My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Mencari Solusi



Setelah kepergian ketiga sahabatnya, kini Hanna dan Siwan sedang duduk di dalam mobil dalam perjalanan menuju kostan.


" Ahjussi, teman - temanku sangat berterima kasih banyak padamu, terimakasih katanya sudah menjamu mereka dan membiayai semua acara liburan mereka. " Ucap Hanna menatap Siwan yang sedang fokus menyetir mobil.


" Iya, mereka juga sudah bilang tadi secara langsung. " Siwan tersenyum melirik kekasihnya sebentar.


" Aku tidak menyangka, resort itu milikmu, jangan - jangan villa yang kita datangi di Tanah Lot dan yang kita kunjungi malam tahun baru kemarin, itu juga milikmu ?" tanya Hanna.


Siwan hanya tersenyum pada kekasihnya.


" Wah, ahjussi, kau sangat kaya ternyata. " Hanna merasa takjub.


" Tidak, aku tidak sekaya yang kau pikirkan. " Jawab Siwan.


" Kenapa, kau takut aku berubah jadi cewe matre dan memeras hartamu ?" Hanna agak kesal.


" Aku yakin kau bukan wanita seperti itu, betul kan?" Siwan menggenggam tangan kanan Hanna.


" Hehe.. maaf, aku hanya takut kau berpikiran buruk tentangku. "


" Tidak, aku tahu kau wanita yang baik, sifatmu yang tidak pernah sembarangan mengomentari dan berpikir negatif tentang orang lain, aku suka.. "


" Ahjussi, apa aku pernah mengecewakan mu?"


" Sejauh ini, belum, dan jangan sampai. Justru aku yang takut mengecewakan mu. Kenapa, bertanya seperti itu, apa ada hal yang sedang mengganggu mu?"


" Tidak, aku hanya bertanya saja. "


Tapi, mendengar pernyataan dan jawaban Hanna seperti itu, membuat Siwan mencurigai sesuatu, terlihat dari raut wajahnya yang berubah.


" Kau mau langsung pulang?" masih sore, apa kau mau jalan - jalan dulu denganku? sudah lama kita tidak jalan berdua. "


" Boleh, mau kemana?"


" Mau nonton film denganku?"


" Boleh."


Lalu Siwan memutar arah tujuan perjalanan mereka.


Setibanya di gedung bioskop, banyak poster film yang terpampang disana, terutama film yang masih tayang di bioskop tersebut.


Siwan berhenti di depan salah satu poster film.


" Mau menonton ini tidak ?" tanya Siwan.


Seketika muka Hanna berubah menjadi pucat pasi, dia merasa terkejut dan terpaku, mulutnya seakan berat untuk mengeluarkan kata - kata.


" Ja-jangan, kita menonton film lain saja, ya.. " ucap Hanna.


" Kenapa.. ?" tanya Siwan penuh curiga.


" Itu, filmya katanya tidak bagus. Nah, yang ini saja... " Hanna menunjuk poster film yang berada tidak jauh sekitarnya.


" Oke.. baiklah.. terserah kau saja.. " Siwan terlihat menahan senyum, padahal dia sudah tahu kenapa Hanna tidak mau menonton nya, karena sebetulnya dia sudah menonton film tersebut. Film berjudul fifty shades of *** yang dia bicarakan bersama ketiga sahabatnya beberapa hari yang lalu.


Saat sedang menonton film, mereka terlihat sangat menikmatinya, sambil melahap popcorn dan minuman soda. Di sekitar mereka pun, penonton terlihat sangat antusias dengan jalan cerita yang di suguhkan oleh film tersebut.


Selesai menonton film, mereka berjalan - jalan mengelilingi plaza, melihat barang - barang dari satu toko ke toko lainnya. Tanpa membelinya, padahal Siwan sudah menawarkan Hanna untuk mengambilnya, Siwan sendiri yang akan membayarnya, tapi Hanna tidak mau. Dia lebih suka membeli makanan daripada barang saat bersama Siwan.


Mereka sempat membeli jajanan di sana, terutama eskrim, Hanna terlihat sangat menikmati nya hingga dua kali memesannya dengan rasa yang berbeda.


" Kau suka eskrim?" tanya Siwan.


" Emh... tentu saja, kadang aku selalu menyetok eskrim di kulkas. Itu juga kalau sedang tidak penuh dengan stock daging di freezer. Hihi..." jawab Hanna.


" Mau ganti kulkas dengan yang lebih besar?" tanya Siwan.


" Tentu saja, kalau kau mau, aku juga ingin membelikanmu meja makan, dan perabot lainnya yang kau butuhkan. "


" Tidak, ahjussi, terimakasih ya, tapi aku bukan istrimu, kau tidak berhak memanjakanku berlebihan seperti itu. "


" Lalu, kalau sudah menjadi istriku, kau mau ku belikan segala macam olehku?"


" Tentu saja, itu kan kewajiban suami menafkahi istrinya, sandang pangan papan lahir dan batinnya, itu kewajiban seorang suami pada istrinya."


" Emh... kalau begitu, mau menjadi istriku? mau menikah denganku?"


Pertanyaan Siwan kali ini kembali membuat Hanna terkejut bukan kepalang, dia seketika kembali pucat pasi dan bibirnya sulit mengeluarkan satu patah kata pun.


Di dalam hatinya dia berkata, " apa dia serius? apa dia sedang melamarku?" Hanna jadi tidak berselera lagi untuk menyendok eskrim ke mulutnya. Bukannya merasa senang, tapi justru sebaliknya.


" Kenapa tidak menjawab? tidak mau ya ?" tanya Siwan penasaran.


" Bukan begitu, tapi... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya.


" Hihi.. kau pucat sekali, orang lain di lamar kekasihnya pasti merasa terkejut karena bahagia, tapi kau malah sebaliknya.." ucap Siwan lalu tertawa usil.


" Apa kau sedang bercanda?" tanya Hanna berubah menjadi serius.


" Aku hanya mencoba, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Aku hanya sedang mengetes mu. " Ucap Siwan.


" Oh.. begitu rupanya. Sudah ah, aku ingin pulang." Hanna lalu menyimpan sendok eskrimnya dan mengelap mulutnya dengan tissue.


" Kenapa ? ini eskrim mu belum habis !!" tanya Siwan tanpa merasa bersalah sedikit pun.


" Aku jadi tidak selera, aku lelah. " Ucap Hanna lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Siwan yang masih duduk di kursinya.


Lalu Siwan buru - buru menyusulnya. Dia tahu pertanyaan dan pernyataan nya tadi pasti menyinggung perasaan kekasihnya hingga dia di tinggalkan sendirian di meja.


Di dalam mobil, Hanna masih terdiam tanpa kata. Begitu juga dengan Siwan, dia menyadari bahwa perkataannya tadi pasti menyinggung kekasihnya itu. Hanya saja karena dia sedang menyetir mobil, dia harus tetap fokus melihat ke depan jalanan yang sudah gelap.


Setibanya di depan gerbang kostan, Hanna langsung melepas seatbelt nya dan hendak membuka pintu untuk turun dari mobil. Tapi Siwan buru - buru mencegahnya.


" Chagiya, dengarkan dulu penjelasanku, aku tahu kau marah dengan perkataan ku tadi. " Ucap Siwan menarik lengan Hanna.


Lalu Hanna pun kembali terduduk tapi masih belum mau menatap wajah Siwan.


"Lihat lah aku, lihat mataku, kumohon.. " Siwan menarik wajah Hanna perlahan.


" Ahjussi, maafkan aku, meskipun kau tadi hanya bercanda, tapi hatiku sakit, bukan sakit karena mendengarmu mengatakan bahwa itu hanya mencoba mengetes ku saja, tapi, hatiku sakit karena, aku tidak bisa menjawab ' Yes, i do' maaf, aku tidak bisa, kalaupun kau bertanya dengan serius sekalipun, aku tetap akan mengatakan bahwa aku tidak bisa menikah denganmu, kenyataan itu yang membuatku sakit bukan kepalang. Kau tahu sendiri apa yang menjadi alasannya, iya kan?" tanya Hanna.


Siwan seketika berpaling dari hadapan Hanna, dia membuang nafas secara kasar, mencoba berpikir dan kembali tersadar.


" Tidak bisakah, kita bersama selamanya ?" tanya Siwan menatap kembali kekasihnya.


" Dengan perbedaan ini, aku rasa aku tidak bisa, maafkan aku, dan aku tidak berniat menggadaikan imanku untuk pindah keyakinan, begitu pula denganmu, aku tidak bisa memaksamu untuk pindah keyakinan yang sama denganku, semua itu, tidak semudah kau mengucapkan kalimat syahadat. Mungkin, akan mengubah seluruh aspek kehidupanmu nantinya. Semua harus di pertimbangkan secara matang. Dan aku tidak ingin ada penyesalan di antara kita. "


" Lalu, kau mau bagaimana, tentang kita, tentang hubungan ini ?"


" Aku tahu awal dan akhir kita pasti akan membahasnya, sebetulnya aku selalu mencoba untuk tidak membahasnya dalam beberapa waktu, tapi kali ini, karena sudah terlanjur topik pembicaraan kita dalam konteks ini, aku kembali memikirkan banyak kekhawatiran tentang masalah hubungan kita ini, aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa lagi..."


" Apa kau masih mau menjalaninya denganku ? hubungan kita ini, bisakah tetap sama seperti sebelumnya ?" tanya Siwan.


" Tentu saja, kau pikir apa aku akan mudah melepaskanmu, melupakanmu, menghapus jejakmu dari hati dan kehidupanku, meskipun aku tahu cinta tidak selalu harus memiliki, tapi aku merasa belum siap bila harus berpisah denganmu. " Jawan Hanna.


" Kalau begitu, mari kita jalani saja, untuk saat ini, ayo kita menciptakan moment yang akan kita kenang bersama nanti, aku pun sama denganmu, aku benar - benar merasa frustasi bila jauh darimu, kumohon, tetaplah di sisi ku, setidaknya untuk beberapa waktu, kita lihat sampai mana kita bisa bertahan, hanya waktu yang kita butuhkan yang bisa menjawabnya." Siwan menarik Hanna ke dalam pelukannya.


Lalu mereka berpelukan, tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mata keduanya.


" Mari kita cari solusinya bersama nanti. Untuk saat ini, tetaplah bersamaku !!" Ucap Siwan.