My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Bunga



Saat Hanna masih fokus menatap bunga pemberian Austin, Siwan merasa risih dengan kelakuan kekasihnya itu.


" Apa kau ingin memakan bunga itu ?" tanya Siwan.


" Ih... apa sih, buket bunga ini lebih cantik dari yang kau beri dulu. " Ucap Hanna.


" Kalau kau mau, aku bahkan bisa membeli satu truk bahkan satu toko bunga untukmu. " Tegas Siwan.


" Ish.. ish.. ish... pamer, apa Siwan jarang memberimu bunga ? kasihan sekali.. " Ucap Austin menggoda.


" Pernah, sekali." Jawab Hanna singkat.


" Ya ampun, kau sangat pelit ternyata pada kekasih mu. " Ucap Austin sambil menepuk jidatnya.


" Bukan pelit, tapi, tidak romantis." Hihi.. Hanna menggoda Siwan.


Siwan yang merasa terbakar ingin sekali menggelitik kekasihnya saat itu juga, tapi, tiba - tiba datang Aji dan bi Asih kembali membawa satu tas berisi baju dan peralatan make up pesanan Hanna.


" Eh... udah ada nak Os disini. " ucap bi Asih.


" Tentu saja, aku orang yang sangat di butuhkan disini. " Ucap Austin sangat percaya diri.


" Tidak usah membual. " Sahut Aji.


" Hahaha... " Austin tertawa.


" Ini ya cah ayu, sudah bibi bawakan sesuai pesanan, di cek dulu saja barangkali ada yang ketinggalan." Bi Asih menyerahkan tas pada Hanna.


" Wah, ini sudah cukup bi, terima kasih banyak ya, bi Asih. " Hanna memegang tangan bi Asih.


" Sama - sama cah ayu, bibi senang mendengarnya. " Ucap bi Asih.


Lalu tiba - tiba, Siwan menyela obrolan mereka.


" Bi, sudah makan siang? " tanya Siwan.


" Belum den, nanti saja tidak apa - apa. " Jawab bi Asih.


" Jangan begitu, aku gak mau kalau bibi sakit gara - gara telat makan." Ucap Siwan.


Aji yang seperti nya mengerti ucapan Siwan langsung bisa menangkap sinyalnya.


" Iya bi, aku juga lapar belum makan, yuk kita pulang saja." Ucap Aji.


" Loh, nanti siapa yang jaga non Hanna disini ?" tanya bi Asih menatap para lelaki.


" Aku yang akan menemaninya bi, tenang saja." Ucap Siwan mengelus punggung bi Asih.


" Bener loh ya, awas jangan di tinggalin loh, kasian nanti kalau non Hanna sendirian disini. " Ucap bi Asih pada Siwan.


" Iya, tentu saja bi, aku tidak akan meninggalkan nya sendirian. " Timpal Siwan.


" Baiklah kalau begitu, bibi pulang dulu ya, cah ayu. " Bi Asih memeluk Hanna dan mendoakannya.


" Aamiin, bi. Sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan dan doa - doanya ya bi."


" Sama - sama cah ayu, jangan sungkan ya kalau butuh bantuan." Ucap bi Asih, lalu pergi meninggalkan ruangan bersama Aji.


Tidak lama kemudian, datang lah perawat masuk mengecek kondisi Hanna dan lukanya.


Setelah selesai, sang perawat yang cantik dan ramah itu pamit pada Hanna. Namun, saat sang perawat hendak keluar, tiba - tiba dia menatap Austin.


" Dokter, Austin. " Perawat itu menghampiri Austin.


" Hai.. apa kabar ? " Austin menjabat tangan perawat cantik itu.


" Aku baik, dok, apa nona ini kerabatmu ? tanya sang perawat bernama Andien menatap Hanna lalu kembali ke Austin.


" Iya, dia kekasihnya kak Siwan, kakakku. " Jawab Austin sambil menunjuk pada Siwan.


" Eh, dokter yang menanganinya siapa?" tanya Austin.


" Oh.. itu, dokter Hans. " Jawab sang perawat.


" Baiklah, aku akan menemuinya di ruangannya ya. " Ucap Austin.


Lalu Austin dan sang perawat pergi dari ruangannya.


Siwan pun menghampiri kekasihnya dan duduk di kursi pinggir ranjangnya.


" Austin nanti mencoba berbicara dengan dokter, supaya kau bisa di rawat di rumah. Tapi mungkin malam ini kau harus menginap. " Tegas Siwan.


" Baiklah, yang penting tidak terlalu lama disini. " Ucap Hanna merasa senang.


" Tapi, kau harus tinggal di rumah ku, setelah keluar dari sini, aku akan membawamu ke rumahku. "


" Memangnya kenapa ? A-aku, tidak apa - apa tinggal sendiri di kostan." Hanna merasa kikuk.


" Tidak bisa, kau harus pulang ke rumahku, aku akan mengurusmu sampai kakimu sembuh. Bi Asih juga akan membantuku, kau mau, ya ?" tanya Siwan lalu mencium tangan Hanna.


" Apa tidak merepotkan, aku hanya tidak terbiasa merepotkan orang lain, jadi rasanya aku tidak enak. " Ucap Hanna.


" Apa aku orang lain bagimu ?" tanya Siwan.


" Emh... chagiya..." ucap Siwan.


" Coba sekali lagi !!" Hanna menggoda Siwan.


" Apa sih.. kau senang aku memanggilmu seperti itu ?" tanya Siwan.


" Tumben sekali. Hihi.. " Hanna menggoda Siwan.


" Yasudah kalau kau tidak mau. " Siwan cemberut.


" Aku mau, aku bercanda. " Hanna menarik lengan Siwan.


" Chagiya, apa kau tidak memberitahu orang tuamu di Bandung, tentang kondisimu saat ini ?" tanya Siwan, seketika raut wajah Hanna pun berubah.


" Aku bingung, aku ingin memberitahu ibuku, sebetulnya, tapi, aku takut keluargaku di Bandung khawatir dan buru - buru pergi kemari. Padahal orang tuaku sedang menabung untuk biaya kuliah adikku tahun depan. Biaya ongkos pulang pergi dari Bandung ke Bali bagiku dan keluargaku tidak murah. Jadi, lebih baik aku tidak mengatakannya saja." Ucap Hanna.


" Baiklah, itu keputusan mu, lalu, bagaimana dengan teman - temanmu, apa mereka akan tutup mulut soal ini ?" tanya Siwan.


" Ya ampun, iya, aku harus memberitahu Rayhan dan Sammy. " Hanna terkejut lalu buru - buru mengambil hp nya seraya menghubungi Rayhan dan Sammy.


Hanna meminta tolong pada Rayhan dan Sammy agar tidak memberitahu sahabatnya terutama keluarganya di Bandung tentang kondisinya saat ini. Dia mengirim mereka pesan chat lewat aplikasi whatsupp.


Dan tidak lama Rayhan membalas.


A Rey...


Iya, tidak usah khawatir, Aa paham kok. Tapi, tetap kabari Aa ya, kalau ada apa - apa !! Tolong ingat pesan Aa, jaga dirimu !!


14.50 Wita.


Dan di susul oleh balasan dari Sammy,


Sammy...


Siyap, tenang saja, aku akan tutup mulut. Tapi, sekarang kamu di temani siapa?


14.52 Wita.


Hanna pun membalas


Terimakasih banyak ya Sam, aku sekarang sama kak Wan.


14.53 Wita.


Tidak lama, Sammy pun membalas lagi.


Sammy...


Dia, siapa ?


14.54 Wita.


Hanna membalasnya kembali


Dia, pacarku Sam.


14.55 Wita.


Setelah itu, tidak ada lagi chat balasan dari Sammy.


Di sisi lain, saat Sammy membaca chat terakhir dari Hanna, raut mukanya langsung berubah, lalu dia menyunggingkan bibirnya sedikit dan menyimpan hpnya di atas meja lalu menutup mukanya dengan bantal, entah dia tertidur atau menangis.


Sore hari, sekitar pukul 16.20 wita, saat jam besuk tiba, beberapa dari teman kerja Hanna datang menjenguk termasuk pak Rama.


Saat teman - temannya bertanya bagaimana kronologis kejadiannya, Hanna pun menceritakan kejadian yang di alaminya tadi pagi.


Dan, secara diam - diam Siwan pergi dari ruangan agar Hanna bisa bebas berbincang - bincang dengan teman kerjanya itu.


" Eh, Han, yang tadi itu pacarmu kan ?" tanya kak Reni.


" Iya, dia masih orang yang sama yang tempo dulu ku lihat di Sanur." Ucap kak Melly.


" Wah, tipe - tipe hot daddy.. " ucap kak Reni.


" Sssstttt... nanti kedengeran sama orangnya. " Ucap kak Melly.


Hanna hanya tersenyum malu.


Pak Rama, yang sedari tadi tidak banyak berbicara mengajak semua temannya untuk pulang, karena tanpa terasa, jam besuk pasien sudah tinggal lima menit lagi.


Lalu mereka pun berpamitan pada Hanna, bersalaman serta berpelukan, tapi tidak dengan pak Rama dan beberapa teman pria nya.


" Lekas pulih ya, Han, istirahat saja dulu, tidak usah banyak pikiran tentang pekerjaan. Kami sangat memaklumi kondisimu saat ini. " Ucap pak Rama sebelum pergi.


" Terimakasih banyak ya pak. Nanti surat izin dokter nya akan segera saya kirim kan. "


" Tidak apa - apa, nanti saja saat kamu sudah sehat dan mulai masuk kerja lagi ya. " Lalu pak Rama pun pergi bersama teman kerja lainnya.


Setelah teman - temannya pergi, lalu Siwan pun masuk kembali ke dalam kamar inap.