My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Comeback home



Selesai makan pagi bersama, Hanna, Hwan, Rayhan beserta anggota genk KERANG di antarkan ke bandara oleh Siwan, Aji dan Elsa.


Sesampainya disana...


"Chagiya, secepatnya aku akan menyusulmu dan datang pada kedua orangtuamu, sampaikan salamku dan maafku untuk mereka, sungguh, aku tidak ingin terjadi hal yang tifak diinginkan terhadap kalian disana, " ucap Siwan.


"Iya, tentu, akan aku sampaikan, berhati - hatilah, kabari aku setiap saat, aku tidak mau kau menghindariku lagi, " Hanna mulai berkaca - kaca.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya lagi, maafkan aku, aku sangat egois, " Siwan merasa bersalah atas keputusan yang menurutnya paling benar namun ternyata hal itu hanyalah sebuah kesalahan baru yang hampir saja tidak bisa di terima oleh Hanna.


Namun, karena kejadian kemarin, akhirnya Hanna mengerti, bahwa memang di samping Siwan, bukanlah hal yang mudah. Maka, demi kebaikan dan keselamatan anaknya yang paling utama, Hanna pun lebih memilih untuk berpisah kembali bersama Siwan. Entah untuk waktu berapa lama.


"Sudahlah, aku bisa memaafkan semua kesalahanmu, kau melakukannya demi kita, aku paham meskipun caramu salah, tapi, kumohon, aku tidak bisa selamanya menunggumu, kuharap, secepatnya kau tepati janjimu itu, " Hanna mulai mengangkat Hwan yang ada di dalam pelukan Siwan.


"Tunggu, sebentar lagi, ya... pliss... aku belum rela melepaskan Hwan, sebentar saja, waktu kalian masih lama kan ?" tanya Siwan.


Saat itu, waktu mereka memang tersisa satu jam tiga puluh menit lagi. Bahkan yang lain pun sedang asik duduk di kursi penunggu sambil berbincang - bincang ataupun asik berfoto sebelum akhirnya mereka harus chek-in dan masuk ke dalam gate pemberangkatan.


Dan, Aji yang baru selesai menerima telepon dari seseorang pun mendekat pada Hanna dan Siwan.


"Kak, bisakah aku bicara sebentar dengan Hanna ?" tanya Aji, meminta izin pada Siwan.


Siwan menganggukkan kepalanya sebagai pertanda mengizinkan.


Aji dan Hanna pun berbicara secara berhadapan. Sedangkan Siwan pun duduk di kursi dengan Hwan, tidak jauh dari mereka.


"Austin, dia ingin aku menyampaikan maaf padamu, dia menyesali perbuatannya, " ucap Aji.


Hanna hanya tersenyum sinis.


"Aku tidak ingin mendengar apapun darinya ataupun tentangnya, aku masih belum bisa memaafkannya, aku bahkan belum bisa mencerna semua penderitaan yang ia berikan padaku dan ahjussi selama ini, jujur saja, aku masih terlalu kesal padanya, " Hanna menautkan kedua alisnya.


"Ya, aku paham, kau pasti sangat kesal dan marah padanya, yasudah, kalau begitu kau berhati - hati saja selama di Bandung, kalau ada apa - apa, kau bisa menghubungiku, dan juga, Elsa, dia akan kembali ikut bersamamu ke Bandung, dia ku tugaskan untuk menjagamu disana, dan ada dua orang lagi yang selalu berjaga disana, nanti Elsa yang akan memperkenalkannya padamu !!" ucap Aji, panjang kali lebar.


"Apa itu tidak berlebihan bli ? aku hanya merasa risih, mungkin keluargaku juga akan seperti iti saat mereka tahu kalau aku di jaga oleh bodyguard kemana - mana, " Hanna memicingkan matanya.


"Itu semua demi kau dan Hwan, juga keluargamu, selama situasi masih belum aman, kau harus mau bekerja sama, kumohon, jangan mempersulit tugas Elsa !!" pinta Aji.


"Ya, baiklah, aku paham, " ucap Hanna.


Lalu...


"Bli, aku minta maaf, sempat tidak percaya padamu, " sambung Hanna.


"Dan, terimakasih banyak, kau selalu menjagaku meskipun lewat orang lain, tapi kau sangat peduli padaku, terimakasih banyak yaa !!" Hanna melebarkan senyumannya di hadapan Aji, kini.


"Ya Tuhan, seandainya, kau bukan miliknya, " gumam Aji. Namun Aji langsung menepis pikirannya sebelum meracau kemana - mana.


"Ya, sama - sama, " jawab Aji, singkat.


Kemudian Hanna kembali pada Siwan dan Hwan, yang kini sedang berfoto bersama di fotokan oleh Rayhan.


"Kalian bertiga, berfotolah, cepat, kalian belum pernah kan ?" tanya Rayhan.


Hanna pun langsung mendekat dan mengatur posisi. Dia dan Hwan memang belum pernah berfoto bertiga, kapan ada waktunya coba, saat pertama kali pertemuan mereka pun mana sempat mereka membahas perihal foto bersama.


Selesai berfoto, juga foto bersama dengan yang lainnya, Siwan dengan berat hati harus melepaskan Hwan dari dekapannya.


"Papa akan menjemputmu secepatnya nak, bersabarlah, " ucap Siwan.


"Dadah papa... Hwan pulang dulu ya, bye.... " ucap Hanna dengan intonasi lucu.


Siwan tersenyum melepas kepergian anak dan wanita yang di cintainya itu.


Namun, setelah mereka menghilang dari pandangan matanya, tanpa tersa air mata menetes dari pelupuk matanya.


Aji yang sempat meliriknya merasa iba. Ia mengeluatkan kacamata hitam miliknya dari saku jaket dan memberikannya pada Siwan, kemudian pergi meninggalkan Siwan mematung sendirian yang belum beranjak dari posisinya sejak tadi.


Siwan menghapus air matanya dan kemudian memakai kacamata hitam milik Aji.


"Sialan kau Aji, " bisik Siwan, kemudian ia memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusul Aji menuju parkiran mobil.


Beberapa jam kemudian....


Beberapa keluarga sudah menunggu kedatangan mereka di Bandara Hussein Sastranegara.


Adik Hanna, Abdul yang menjemput Hanna, Hwan dan Rayhan.


Adik Gani, menjemput Yasmin, Gani dan anak mereka.


Dan Kakak Karina menjemput Karina dan Audrey yang menumpang pulang.


Sedangkan Elsa, dia menumpang pada mobil yang di naiki Hanna yang di bawa oleh adiknya.


Hanna dan para sahabatnya berpisah di bandara menuju ke rumah mereka masing - masing.


Di dalam mobil, Abdul adik Hanna bertanya - tanya seputar hari liburan mereka selama di Bali.


"Seru, sayang sekali kau tidak ikut !!" ucap Rayhan.


"Ya, aku ingin sekali, tapi jadwal naik gunung ku tidak bisa di tunda lagi, kalian pergi liburan dadakan sekali sih... " Abdul terlihat sinis.


"Iya, lain kali kita liburan keluarga ke Bali lagi, kau mau kan Hwan, yaa... mau yaa... " Hanna mengajak Hwan mengobrol.


Hwan terlihat sangat senang berkomunikasi dengan ibunya itu, ia selalu tersenyum ketika ibunya menatapnya lebih dalam, seakan tahu bahwa kebahagiaan kini tengah menyelimuti jiwa ibunya.


"Ponakan om gak rewel kan ?" tanya Abdul.


"Engga dong, Hwan kan anak hebat, dia gak rewel kok om, selama di pesawat dia juga hanya tidur sampai turun lagi dari pesawat, anak sholehnya bubu gitu loh... " Hanna mencium Hwan tiada hentinya.


"Akhirnya, dia terlihat lebih bahagia lagi, tapi, kenapa aku jadi merasa tidak ikhlas, aku akan benar - benar kehilangan mereka," batin Rayhan, di sisi lain hatinya terasa perih, meskipun ia merasa lega bisa melihat kegembiraan di wajah wanita yang ia sayangi.


Hanna baru teringat, di belakang mereka ada seseorang yang mengawasi sejak tadi.


"Eh, Elsa, maafkan aku, emh... kau mau turun dimana ? rumahmu di dekat kantor kita kan ?" tanya Hanna.


"Tidak mbak, aku ikut ke rumah kalian !" jawab Elsa.


"Apa ?"


Hanna merasa terkejut, pikirnya, Elsa mau tidur dimana ? tidak ada kamar kosong lagi di rumahnya.


"A-anu, Elsa, itu, emh... di rumahku... " ucapan Hanna terhenti karena Rayhan menyela omongannya.


"Dia mengontrak rumah pak Bambang, itu loh yang kontrakan bertingkat dekat rumahmu, " sela Rayhan, dapat dengan sigapnya menangkap keraguan Hanna.


"Owh... benarkah ? sejak kapan ? kenapa A Rey tahu ?" Hanna terlihat penasaran.


"Emh... itu, aku... " kali ini Rayhan yang terlihat kebingungan untuk mengatakan hal yang akan ia lontarkan dari mulutnya.


"Aku yang memberitahunya kemarin,!!" timpal Elsa.


"Ya, begitulah kiranya," Rayhan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Kenapa aku jadi pandai berbohong begini, astagfirullah, ampuni aku ya Alloh !!" gumam Rayhan.


Sesampainya di rumah, kedua orangtua Hanna menyambut kedatangan Hwan dengan penuh haru.


Rayhan dan Elsa pamit ke rumah mereka masing - masing.


Hwan di ambil alih oleh kakek dan neneknya, sekarang giliran Hanna beristirahat di kamarnya tanpa gangguan.


Sebelum memejamkan mata, Hanna sempat memberitahu Siwan bahwa mereka sudah sampai di rumah dengan selamat.


Saat petang tiba, Hanna di bangunkan oleh bu Hani karena sudah tiba waktunya maghrib. Dan juga Hwan mulai rewel mencari setetea Asi dari ibunya, meskipun ia sudah kenyang dengan mpasi yang di berikan neneknya, tetap saja, ia masih memerlukan setetes nutrisi dari putinh ibunya juga untuk menguatkan ikatan batin mereka.


Hanna pun terbangun dan mandi terlebih dahulu, setelah itu ia menunaikan ibadah sholat maghrib. Dan, selesai dengan kewajiban ibadahnya, ia pun menyusui Hwan yang sudah mulai mengantuk. Ia membawa Hwan dalam dekapannya di dalam kamar, sambil bervideo call an bersama Siwan.


Selama melakukan video call, Siwan terus berkata rindu padanya dan Hwan. Ia benar - benar merasa kehilangan mereka padahal baru saja sebentar mereka bertemu dan saling bercengkerama, namun, Siwan teramat menginginkan mereka agar selalu di dekatnya.


Setelah Hwan tidur, Hanna yang sudah mengakhiri panggilan video call nya pun memutuskan untuk bergabung bersama keluarganya di luar sambil makan malam karena ia belum mengisi perutnya kembali.


Selesai makan malam...


"Teh, sini, duduk disini, bapak sama ibu mau ngomong..." ucap pak Bagyo yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu.


Hanna pun duduk setelah memastikan seluruh makanan sudah tepat berada di dalam lambungnya.


"Alhamdulillah... " Hanna bahkan sempat bersendawa.


Dan, pak Bagyo pun mulai mewawancarai anaknya.


"Bagaimana acara liburan kalian di Bali ?" tanya ayahnya sebagai permulaan.


"Yaa... cukup menyenangkan, " jawab Hanna, berekspresi biasa saja.


"Disana, kau tidak bertemu seseorang ?" tanya pak Bagyo kembali.


"Seseorang, maksudnya ?" Hanna mulai menaikan sebelah alisnya.


"Gini loh, maksud bapak tuh kamu gak ketemu sama bu Shinta atau Aji misalnya atau yang lainnya... !" bu Hani menambahkan penjelasan pada anak sulungnya yang terlihat tidak peka apa yang di maksudkan oleh mereka.


"Oh... itu, emh... tidak, bu Shinta katanya lagi di Yogya, " jawab Hanna.


"Aku lupa, bu Shinta bilang katanya dari Yogya dia mau langsung kemari, tapi ini sudah malam, sepertinya dia tidak jadi pergi kesini, " batin Hanna bermonolog.


"Lalu, yang lain ?" tanya bu Hani kembali dengan ekspresi sangat penasaran.


"Apa mungkin ibu curiga, aku bukannya ingin menutupinya, hanya saja aku takut ayah dan ibu pasti khawatir seandainya mereka tahu apa yang terjadi padaku dan Hwan kemarin, " batin Hanna menggumam.


"Tidak bu, siapa lagi memangnya maksud ibu ?" tanya Hanna.


"Maafkan aku bu, aku berbohong demi kebaikan," gumam Hanna.


Pak Bagyo terdengar menghela dan menghembuskan nafas kasar.


Bu Hani menatap suaminya sesaat.


Tiba - tiba, datanglah adik Hanna ikut bergabung, dan duduk dengan asal di samping Hanna hingga menyenggol tubuh Hanna.


"Aww... loe, apa - apan sih, bisa pelan gak, sakit tahu !!" Hanna bernada sewot, perkataannya yang semula formal kini berubah kembali santai saat berhadapan dengan adiknya.


"Kenapa sih, perasaan biasa aja, loe kenapa sih kak, baru ketemu udah sinis aja sama gue, " sahut adiknya sambil mengkerucutkan bibirnya.


"Kamu kenapa teh, itu juga kenapa sudut bibir kamu merah begitu, kamu terluka ?" tanya pak Bagyo sambil menelisik wajah Hanna.


"Aduh, gawat, makeupnya kehapus pas tadi mengelap mulut dengan tissue, gawat ini, padahal aku sudah berusaha menutupi semua lukaku dan bersikap biasa saja, " gumam Hanna.


"Mana coba lihat," bu Hani menghampiri Hanna, dan meneliti wajah putrinya, "eh, iya, itu kenapa itu, kaya bekas luka," sambung bu Hanni.


"Oh, ini, aku ada sedikit kecelakaan sewaktu di villa, aku jatuh di bebatuan yang ada di dekat kolam renang, cuma luka kecil, tenang saja, hehe, " Hanna tersenyum paksa.


Adik Hanna menaruh curiga pada kakaknya itu.


"Ada yang tidak beres, aku harus mencaritahu sendiri, " gumam Abdul.


"Aku ngantuk, tidur duluan yoo... " Abdul pun beranjak dari kursinya dan pergi menuju ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, ia menghidupkan speakernya dan menyetel musik di dalam kamarnya.


Namun, setelah itu ia mengambil handphonenya dan mencoba menelrpon seseorang di seberang sana.


Setengah jam kemudian...


Abdul tergesa - gesa keluar dari kamarnya namun tetap dengan mode waspada, ketika di dekat kamar kakaknya ia mengendap - endap kemudian melipir dan berlari menuju kamar ibunya.


Abdul mengetuk kamar ibunya perlahan.


Ibunya membuka pintu kamarnya, dan Abdul langsung menyelinap masuk tanpa permisi.


"Ada apa sih ?" bu Hani merasa terkejut dengan sikap anak bungsunya.


Begitupula dengan pak Bagyo yamg sudah berbaring di atas ranjangnya sambil memeluk guling, ia pun kembali membuka matanya dan terbangun, duduk di atas kasur.


"Ini gawat bu, gawat... " ucap Abdul.


"Apaan sih lu Dul ?" pak Bagyo sedikit ngegas.


"Sssttt... jangan keras - keras, nanti kak Hanna bangun !!" pinta Abdul.


Bu Hani pun menutup pintu kamarnya seolah mengerti apa yang akan di sampaikan anaknya itu sebuah hal yang penting.


Abdul pun mulai bercerita, bahwa barusan dia menelepon Rayhan dan meminta prnjelasan tentang apa yang terjadi pada Hanna sewaktu di Bali.


Awalnya Rayhan tidak mau bercerita karena sudah berjanji pada Hanna, namun, ia di desak oleh Abdul dengan mengatasnamakan ayah dan ibunya.


Rayhan pun terpaksa menceritakan semuanya.


"Ya Alloh, cucuku, untung masih bisa selamat, ya Alloh, ngeri banget sih... " pekik bu Hani.


"Sssttt... bu, jangan keras - keras, nanti kak Hanna bangun, " Abdul terus mengingatkan ibunya.


"Seberapa bahayanya kah orang itu ? bapak jadi gak rela kalau harus merelakan anak sama cucu bapak bersanding sama pria itu," pak Bagyo menggelengkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.


...***...


Jadi, kedua orangtua Hanna dan adiknya, apa mereka juga sudah tahu kalau Siwan masih hidup ??


Apakah Rayhan yang memberitahu mereka juga tentang Siwan ??


Dan apakah Hanna dan Siwan akan dengan mudah mendapat restu dari kedua orangtuanya terutama ayahnya ??


Maaf yaa kalau jarang update


Di usahakan gak sampai berminggu - minggu kok. Hehehe....


Kasih Othor semangat yaa, jangan lupa komen, vote dan rate nya


Happy reading on **next chapter


Annyeong**