
Seorang pria berusia sekitar kepala empat sedang terkurung di sebuah ruangan. Ia berteriak untuk meminta seseorang membukakan pintunya yang terkunci dari luar.
Dia berteriak menggunakan bahasa Korea.
Pria itu adalah Siwan.
"Keluarkan aku dari sini !!"
Dug... dug... dug... dug... suara keras pintu yang di pukul sekuat tenaga oleh tangan Siwan yang mengepal.
Suara tersebut berasal dari sebuah kamar ruang bawah tanah.
Namun, meskipun lokasinya berada di bawah tanah, ruang kamar tersebut terlihat sangat mewah meskipun tidak terlalu banyak barang di dalamnya.
Hanya ada ranjang, sebuah nakas dan lampu duduk di atasnya, sebuah sofa letter L yang terlihat sangat empuk, televisi, Ac, perapian, sebuah lemari dua pintu, juga terdapat kamar mandi di dalamnya.
"Buka pintunya !!" sorot mata Siwan terlihat menakutkan, amarah meliputi dirinya tanpa pembatas. Berkali-kali bahkan ia meninju pintu yang terbuat dari besi itu hingga membuat ruas jari-jarinya terluka.
Saat itu, hari sudah semakin malam. Siwan terlihat sangat lelah, ia tahu sebetulnya apa yang ia lakukan itu sangat tidak berguna, karena ruangan tersebut kedap suara. Namun, ia hanya ingin melampiaskan amarahnya saat itu.
Siwan terkulai lemas di depan pintu, ia menjulurkan kaki panjangnya sebelah di lantai.
Ia menatap pada satu titik dengan penuh kebencian.
Meskipun lelah, ia bertekad tidak akan menutup matanya. Ia akan terus mencoba terjaga karena ia tidak bisa menduga hal apa yang akan terjadi padanya saat ia sesang tertidur.
Mengapa Siwan bisa terkurung di ruangan tersebut ? apa yang terjadi padanya?
Flashback
Semenjak ia menginjakkan kaki di negara kelahirannya, Korea Selatan, Siwan langsung di sambut oleh beberapa orang pria berbadan tinggi dan besar berpakaian setelan jas dan celana hitam serta kemeja putih di dalamnya.
Setelah itu, ia langsung di kawal menuju parkiran mobil hingga sampai di hotel dengan selamat.
Aji selalu berada di sampingnya hingga saat mereka selesai makan siang di hotel tersebut.
Namun, ada yang aneh, ketika mereka hendak kembali ke kamar masing-masing, saat pintu lift terbuka di lantai 17, lantai dimana kamar mereka berada, beberapa orang tengah berdiri dan menyambut kehadiran Siwan dan Aji.
"Tuan Siwan, Tuan besar menunggu anda di rumahnya !!" seorang pria maju dan membisikkan kalimat tersebut di dekat telinga Siwan.
Lantas pria itu masuk ke dalam lift dan mempersilahkan Siwan untuk mengikutinya. Saat itu, sorot mata Siwan terlihat seolah sedang menahan amarah, namun ia masih tetap bersikap tenang hingga mereka sampai di lantai dasar, nampak seperti sebuah basement namun kosong.
Tidak lama kemudian, suara gesekan ban mobil dan lantai terdengar di telinga mereka. Siwan dan Aji sudah dalam mode waspada untuk melihat siapa orang yang keluar dari mobil yang kini berhenti beberapa meter di depan mereka.
"Tuan Siwan, ikutlah denganku, Tuan besar ingin bertemu dengan anda secepatnya !!" ucap seorang pria yang juga memakai setelan jas hitam kemeja putih rambut klimis di sisir rapih, usianya jika di perkirakan lebih tua darinya, mungkin seumuran dengan ayah Siwan.
Siwan memberi isyarat pada Aji lewat matanya, dan dalam hitungan detik, perkelahian pun tak terelakkan, Siwan dan Aji mencoba menggebuk orang-orang yang sejak tadi mengelilinginya. Lawan mereka tidak sebanding memang, Aji melawan tiga orang yang menyerangnya, dan Siwan melawan dua orang yang tersisa, karena dua orang pria yang berbadan kurus sudah ia atasi secepat kilat dengan ilmu beladirinya.
Di seberangnya, seorang pria tua berambut klimis hanya memperhatikan aksi mereka, lalu, tangannya memberi isyarat pada seseorang agar keluar dari dalam mobil, dan seorang pria berbadan tinghi dan besar memakai kaos hitam dan kacamata hitam keluar dari dalam mobil, ia lalu menghampiri pria tua itu, hanya dengan sebuah gerakan kepalanya, nampaknya ia sudah bisa memahami perintah dari pria tua itu.
Pria berkaos hitam itu mendekat pada Siwan yang tidak menyadari kehadirannya karena Siwan sedang fokus pada orang-orang yang menjadi lawannya kini.
Hanya dengan satu pukulan pada tengkuk leher Siwan, pria berkaos hitam itu sudah mampu membuat Siwan tak berdaya, bahkan ia hilang kesadaran dan ambruk seketika di lantai.
Aji yang melihatnya berteriak histeris,"kak Wan... " pekiknya.
Aji yang lengah langsung di cekal oleh lawannya dan tubuhnya di bekuk, kedua lengannya di ikat sangat kencang, mulutnya di sumpal oleh sebuah kain dan ia di seret di masukkan ke dalam mobil lainnya yang baru datang ke lokasi kejadian.
Begitu pula dengan Siwan, ia yang kini sudah tak berdaya begitu mudahnya tubuhnya di angkut dan di masukkan ke dalam mobil yang sejak tadi di tumpangi pria tua klimis itu.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah mansion bergaya Eropa Klasik.
Siwan masih tak sadarkan diri, ia langsung di bawa menuju ruanganan bawah tanah dan di kurung di dalam sebuah kamar dengan pintu yang terbuat dari besi.
Dan Aji, ia pun sama, hanya berjarak beberapa meter saja dari pintu kamar Siwan, ia pun di jebloskan ke dalam salah satu kamar yang ada di ruang bawah tanah lainnya.
...***...
Di sisi lainnya...
Malam itu, Hanna yang tidak sengaja mendengar percakapan mertuanya dan Elsa, tidak dapat memejamkan matanya.
Setelah mengambil air minum dari dapur, ia kembali ke dalam kamar, namun yang ia lakukan, hanya berguling-guling di atas kasurnya.
"Astagfirullah, ada apa ini? kenapa dadaku terasa sesak begini?"
Hanna bangkit dari tidurnya, ia terduduk di atas ranjang kemudian memukul dadanya berkali-kali.
Kemudian, ia memutuskan untuk mendekat pada Hwan yang tertidur begitu lelapnya, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran kecil, memeluk anaknya, mencium bau yang menguar di indera penciumannya yang berasal dari tubuh anaknya, seolah menjadi aromatherapi baginya, dan tak lama kemudian, Hanna pun mulai memejamkan mata dan pindah ke alam mimpinya.
Keesokan harinya...
Pagi sekali, Hanna sudah terbangun dan mandi, mensucikan dirinya untuk bisa kembali beribadah sholat subuh hari itu.
Di hari ketujuhnya, Hanna sudah terbebas dari tamu bulanannya.
Selesai beribadah, Hanna sempat menyusui Hwan yang terbangun karena merasa lapar. Setelah Hwan kembali tidur, barulah Hanna turun ke dapur untuk mempersiapkan mpasi untuk sarapan Hwan.
Di dapur, sudah ada bi Asih yang sedang mempersiapkan sesuatu untuk sarapan juga.
"Bibi, aku mau membuat makanan untuk Hwan, " ucap Hanna.
"Mau bibi bantu neng?" tanya bi Asih.
"Tidak usah bi, gampang kok, bibi fokus saja memasak," jawab Hanna.
Beberapa menit kemudian, selesai membuat mpasi untuk Hwan, Hanna memutuskan untuk melihat Hwan di atas, takutnya dia sudah terbangun.
Namun, di ambang pintu kamarnya, bu Shinta memanggilnya, "Hanna... " dengan lirih dan berjalan menuju ke arahnya.
"Iya bu..." sahut Hanna.
Hwan saat itu masih tertidur, ibu dan neneknya sempat mendekatinya.
"Hanna, kita harus pergi menyusul Siwan ke Seoul !!" ucap bu Shinta.
"Ada apa memangnya bu?" tanya Hanna merasa penasaran.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja kita harus pergi kesana sekalian berlibur, kau juga belum berbulan madu kan, disana banyak sekali tempat yang sangat cocok, barangkali kau akan suka dengan keindahan alam disana, "
Bu Shinta berusaha meyakinkan Hanna.
"Aneh sekali, sepertinya ibu menyembunyikan sesuatu dariku !!" gumam Hanna.
"Tapi bu, apa mas Siwan tahu, dan dia mengizinkan aku dan Hwan pergi, dia sempat berpesan padaku agar aku terutama Hwan di rumah saja selama dia belum kembali, lagipula aku tidak punya paspor, " ucap Hanna.
"Aku akan menyuruh asistenku membuatkannya secepat mungkin, bagaimana? aku dan Elsa akan menemanimu, Lastri juga akan aku bawa, dan sesampainya disana aku akan meminta kenalanku untuk mengawal kita, kau tidak usah khawatir, keamanan kalian pasti terjamin," bu Shinta menatap Hanna penuh harap.
"Tapi bu, aku... emh... bagaimana nanti kalau mas Siwan marah?" Hanna merasa cemas, karena ia harus melanggar pesan Siwan padanya.
"Aku yang akan bertanggung jawab, kau tenang saja !" ucap bu Shinta.
"Baiklah, aku akan mempacking bajuku dan Hwan setelah selesai mengurus Hwan nanti," ucap Hanna.
"Kalau begitu, ibu mau menelepon asisten ibu, nanti ibu kabari lagi !!" ucap bu Shinta, lalu melangkah keluar dari kamar Hanna.
Tanpa harus menunggu lama, dengan kekuatan uang, lewat biro jasa pembuatan paspor, hanya satu atau dua hari bisa langsung selesai.
Di negara ini, tidak bisa di pungkiri lagi, semuanya akan lebih mudah jika kita memiliki banyak uang dan kekuasaan.
Hanna semakin bertanya-tanya karena hingga saat ini, di hari ketiga kepergian suaminya ke Seoul, ia belum pernah berkomunikasi lagi dengannya. Siwan hanya sekali mengabarinya saat ia baru sampai di hotel.
"Bu, kenapa mas Siwan tidak bisa di hubungi yaa, dia juga tidak memberiku kabar lagi sejak hari itu, " ucap Hanna, penuh kecemasan, saat itu ia sedang berkumpul di ruang keluarga bersama bu Shinta dan Hwan.
"Kau tahu, mungkin dia sedang mengurus pekerjaan di daerah pegunungan, sinyalnya sangat buruk sepertinya, sudah, jangan khawatir, besok kita akan menyusulnya, kau lekas tidur saja supaya besok saat bangun terlihat segar, kita harus berangkat pagi sekali kan... " bu Shinta masih terlihat begitu tenang. Padahal di dalam hatinya ia pun sama dengan Hanna, ibu mana yang tidak pernah mencemaskan anaknya meskipun mereka sudah dewasa dan berumah tangga.
Dan lagi, ketenangan yang bu Shinta miliki saat ini adalah hasil dari berbagai pengalaman hidupnya selama ini, yang selalu harus bersabar memiliki seorang anak tunggal yang selalu menempatkan dirinya dalam posisi berbahaya.
Keesokan harinya, Hanna, Hwan, bu Shinta, bi Lastri dan Elsa sudah berada di dalam pesawat. Mereka di antarkan oleh bi Asih, Bram, Keenan dan beberapa anak buah Siwan lainnya.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah tiba di Incheon International Airport, dan langsung di sambut oleh beberapa orang pria dan satu orang perempuan kira-kira berusia kepala empat. Wanita itu mengajak bu Shinta berbincang menggunakan bahasa Korea.
Hanna bisa mengerti apa yang di katakannya, karena ia masih mengingat hasil kursus les bahasa Koreanya bersama Siwan dulu.
Wanita bernama Park Hae Sin itu membimbing mereka menuju mobil yang tidak jauh.
Dengan ramahnya mereka membantu membawakan tas dan koper milik Hanna, bu Shinta dan yang lainnya.
Mobil yang di tumpangi oleh mereka melesat memecah jalanan di Negeri Gingseng siang itu.
"Wah... indahnya... " ucap Hanna dengan lirih.
Sepanjang jalan matanya di manjakan oleh keindahan negara tersebut. Begitupula saat mereka tiba di ibu kota.
"Sebentar lagi kita akan sampai," ucap bu Shinta, membangunkan Hanna yang tertidur beberapa menit yang lalu karena merasa kelelahan.
Hanna mengucek matanya dan menguap sebentar.
Hwan yang duduk di pangkuan bi Lastri mulai terdengar gelisah.
"Kau kenapa sayang, kemarilah, bubu akan menggendongmu lagi, "
Bi Lastri pun menyerahkan Hwan padanya. Hanna sempat menawarkan ASInya pada Hwan, namun dia menolaknya.
"Apa kau pup?" Hanna merasa penasaran melihat anaknya gelisah, biasanya Hwan bertingkah seperti itu saat dia sudah tidak nyaman dengan popoknya.
"Tidak, popoknya juga belum penuh dengan urine, apa kau haus? minum dulu yaa... " Hanna memberikan air putih lewat dot botol minum anaknya. Dan Hwan hanya meminumnya sedikit kemudian dia gelisah kembali.
"Sabar ya nak, kita akan segera sampai, kau akan segera bertemu papamu, apa kau begitu merindukannya?" bu Shinta yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan.
"PAPA... " ucap Hwan sambil menyemburkan air liurnya.
"Ternyata kau benar-benar merindukannya ya sayang, nenek bilang kita akan segera sampai, sabar yaa... " ucap Hanna, terus mencoba menenangkan anaknya.
Dan, tanpa mereka sadari, kini mobil yang di tumpangi sudah memasuki gerbang dan semakin masuk ke dalam halaman yang luas dimana sebuah mansion bergaya Eropa Klasik berada.
"Bu, ini rumah siapa? apa mas Siwan ada disini?" tanya Hanna.
"Ini adalah mansion keluarga Im, dulu, tapi saat ini hanya mertuaku yang tinggal disini, kakeknya Siwan, kau akan segera bertemu dengannya," jawab bu Shinta.
"Tapi, ingat kata-kataku, kau jangan mau terpengaruh oleh ucapannya, suamimu, hanya dia yang harus kau percaya, kau paham !!" seru bu Shinta.
"Baik bu, aku mengerti !!" sahut Hanna.
Mobil pun berhenti di samping anakan tangga halaman menuju ke dalam mansion tersebut, dan diluar, sudah ada seorang pria tua memegang tongkat sebagai alat bantu untuknya berjalan, ia berdiri berusaha menegakkan tubuhnya pada posisinya.
Bu Shinta turun dari mobil setelah salah seorang pria terlihat seperti seorang pengawal membukakan pintu mobilnya. Di susul oleh Hanna dan yang lainnya.
Namun, mereka belum juga beranjak, masih berdiri mematung untuk beberapa saat tetap pada posisi mereka.
"Ku sarankan, kau berbicara dengan bahasa Inggris saja, berpura-puralah tidak mengerti bahasa mereka, kau paham !!" bu Shinta kembali memperingatkan menantunya.
Hanna hanya menganggukan kepalanya.
"Situasi macam apa sebenarnya ini, kenapa Hwan pun jadi rewel sekali, dia seperti tidak nyaman berada disini, " gumam Hanna.
Setelah salah seorang pengawal mempersilahkan mereka untuk maju.
Dengan perasaan yang campur aduk dan dada yang berdebar kencang, bu Shinta pun melangkahkan kakinya lebih dahulu, untuk mendekat pada pria yang ternyata adalah mantan ayah mertuanya, atau kakek dari Siwan anaknya, dia adalah Mr. Im Jaehyun.