
Selesai makan siang, Siwan, Hanna dan Aji memutuskan untuk mendatangi kediaman Siska. Mereka ingin mengetahui sejauh mana persiapan menjelang pernikahannya.
Saat mobil berhenti di sebuah komplek perumahan tempat tinggal Siska berada, kini mereka bertiga turun, dan berjalan menuju sebuah rumah yang terlihat ramai oleh beberapa orang yang keluar masuk.
" Pasti itu rumahnya..." Hanna menunjuk ke arah rumah yang ramai itu, yang berjarak beberapa meter dari posisi mereka.
Mobil tidak bisa berhenti di depan rumahnya karena saat itu sedang ada sedikit perbaikan jalan di komplek tersebut.
" Ahjussi, ayo cepat.. ada apa itu, lihatlah, semua orang terlihat panik." Hanna menarik lengan Siwan dan berlari.
Namun, baru saja sampai di depan gerbang rumah tersebut, semua orang terlihat mundur dan memberi jalan bagi seseorang untuk lewat.
Dari dekat, kini Hanna melihat Siska sedang di dorong, di paksa untuk terus berjalan oleh seorang wanita, dan, ada sebuah pisau yang melingkar di lehernya.
" Astagfirullah, ahjussi, itu kak Siska dan Pat. " Ucap Hanna menghentikan langkahnya dan sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapan matanya.
" Patricia... " Suara Aji berteriak membuat semua orang menoleh menatapnya, termasuk Siska dan Patricia.
" Berhenti kalian, jangan mendekat, kalau tidak, dia akan mati di tanganku. " Ucap Patricia sambil mengacungkan pisaunya ke depan dan kembali ke leher Siska.
" Pat, tenanglah, ada apa, ayo kita bicarakan dulu baik - baik. " Ucap Siwan perlahan mendekati Patricia dan Siska.
" Berhenti kak, kumohon berhenti di situ !!" Patricia berteriak dengan bahasa Inggris.
Beberapa orang di halaman rumah Siska terlihat tegang dan ada juga suara jerit dan tangis terdengar dari dalam.
" Pat, apa mau mu ?" tanya Aji.
" Aku tidak mau Austin menikah dengan wanita jala*g ini, kalian pun sama, tertipu oleh wajah polosnya. Cuih...." Patricia membuang ludah ke sampingnya.
" Oke, apa yang mau kau beritahu padaku, ayo kita bicara dengan tenang Pat, lepaskan dulu pisaunya, itu sangat berbahaya. " Ucap Aji sambil mendekat perlahan pada Patricia dan Siska yang sedang di sandera olehnya.
Dari samping, Siwanpun terus berusaha perlahan mendekati mereka berdua, Aji terus mencoba bernegosiasi dengan Pat dan mengalihkan perhatiannya agar Siwan bisa menjangkau Pat lebih dekat.
Siska terlihat terisak - isak, wajahnya penuh dengan air mata, tapi dia berusaha untuk tetap tenang karena takut Patricia akan semakin menggila dan melukainya.
" Pat, lihat aku, dengarkan aku, kau temanku kan, kau percaya padaku kan?" Ucap Aji.
" Stop, Aji, kumohon, aku tidak mau.. " Pat tidak meneruskan perkataannya, lalu dia menagis tersedu - sedu dan melepaskan Siska dari cengkramannya.
Dari belakang Siwan langsung menghampiri dan mengambil pisau dari tangan Siska lalu melemparnya pada seseorang di belakang untuk di amankan. Lalu Aji menghampiri Patricia dan mencoba menyadarkannya. Sedangkan Siska di hampiri dan di peluk oleh Hanna, lalu di bawa masuk ke dalam rumahnya.
Tidak lama kemudian, datanglah mobil polisi ke tkp, sepertinya seseorang mencoba menghubungi polisi dari tadi, dan saat polisi turun dari mobilnya, seseorang menghampirinya lalu melaporkan kejadiannya. Akhirnya Patricia di borgol dan di bawa ke kantor polisi.
" Ji, tolong kau dampingi Pat ke kantor polisi, mintalah bantuan seseorang di sini, kau tahu kan harus menghubungi siapa. " Ucap Siwan pada Aji.
" Baik kak. " Jawab Aji.
" Kau pergi saja dengan pak Roy, aku dan Hanna nanti pulang naik taksi saja." Ucap Siwan lalu pergi meninggalkan Aji untuk menemui Hanna dan Siska di dalam rumah.
Siwan menghampiri Hanna yang sedang merangkul Siska di sofa. Lalu dia duduk di sebrang mereka.
" Bagaimana keadaannya ?" tanya Siwan.
" Sudah agak tenang, ahjussi, dimana bli Aji." tanya Hanna.
" Dia akan menemui Pat di kantor polisi." Jawab Siwan.
" Sepertinya belum, aku pun menyuruh Aji untuk tidak memberitahunya." Jawab Siwan.
" Kumohon, jangan beritahu dia, aku akan baik - baik saja, setelah kejadian ini aku akan lebih berhati - hati." Ucap Siska.
" Boleh aku menanyakan sesuatu ?" tanya Siwan. " Apa sebelumnya kalian pernah bertemu ?"
" Siapa, aku dan Pat ?" tanya Siska.
" Iya, kalian berdua. " Ucap Siwan.
" Terakhir kali sekitar seminggu yang lalu di Bali, itupun tanpa sengaja bertemu di apotek." Jawab Siska.
Raut wajah Siwan terlihat nampak serius, dia mengangkat alisnya sebelah seakan mencurigai sesuatu.
" Kami hanya bertegur sapa, karena dia tahu aku teman Hanna, dia belum tahu kalau aku akan menikah dengan Austin sepertinya." Sahut Siska menatap wajah Siwan yang menakutkan.
" Ada apa, ahjussi ?" tanya Hanna.
" Tidak ada apa - apa, aku hanya bertanya saja. " Jawab Siwan.
" Baiklah kak, kalau begitu kakak sebaiknya istirahat saja ya, semoga besok acaranya berjalan dengan lancar." Ucap Hanna menatap Siska.
" Kalian akan datang kan ?" tanya Siska.
" Tentu saja, tidak usah khawatir, dan jangan cemaskan kak Austin, kami tidak akan memberitahunya sekarang." Ucap Hanna.
" Baiklah, terima kasih ya, kalian sudah mau datang berkunjung kemari." Ucap Siska.
" Iya, tentu saja, kami ingin memastikan bahwa kau baik - baik saja dan sudah siap untuk hari esok." Ucap Hanna lalu kembali memeluk Siska.
Setelah berpamitan pada Siska dan keluarganya, kini Siwan dan Hanna pun pulang dengan menaiki taxi online. Mereka tidak langsung pulang ke villa, melainkan menuju kantor polisi menemui Aji dan Patricia.
Setibanya di kantor polisi, Aji yang sedang menunggu di halaman depan langsung menghampiri Siwan dan Hanna. Lalu Aji memberi kode pada Siwan untuk mengobrol empat mata. Dan, Hanna pun mengerti, dia langsung pergi menuju sebuah bangku yang tidak jauh dari sana, dia duduk dan menunggu Siwan dan Aji yang terlihat mengobrol sangat serius.
Selesai mengobrol kini Siwan mengajak Hanna masuk ke dalam untuk menemui Patricia.
Hanna di izinkan menemui Patricia sendiri, sedangkan Siwan dan Aji menunggu di ruang tunggu.
Saat mereka duduk berhadapan, selama beberapa detik tidak ada percakapan apapun di antara mereka, Hanna hanya menatap wajah Patricia dalam - dalam, sedangkan Pat sendiri, dia mencoba menghindari tatapan Hanna sambil menahan air mata yang sudah berada di pelupuk mata.
" Menangislah Pat, aku kemari tidak ingin mendengar penjelasanmu, aku hanya ingin melihat keadaanmu." Ucap Hanna.
Lalu Pat menangis sekencangnya. Hanna bisa merasakan apa yang sedang ia alami saat ini, hatinya, pasti sedang hancur, dia bahkan kehilangan akal melakukan hal di luar nalarnya gara - gara patah hati yang ia rasakan.
Tapi hal itu tidak lama, Pat lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
" Keluarlah, aku sedang tidak ingin banyak bicara. " Ucap Pat pada Hanna.
" Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelum itu, aku hanya ingin mengingatkan mu, Pat. Apapun yang terjadi antara kau dan Austin, ataupun antara kau dan Siska, aku tidak akan pernah melupakan bahwa kalian adalah temanku. Aku hanya bisa mendoakan kalian, semoga selalu berada dalam lindungan Tuhan. " Setelah mengucapkan perpisahan, Hanna pun pergi meninggalkan Siska di ruang besuknya.
Setelah keluar dari ruangannya, di balik pintu yang terdapat kaca di atasnya, Hanna masih menatap Patricia yang melanjutkan tangisannya. Seketika Hanna pun merasa sangat tersentuh, sebetulnya ia ingin memeluknya sedari tadi, hanya saja, dia juga tidak bisa membenarkan perbuatannya pada Siska tadi siang.
Pulang dari kantor polisi, Siwan, Hanna dan Aji kembali pulang menuju villa. Di perjalanan pulang, mereka saling diam satu sama lainnya, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka masing - masing.