
Siang itu, selesai dari toko kue Ayu, Hanna kembali pulang ke kediaman Siwan bersama Aji yang menjemputnya kembali setelah pergi karena ada urusan lain beberapa saat yang lalu.
Di dalam perjalanan pulang, di mobil, Hanna nampak asik dengan pikirannya sendiri. Masih terngiang di telinganya sebuah kalimat dari mulut Ayu yang menjadi sumber kesibukan otaknya saat itu.
Dan, karena rasa penasaran yang amat melekat di pikirannya, ia pun memberanikan diri bertanya pada Aji.
" Bli, emh... apa benar, kau mantan pacarnya mbak Ayu ?" tanya Hanna.
Aji terlihat terkejut, sesaat ia melirik ke arah Hanna dengan mengkerutkan kedua alisnya, lalu kembali fokus ke jalanan di depannya.
" Ck... tidak mau jawab, yasudah.... " Hanna berdecak kesal, dan kembali meluruskan posisi duduknya.
Hingga tiba di rumah Siwan, Aji masih setia menutup rapat mulutnya, sampai membuat Hanna kesal dan buru - buru turun meninggalkannya, masuk lebih dulu ke dalam rumah sendirian.
Di dalam rumah, rasa kesal Hanna seketika hilang kala melihat bi Lastri sudah berada di sana.
" Bibi, jam berapa sampai disini ?" tanya Hanna, penuh senyuman.
" Tadi jam 11 neng, maaf yaa gak jadi kemarin bibi perginya, soalnya kemarin belum beres !" jawab bi Lastri.
" Iya bi, gapapa, santai aja ! Eh iya bi, ini tolong kuenya buat bibi sama bi Asih juga, aku mau ke atas dulu yaa, barangku sudah di simpan di atas kan ?" tanya Hanna.
" Sudah neng, bibi tadi di bantu bi Asih beresin di atas " jawab bi Lastri.
Saat Aji masuk ke dalam rumah, Hanna hanya menatapnya sekilas, Aji tersenyum pada bi Lastri, dan, Hanna pun langsung pergi, mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya di lantai 2.
Aji buru - buru mengikutinya dan menjaganya dari belakang, namun masih dengan mode tutup mulut.
Namun, setibanya Hanna di depan pintu kamarnya...
" Kau kenapa ?" tanya Aji.
" Aku, kenapa memangnya ?" tanya Hanna balik.
" Kau marah padaku ?" tanya Aji.
" Marah ? memang apa salahmu, kau membuat kesalahan apa padaku ?" tanya Hanna lagi, lalu mulai menyentuh kenop pintu, menekannya dan, setelah pintu terbuka, Hanna pun masuk ke dalam kamar, meninggalkan Aji yang masih mematung di depan kamarnya.
Malam harinya....
Saat makan malam tiba, Hanna dan Aji hanya sibuk dengan piring, sendok dan garpunya.
Membuat bi Asih dan bi Lastri yang menemani mereka makan pun menjadi salah tingkah.
Bi Asih yang tidak biasanya makan malam pun kini ikut makan malam bersama karena asam lambungnya sedang kambuh, jadi ia harus makan teratur selama masa penyembuhan.
" Neng, vitamin sudah di makan ?" tanya bi Lastri.
" Sudah bi, tadi pagi sama sore ! Eh iya, 2 hari lagi jadwal kontrol ya bi, terus selanjutnya aku harus periksa kemana ?" tanya Hanna.
" Ibu sudah merekomendasikan klinik kandungan yang bagus selain di rumah sakit, nanti bibi yang anter non Hanna kesana !" jawab bi Asih.
" Siap bi !" sahut Hanna.
Selesai makan malam, seperti biasa Hanna selalu menemani para bibi menonton sinetron favorit mereka.
Kali ini, Hanna melihat kedua orangtua yang tengah asik menjadi komentator sebuah acara sinetron, membuatnya pun jadi tertarik dan memperhatikan juga jalan cerita yang di suguhkan para aktor dan aktris berhasil memikat hati para emak - emak se Indonesia raya.
" Dih... apaan tuh, bikin emosi banget !" ucap Hanna.
" Neng, kalau gak tau ceritanya mending gak usah nonton !" sahut bi Lastri.
" Tapi kan dia ngeselin banget bi, bikin greget banget sih ampun ini yang bikin ceritanya ngeselin " ucap Hanna.
Bi Asih dan bi Lastri masih tetap fokus menatap layar kaca, tak mempedulikan ocehan Hanna yang menjadi netizen nyinyir di samping mereka.
Dan, tiba - tiba Aji datang menghampiri Hanna.
" Han, bisa kita bicara sebentar ?" tanya Aji.
Dan, kini mereka berdua sudah berada di ruang tamu. Hanna masih merasa kesal sejujurnya pada Aji yang tidak menjawab pertanyaannya di mobil siang tadi.
" Ada apa ?" tanya Hanna, ketus.
" Besok aku ada pertemuan dengan klien bersama pak Yoka, mungkin dua hari aku tidak di rumah, jadi kita mulai belajarnya setelah aku kembali " ucap Aji.
" Kau mau pergi ? kemana ?" tanya Hanna.
" Gilimanuk, aku akan tugaskan Bram berjaga disini, jadi nanti saat kontrol ke klinik kalian di antar Bram " jawab Aji.
" Emh... oke !" sahut Hanna, singkat.
" Yasudah, itu saja sih, kalau begitu aku ke atas dulu ya, masih banyak pekerjaan " Aji pun langsung melengos pergi meninggalkan Hanna yang sebetulnya masih ingin berbincang dengannya.
" Hih... gak peka banget sih !" Hanna nampak jadi kembali kesal.
Keesokan harinya, pukul 08.00 wita, setelah kepergian Aji, Hanna masih asik berjemur di gazebo belakang rumah, sambil menikmati jus mangga, membuatnya kembali segar dan ceria.
Nampaknya kondisi emosi sudah mulai membaik. Tentu saja, itu karena ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Flashback
Pagi tadi, selesai sholat subuh, biasanya Hanna kembali rebahan sambil menonton tv acara siraman rohani di pagi hari.
Namun, hari itu, Hanna memutuskan untuk turun ke bawah, membantu bi Asih di dapur.
" Bi, aku bantu yaa... !" ucap Hanna.
" Gak usah non, sebentar lagi juga beres !" jawab bi Asih.
" Bi Lastri kemana ?" tanya Hanna.
" Tadi lagi ngepel lantai, kayaknya sekarang lagi ngepel di belakang non !" jawab bi Asih.
" Bi, jangan panggil aku non dong, panggil aku neng aja kayak bi Lastri, yaa... " ucap Hanna.
" Emh... oke, terserah kamu saja lah, neng !" jawab bi Asih.
" Bi, boleh tanya gak, tapi ini tentang bli Aji !" ucap Hanna.
" Kalo bibi tahu, pasti jawab kok, ada apa toh nduk ?" tanya bi Asih.
" Emh... bibi tahu kan mbak Ayu, adik sepupu ahjussi ?" tanya Hanna sebagai permulaan.
" Iya tentu lah nduk, kadang bibi suka main ke toko kue nya, kadang juga dulu Ayu sering kesini sama mantan suaminya kalau mau ketemu den Wan !" jawab bi Asih.
" Nah, yang mau aku tanya, apa bener mbak Ayu sama bli Aji pernah pacaran ?" tanya Hanna.
" Ish... kepo.... tanyakan sendiri saja sama orangnya toh, bibi gak tahu lah kalo soal nak Aji " jawab bi Asih.
Hanna mengerucutkan bibirnya, pertanda kecewa dengan jawaban bi Asih.
Tiba - tiba dari arah belakang bi Lastri ikut menjawab rasa penasaran Hanna.
" Bi Las, tahu darimana ?" tanya Hanna, masih terlihat belum puas akan jawaban darinya.
" Bibi pernah denger pas Aji, Tio sama Bram mengobrol di gym center, katanya, sebelum mbak Ayu menikah, mereka emang deket banget kayak pacaran katanya, cuma karena Aji gak enak sama kak Wan, dia gak melanjutkan perasaannya sama mbak Ayu ini, dan karena mbak Ayu kecewa, dia malah menerima lamaran temen kuliahnya dulu yang sekarang jadi mantan suaminya, gitu sih yang bibi denger !" ucap bi Lastri.
Bi Asih hanya tersenyum melihat raut wajah Hanna yang nampak serius mendengarkan cerita dari bi Lastri.
" Owh... begitu rupanya, terus, maksud kak Ayu bilang dia itu mantan pacarnya tuh maksudnya apa sih, dia sengaja bikin aku cemburu, padahal aku mah biasa aja tuh, hah... apa - apaan aku cemburu sama masa lalu mereka, gak penting banget sih " ucap Hanna, dengan mode julid.
" Ish... nduk, jangan bergosip, masih pagi tahu !" ucap bi Asih.
Begitulah cara Hanna mendapatkan informasi yang sejak kemarin menjadi sumber rasa penasarannya.
...***...
Keesokan harinya...
Saat Hanna dan Asih pergi ke klinik kandungan di antarkan oleh Bram, di parkiran, ada sebuah mobil BNW seri 6 berwarna hitam mengkilap nampak masih baru, terparkir di halaman klinik kandungan yang cukup terkenal di daerah terdekat kediaman Siwan.
" Hai... how are you, honey ?" seorang pria berambut ikal keluar dari mobil tersebut sambil membuka kacamata hitamnya.
" Kak Oz, is that you ?" tanya Hanna.
" Yap... it's me !" Austin menghampiri Hanna dan memeluknya. Lalu menyapa bi Asih dan Bram.
" Kak Oz sedang apa disini ?" tanya Hanna.
" Aku, disini, aku habis menyikat genteng di atas sana ! Puas !" ucap Austin, lalu ia mengusap perut Hanna dan menyapa bayi yang ada di perut Hanna.
Hanna dan bi Asih tertawa mendengarnya.
" Sudah ah, cepet masuk ke dalam, nanti kelewat antrian !" sahut bi Asih.
Hanna ditemani bi Asih masuk ke dalam ruang pemeriksaan, sedangkan Austin menunggu di luar ruangan, dan Bram menunggu di parkiran.
Selesai pemeriksaan, Hanna dan bi Asih kini sudah berada di luar ruangan sedang mengantri di loket obat.
" Han, kenapa gak periksa ke rumah sakit lagi ?" tanya Austin.
" Aku agak males kak, nunggunya lumayan lama kalo di rumah sakit, jadi ibu juga khawatir liat aku kalo udah rada bete gitu " jawab Hanna.
" Kau kan tinggal bilang saja padaku, nanti aku telepon pihak rumah sakit dan prioritasin kamu biar lebih di duluin sama dokternya " ucap Austin.
" Ish... gak gitu juga kali kak, gak enak sama yang lain juga yang udah antri lama disana, aku juga gak tega kali " sahut Hanna.
" Tapi disini juga bagus kok, rekomendasi bibi mana mungkin yang biasa aja, fasilitas sama pelayanan disini udah setara rumah sakit swasta xxx, temanku pernah praktek disini, cuma sekarang dia udah pindah ke luar kota " ucap Oz.
Selesai mengantri di loket obat, kini mereka pun berjalan keluar menuju parkiran.
" Han, makan siang bareng yuk... !" ajak Austin.
" Boleh, sama yang lain juga yaa... !" sahut Hanna.
" Tentu saja lah, bi Asih ikut juga kan ? aku traktir !" ucap Oz.
" Iya, Bram juga ya... !" ucap bi Asih.
" Oke !" jawab Austin.
Namun, saat Austin mengajak Hanna masuk ke dalam mobilnya, Bram langsung maju dan menahan pergerakan Hanna.
Austin terlihat mengerutkan keningnya, menatap Bram tajam.
" Ada apa pak Bram ?" tanya Hanna.
" Mbak harus dalam pantauan saya, ini perintah !" ucap Bram.
" Perintah, perintah siapa ? pak Bram kan tahu kak Oz siapa, kalo aku jalan sama orang yang baru di kenal baru aku paham maksud pak Bram " sahut Hanna.
Dan, bi Asih pun mencoba menengahi mereka.
" Bram, kita juga ikut, kita ikuti saja mereka dari belakang !" ucap bi Asih, menatap Bram lalu menganggukkan kepalanya perlahan seolah memberi sebuah isyarat padanya.
Dan, kini Hanna pun sudah berada di dalam mobil Austin, duduk di depan, di samping kemudi.
" Maafkan pak Bram ya kak Oz, kau tahu kan, aku sekarang ini bagaikan burung dalam sangkar " ucap Hanna.
" It's okay, aku ngerti kok !" jawab Oz, yang sudah mulai menyalakan mesin mobilnya.
" Aku agak kesel aja sama pak Bram tadi, dia kan tahu hubungan kak Oz sama ahjussi dan keluarganya gimana, dia kok jadi mendadak protektif banget sih, aneh... " Hanna masih merasa kesal dengan sikap Bram tadi nampaknya.
" Udahlah Han, aku gapapa kok, aku ngerti, emang kaya gini lah lah dari dulu sikap kak Wan terhadap orang yang dia sayangi, dan nampaknya, meskipun dia sudah tidak ada pum keluarganya melakukan hal yang sama terhadapmu !" ucap Austin.
Ucapan Austin membuat Hanna menumbuhkan mode curiga dan penasaran, tanpa ia sadari atau memang sengaja Austin berkata seperti itu.
Namun Hanna tidak melanjutkan percakapan mereka, dia malah mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya.
" Kak Oz, mobilnya baru ya... masih mengkilap begini, bening amat !" seperti itulah Hanna pada Austin, dia tidak merasakan kecanggungan sama sekali saat mengobrol dengannya, berbeda sekali saat mengobrol dengan Aji, apalagi Siwan dulu kala.
" Yaa... begitulah, setelah menabung dan naik jabatan, aku jadi bisa membeli apa yang ku inginkan dengan uangku sendiri " jawab Austin.
" Cieee.... karirnya lagi di atas awan nih, selamat yaa kak Oz ! tapi, hati - hati loh, kalo ada, petir nanti kesamber lagi, hihihi.... !" Hanna tersenyum ringan, seolah tidak tahu bahwa arti dari perkataannya yang ia anggap hanya becanda, memiliki makna tersendiri bagi Austin.
" Kau ini, bisa saja... " sahut Austin.
Sesampainya di parkiran sebuah restoran, Hanna dan Austin yang baru keluar dari mobil pun menunggu Bram dan bi Asih keluar pula dari mobil mereka.
Beberapa menit kemudian, kini keempatnya sudah berada di dalam restoran tersebut, bi Asih dan Bram sengaja duduk terpisah dari mereka, meskipun awalnya Hanna tidak setuju, dia ingin mereka makan satu meja, namun bi Asih menolaknya secara halus, membuat Hanna pun mengerti.
Dengan dalih agar mereka leluasa mengobrol setelah lama tidak bertemu, akhirnya Hanna pun mau mendengarkan saran bi Asih.
Bi Asih dan Bram pun duduk di meja lainnya di samping mereka, tidak terlalu jauh memang, hanya terpisahkan oleh akses jalan keluar masuk saja.
" Kau mau makan apa ?" tanya Austin.
" Emh... kak, kau tahu kan kalau aku makan di luar, aku harus memastikan sesuatu dulu !" ucap Hanna.
" Iya tahu, tenang aja, aman dan halal kok, aku udah tahu kebiasaanmu kali, jadi, kau bebas mau pesan apa saja !" Austin tersenyum sambil mengusap kepala Hanna.
" Hehe... oke, makasih ya, maaf, soalnya aku rasa sebelumnya, aku belum pernah makan di tempat ini, jadi aku cuma memastikan aja !" ucap Hanna.
" Iya, aku paham, selain mendiang kak Wan dan Aji, aku juga sudah paham segalanya tentangmu ! kita sudah kenal lumayan lama, begitukan ?" tanya Oz.
" I-iya aku tahu, udah ah ngajak ngobrol mulu, kapan makannya kita kalo belum pesen makanannya " jawab Hanna sambil tersenyum, lalu kedua netranya kembali beralib pada sebuah book menu's yang sejak tadi ia pegang.
Tanpa Hanna sadari, diam - diam Austin terus mencuri pandang padanya, lalu tersenyum penuh arti yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu apa arti di balik senyumnya itu.