain di halaman.
"Ssore sust, maaf, saya ingin bertemu ibu !" jawabnya.
"Ibu ? siapa ? maksud saya namanya ?"
"Bu Shinta, sust !" jawabnya.
"Oh, maaf, bu Shinta sudah lama tidak pulang ke panti,"
"Be-benarkah ?" pria bernama Asep itu merasa heran dan tidak percaya.
"Siapa anda ? maaf, mungkin kalau ingin menyampaikan pesan, saya bisa bantu !" ucap suster tersebut.
"Ssaya hanya anak buah dari kak Wan, emh, kalau boleh tahu, dimana sekarang bu Shinta tinggal "
"Maaf, kalau anda anak buah nak Siwan, kenapa anda tidak tahu dimana bu Shinta berada sekarang, " ucap suster tersebut merasa heran, ia menatap Asep dengan mode waspada.
"Tolong percayalah pada saya, saat ini, saya harus bertemu bu Shinta, ada sesuatu yang harus saya sampaikan, ini penting, percayalah saya bukan orang jahat," tutur Asep.
Hemh...
Suster tersebut memberitahu Asep kalau sudah lama sekali bu Shinta tinggal di kediaman Siwan dan menyuruhnya mencari bu Shinta disana.
"Kalaupun dia orang jahat, penjaga ibu pasti akan mencegahnya untuk masuk dan bertemu ibu, tapi kalau memang apa yang dia katakan memang benar, berarti tindakanku memberitahunya sudah sangat tepat, ya Tuhan, semoga semuanya baik - baik saja, " gumam suster itu sambil menatap punggung Asep yang semakin menjauh dari pandangannya.
Setelah keluar dari gerbang panti asuhan.
"Haduh... aku harus kembali lagi ke Denpasar, ya Tuhan, jalanku sungguh sangat berliku, " ucap Asep.
Ia pun kemudian kembali menaiki bus menuju Denpasar.
Sesampainya di dekat kediaman Siwan, beberapa meter sebelum menuju gerbang, Asep begitu awas, lebih dari sebelumnya.
Dan, benar saja, dari kejauhan, di balik dinding sebuah rumah, matanya menangkap seseorang yang ia kenali.
"Sudah kuduga, anak buahnya berjaga di sekitar sini, sial... " ucapnya.
Namun, tidak lama kemudian, ia melihat sebuah mobil melintas di depannya, dan ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalamnya.
"Bu Shinta... " ucapnya dengan lirih.
Lalu, tiba - tiba sebuah ide melintas di pikirannya.
Secepat kilat ia berlari di belakang mobil dan menyusulnya, untungnya mobil melaju dengan pelan karena sudah akan sampai di depan pagar rumah.
Ketika sang sopir menghentikan mobil dan memencet klakson memberi tanda pada penjaga untuk membuka gerbang masuk rumah, Asep pun menghadang mobil tersebut sambil mengetuk jendela samping bu Shinta di bagian belakang.
Sang supir yang melihat kejadian tersebut langsung turun untuk melindungi majikannya.
"Siapa kau ?" ucap sang supir dengan raut wajah tegas dan garang menarik tubuh Asep dengan keras.
"Bram, ini gue, pliss, bawa gue dulu ke tempat aman !" pinta Asep.
"Loe.... "
Asep menganggukkan kepala sambil menatap Bram.
Kepala Bram melihat ke kanan dan kekiri, mengecek situasi di sekitar. Dan ketika pintu pagar sudah terbuka setengahnya, ia langsung menyuruh Asep masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Loe masuk duluan ke dalam !" perintah Bram.
Asep langsung masuk dan menunggu Bram serta bu Shinta menyusul ke dalam.
Saat Bram masuk ke dalam mobil.
"Siapa Bram ?" tanya bu Shinta.
"Kita bicara di dalam saja bu !" jawabnya sambil mulai kembali menyetir mobilnya dan masuk ke dalam halaman rumah.
Setelah mobil masuk dan berhenti, Bram dan bu Shinta keluar untuk menemui Asep.
"Siapa dia Bram ?" tanya bu Shinta.
"Saya Tio bu... !"
"Tio, siapa ?" bu Shinta masih belum mengenalinya.
"Saya Tio, setahun lalu saya yang mendampingi kak Wan saat terjadi kecelakaan helikopter di NTB !"
"K-kau... ?" bu Shinta nampak terkejut dan sedikit terhentak ke belakang, untung saja Bram menahannya, kalau tidak, mungkin bu Shinta sudah terjatuh.
Beberapa menit kemudian, kini mereka sudah berada di ruang tengah sedang berbicara serius, Asep yang ternyata adalah Tio pun mulai menceritakan semua kronologis kejadiannya.
"Dimana anakku ? apa dia masih hidup ?" tanya bu Shinta.
"7 bulan yang lalu kami berpisah bu, maafkan saya, saat ini saya tidak tahu apakah kak Wan masih hidup atau tidak, saya terpisah darinya karena dia menyuruh saya lari saat tengah di kejar oleh anak buah Austin, "
"Apa ? Austin ? maksudmu ?" bu Shinta nampak masih belum percaya mendengar Tio menyebut nama Austin, apa mungkin dia Austin yang ia maksud.
Bram yang sepertinya sudah tahu keadaannya hanya diam dan saling bertatapan dengan Tio sesaat.
"Ada apa ini sebenarnya ? katakan padaku sejelas mungkin, "
Dan, Tio pun menceritakan bahwa, sebenarnya, dia adalah orang suruhan Austin untuk menyusup ke dalam kubu Siwan, dan berpura - pura menjadi anak buah Siwan yang setia.
Padahal selama ini ia selalu melaporkan situasi bisnis Siwan dan gerak - gerik Siwan kemanapun ia pergi.
Karena kadang selain Aji, Tio lah yang selalu di tugaskan untuk menemani Siwan selama ini.
"Maafkan saya bu, dulu saya terpaksa karena saya membutuhkan donor ginjal untuk ibu saya, dan itu tidak semudah mendapatkan berlian dalam semalam, setelah meminta bantuan Austin, dia memberi saya syarat agar saya mengabdi padanya !" ucap Tio.
"Jadi, kecelakaan helikopter setahun lalu itu, hanya rekayasa kan, benar seperti dugaanku, begitukan ?" tanya bu Shinta yang sudah berlinang air mata.
"Maafkan saya bu !" Tio hanya bisa mengatakan hal tersebut.
"Lalu, kenapa sekarang kau berbelot dan menceritakan semuanya padaku ? apa maksud Austin melakukan semua ini ?"
"Saya kurang paham dengan motif apa yang mendasari Austin melakukan semua ini bu, hanya saja, setelah saya telaah, saya memang salah, kalaupun ada cara untuk menebus kesalahan, apapun akan saya lakukan, "
Untuk sejenak bu Shinta berpikir dan menyuruh Tio untuk diam dan tutup mulut.
Hingga kemudian ia berkata...
"Temukan anakku, dan bawa dia kembali kemari dalam keadaan apapun, baru aku akan mengampunimu... !"
"Baik bu, terimakasih banyak, saya janji, akan mencarinya dan tidak akan kembali sebelum menemukan kak Wan, "
"Bram, apa Aji tahu tentang semua ini ? katakan sejujurnya padaku ?" tanya bu Shinta.
"Aji sudah sempat mencurigai Austin bu, hanya saja bukti tidak pernah tertuju padanya, Aji pikir, pasti ada seseorang yang menyetir dan membantu Austin juga selama ini, " jawab Bram.
"Brengsek, berani - beraninya dia memanfaatkan kebaikan anakku, dan, kenapa Aji tidak pernah memberitahuku selama ini, cepat, panggil dia kemari !" pinta bu Shinta.
Satu jam kemudian, masih di kediaman Siwan, di ruang kerja Siwan, kini mereka berkumpul. Ditambah dengan Aji yang baru datang.
"Tio, loe masih hidup ? dimana kak Wan ?" Aji yang baru datang di ruang kerja langsung bisa mengenali Tio meskipun tampangnya sudah berubah, namun, dari sorot matanya, Aji masih begitu mengenali sahabatnya yang satu itu.
"Ji, duduklah... !" pinta bu Shinta.
Aji dan Tio yang saling bertatapan dengan tatapan rindu dan bahagia karena bisa berjumpa kembali pun harus menahan dulu rasa bahagia mereka di hadapan bu Shinta.
Aji merasa bahagia namun tidak menyangka bahwa sahabatnya masih hidup sampai saat ini. Namun sekilas, dari sorot mata Tio, ada perasaan bersalah di hatinya, karena trlah mensia - siakan kepercayaan sahabatnya itu.
Bram menceritakan tentang awal kedatangan Tio di rumah ini dan menceritakan kembali apa yang Tio ceritakan tadi pada bu Shinta dan padanya.
"Apa... ? brengsek kau Tio, bajingan, bisa - bisanya kau mengkhianatiku dan kak Wan..." Aji berubah menjadi penuh amarah, hendak menghampiri Tio untuk memberinya pelajaran.
Namun Bram menahannya...
"Tenang bro, bukan waktunya kita kasih dia pelajaran, saat ini kita harus memikirkan sesuatu yang lebih penting, " ucap Bram.
Untuk beberapa saat, suasana berubah menjadi hening.
Baik Aji maupun Bram, mereka sedang menunggu bu Shinta untuk mengatakan sesuatu pada mereka. Apalagi Tio, dia hanya terdiam dan menangis dalam diamnya.
"Ji, kenapa kau tidak memberitahuku tentang Austin ?" tanya bu Shinta.
Aji menghela nafas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak bisa membuktikan setiap kecurigaanku padanya selama ini, barisan anak buahnya terlalu rapat menghapus setiap jejaknya, aku sudah mengira mungkin seseorang yang sangat berpengaruh di daerah ini yang berada di sampingnya, maaf bu, aku pun pernah mencari jejak kak Wan dulu secara diam - diam, tapi aku tetap tidak bisa menemukannya, " ucap Aji panjang lebar.
"Lalu, apa mungkin soal hasil tes DNA itu, dia yang merekayasa juga ?" tanya bu Shinta.
"Aku yakin, dia dalangnya, dia yang membuat Hanna kembali melakukan tes DNA secara diam - diam tanpa sepengetahuan kita, selama ini aku sedang mencaritahu lewat beberapa pegawai rumah sakit, terutama di bagian laboratorium, dan sialnya... pegawai yang saat itu meriset DNA Hwan, saat ini dia sudah tidak bekerja disana lagi, aku sempat mencarinya ke rumah kostnya, tapi dia sudah pindah, dan anehnya, dia pindah satu hari setelah memberikan hasil tes DNA kedua Hwan saat itu, "
"Astaga... jadi, kemungkinan besar dia memang cucuku kan ? benar kan ?" bu Shinta menatap Aji dengan sorot mata penuh harapan.
"Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menyentuh Hanna bu, dan aku berani memastikan kalau dia tidak pernah dekat dan berhubungan dengan pria lain selain dengan kak Wan," jawab Aji.
"Lalu, kenapa saat itu, waktu di resto xxx, kau tidak menyangkalnya Ji ?" tanya Bram.
Bram ingat saat itu, sekitar enam bulan yang lalu dia dan bi Lastri mengantar Hanna bertemu dengan Aji untuk pamitan membawa Hwan sebelum kepulangan mereka ke Bandung.
Saat Hanna kembali bertanya tentang hal itu, Aji tidak menyangkal fitnah itu, kalau dia pernah meniduri Hanna saat Hanna sedang tidak sadarkan diri.
"Aku tidak tega melihatnya kembali kebingungan, kalau dia menerima jawabanku bahwa aku bukan ayah Hwan karena aku tidak pernah menyentuhnya, lalu, dia pasti akan semakin bertanya - tanya tentang siapa ayah anak ini, dan kandidat terakhir itu mengacu pada Austin, karena selain diriku, Austin lah yang selalu datang menghiburnya saat dia bersedih karena di tinggal oleh kak Wan, "
"Jadi, kau terpaksa membiarkan fitnah yang mengarah padamu itu terus berlanjut tanpa adanya kejelasan fakta yang sesungguhnya ?"
"Kalau itu membuat Hanna menghentikan rasa penasarannya, aku tidak apa - apa, meskipun dia jadi membenciku hingga saat ini, "
"Kau ini ceroboh, bagaimana kalau Austin membahayakan mereka disana, saat mereka tidak berada dalam pengawasan dan pengamanan kita Ji, " ucap Bram.
"Aku sudah menugaskan seseorang untuk terus menempel dan memantau mereka, kau tenang saja, aku tidak sebodoh itu !" jawab Aji.
"Baiklah, masalah Hanna dan Hwan, mungkin kita bisa pantau dari kejauhan lewat orang - orangmu itu, dan sekarang, sudah saatnya kita mengatur strategi untuk mencari dan menjemput anakku, dalam keadaan apapun !" ucap bu Shinta.
Suasana kembali menjadi tegang, di ruangan tertutup itu, bu Shinta, Aji, Bram, maupun Tio, mengubah tatapan mereka menjadi serius dan penuh semangat, mereka saling mengeluarakan pendapat untuk mengatur strategi untuk mengelabui musuh dan menjemput Siwan dimanapun ia berada.
Dimana Siwan saat ini ? apakah dia memang benar masih hidup ?