My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Pulang Kampung



Satu bulan berlalu, setelah memasuki tahun baru, di minggu kedua bulan februari, Hanna memutuskan untuk pulang ke Bandung. Dia sudah mendapatkan hak cuti nya sebagai karyawan. Pengajuan cutinya sudah satu bulan yang lalu, sesuai dengan aturan perusahaan. Dia mendapat jatah cuti 12 hari setiap tahunnya, kali ini, dia akan mengambil cuti selama 6 hari di tambah 2 hari libur, jadi total 8 hari.


Saat tiba di bandara, dia merasa sangat antusias, dia merasa sangat tidak sabar ingin segera bertemu keluarganya di Bandung.


Kala itu, ada seseorang yang mengantarnya hingga ke bandara.


" Makasih banyak ya, A Rey, udah nganterin Hanna sampai kesini !!" ucap Hanna memeluk Rayhan penuh kegembiraan.


" Iya, awas, nanti hati - hati ya di perjalanan, jangan teledor, awas nanti barang - barangmu jangan lupa di ambil." Rayhan terus menasihati sambil masih memeluk Hanna.


Lalu Hanna melepaskan pelukan eratnya dari Rayhan. " Iya.. iya.. tenang aja, Hanna gak bakal lupa. Hihihi... "


Sebelum melakukan chek-in, Hanna menelpon ibunya, dia memberitahu bahwa sekarang sudah di bandara dan akan segera pergi menuju Bandung.


Setelah selesai chek-in dan sedang menunggu di gate, dari kejauhan Hanna masih melihat Rayhan menunggunya di sana. Setelah Hanna hendak masuk menuju pesawat, barulah dia tidak bisa melihat Rayhan lagi.


Beberapa menit kemudian, Hanna sudah duduk di dalam kursi pesawat. Dia duduk dengan perasaan campur aduk, ingin segera tiba di kampung halamannya. Tidak lupa ia berdoa terus menerus supaya perjalanannya lancar dan selamat.


Sebetulnya, perjalanan lewat jalur darat pun bisa, hanya saja memakan waktu yang lama dan tetap saja, dia harus menyebrangi pulau Bali dengan jalur laut terlebih dahulu.


Makanya dia memutuskan untuk pulang menaiki pesawat saja supaya lebih cepat, walau dia harus merogoh tabungannya lebih besar.


Saat menunggu pesawat lepas landas, dia teringat akan kekasihnya, Siwan. Sebetulnya, dia tidak memberitahunya tentang jadwal cuti dan keberangkatannya ke Bandung, Hanna sedang merasa kesal dan marah padanya. Bisa di bilang kali ini pertengkaran pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Satu minggu sebelum kepergiannya ke Bandung, dia bertengkar dan sampai saat ini masih belum ada komunikasi lagi di antara mereka, bahkan Hanna pun yang tadinya mau memberitahu perihal acara pulang kampungnya pun jadi lupa karena amarahnya.


Dan Rayhan, Hanna sudah memberitahunya di malam sebelum hari keberangkatan nya, dan bahkan Hanna kaget, saat sore hari sepulang dia bekerja, Rayhan sudah menunggunya di depan gerbang kost dengan motor matic yang sering dia pinjam dari temannya. Rayhan sendiri yang berniat mengantarkan Hanna pergi ke bandara karena merasa khawatir.


Sekitar pukul 19.10 WIB, kini Hanna sudah menginjakkan kakinya di bandara Husein Sastranegara. Dia berjalan penuh semangat dengan membawa barang - barang yang berisi oleh - oleh untuk keluarganya di sana. Dia sendiri tidak banyak membawa barang berupa baju, karena di rumahnya pun di Bandung masih ada stok baju - baju pikirnya, jadi dia hanya membawa perlengkapan skincare rutinnya saja.


Setelah berjalan keluar dari gate, dia sudah melihat ayah, ibu, dan adiknya berkumpul di sana menyambut kedatangannya.


" Mamah..... " Hanna berteriak setengah berlari menghampiri ibunya, memeluknya dan mencium tangannya penuh haru. Begitu pula pada ayah dan adiknya. Mereka benar - benar saling merindukan, selama satu tahun lebih mereka tidak bertemu satu sama lain.


Selama di perjalanan pulang, mereka sibuk saling berbagi obrolan di dalam mobil. Ayah Hanna meminjam mobil tetangga untuk menjemputnya, karena tidak mungkin menjemput anaknya dengan mobil Pickup dengan bak terbuka.


Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, Hanna makan malam sekeluarga.


" Teh, kumaha betah di Bali ?" ( Kak, gimana betah tinggal di Bali) tanya ayahnya.


" Alhamdulillah pa, ayeuna mah teu kesepian teuing, abi gaduh rencang di kostan ge, bageur sadayana." ( Alhamdulillah pa, sekarang gak terlalu sepi, aku punya teman di kostan, semuanya baik ) jawab Hanna.


" Pami damelan kumaha ?" ( kalau pekerjaan gimana?) tanya ibunya.


" Ya.. alhamdulillah oge mah, lancar, pami cape mah tos puguh damel dimana wae oge. " ( Ya.. alhamdulillah juga mah, lancar, kalau cape udah pasti kerja dimana pun juga) jawab Hanna kembali.


" Si boy, kumaha ieu sakolana mah ? mabal wae teu ? tahun ayeuna kelulusan kan nya? ( Si boy, gimana ini sekolahnya mah? bolos terus gak? tahun ini kelulusan kan ya?) Hanna bertanya pada ibunya.


" Alhamdulillah teh, lancar, sae nilaina oge ayena mah, pinter si bujang teh, ngan aduh.. lieur tah, loba kabogohna teuing nu mana. ( Alhamdulillah kak, lancar, bagus nilainya juga kalau sekarang,pinter si bujang tuh, cuma aduh... pusing ah, banyak pacarnya gak tau yang mana ) jawab ibunya.


Hanna langsung menatap tajam adik satu - satunya itu, " Beneran loe, guys?" tanya Hanna.


" Ih.. fitnah itu mah, enggak lah, itu mah cuma temen aja, masa gak boleh temenan sama mereka, ntar di bilangnya sombong aku tuh. " Jawab adiknya dengan bahasa gaul campuran orang sunda pada zamannya.


" Ih... najis,, awas yah kalo ampe jadi buaya darat, gak bakal di akuin adik sama teteh. " Hanna memperingatkan adiknya.


" Hahaha... jomblo mah sirik aja !!" ucap adiknya.


" Dih.. kata sapa eikeu jomblo, maaf yaa.. gak zaman.. " ucap Hanna keceplosan.


" Wah... tuh mah, ngadangu kan, si teteh gaduh kabogoh cenah ayena mah.. Hahaha.. kanyahoan siah.. " ( Wah... tuh mah, denger kan, si kakak punya pacara katanya sekarang tuh.. Hahaha.. ketahuan yah ) adiknya menatap sinis kakaknya.


" Wah... leureus teh ?" ( Wah... betul kak? ) tanya ibunya menatap Hanna.


" Ih... heureuy, mah." ( Ih... becanda, mah ) Hanna menyipitkan mata pada adiknya.


" Atos ah, hareureuy wae, tong hilap sateuacan bobo sholat isya heula nya." ( Udah ah, pada becanda aja, jangan lupa sebelum tidur sholat isya dulu ya ) ucap ayah Hanna sambil beranjak dari duduknya membawa piring kotor ke dapur.


Selesai makan, Hanna mengambil wudhu ke kamar mandi sekalian cuci muka dan gosok gigi bersiap untuk tidur setelah sholat.


Selesai sholat isya, masih mengenakan mukena nya, dia melihat hpnya menyala, ada pesan chat masuk ke hpnya. Dia belum sempat membuka hpnya setelah kedatangannya di Bandung, saat di lihat ternyata itu chat whatsupp dari Rayhan dan chat dari grup KERANG alias ketemu jarang.


Rayhan menanyakan apakah Hanna sudah sampai di tujuan dengan selamat, dan chat grup yang menanyakan keberadaan Hanna juga dari anggota grup lainnya, Yasmin, Audrey dan Karina.


Setelah membalasnya, Hanna terduduk merenung bersandar pada ranjangnya, sambil terus memandangi hpnya, dia seperti sedang menunggu seseorang menghubunginya.


Saat ada chat masuk pun, dia hanya membuang nafas kasar saat mengetahui bahwa chat itu bukan dari orang yang ia harapkan. Siapa lagi kalau bukan Siwan. Ya, dia sedang menunggu Siwan menghubungi nya, setelab satu minggu berlalu bahkan Siwan tidak pernah mengabarinya apalagi menemuinya.


"Apa dia juga sangat marah padaku ?" ucap Hanna.


" Itu kan salah dia juga, kenapa dia keterlaluan sekali sih. Ternyata umur tua tidak mempengaruhi kedewasaan nya, dia marah seperti anak SMA labil saja. Huft... " Hanna menggerutu pelan di dalam kamarnya.


Flashback..


Satu minggu sebelum kepulangan Hanna ke Bandung,


Saat itu hari kamis, Hanna sedang libur kerja, dia tidak ada acara pertemuan dengan Siwan karena kekasihnya itu sedang ada urusan bisnis dengan kliennya.


Hanna memutuskan untuk pergi ke galeri seni untuk menemui Sammy, karena semenjak terakhir kali dia menjenguknya di rumah sakit, Sammy tidak pernah memberi kabar ataupun menemuinya lagi.


" Oh.. hai.. " Sammy berekspresi dengan wajah biasa saja. Malah dia seperti menghindari tatapan Hanna. Dia terus fokus memahat kayu.


" Ih... kamu kenapa? kok datar gitu, aku ganggu ya.. ? yaudah, aku pulang aja !!" ucap Hanna lalu mundur dan membalikkan badannya.


Lalu sepersekian detik Sammy menarik lengannya, mencegah agar Hanna tidak pergi.


" Tunggu, aku bereskan dulu ini sebentar, kau duduk dulu saja disana, atau berkeliling lah, aku tidak sibuk kok, aku rapihkan dulu ini, ya.. " Sammy tersenyum dan memohon pada Hanna.


" Oke, aku tunggu ya !!" ucap Hanna. Lalu dia pergi berkeliling, dia berniat melihat lukisan dirinya kembali di area depan galeri.


Tapi, alangkah terkejutnya dia, saat kedua netra nya tidak dapat menemukan lokasi lukisan tersebut.


" Dimana ya, dulu kalau tidak salah disini, tapi kok gak ada ya." Sejenak dia berpikir. " Emh.. apa mungkin dia memindahkan lukisannya ." Ucap Hanna sambil berbisik.


Tiba - tiba seseorang dari belakang berkata,


" Lukisannya di beli seseorang, dik !!" ucap seorang pria bepakaian adat khas Bali.


Hanna tersentak kaget " ah.. maaf, saya kaget, bli !!" ucap Hanna.


" Kamu pasti temannya Sammy kan ?" tanya pria itu.


" Ah.. iya, perkenalkan, saya Hanna. " Hanna mengulurkan tangannya pada pria itu.


" Ah.. iya, panggil saja saya Gusti. " Pria itu menyambut tangan Hanna.


Tidak lama, Sammy sudah berada di antara mereka, " Ada apa, bli ?" tanya Sammy menatap bli Gusti.


" Ah, ini temanmu, mencari lukisan dirinya, apa kau belum memberitahunya ?" ucap bli Gusti.


" Oh.. nanti saja, bli, aku keluar sebentar dengannya ya " ucap Sammy.


" Tentu saja, kau pergi saja temani dia, jangan terburu - buru, santai saja. " Ucap bli Gusti lalu tersenyum dan pamit pergi pada Hanna.


" Dia, siapa Sam?" tanya Hanna.


" Pemilik galeri. " Ucap Sammy.


" Oh.. kelihatannya baik ya orangnya. " ucap Hanna.


" Dia sangat baik dan ramah. Eh iya, kita mengobrol di luar yuk, galeri agak penuh pengunjung hari ini. " Ucap Sammy.


Dan kini mereka berdua sudah berada di luar galeri, mereka berdua duduk di bangku di bawah pohon rindang tidak jauh dari galeri.


" Sam, aku penasaran, siapa orangnya ?" tanya Hanna.


" Maksudnya?" Sammy masih belum mengerti pertanyaan Hanna.


" Orang yang membeli lukisan diriku, kau bilang tidak akan menjualnya, tapi tadi aku melihatnya udah gak ada disana, dan bli Gusti memberitahu ku kalau ada seseorang yang membelinya. Benar begitu, Sam ?" tanya Hanna.


" Iya, maafkan aku ya, aku tidak bisa mempertahankan nya lagi. " Ucap Sammy.


" Tidak apa Sam, itu hak mu untuk menjualnya, itu karya Seni dari tanganmu sendiri, kau sendiri yang berhak menentukan mau di apakan hasilnya. " Ucap Hanna.


Sammy hanya tersenyum kecut ke arah lain sehingga Hanna tidak bisa melihat raut wajahnya saat itu.


" Mau ku traktir bakso? sebagai perayaan penjualan lukisanmu itu. Lain kali ku traktir makan di restoran mewah. " Sammy tersenyum lalu berdiri dan menarik tangan Hanna.


" Oke.. yuk.. " jawab Hanna.


Lalu mereka berdua pergi ke kedai bakso yang dulu pernah mereka singgahi di hari natal tahun lalu.


Beberapa menit berlalu, selesai makan bakso, seperti biasanya mereka tidak langsung beranjak pergi, mereka mengobrol santai sambil menghilangkan rasa pedas di mulut mereka.


Dan, tidak lama, ada dua orang menghampiri mereka. Seorang laki - laki dan perempuan, mereka seperti membutuhkan kehadiran Sammy di galeri, lalu Sammy berpamitan pada Hanna, menyuruhnya menunggu di kedai bakso saja sambil menghabiskan minumannya. Sammy harus masuk ke dalam galeri sebentar karena ada kolektor yang sedang menunggunya.


Sammy pergi bersama salah satu teman pria nya, sedangkan teman perempuan nya duduk di depan Hanna dan memesan satu porsi bakso untuknya.


" Hai, aku Rita, teman Sammy di galeri, kau pasti Hanna kan?" tanya Rita.


" Iya, betul, tahu dari mana ya?" tanya Hanna.


" Dari lukisan dirimu yang sempat terpajang di galeri, sangat mirip, Sammy sangat detail melukis wajahmu, sungguh berbakat dia. " Ucap Rita.


" Aku pun terkejut saat pertama kali melihatnya, tapi sayang, sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi, seseorang sudah membelinya. " Ucap Hanna terdengar sedih.


" Hah, membelinya, bukan kali, lebih tepatnya, merampasnya. " Ucap Rita terdengar kesal.


" Maksudnya ?" tanya Hanna tidak mengerti ucapan Rita.


" Iya, lukisan itu di rampas secara paksa oleh sekelompok gangster."


" Hah... " Hanna tampak sangat terkejut.