My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Bali, again..



Tiga hari kemudian


Hari berlalu begitu cepatnya, tanpa terasa sudah 4 hari Hanna dan Siwan berstatus suami dan istri.


Dan kini, di hari ke 4 ini, Hanna dan Siwan melangsungkan pernikahan di KUA setempat untuk memperkuat status Hwan sebagai anak mereka di mata hukum.


Hanya di hadiri dan di saksikan oleh keluarga inti Hanna, yaitu, ayah, ibu dan adik Hanna, sedangkan dari pihak Siwan hanya bu Shinta ibunya, bi Asih, dan pak Adi. Karena Aji dan bi Lastri sudah kembali ke Bali keesokam harinya setelah pernikahan agama Siwan dan Hanna berlangsung beberapa hari yang lalu.


Aji harus menghandle pekerjaan Siwan yang tertunda, namun itu hanyalah alasan semata. Ia sedang melanjutkan misi yang belum terselesaikan hingga saat ini.


Dan... sesaat setelah selesai acara di KUA, ketika mereka sedang berada di perjalanan pulang, di mobil, Siwan mendapat panggilan telepon dari seseorang. Siwan hanya menatap layar hpnya dan belum mengangkat telepon tersebut.


"Mas, kenapa tidak di angkat? siapa?" tanya Hanna yang duduk di sampingnya bersama Hwan.


Panggilan Hanna pasa Siwan kini berubah menjadi 'Mas' karena dari silsilah keluarga ibunya Siwan merupakan keturunan Jawa.


"Aji, nanti saja kalau sudah sampai di rumah!!" Siwan lantas mematikan panggilan telepon dari Aji dan kemudian mengirim pesan padanya.


"Soal pekerjaan?" Hanna masih merasa penasaran.


"Iya, aku sedang membahasnya sejak pagi tadi, " Siwan tersenyum dan mengelus punggung tangan istrinya yang sedikit menaruh curiga padanya.


Meskipun mereka sudah berstatus suami dan istri, namun Hanna masih merasa bahwa suaminya itu belum sepenuhnya terbuka padanya, pekerjaan ataupun hal lainnya.


Hanna tahu bahwa, suaminya itu begitu sibuk dengan tugas dan tanggung jawabnya yang memiliki beberapa bisnis maupun pekerjaan utamanya sebagai seorang desainer/arsitek, maka dari itu, sebisa mungkin, Hanna tidak pernah mau membuat Siwan pusing memikirkan hal itu ketika mereka bersama dulu, keduanya tidak pernah mau membahas topik yang berat saat berdua, mereka sudah sepakat.


Tapi, itu dulu, lain halnya dengan status mereka sekarang. Pahit manis, susah senang, sehat maupun sakit, setelah menjadi sepasang suami dan istri, keduanya harus saling berbagi bersama, keluh kesah dan terutama kebahagian.


Hanna masih belum melihat suaminya mengerti dengan dengan komitmen tersebut. Mungkin Siwan masih butuh waktu pikirnya, dengan semua situasi dan kondisi mereka saat ini, Siwan masih butuh waktu untuk terbiasa dengan keterbukaan.


Sesampainya di rumah pak Bagyo, a. k. a rumah mertua Siwan.


"Chagiya, masuklah, aku mau menelpon Aji dulu di belakang, " ucap Siwan.


Hanna menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah, berkumpul bersama keluarganya yang sudah tiba lebih dulu, bahkan bu Shinta dan bi Asih pun ada di dalam, belum kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Beberapa menit kemudian...


Siwan masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kusut, kedua ujung alisnya di tekuk, kedua sorot matanya memancarkan amarah yang sedang ia rasakan.


Namun semua sirna kala ia melihat wajah buah hatinya Hwan. Siwan kembali melunak, ia kembali tersenyum dan menghampiri anaknya yang sedang berjalan ke arahnya.


"PAPA... " pekik Hwan dengan nada menggemaskan.


"Kau belum mau tidur siang sayang?" Siwan mendekap Hwan yang jatuh di pelukannya.


"Dia mencarimu sepertinya !!" ucap Hanna.


"Kau bermain bersama nenek dulu saja ya sayang, papa mau bicara sama bubumu dulu, oke !!" Siwan lantas memberikan Hwan pada ibunya, yang sedang berkumpul bersama ibu mertuanya dan bi Asih.


"Ada apa yaa?" Hanna terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan menuju kamarnya mengikuti Siwan dari belakang.


Di dalam kamar...


"Apa semua baik-baik saja?" Hanna mebaruh curiga, semenjak Siwan menelepon Aji, moodnya seolah menjadi berubah.


"Chagiya, duduklah !!" Siwan menarik Hanna duduk di sofa berdampingan.


Hanna hanya menuruti, kedua bola matanya tak beranjak dari wajah suaminya sedikitpun.


"Aku harus kembali ke Bali besok, ada sesuatu yang harus ku urus !" ucap Siwan.


"Yasudah, tidak apa, emh... aku juga harus ikut denganmu kan, kita sekarang sudah menjadi suami istri, jadi aku harus mengikuti kemanapun suamiku pergi, "


"Masalahnya, sesampainya di Bali, aku harus kembali pergi meninggalkanmu,"


"Kemana?" Hanna semakin penasaran.


"Ke Seoul, aku harus mengurus sebuah masalah keluarga, tapi aku tidak bisa membawamu, belum untuk saat ini !!" ucap Siwan.


"Kenapa?" lagi-lagi hanya kata-kata tersebut yang keluar dari mulut Hanna.


"Aku belum bisa menjamin keamanan mu dan Hwan, aku harus memastikan sesuatu dulu disana, aku tidak ingin kau dan Hwan terluka oleh keluargaku, karena aku tidak akan rela !!"


Hwan menundukkan kepalanya.


Sesaat hening melanda hati dan pikirab keduanya.


"Lalu, kau mau aku bagaimana?" tiba-tiba, tanya Hanna.


Siwan menghembuskan nafas kasar.


"Aku ingin kau ikut ke Bali sore ini, tunggulah aku di rumah saat aku pergi bersama ibu, aku selalu menjaga keamanan rumahku seketat mungkin, lagipula Elsa juga akan ikut denganmu nanti, setidaknya saat aku pergi, aku merasa tenang saat ada orang yang bisa lebih menjagamu di saat aku tidak bisa di sampingmu, "


"Maafkan aku, rencana bulan madu terpaksa harus kita tunda, bahkan aku belum memikirkan soal resepsi pernikahan kita, kalaupun kau mau marah padaku, aku tidak akan menyangkalnya, " sambung Siwan.


"Sssttt... hei, jangan seperti itu, aku tidak marah, sudah ku bilang aku akan menurut padamu, kau suamiku sekarang, aku harus bisa menenangkan suamiku, jadi aku akan ikut ke Bali sore ini dan menunggumu hingga kembali di rumahmu sesuai permintaanmu, oke.. "


"Rencana kita, masih bisa kita pikirkan nanti, kau harus pulang dengan selamat, " sambung Hanna.


Siwan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Terimakasih !" Siwan memeluk dan membelai wajah Hanna, tak lupa mengecup kening dan bibirnya.


Rencananya dua hari lagi Hanna, Hwan dan Siwan memang akan kembali ke Bali, karena Siwan meminta izin pada pak Bagyo untuk memboyong anak dan istrinya tinggal disana.


Meskipun sedih, tapi ayah dan ibu Hanna bisa berbuat apa, karena sebagai seorang suami Siwan lebih berhak untuk mengambil tanggung jawab pada Hanna dan Hwan.


Tapi kini, rencana mereka dengan sangat terpaksa harus di percepat. Entah apa yang menjadi sebabnya, bahkan Hanna pun masih bertanya-tanya.


Siwan dan Hanna kembali berkumpul bersama keluarganya. Juga, Siwan membicarakan tentang rencana kepulangannya sore ini, yang membuat bu Hani menjadi shock dan sedih.


Pak Bagyo saat itu sedang tidur siang pun sengaja di bangunkan oleh istrinya. Mereka begitu tidak rela harus berpisah dengan anak cucunya secepat itu. Yang lebih memberatkan adalah cucunya, mereka pasti merasa sedih dan kesepian dengan kepergian Hwan.


Sore pun tiba, kini bu Hani sedang terisak-isak sambil menggendong cucunya di bandara.


"Kak, jangan biarkan dia kelaparan, dan kau harus sering menggosok giginya supaya tidak rusak, " ucap bu Hani.


"Iya bu, jangan khawatir !" sahut Hanna.


"Oh iya, selepas sholat subuh, kau jangan tidur lagi, kau sudah menikah, kau ingat, harus mengurus suamimu sebelum dia bekerja, kau juga harus sering mengajak Hwan jalan-jalan supaya langkah kakinya lebih lancar, "


Bu Hani terus mewanti-wanti Hanna, bahkan sepanjang perjalanan mereka, dari rumah, hingga berada di bandara kini.


Pak Bagyo pun sama, namun hanya sesekali, tidak secerewet istrinya. Pak Bagyo pun tak lupa memberi pesan pada Siwan, terutama ia menitipkan anak dan cucunya.


"Bu, ada saya, kalian tidak usah khawatir, Hanna selalu ku anggap sebagai anakku sendiri, kasih sayangku tidak akan berkurang padanya, aku juga tidak akan membenarkan kalaupun anakku Siwan melakukan kesalahan, ku akan bersikap bijak dan adil, doakan saja mereka, " bu Shinta menyela.


Setelah mengucapkan perpisahan pada keluarganya, Hanna dengan mata merah berkaca-kaca pun harus melangkah pergi menjauh karena ia harus segera melakukan penerbangannya.


Air mata yang sebisa mungkin tidak keluar sejak tadi pun akhirnya tumpah juga.


Hanna yang terisak-isak dituntun oleh Siwan, ia merangkul pundak istrinya dan memberinya kekuatan dan semangat agar kembali tegar.


Hwan berada dalam gendongan bi Asih, dan bu Shinta berjalan di sampingnya.


Beberapa jam kemudian, mereka sudah tiba di Bali, tepatnya di depan rumah kediaman Siwan.


Di depan halaman, Hanna sempat berdiri tegak, mematung dan menghela udara serakus mungkin di depan rumah yang pernah mengisi sebagian memory kehidupannya. Kenangan yang tercipta dengan rumah ini masih selalu ia ingat dengan jelas.


Hari itu, waktu sudah mulai gelap, malam sudah menyambut kedatangan mereka saat kaki mereka menginjak tanah di pulau Bali.


"Chagiya, masuklah !!" Siwan menarik lengannya, dan membawanya masuk dengan perlahan ke dalam rumah.


Namun anehnya, bu Shinta dan bi Asih terlihat mundur dan membiarkan Hanna dan Siwan melangkah lebih dulu untuk membiarkam keduanya membuka pintu rumah kediaman Siwan itu.


Hanna tidak menyadari keanehan itu.


Dan, saat pintu terbuka, dan Siwan serta Hanna masuk ke dalamnya.


Bletuk... sebuah suara confetti dari tangan seseorang terdengar di telinga mereka, di susul dengan potongan-potongan kertas yang berhamburan di atas kepala keduanya.


"Welcome home.... " teriak seseorang yang tak lain adalah Aji. Ia bahkan menyiapkan satu buket bunga dan di serahkannya pada Hanna.


Elsa yang sejak tadi memegang confetti menyambut Hanna dengan senyuman termanisnya.


Tak lupa pak Bram pun hadir disana, memegang sebuah balon berbentuk kepala mickey mouse dan di serahkannya pada Hwan yang berada dalam gendongan Hanna.


"Ya ampun, terharu... terima kasih banyak, kalian membuatku bahagia dengan sambutan ini, " Hanna mengusap air yang keluar dari sudut matanya.


"Mulai hari ini, aku akan memanggilmu nyonya bos !" ucap Bram.


"Ish... berlebihan... " sela Hanna.


Elsa langsung memangku Hwan, memberi kesempatan pada yang lain untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang dari Bandung ke Denpasar.


Saat makan malam tiba, semua berkumpul dan makan bersama, bahkan Hwan pun ikut duduk di kursi bayinya yang tinggi mengimbangi meja makan di rumah papanya saat ini.


Terkecuali pak Bram, karena dia sudah pulang ke rumahnya juga bi Asih yang tidak pernah makan malam setiap harinya. Ia masih konsisten dengan program dietnya padahal usianya sudah terbilang cukup tua. Namun, melihat hasil yang tidak mengkhianatinya, bi Asih cukup bangga dengan apa yang ia lakukan selama ini karena ia juga selalu rajin mengecek kesehatannya. Semua ia lakukan demi kelancaran hidupnya yang masih bekerja di hari-harinya.


Kembali pada acara makan malam.


"Besok kami pergi jam 7 pagi, chagiya, kau tidak usah mengantarku ke bandara, kau pasti lelah, di rumah saja dengan Hwan dan ibu, " ucap Siwan yang sudah selesai dengan makan malamnya.


"Iya, baiklah !" jawab Hanna.


"Im, kau tidak bisa menunda kepergianmu? apa harus sepagi itu?" tanya bu Shinta.


"Aku masih harus mempersiapkan semuanya sebelum waktunya tiba, waktuku disana hanya sedikit bu !!" jawab Siwan.


"Sebenarnya mereka membicarakan apa sih, ibu pasti sudah tahu, baiklah, nanti aku akan tanya pada ibu saja !!" batin Hanna.


Aji dan Elsa hanya fokus pada makanan mereka.


"Selama aku belum pulang, Elsa akan menginap disini, kalau kau mau berbelanja keperluanmu, bawalah dia kemanapun kau pergi, tapi sebaiknya jangan bawa Hwan selama aku tidak ada, Hwan di rumah saja dengan ibu," Siwan mengelus tangan istrinya.


"Iya, iya, aku mengerti, mas !" sahut Hanna, membalas senyuman suaminya.


Saat mendengar Hanna memanggil Siwan dengan panggilan barunya, Aji dan Elsa refleks saling bertatapan, lalu mereka menahan tawa dan memalingkan wajahnya karena ia menyadari tatapan tajam Siwan yang dilayangkan pada mereka.


Acara makan malam pun selesai.


Aji dan Elsa kembali ke kamar masing-masing.


Setelah beberapa jam berkumpul di ruang keluarga, menonton tv bersama, video call dengan keluarga Hanna di Bandung untuk memberi mereka kabar, kini mereka memutuskan untuk tidur. Bu Shinta sudah lebih dulu kembali ke kamarnya, dan kini giliran Siwan yang membawa Hwan di pangkuannya yang sudah tertidur lelap beberapa menit yang lalu.


Siwan menidurkan anaknya di kasur bayi yang baru di beli beberapa hari yang lalu oleh Aji. Sepulangnya ia dari Bandung, ia di tugaskan untuk mendekorasi kamarnya dan membelikan beberapa keperluan Hwan.


Mungkin selama beberapa bulan Hwan tidak akan di biarkan tidur sendirian, Hanna belum bisa melepaskannya. Ia bahkan merengek pada suaminya agar tidak di pisahkan dengan anaknya saat tidur, maka dari itu, salah satu sudut kamar Siwan yang cukup luas di sulap menjadi tempat tidur Hwan dan arena bermain.


Hanna sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Kini ia sedang menempelkan berlapis-lapis skincare rutin sebelum tidur pada wajahnya. Ia sedang duduk di depan cermin.


Siwan mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Chagiya, apa tamu mu belum pergi?" Siwan berbisik di telinga istrinya.


Hanna menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum, melihat wajah kecewa suaminya lewat cermin di hadapannya.


"Berapa lama kau pergi? mungkin saat kau pulang nanti aku sudah selesai dengan urusan bulananku," ucapan Hanna membuat Siwan kembali tersenyum cerah.


"Du hari, ku pastikan tidak lebih dari itu, " Siwan kemudian mencium pucuk kepala istrinya.


"Sepertinya sudah selesai, soalnya hari ini juga tinggal sedikit, sabar yaa... sayang, " Hanna berbalik menghadap wajah suaminya.


Lalu, ciuman mesra diantara keduanya pun tak dapat di hentikan. Bahkan Siwan sampai memangku Hanna dan membawanya keatas ranjang, dan melanjutkan kemesraan mereka di atasnya sebelum akhirnya mereka tertidur lelap.