My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Rumah Kenangan, part 4. Finish.



Februari, 02, 2017


Kantor HRD PT. PAM


" Bu Hanna, terima kasih banyak atas kinerja bu Hanna selama ini pada perusahaan kami, mohon maaf Surat Paklaring dan pesangon serta gaji terakhir bu Hanna baru bisa kami berikan hari ini, terima kasih banyak sudah mau bersabar menunggu " ucap Kepala HRD di kantornya.


" Tidak apa - apa bu, saya justru sangat berterima kasih karena perusahaan ini sudah memberikan kesempatan pada saya untuk bergabung dengan tim yang sangat hebat, banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya dapatkan selama ini " jawab Hanna.


Selesai dengan urusannya di kantor, Hanna berpamitan pada rekan kerja mereka di kantor saat jam istirahat karyawan tiba. Setelah itu Hanna kembali pulang di antarkan Aji ke rumah kostnya.


Sesampainya di gang menuju rumah kost...


" Han, kau belum makan siang kan " ucap Aji.


" Aku belum lapar bli, kau saja duluan " sahut Hanna.


" Han, aku tidak akan tenang kalau kau terus seperti ini, lebih baik kau kembali ke rumah itu, tinggal bersamaku dan bi Lastri agar aku bisa memantau asupan nutrisi tubuhmu " ucap Aji dengan nada kesal.


" Baiklah, ayo kita cari makan, aku simpan dulu koperku ke rumah " Hanna menyerah, lebih tepatnya tidak mau ambil pusing dengan sikap Aji yang akhir - akhir ini berubah menjadi lebih protektif.


Aji turun dari mobil dan membantu Hanna membawakan kopernya hingga ke rumah kostnya. Setelah itu ia menunggu Hanna di teras luar.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Aji sudah berada di resto terdekat dari lokasi rumah kost Hanna dan Reni.


" Han, makan yang banyak, tulang pipimu sudah sangat menonjol " ucap Aji.


" Entahlah bli, aku benar - benar tidak selera makan apapun, bukan karena hatiku yang sedang sedih seperti ini, hanya saja aku benar - benar malas, baru melihat makanan seperti ini aku sudah merasa mual " jawab Hanna.


" Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, atau mau ku panggil saja Oz kemari ?" tanya Aji.


" Tidak, tidak usah, aku baik - baik saja, mungkin aku hanya butuh vitamin, nanti aku beli di apotek ya, aku akan makan sekarang, lihatlah " Hanna mulai menyendok penuh makanan ke mulutnya, namun ia malah terlihat seperti ingin muntah.


" Ish... kau ini, sedikit - sedikit saja, jangan terlihat memaksa seperti itu, mungkin lambung mu sedang tidak baik, akhir - akhir ini kau jarang makan, pokoknya kau harus periksa ke dokter " ucap Aji.


" Iya baiklah, nanti sore aku akan pergi ke dokter terdekat saja, disini juga ada " sahut Hanna.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan makan siang mereka.


Selesai makan, Aji kembali mengantarkan Hanna kembali ke rumah kostnya.


" Ingat ya, kau harus periksa ke dokter, sepertinya lambung dan ususmu sedang bermasalah " Aji kembali mengingatkan Hanna sebelum pergi.


" Iya, baiklah, terima kasih banyak ya bli " sahut Hanna.


*


*


Malam harinya...


" Han, loe beneran mau pulang ke Bandung aja ? gak bakal balik kesini lagi ?" tanya Reni yang sedang membantu Hanna mempacking barang ke dalam koper.


" Iya kak, rumahku, keluargaku di sana, tapi, suatu hari nanti kalo ada kesempatan aku kembali lagi, liburan misalnya, mudah - mudahan kalian masih disini, aku akan menemui kalian saat aku berlibur kemari " jawab Hanna.


" Trus, kapan loe mau pulang ? gue mau anterin ke bandara sama si Melly, Teguh juga " Reni menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan Hanna.


" Aku belum tahu kak, aku masih mau menghabiskan waktuku bersama kalian beberapa hari lagi " Hanna pun menjawabnya tanpa menatap wajah Reni sedikitpun, ia terus menundukkan kepalanya dan fokus pada baju - bajunya.


" Loe tentuin dari sekarang, jadi gue sama yang lain bisa ambil cuti dulu " tegas Reni.


" Iya, oke emh... mungkin tanggal 12 aja ya, dua minggu lagi, gak terlalu mendadak kan ?" tanya Hanna.


" Oke, bisa deh, ntar gue kontek yang lain, eh btw, sebelum loe pergi, kita liburan dulu yuk, kemana gitu... " ucap Reni.


" Mau kemana ? aku terserah kalian aja, asal jangan bawa lagi aku ke klub malam, hehe... " ucap Hanna.


" Ya enggak lah, gue gak mau lagi mabora bareng loe, kapok gue !!" sahut Reni.


Selesai mempacking barang, Hanna dan Reni bersiap - siap untuk tidur.


" Han, kalo mau cerita, gak usah di tahan, gue siap jadi pendengar kok !!" ucap Reni yang sudah meringkuk di bawah selimutnya.


" Air mataku sudah kering kak, aku udah gak sanggup lagi !!" jawab Hanna yang sedang menatap langit - langit kamarnya.


" Gue masih berharap mungkin pacar loe selamat sebelum helikopternya meledak Han, loe pernah mikir kayak gitu gak sih ?" tanya Reni yang menatap Hanna dari kejauhan.


" Aku malah berpikir mungkin ini mimpi kak, mungkin saat ini aku sedang bermimpi, dan saat terbangun nanti, ku harap semua ingatanku tentangnya menghilang begitu saja " jawab Hanna dengan raut datar.


" Loe pasti kuat Han, gue yakin loe pasti bisa bangkit lagi, loe harus lanjutin hidup loe dengan penuh kebahagiaan " ucap Reni.


Dan, tiba - tiba suara dering ponsel Hanna menghentikan percakapan mereka malam itu.


Ternyata ibu Hanna yang menelpon.


" Hallo Mah assalamualaikum, ada apa Mah ?" tanya Hanna pada ibunya di seberang sana.


" Iya Mah, tadi udah turun suratnya, urusanku disini udah selesai, nanti kalau mau pulang pasti di kabari kok, Mah " ucap Hanna kembali.


" Oke Mah, waalaikum salam "


Hanna menutup sambungan telepon bersama ibunya dan kemudian bersiap - siap untuk tidur karena Reni ternyata sudah tidur lebih dulu.


Februari, 04 2017


Siang itu, Hanna sedang berada di rumah sakit terdekat dari rumah kostnya. Ia lupa bahwa ia sudah berjanji akan pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya.


Aji yang kembali mengunjunginya ke kostan yang tadinya hanya berniat mengantarkan barang Hanna yang masih tertinggal di rumah kenangan itu, jadi agak kesal, ia pun langsung mengajak Hanna pergi ke rumah sakit karena melihat kondisi Hanna yang terlihat pucat.


Aji menunggu Hanna di luar ruangan dokter, karena ia merasa tidak pantas menemani Hanna ke dalam saat di lakukan pemeriksaan oleh dokter.


Selama hampir 15 menit, Hanna di periksa di dalam, Aji terlihat mondar mandir di lantai depan pintu ruang pemeriksaan, sesekali ia mencoba menguping dari balik pintu namun hasilnya nihil. Ia tidak bisa mendengar apapun yang dokter dan Hanna ucapakan di dalam.


Saat Hanna keluar dari ruangan pemeriksaan.


" Bagaimana hasilnya ? apa kau sakit parah ?" tanya Aji.


" Kau mendoakan ku, bli ? dokter hanya mengatakan lambungku bermasalah, lalu kelelahan dan kurang vitamin, ck... " Hanna mendelik dan berjalan menuju ruang penebusan obat.


Setelah mendapatkan obat dan vitaminnya, Hanna pun mengajak Aji langsung pulang saja, dia mengatakan ingin istirahat saja di rumah.


Namun, saat mereka baru keluar dari pintu rumah sakit, di depan mereka kini ada seseorang yang berdiri menatap mereka bergantian.


Beberapa menit kemudian kini Hanna sudah terlihat berada di sebuah cafe, sedang duduk bersama seorang perempuan berumur di hadapannya.


" Apa kau sakit ?" tanya bu Shinta, ibunya Siwan.


" Lambung saya hanya sedang ada sedikit gangguan, lalu kelelahan dan kurang asupan vitamin " jawab Hanna.


" Kau sudah makan siang ?" tanya bu Shinta.


" Belum bu !!" jawab Hanna singkat.


" Makan siang denganku saja ya, dengan Aji juga " pinta bu Shinta.


" Baik bu " jawab Hanna sambil menundukkan kepalanya.


Lalu bu Shinta pun menelepon Aji yang sedang menunggu mereka di parkiran mobilnya sambil merokok bersama supir bu Shinta.


Tak lama kemudian Aji datang dan langsung di suruh duduk oleh bu Shinta.


" Ayo kita makan bersama, duduklah " ucap bu Shinta pada Aji.


Tadinya Aji tidak mau ikut ke dalam karena ingin memberikan ruang untuk Hanna dan bu Shinta berbicara dari hati ke hati.


" Baik bi " Aji pun duduk di tengah di antara Hanna dan ibunya Siwan.


Setelah menunggu beberapa menit, menu makanan pesanan mereka pun datang.


" Ayo, silahkan !!" ucap ibu Shinta.


Hanna dan Aji menganggukkan kepalanya dan mulai memegang sendok di tangan masing - masing.


Sebelum melahap makanannya, Hanna meneliti dulu dengan seksama menu yang ada di piringnya.


Semua terlihat sangat menggoda, maklum mungkin karena kali ini dia makan di cafe yang cukup terkenal dan mewah bagi ukuran Hanna yang hanya orang biasa.


Tidak mungkin bu Shinta mengajaknya makan di tempat biasa saja kan, secara dia orang yang sangat pilih - pilih dalam hal makanan, meskipun makan di cafe juga bu Shinta tidak pernah mau mengunjungi cafe yang belum tentu enak atau tidaknya. Siwan yang memberitahu Hanna tentang salah satu sifat ibunya yang tidak Siwan sukai, yang selalu pilih - pilih makanan.


" Ya Alloh, mudah - mudahan aku bisa melahap semuanya sampai habis kali ini " gumam Hanna.


" Bismillah... " Hanna mulai menyendok makanan ke mulutnya sedikit dan..


" Huekkk... " Hanna menutup mulutnya karena merasa mual.


Aji menyimpan sendoknya, lalu mendekat pada Hanna " Kau mau muntah ?" bisik Aji di telinga Hanna, selirih mungkin supaya bu Shinta yang sedang makan tidak mendengarnya dan merasa jijik.


Hanna menggelengkan kepalanya.


" Tarik nafas perlahan, hembuskan... " ucap Aji.


Hanna pun mengikuti arahan Aji dan berhasil menelan makanannya perlahan, setelah itu ia mendorongnya dengan jus jeruk supaya merasa lebih segar.


Bu Shinta hanya memperhatikan dengan seksama keanehan yang terjadi pada Hanna.


" Kalau kau masih kuat, paksakan saja, walau hanya sedikit dan perlahan, kau tetap harus mengisi perutmu, tidak apa, aku tidak akan merasa risih ataupun jijik, aku sudah terbiasa mengurus anak - anak yang sakit sekalipun di panti, ayo kau coba makan lagi supaya kau bisa makan obatnya " ucap bu Shinta.


" Baik bu... " sahut Hanna, dan dia pun mencoba kembali memasukkan makanan ke mulutnya.


Berkali - kali ia hendak memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perutnya, tapi untungnya tidak sampai keluar, dan Hanna selalu meminimalisir rasa mualnya dengan air jus jeruk dingin yang nampak menyegarkan mulutnya.


Dan, karena menu yang dia pesan saat itu hanya sedikit, akhirnya Hanna berhasil menghabiskan semuanya dengan penuh perjuangan.


Selesai makan dan mengobrol sebentar, Hanna dan Aji berpisah di parkiran mobil.


" Bu, maaf, mungkin hari ini pun akan menjadi hari perpisahan kita, saya mau meminta maaf kalau saya banyak melakukan kesalahan yang di sengaja maupun tidak, minggu depan saya akan pulang ke Bandung " ucap Hanna sebelum berpisah bersama bu Shinta.


" Kemarilah nak " Bu Shinta merentangkan tangannya dan memeluk Hanna sangat erat, sesaat, lalu menggenggam tangannya.


" Justru aku yang minta maaf padamu, dulu aku pernah berusaha memisahkanmu dengan anakku, tapi ternyata Tuhan yang malah memisahkanku darinya, maafkan aku, jaga dirimu baik - baik, lanjutkanlah hidupmu, berbahagialah, aku benar - benar sudah mengikhlaskannya, kau pun harus bisa " ucap bu Shinta sambil menitikan air mata.


Hanna pun hanya menganggukkan kepalanya sambil berkaca - kaca pula.


" Baiklah, aku pergi dulu, semoga kau selamat dalam perjalanan pulang menuju orang tuamu nanti " ucap bu Shinta sambil mengusap air mata yang sudah menetes di pipi Hanna, dan bu Shinta langsung masuk ke dalam mobilnya serta melanjutkan tangisannya sepanjang perjalanannya pulang ke rumah.


Keesokan harinya....


Setelah Reni pergi bekerja masuk shift pagi di hari minggu, Hanna terlihat bersiap - siap di dalam kamarnya dan pergi keluar rumah kostnya dengan membawa dua buah koper miliknya dan menenteng satu tas punggung serta menyilangkan satu tas slempang di lehernya.


Hanna berjalan menuju ke jalan raya dan menghampiri sebuah mobil yang sudah berada di sana.


Seseorang membantu Hanna memasukkan koper dan tasnya ke dalam bagasi.


Lalu Hanna pergi di antarkan oleh sang supir menuju beberapa lokasi sebelum ia pergi meninggalkan Bali, mungkin untuk selamanya.


Hanna menyewa sebuah mobil travel yang siap mengantarkannya kemanapun sebelum akhirnya ia benar - benar pergi meninggalkan kota di Pulau yang banyak menyimpan kenangan dan sejarah hidupnya.


Ia pergi ke pantai dan menatap Soul Cafe milik Eriko dari kejauhan, namun ia tidak masuk ke dalam cafenya, lalu ia pergi menuju beberapa lokasi yang pernah ia datangi bersama Siwan, termasuk pergi ke toko buku yang menjadi tempat pertemuan pertama mereka.


Dan beberapa jam kemudian, Hanna kini sudah berdiri di depan rumah kenangannya berasama Siwan.


Di halaman ia berdiri menatap sekeliling rumah itu yang sudah nampak berserakan sampah dedaunan kering. Dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, bola matanya terus bergulir menatap sekeliling bangunan di depannya.


Sambil sedikit mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Siwan lalu ia menutup mata dan menghirup udara di sana sedalam mungkin, serta menghembuskannya perlahan.


Ingin rasanya ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah meskipun untuk yang terakhir kalinya, namun ia takut terjebak kembali kenangannya bersama Siwan di dalam, dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Pulau Bali ini, hari ini.


" Goodbye " hanya itu kata - kata yang terucap dari mulut Hanna sebelum ia kembali masuk ke dalam mobilnya sambil mengusap air mata di pipinya.


Sang supir menatapnya dengan terheran - heran, saat melihat Hanna masuk ke dalam mobil, namun dia tidak berani bertanya sedikitpun tentang apa yang di lakukan Hanna sepanjang hari ini termasuk dengan yang barusan Hanna lakukan, mematung di halaman luar sebuah rumah.


" Pak, ke bandara ya !!" ucap Hanna.


" Baik " jawab sang supir.


Satu jam kemudian...


Hanna sudah berada di bandara, di bantu oleh sang supir travel menurunkan barang - barangnya.


" Pak, makasih banyak ya sudah mau mengantarkan saya seharian ini, dan ini biayanya sudah saya tambahkan bonus di dalamnya, maaf kalau tidak banyak " ucap Hanna.


" Aduh mbak, terima kasih, tidak apa justru saya mengucapkan banyak terima kasih sudah mau memakai jasa travel saya, kalau suatu hari nanti mbaknya datang ke Bali lagi, kontek saja saya, saya siap mengantarkan mbaknya kemanapun yang mbak mau " sahut sang supir travel.


Hanna tersenyum dan berpamitan padanya lalu pergi menuju terminal keberangkatan sendirian.


Hanna sengaja memajukan waktu kepulangannya ke Bandung dan tidak memberitahu siapapun baik teman - temannya maupun Aji dan Austin sekalipun agar dia bisa pulang tanpa adanya tangisan yang mengiringi kepergiannya.


Setelah melakukan boarding pass, sebelum naik ke dalam pesawat, Hanna menoleh ke belakang sambil tersenyum entah pada siapa, mungkin di matanya kini ada Siwan yang berdiri tegak sambil melambaikan tangan padanya. Seperti janji Siwan dulu yang akan mengantarkan kepergiannya meninggalkan pulau ini dengan sukarela.


Suara pesawat terbang yang baru saja lepas landas menjadi pertanda bahwa cerita novel ini sudah tamat.


...***...


Terima kasih banyak untuk para readers yang sudah mau meluangkan waktunya membaca novel pertamaku yang receh ini.


Ending yang sangat mengecewakan ya pastinya....


Tapi maafkan othor ya, memang sejak awal kisah ini sudah bakal sad ending, hanya saja dengan plot twist masalah yang berbeda, bukan soal perpisahan karena perbedaan agama.


Apakah mau di lanjut season 2 atau tidaknya, othor masih bingung...


Mau garap dulu novel karya othor yang lainnya yang sudah terbengkalai, kali aja hokinya lebih dari novel recehan ini. Hehe... enggak dong, novel ini bawa hoki juga kok, othor jadi lebih sering rebahan sambil ngehayal bikin ceritanya.


Terima kasih banyak sekali lagi untuk pecinta Siwan dan Hanna yang endingnya mengenaskan.


Goodbye....


Annyeong...