My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Obrolan malam



Tanpa terasa, hari berganti demi hari, kini tiba waktunya bagi ketiga sahabat Hanna kembali pulang ke Bandung. Setelah berlibur di salah satu pantai terkenal di Bali, berjemur di pinggiran pantai, menginap satu malam di resort dan kembali ke kostan Hanna. Berbelanja oleh - oleh di pasar tradisional, dan bahkan mereka sempat bertemu dengan Rayhan.


Kini mereka sudah berada di bandara menuju perjalanan pulang. Hanna mengantarkan ketiga sahabatnya bersama Siwan. Dia merasa sedih harus berpisah kembali bersama ketiganya. Dia tahu, butuh waktu yang lumayan lama lagi untuk bertemu mereka kembali nantinya.


" Makasih banyak ya, Na, udah nemenin kita selama liburan disini. " Ucap Audrey memeluk Hanna. Begitu juga dengan Yasmin dan Karina.


" Iya, aku bahagia selama kalian ada disini, kapan - kapan datang lagi kesini ya...!!" seru Hanna.


" Of course, kita bakal rencanain lagi liburan next time.." Yasmin memeluk Hanna.


" Na, inget obrolan kita semalam ya !!" Tegas Karina.


Flashback


Malam hari, sebelum mereka pulang ke Bandung, di saat Audrey dan Yasmin sudah tertidur lelap, tinggalah Hanna dan Karina yang masih terjaga, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.05 Wita.


" Na, pacarmu sering main kesini?" tanya Karina.


" Gak terlalu Rin, kecuali pas tragedi aku ketabrak motor dulu, sepulang dari rumah sakit, dia sering datang kesini mengecek kondisiku dan membantuku membereskan kostan bahkan mengantar jemput selama kerja. " Jawab Hanna.


" Terus, kamu masih konsisten sama prinsipmu itu kan ?" tanya Karina.


Hanna terlihat berpikir sejenak sebelum menjawabnya, " Emh.. alhamdulillah masih, walaupun hampir melakukannya... " ucap Hanna.


" Maksudnya ?" tanya Karina.


" Iya itu, hampir khilaf aku, Rin. Kejadiannya pas malam tahun baru kemarin. Tapi untungnya gak sampai ngelakuin hubungan terlarang itu, Rin. " Ucap Hanna.


" Na, kalau bisa, tolong, pertahankan prinsipmu, jangan sampai menyesal nantinya. Bahkan, disini begitu banyaknya kesempatan buat kamu sama pacarmu melakukannya, dimanapun, disini, bahkan di hotel, di villa, resort, tinggal pilih, pacarmu kaya, pasti bakal gampang buat dia mencari tempat, bahkan di semak belukar sekalipun kalau nafsu udah merasuki akal dan pikiran, dimana pun kalian pasti bakal melakukannya. "


" Dih.. apaan di semak belukar, yang ada malah di kerubuti ulet bulu sama uler kali.. "


Mereka berdua tertawa. Lalu, mereka diam untuk beberapa detik.


" Rin, kamu, pernah gak ngelakuinnya sama pacarmu ?" tanya Hanna.


" Sejujurnya, pernah, aku gak akan bohong sama kamu Na, aku juga sempet cerita sama si Audrey sama Yasmin." Jawab Karina.


" Serius... dimana ?" tanya Hanna.


" Dulu, pas masih zaman ngekost."


" Udah lama dong, pas masih kuliah kan?"


" Yups, masih zaman labil melanda, di penuhi nafsu dan gairah. Tapi, aku nyesel banget, sumpah. Bahkan kalau bisa, aku pegen ngulang waktu lagi ke zaman dulu, dimana aku masih suci dan gak bakal tuh aku terima si Erwin jadi pacarku." Karina berkata dengan sedikit emosi.


" Kenapa kamu nyesel, kan saling mencintai, kalian ngelakuin dalam keadaan sadar, kan? gak lagi mabok?" tanya Hanna.


" Iya sih Na, zaman pas lagi bener - bener di mabuk cinta, apalagi keadaan mendukung, tiap pulang kuliah kerjaan kita mojok terus di kostan, mau di kostan aku atau si Erwin. Gak kenal waktu, bukannya belajar malah pacaran mulu. "


" Tapi, kalian masih bersama sampai sekarang kan, terus, masih suka ngelakuin hal itu gak ?"


" Kok bisa, apa karena kalian jadian kelamaan, dari zaman SMA loh bayangin, dari kelas dua ya kalau gak salah.. "


" Yups, kelas dua. Na, jangan sampai kamu ngerasain apa yang aku rasain sekarang, melakukan hubungan itu sebelum pernikahan, terlihat begitu menggairahkan, di barengi nafsu dan godaan syaitan, semua hal pasti membuat kita ingin terus ngelakuinnya. Tapi Na, aku jadi cuma mikir, akhirnya dia cuma manfaatin aku buat menyalurkan nafsu nya aja. Aku sedih, sumpah, mau putus tapi aku malu, dia udah sempet ngambil semuanya dari aku, dan lagi, aku takut dia jadi marah dan bocorin rahasia aku ke cowo lain kalau aku ini udah gak perawan lagi. "


" Ish.. setahuku, gak mungkin ah si Erwin sifatnya kaya gitu. "


" Iya Na, itu cuma ketakutan aku aja dulu, pas masih zaman kuliah. Aku kesel Na, soalnya dia tuh ya, malah kaya yang kecanduan gitu, aku takut dong, dia sempet ngambek pas aku nolak, terakhir kalinya dia malah nyangka aku udah bosen sama dia, udah gak cinta lagi, udah dapet cowo baru.. akhirnya kan aku sempet putus gara - gara ribut soal ini. "


" Owh.. yang waktu itu kalian putus gara - gara ini, lama juga kan kalian balikan lagi"


" Iya Na, maaf ya aku baru cerita sekarang, aku juga cerita sama Audrey and Yasmin pas udah lama putus juga. Habis putus, aku fokus sama club volly dan kuliahku, makanya aku agak lupa sama perasaan galau dan sedihku gara - gara si Erwin. "


" Tapi sekarang kalian udah mau married kan, dia udah ngelamar kamu kan pas kamu ultah tahun kemarin."


" Iya sih Na, tapi aku agak ragu, di sisi lain, aku sebetulnya jatuh cinta lagi sama temen di club ku, dia juga punya perasaan yang sama, tapi, kalau aku ninggalin si Erwin terus jadian sama cowo baru, apa dia mau nerima aku yang udah gak perawan ini ?"


" Yah.. jangan gitu dong, Rin, mikirnya yang positif aja atuh.. " ucap Hanna.


" Aku juga masih sayang sama Erwin, tapi entah kenapa, aku juga suka sama cowo itu, aku jadi mikir, apa ini mungkin godaan saat kita mau menuju jenjang pernikahan, saat aku udah serius kembali lagi sama Erwin, tiba - tiba cowo itu menyalip masuk ke sela - sela hati dan pikiran ku. Padahal dari dulu, kita berdua hanya sebatas rekan satu tim di club volly." Ucap Karina.


" Terus, gimana dong sekarang ? tapi mumpung belum terlambat loh Rin, pliss... kebahagiaan kamu paling utama Rin, pernikahan itu gak main - main. Kalau bisa hanya sekali seumur hidup, kecuali maut yang memisahkan."


" Iya Na, aku juga maunya begitu. Makanya Na, pliss.. jangan sampai kamu ngalamin hal kaya aku, jadinya kan dilema, udah mah aku ngelakuin dosa besar, ngerasa gak bahagia, rasa takut kalau sampai hubungan lagi sama cowo lain, aku jadi serba salah."


" Jangan gitu dong, pliss.. kamu pertimbangkan lagi Rin, kebahagiaan kamu, maunya apa dan bagaimana, sebelum semuanya terlambat dan jadinya malah saling menyakiti, baik kamu sama Erwin, ataupun kamu sama cowo lain. Kalau kalian sudah saling berkomitmen menuju tahap serius, harus mau saling menerima dan terbuka dong, kalau sama Erwin, tinggal kamu bicarakan sesuatu hal yang bikin hati kamu mengganjal, biar Erwin nya juga berpikir, keputusan apa yang harus dia ambil. Atau kalau kamu sama cowo lain, coba jujur dari sebelumnya, apa dia mau menerima kamu, bener - bener nerima kondisi kamu apa adanya, jangan sampai cuma hanya manis di bibir aja, nantinya kamu sendiri yang bakal sakit hati kalau sampai cowo barumu itu tiba - tiba melecehkan kamu hanya karena kamu udah gak perawan lagi. "


" Itu yang lagi aku pertimbangkan, Na."


" Taubat lah Rin, minta petunjuk sama Alloh, mintalah jodoh yang terbaik, pasangan hidup yang dunia akhirat, minta di beri petunjuk, siapa yang harus kamu pilih. Sholat istikharah dulu aja, sama sholat hajat. Kamu udah di fase harus bertaubat Rin, pernikahan itu gak main - main loh. Keputusan yang bakal ngerubah kehidupan kamu nantinya ke depan. "


" Iya Na, thanks ya, udah mau dengerin curhatan aku, udah lama aku gak ngobrol panjang sama kamu. Inget ya Na pesen aku, lebih baik kamu pertahankan prinsip kamu. Jangan sampai nyesel kaya aku, ya.. !!"


" Insyaalloh, Rin. Mudah - mudahan aku istiqomah. Dan, aku juga udah di tagih calon mantu sama bapak, agak kepikiran juga sih sebetulnya."


" Tapi, bukannya kalian gak sejalan ya Na, maksudnya gak seagama."


" Nah, justru itu Rin masalahnya. Kalau masalah umur yang beda jauh, orang tuaku gak bakal bisa ikut campur, tapi kalau masalah keyakinan, mereka pasti gak bakal tinggal diam. "


" Terus, emang kamu udah yakin banget sama dia? maksudku udah bener - bener cinta sama dia? gak bakal cari yang lain lagi gitu ? bukannya aku gak setuju ya, masalah hati mana ada yang tahu sih, kita sendiri yang pastinya paling tahu sama siapa hati kita bener - bener cinta dan sayang. Ku kira malah kamu udah ada progres sama si Rayhan."


" Entah lah Rin, seketika ahjussi menyalip masuk ke dalam kehidupan ku, seolah takdir terus sengaja mempertemukan ku dengannya. Aku gak bisa menolak atau menahannya, aku secara tiba - tiba jatuh cinta sama dia. Tapi aku gak ngerasa karena terpaksa, aku tulus menerima semua kekurangan dia. Bahkan aku sampai melampaui batas normalku. Aku belum mau mengakhiri nya Rin, aku belum sanggup pisah sama dia. "


" Awas loh yah, jangan sampai pindah agama loh.. gak berkah hidupmu nantinya. "


" Ih.. amit - amit deh Rin, gak kepikiran malahan aku mah Rin mau pindah agama. Gak mau aku menggadaikan imanku hanya karena cinta. Aku juga gak bisa ngajak dia buat pindah agama."


" Terus, mau sampai kapan kalian masih mau terus bersama, lama kelamaan kalian pasti makin sulit buat berpisah."


" Entah lah Rin, hanya waktu yang bisa menjawabnya, yang jelas, untuk saat ini, aku masih ingin menikmati moment kebersamaan dengannya. Itu saja, tidak ada hal lainnya. " Ucap Hanna, yang menjadi akhir moment curhat mereka malam itu.