My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Reupload Prolog



...Di Pulau Bali, di pesisir sebuah pantai yang terlihat begitu tenang, karena gelombang ombak yang tidak terlalu besar, beberapa wisatawan domestik maupun dari mancanegara sedang menikmati acara liburan di akhir pekan mereka bersama keluarga, teman maupun pasangan, di waktu pagi, hari itu....


...Pasir putih dan kondisi pulau yang sangat bersih membuat wisatawan yang berkunjung bersama keluarganya merasa nyaman membawa dan membiarkan anak - anak mereka bermain di tepi pantai. Namun tetap saja masih di bawah pengawasan orangtua mereka....


...Di pesisir pantai, pagi itu, sekitar pukul 08.10 wita, kedua tangan Hanna kini terlihat sedang menuntun bayi laki - laki nya bernama Hwan yang kini berusia 11 bulan, ia menuntun bayinya yang masih belajar berjalan itu....


...Hanna, dia yang kini rambutnya sudah terlihat panjang kembali, namun bergelombang di bagian bawah dan kini rambutnya ia ombre dengan warna cokelat keemasaan yang berwarna sedikit hitam di bagian atas namun semakin kebawah jadi lebih terang, dan rambutnya ia ikat dengan gaya half pony tail hari itu. kini penampilan dan cara berpakaiannya terlihat lebih dewasa dari biasanya....


...Pagi itu, dia memakai kemeja pantai motif daisy berwarna pastel berlengan 3/4 dengan model kemeja cropped top sehingga memperlihatkan pusar dan perutnya yang kini memiliki Abs atau otot perut. Serta memakai celana kulot berwarna hitam....


...Hanna terlihat ceria dan lebih bahagia kembali. Dia sudah menemukan semangat dan kebahagiaan lainnya dalam hidupnya semenjak kelahiran bayinya satu tahun yang lalu....


...Di belakang mereka, seorang pria bertubuh atletis berkulit kuning langsat yang hanya memakai celana pantai selutut berwarna hitam polos berlarian menghampiri mereka yang sudah terlihat menjauh....


"Hwan, kau pasti cape kan ? sini om gendong yuk !!"


...Pria itu mendekat pada mereka dan langsung menggendong bayi Hwan di pundaknya. Sambil bercanda tawa, antara Hanna dan pria itu mencoba membuat bahagia....


Pria itu adalah Rayhan.


...Rayhan menggendong Hwan sambil berjoged dan menghentakkan pundaknya membuat tubuh sang bayi naik turun dan tertawa terbahak - bahak. Mungkin pikirnya dia sedang menaiki kuda ataupun odong - odong....


...Dan, langkah mereka terhenti di depan sepasang keluarga lainnya yang sedang menunggu seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahun yang bermain pasir putih di pesisir pantai....


Dia adalah Yasmin dan suaminya, serta anak mereka.


"Hwan, sini kita bangun istana sama Jani, " sahut Yasmin.


...Hanna dan bayinya kini ikut bermain pasir putih bersama mereka. Tawa bahagia mengiringi para orang tua yang sedang melihat kelucuan anak - anak mereka yang sedang bermain pasir putih yang sudah mulai mengubur sebagian kaki mereka....


Saat itu, di hari ketiga libur lebaran, Hanna dan Hwan pergi berlibur ke Pulau Bali bersama Rayhan dan sahabatnya, geng KERANG.


Hanna tidak bisa menolak dan berkelit lagi, secara kasarnya, ia di paksa untuk ikut berlibur bersama mereka ke Bali.


Kenapa harus ke Bali, Hanna sangat berat hati ingin menginjakkan kakinya kembali di pulau itu.


Terlalu banyak kenangan indah dan pahit yang melatar belakangi kisah hidupnya selama beberapa tahun disana.


Tapi, ibu dan adiknya mencoba meyakinkan Hanna agar dia bisa kuat dan tetap berusaha tegar menjalani masalah di hidupnya itu. Hanya masalah waktu, tapi, sampai kapan ??


Akhirnya, Hanna pun mau ikut bersama dengan Rayhan dan para sahabatnya untuk berlibur kembali ke Bali. Rayhan, Yasmin, Gani, Jani, Audrey dan Karina, serta Hanna dan Hwan, pagi itu meluncur langsung dari Bandara Hussein Sastranegara menuju Denpasar Bali.


Lalu dimana Audrey dan Karina ??


Saat itu, mereka berdua yang berstatus single sedang bermain di pantai bersama para bule kenalan baru mereka, bahkan keduanya di ajarkan untuk berselancar oleh para bule tampan itu.


...Dan, dari kejauhan seorang pria yang sejak tadi mengawasi kebersamaan Hanna dan keluarga kecilnya berbalik arah dan menjauh, berjalan sambil menunduk dan membetulkan posisi kacamata hitamnya....


...Sekilas, Hanna sempat menatap punggung pria yang mengawasinya sejak tadi, yang kini sudah semakin menjauh. Pria bertubuh tinggi yang memakai hoodie dan pants berwarna hitam itu pun menghilang di tengah kerumunan para wisatawan lainnya yang memenuhi pesisir pantai di bagian lainnya....


"Melihatmu tersenyum bahagia, hal itu sudah cukup mengobati rasa rinduku, maafkan aku, aku tidak bisa mendekat padamu, dan anakku, " gumam Siwan.


Ya, pria yang sejak tadi memperhatikan Hanna, Hwan dan sahabatnya dari kejauhan adalah Siwan.


Beberapa jam yang sebelumnya ..


"Kak, dia disini !!"


Aji yang baru saja menutup sambungan teleponnya bersama seseorang di kamarnya berlarian keluar mencari Siwan.


Siwan yang sedang menggebug samsak di gazebo belakang pun berhenti sesaat.


"Dia disini, " ucap Aji kembali.


Tanpa harus Aji jelaskan panjang lebar pun Siwan nampaknya sudah paham, siapa maksud dari ucapan Aji, melihat sorot mata Aji yang nampak berbinar bahagia, Siwan sudah pasti paham apa maksud yang tersirat di baliknya.


Siwan kini sudah berada dalam perjalanan menuju sebuah lokasi pantai seperti yang sudah Aji sebutkan sebelumnya.


Bram menyetir mobilnya, Aji duduk di samping kemudi di depan, sedangkan Siwan duduk di belakang sendirian, raut wajahnya nampak terlihat cemas. Ia hanya menatap ke arah luar lewat jendela samping mobilnya.


Sesampainya di salah satu pantai yang cukup terkenal di pulau Bali itu, Siwan berjalan sendirian.


"Jangan ikuti aku !!" pinta Siwan.


Bram dan Aji tentu saja tidak menuruti perkataannya, namun, ia hanya mengawasi Siwan dari kejauhan saja.


Siwan berjalan menyusuri pesisir pantai, ia memakai kacamata hitam, memakai hoodie berwarna abu dan pants berwarna hitam, nampak berbeda dari setelan orang yang berada di pantai pada umumnya.


Saat kedua inderanya menangkap sebuah pemandangan yang tentu saja sangat ia idamkan belakangan ini, langkahnya pun terhenti sesaat.


Hanna tersenyum lalu tertawa saat ia sedang mengasuh anaknya bersama para sahabatnya.


Air mata mengalir di pipi Siwan, ia akhirnya bisa melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri wajah yang selama ini ia rindukan.


Namun, sayangnya, karena sikap keras kepalanya itu, Siwan hanya bisa menghela nafas sedalamnya dan membuangnya, lalu pergi menjauh dari posisinya yang hanya beberapa meter lagi pada Hanna.


Rayhan sempat menyadari kehadiran Siwan sejak tadi, karena jujur saja, sebenarnya dialah yang menelepon Aji dan memberitahu keberadaan mereka disana.


Rayhan dan Aji seolah bersekongkol ingin mempertemukan Hanna dan Siwan.


"Ayo, mendekatlah... mereka orang yang ingin kau temui bukan, cepatlah Siwan... " gumam Rayhan. Nampaknya ia sudah sangat tidak sabar ingin menyaksikan momen pertemuan keduanya.


"Aku tidak bisa membuat kalian celaka, " ucap Siwan dengan lirih.


Siwanpun semakin menjauh dari posisi Hanna berada saat itu.


Rayhan terlihat kesal, tanpa ia sadari ia meninju pasir yang ada di bawah kakinya.


"A Rey, kau kenapa ?" tanya Hanna.


"Ah, maaf, aku lupa sepertinya belum mengerjakan sesuatu di Bandung," ucap Rayhan, berbohong.


"Owh... begitu," ucap Hanna, lalu melihat ke arah depan, memperhatikan seorang pria dengan setelan aneh yang berjalan semakin menjauh dari posisinya.


Sesampainya di depan mobil, Bram dan Aji sudah berada disana.


"Perketat keamanan di sekitar mereka, dan kau 'Siwan menunjuk Aji' kau yang harus mengawasinya secara langsung," Siwan pun masuk ke dalam mobil bersama Bram.


Sedangkan Aji mematung sendirian di luar di bawah sinar matahari yang semakin terik itu.


Setelah mobil Siwan berlalu.


"Aaarrrggghhh.... kenapa ? kenapa kau tidak menemuinya, kenapa ?" Aji berteriak seperti orang gila, bahkan para pengunjung pantai menatapnya dengan tatapan aneh dan takut saat melintas di dekatnya.


...***...


..." Chagiya... Chagiya... Chagiya... "...


...Dan, Hanna pun terbangun dengan mata nyalang dan mulut terbuka lebar dan terlihat seperti seseorang yang kehabisan nafas....


..." Han, istigfar... " seorang pria yang sedang menggendong bayi Hanna malam itu menyadarkan lamunan Hanna....


Dia adalah Rayhan tentunya.


..." Astagfirullah, jam berapa ini ?" tanya Hanna....


..." Jam 2 Han, kau pasti masih lelah, tidur saja, biar Hwan aku yang jaga " jawab Rayhan....


..." Apa Hwan rewel ?" tanya Hanna....


..." Tidak, dia hanya buang air besar, aku sudah mengganti popoknya dan memberinya sedikit susu formula, sepertinya Hwan mulai mengantuk lagi, biar aku saja yang menidurkannya !!" ujar Rayhan dengan lirih....


...Rayhan menina bobokan bayi Hwan, di pundaknya. Dengan sikap yang lembut, pria itu mengayunkan tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan dengan sambil menepuk nepuk punggung bayi Hwan dengan lembut....


...Hanna mengusap pelipisnya yang nampak basah karena keringat dengan tangannya, lalu ia mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas, lalu meminumnya....


...Setelahnya, Hanna berjalan menghampiri pria itu dan melihat dengan seksama wajah bayinya yang kini sudah menutup matanya di pundak sang pria....


..." Dia sudah tidur " bisik Hanna di telinga Rayhan....


Rayhan pun menidurkan Hwan di atas ranjang di kamar Hanna yang berada di villa yang berlokasi dekat pantai xxx di pulau Bali.


Hanna bersandar dan membuka tirai jendela kamar yang berada di lantai atas. Ia memandangi gelapnya langit yang bercahayakan bulan dan bintang - bintang.


Sunyi, sepi, seperti hatinya yang hanya berselimutkan rindu.


Mimpi itu kembali menghantuinya.


"Apa kau bermimpi tentang dia lagi ?" tanya Rayhan yang tiba - tiba mendekat padanya.


Hanna hanya menatapnya sekilas lalu tersenyum ketir. Ia kembali menatap langit sambil menahan air matanya.


"Kau merindukannya ?" lagi - lagi Rayhan bertanya sesuatu yang membuat air matanya semakin berpacu, berlomba untuk keluar dari sarangnya.


Rayhan mendekat dan memeluk Hanna, ia mengusap punggung Hanna dengan begitu lembut.


Hanna semakin tersedu - sedu dalam dekapan Rayhan.


"Sabarlah Hanna, besok, aku pastikan kau akan bertemu dengannya," gumam Rayhan dalam hatinya.


...****...


Keesokan harinya....


Pukul 05.00 wita, Hanna sudah terbangun kembali, seperti biasa, untuk melakukan ibadah sholat subuh, begitu pula dengan Rayhan dan sahabatnya.


"Eh, gimana kalau kita lanjut olahraga, jogging pinggir pantai menyambut sunset, seru kali yaa... !!" ajak Audrey.


"Duh, aku males ah, masih ngantuk nih," sahut Karina.


"Males amat sih loe, liburan kesini bukannya menikmati sisa waktu kita malah pindah tidur aja kerjaannya." Seperti biasa, Audrey dan Karina memang selalu seperti tom and jerry.


"Gimana Han ?" tanya Rayhan.


"Nanti Hwan bangun pasti rewel kalo gak ada aku, " jawab Hanna.


"Udah, kamu pergi aja Han, aku yang kelonin Hwan, di jamin takluk sama aku, " sahut Yasmin.


"Iya Han, kalian pergi aja, aku juga bakal kelonin Hwan," ucap Karina.


"Nanti Jani gimana, kalo dia bangun nanti kamu repot ngurus Jani sama Hwan," Hanna terlihat cemas.


"Ada bapaknya Jani kan, udahlah tenang aja, kalian bertiga pergi aja sana, udara pagi pinggir pantai pasti sejuk banget, cepet kalian siap - siap aja !!" pinta Yasmin.


Hanna, Rayhan dan Audrey pun berganti pakaian ke dalam kamar masing - masing. Dan, seperti yang sudah di ketahui bahwa Yasmin dan Karina benar saja langsung nemplok di samping kiri dan kanan Hwan.


Sekitar pukul 05.20 wita, Hanna serta Rayhan dan Audrey berlari kecil di pinggiran pantai. Sesekali mereka berhenti dan melakukan peregangan pada tubuh mereka.


"Duh, haus nih, aku beli air minum dulu yaa, " Audrey pun berlari menuju sebuah kios kecil yang berada beberapa meter menuju jalanan.


Rayhan dan Hanna duduk pada sebuah kursi kayu yang berada di sekitar pantai.


"Hanna, apa kau tidak mau mengunjungi bu Shinta ? beliau pasti senang sekali kalau kau dan Hwan menemuinya bersama - sama,"


Hanna menunduk.


"Aku malu pada ibu, aku sudah menghancurkan harapan terbesarnya, kau tahu itu !" Hanna menatap Rayhan dengan tajam.


"Hanna, aku ingin bertanya sekali lagi, kalau seandainya faktanya Hwan bukan anak Aji, dan dia adalah anak kandung Siwan, bagaimana perasaanmu ?" tanya Rayhan.


"Kenapa kau bertanya, kau pasti sudah tahu apa jawabannya !!" tegas Hanna.


"Hanna, kau harus... " ucapan Rayhan terhenti karena Hanna langsung menyela perkataannya.


"Cukup A Rey, hentikan, aku sedang tidak ingin membahasnya, pliss, jangan sampai detik - detik liburan terakhir kita menjadi ternodai oleh perdebatan kita selanjutnya," tegas Hanna.


"Selalu seperti ini, kau benar - benar menyimpan kesedihanmu sendirian, kenapa kau tidak mau berbagi kesedihanmu dengan siapapun," batin Rayhan menggumam.


Hanna terlihat melamun, sambil teringat sebuah lagu yang subuh tadi sempat ia dengarkan sebelum kembali tertidur. Lagu yang liriknya begitu mewakili isi hatinya saat ini.


Ku Masih Mencintainya - JACKPOT


Reff :


sampaikan salamku tuk dia aku masih mencintainya


sampaikan maafku untuknya ku yakin dia mendengarnya


Alunan musik dari lagu tersebut seolah menjadi back song tersendiri bagi Hanna.


Saat Hanna dan Rayhan tengah melamun dan menatap ombak di depan mata mereka, tiba - tiba dari arah samping seseorang menyerahkan sebotol air mineral pada Hanna dan Rayhan.


Hanna pikir Audrey lah yang menyerahkannya, ia tidak menatap wajahnya karena sedang menahan air mata yang kembali berusaha ingin keluar dari sarangnya.


Tanpa Hanna sadari, Rayhan sudah tidak ada di sampingnya. Namun, seorang pria lain kini duduk di posisi dimana Rayhan berada tadi.


"Apa kabar ?" tanya pria itu.


Hanna merasa tergelitik hatinya, "apa sih kak Rey...!" lalu ia menengok ke samping, ke arah Rey berada sejak tadi.


Namun, betapa terkejutnya Hanna saat ia melihat bahwa kini, pria yang ia tatap dengan kedua panca inderanya saat itu bukanlah Rayhan, tapi, pria itu adalah....