My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Serba Salah



Setelah memasuki jam makan siang, Siwan memesan makanan lewat layanan pesan antar karena harus menunggu lama kalau harus memasak dahulu.


Padahal sebetulnya Hanna masih ada stok bahan masakan di dalam kulkas.


Setelah selesai makan, Siwan membereskan piring bekas makan dan mencucinya. Siwan tidak memperbolehkan Hanna untuk menyentuh pekerjaan sama sekali.


" Terima kasih ya, ahjussi, maaf merepotkan mu. " Ucap Hanna memeluk kekasihnya dari belakang, Siwan yang sedang mencuci piring pun tersenyum senang di perlakukan mesra oleh kekasihnya itu.


" Aku senang melakukan nya, tidak usah khawatir, kau istirahat saja. " Ucap Siwan.


" Emh... aku mau mandi dulu ya, dokter sudah memperbolehkanku mandi tadi, aku ingin keramas. " Lalu Hanna pergi mengambil kimono handuk dan pergi ke kamar mandi.


Setelah Hanna selesai mandi, ternyata Siwan pun sedang mengantri menunggu giliran untuk mandi. Sebelumnya dia sempat membawa baju ganti dabn handuk kecil di bagasi mobilnya.


Saat sedang menunggu Siwan selesai mandi, tiba - tiba Hanna merasa sangat mengantuk, tapi dia menahannya dan mencoba mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Lalu, tidak lama kemudian Siwan mengetuk pintu kamar Hanna.


Tok.. tok.. tok..


" Masuklah. " Ucap Hanna. Dan Siwan pun masuk ke dalam kamar.


" Boleh pinjam hairdryer nya?" tanya Siwan.


" Aku sudah selesai, sini aku bantu keringkan, duduklah. " Lalu Hanna beranjak dari tempat duduknya dan kini Siwan yang menempatinya. Lalu Hanna fokus mengeringkan rambut Siwan.


Beberapa menit kemudian Hanna mematikan mesin hairdryer nya.


" Wah ahjussi, rambut mu panjang ya, dan kau tampak berbeda tanpa memakai jelly rambut." Ucap Hanna sambil menyisir rambut Siwan.


" Berbeda bagaimana? apa aku terlihat seperti anak muda?" Ucap Siwan tersenyum penuh percaya diri.


" Iya, memang betul, aku tidak bohong, kau seperti seorang pria yang baru lulu SMA. Hihi.. "


" Tuh, kau hanya meledekku rupanya. " Lalu Siwan menggelitik perut Hanna selama beberapa detik. Hanna pun tertawa karena geli.


" Ampun...sudah.. aku lelah. " Hanna berhenti tertawa seiring dengan Siwan yang berhenti menggelitik nya.


" Kau mau tidur?" tanya Siwan sambil menarik pinggang Hanna yang sedang berdiri dihadapannya.


Dan Hanna hanya menganggukan kepalanya.


" Baiklah, kalau begitu kau tidur saja, aku akan menunggumu di ruang tv. " Jawab Siwan.


Tapi Hanna menggelengkan kepalanya.


" Kenapa?" tanya Siwan.


Lalu Hanna menarik lengan Siwan, dan Siwan pun mengerti, dia lalu berdiri dari duduknya dan mengikuti Hanna menuju tempat tidur.


" Temani aku, sampai aku tertidur. " Ucap Hanna malu - malu.


" Baiklah, ayo. " Siwan membaringkan tubuhnya lebih dulu dan mengulurkan lengannya untuk di jadikan bantal oleh Hanna.


" Kemarilah. " Ucap Siwan. Lalu Hanna membaringkan tubuhnya dan kepalanya di atas lengan Siwan. Posisi Hanna saat itu membelakangi Siwan. Dan Siwan mengelus - elus rambut Hanna berulang kali.


" Ahjussi, terima kasih banyak, kau selalu meluangkan waktu untuk menemaniku. " Ucap Hanna.


" Tentu saja, sebisa mungkin, aku akan usahakan untuk bisa lebih lama bersama mu. "


" Ahjussi, kenapa kau menyukaiku ? masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik segalanya dariku. Kenapa?" tanya Hanna.


Siwan pun berhenti mengelus rambut Hanna, dan lengannya merangkul Hanna dari belakang.


" Aku tidak tahu, mungkin ini sudah takdir, semenjak pertama kali kita bertemu, entah mengapa aku selalu teringat kepadamu, aku berharap kita akan bertemu lagi saat itu."


" Jadi, cinta tanpa alasan ya... ?" ucap Hanna terdengar lemas.


" Memangnya harus ada alasannya?" tanya Siwan.


" Tentu saja." Jawab Hanna singkat.


" Lalu, kau sendiri, apa alasanmu menyukaiku dan menerimaku ? aku ingin tahu !!"


" Tidak tahu, aku belum tahu alasannya, hanya saja, aku selalu mengharapkan kehadiranmu dan perhatianmu, aku merasa nyaman saat bersamamu, apa ada kata - kata yang lebih spesifik lagi untuk menggambar kan keduanya?"


" Cinta, itu karena cinta !! " Ucap Siwan lalu mencium kepala belakang Hanna.


" Ahjussi, apa kau sedang berusaha romantis. Hihihi.. " Hanna tertawa geli.


" Aku memang romantis."


" Tentu saja hanya padamu."


" Bohong, kau pasti bohong, memangnya pada mendiang istrimu, atau mantan pacarmu kau tidak romantis ?" tanya Hanna berubah dengan nada kesal.


" Bisa tidak, kita tidak usah membahas hal yang akan membuat kita ribut dalam suasana romantis seperti ini. Nanti aku jadi bingung harus menjawab seperti apa."


" Ih.. sudahlah, aku mengantuk. " Ucap Hanna lalu terdiam dan berusaha memejamkan mata.


" Ya ampun, kau mulai membuatku merasa serba salah." Ucap Siwan menepuk jidatnya.


Hanna tidak menjawabnya. Dia mencoba untuk tertidur, memejamkan matanya dengan keras, pura - pura tidak mendengar ucapan Siwan.


Siwan hanya tersenyum merasa gemas dengan kelakuan kekasihnya itu. Dia terus mengelus rambut Hanna sampai tertidur. Namun, dia sendiri blm bisa memejamkan matanya. Lalu dia keluar dari kamar setelah menyelimuti dan mencium kening kekasihnya.


Siwan kini sudah berada di dapur, dia melihat isi kulkas dan bahan masakan lainnya. Sepertinya dia akan memasak sesuatu.


Dia mulai memakai celemek, mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas, mengupas dan memotong sayuran, merebus daging ayam dan menghaluskan bumbu untuk masakannya.


Tapi, dia melihat ada beberapa bahan yang kurang, dia langsung mencuci tangan dan mengeluarkan hpnya dari dalam saku celana. Dia langsung menelpon seseorang.


" Hallo, kau dimana?" tanya Siwan pada seseorang di sebrang sana.


" Tolong belanjakan sesuatu untukku, cepat ya aku tunggu, aku akan kirim lewat chat list belanjanya. " Lalu Siwan menutup teleponnya dan sibuk mengetik pesan di hp nya.


Empat puluh lima menit kemudian, saat Siwan sedang merebahkan dirinya di atas beanbag chair dan menonton tv, seseorang mengetuk pintu ruang kost nya. Siwan lalu beranjak menuju pintu dan membukanya.


" Ini, pesananmu. " Ternyata yang datang Aji, dia datang dan berbicara dengan nafas terengah - engah seperti habis lari marathon.


" Oke, thanks ya. " Lalu Siwan mengambil kantong - kantong belanjaan yang Aji bawa dan menutup pintunya kembali.


Aji hanya melongo seakan tidak percaya akan perlakuan Siwan padanya.


" Hah... apa ini ? seenaknya saja mengerjaiku." Dia lalu mengetuk kembali pintunya.


" Ada apa lagi ?" tanya Siwan sewot sambil membuka pintunya.


" Aku haus, beri aku minum. " Lalu Aji menerobos masuk ke dalam ruangan.


" Setelah minum, kau langsung pulang sana, jangan mengganggu acaraku." Ucap Siwan sambil menyodorkan segelas air putih pada Aji.


" Mana pacarmu ?" tanya Aji.


" Dia masih tidur." Ucap Siwan.


" Oh... jadi ceritanya kau akan memasak untuknya... wah.. sungguh rajin sekali, chef. " Ucap Aji menggoda Siwan.


" Cepat kau pergi sana. " Siwan mengusir Aji.


" Baiklah, aku akan pergi." Aji pun pergi meninggalkan Siwan di dapur sendirian.


Satu jam kemudian.


Hanna terbangun dari tidurnya, dan saat menggeliat dan mengambil nafas panjang, dia langsung mencium sesuatu yang menusuk hidungnya. Lalu Hanna beranjak dari tempat tidur nya menuju ke arah bau masakan itu berada.


Ternyata, di karpet ruang tv sudah tertata meja lipat dan masakan di atasnya.


" Wah.. apa ini.. " Hanna mendekati meja dan melihat sudah ada capcay dan udang saus mentega.


" Kau sudah bangun ternyata, aku baru selesai memasak. " Ucap Siwan.


" Ahjussi, kau yang memasak semua ini ?" seakan tidak percaya Hanna bertanya pada Siwan.


" Tentu saja, aku tidak bisa tidur, makanya aku memnafaatkan waktu untuk memasak saja, maaf ya, aku pinjam dapurmu. Tapi, aku sudah bersihkan dan rapihkan kembali." Ucap Siwan penuh percaya diri.


" Wah.. terima kasih banyak ya, aku sudah merepotkan mu, maaf yaa !!" Ucap Hanna.


" Kau lapar? mau makan sekarang? "


" Baiklah, aku cuci muka dulu ya, ahjussi. " Lalu Hanna pergi ke kamar mandi. Dan Siwan sibuk menyiapkan piring dan sendok di atas meja. Tidak lama kemudian Hanna keluar dari kamar mandi dan menghampiri Siwan yang sudah terduduk di depan meja menunggunya.


" Ahjussi, seingatku tidak ada udang di kulkas, apa kau pergi belanja dulu ?" tanya Hanna.


" Ah... itu, aku minta tolong Aji untuk membeli beberapa bahan masak yang tidak ada, sekalian saja aku membeli sesuatu untuk stock bahan masakmu nanti." Ucap Siwan yang sudah menyendok makanan ke dalam mulutnya.


" Terimakasih banyak ya, kau yang terbaik, ahjussi." Hanna mengedipkan sebelah Matanya.


Siwan hanya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu.


Mereka berdua terlihat sangat menikmati acara makan di waktu petang menuju malam mereka.