My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Love



Sesuai janji Austin, Hanna di perbolehkan pulang setelah dua malam menginap di rumah sakit, dengan syarat tidak boleh masuk bekerja dulu. Austin bahkan menambahkan surat izin dokter tambahan untuk di kirim ke perusahaan tempat Hanna bekerja.


Juga Austin akan setiap hari berkunjung ke rumahnya untuk memeriksa kondisinya dan memantau makanan yang masuk ke dalam perut Hanna.


" Ya Alloh, aku bukan putri raja, segininya mereka memperlakukan ku " gumam Hanna.


" Kalian pasti bekerja sama kan ?" Hanna menatap pada Siwan dan Austin bergantian.


Hanna yang merasa frustrasi mengacak - ngacak rambutnya dan berdecak kesal.


Siwan dan Austin hanya menahan tawa melihat kelakuannya yang seperti anak kecil yang di kurung di rumahnya.


Setelah membereskan biaya administrasi dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Hanna di bawa turun menuju parkiran mobil dengan kursi roda.


Bram yang menjemputnya membantu membawakan koper dan tas berisi barang - barang Hanna.


Sesampainya di rumah, siang itu, Hanna kembali membelalak saat mengetahui seseorang sudah berada di dalam rumahnya beberapa saat yang lalu.


" Hallo mbak Hanna, saya Lastri, saya yang akan bantu - bantu beresin rumah sama masak di rumah mbaknya dan bla... bla... bla... " ucap bi Lastri. Seorang pengurus rumah tangga yang sengaja di kirim Siwan untuk meringankan pekerjaan Hanna di rumah.


" Ah... begitu ya... " Hanna tersenyum hambar.


" Bi, ini tolong di koper ini isinya baju kotor " ucap Siwan menyerahkannya pada bi Lastri. Sedangkan tas ransel satu lagi berisi perlengkapan Bram taruh di atas meja di ruang tengah.


Bi Lastri pamit ke belakang membawa koper sedangkan Bram pamit kembali ke markas.


Tinggalah Hanna dan Siwan berdua.


Hanna duduk perlahan di sofanya yang selama beberapa hari ini tidak di sentuhnya.


" Apa kau sengaja membuatku jantungan, aku masih bisa melakukannya sendiri !!" ucap Hanna menatap Siwan tajam.


Siwan yang masih berdiri di sampingnya merasa terkejut, dia pikir kekasihnya itu akan senang karena Siwan membantunya meringankan pekerjaannya di rumah lewat bi Lastri.


" Astagfirullah... " Hanna merasa kecewa.


Siwan duduk di samping Hanna, " maaf, aku hanya takut kau kelelahan, kau belum sembuh total, jadi aku mencarikan seseorang yang bisa membantu pekerjaan di rumah " Siwan merasa bersalah.


Hanna menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, " tapi kalau aku sudah sembuh aku ingin sendiri lagi di rumah, deal... " Hanna menatap Siwan dan menyipitkan matanya.


" Oke, deal... " Siwan hendak memeluknya dari samping.


" Ish... aku bau, mau mandi dulu !!" Hanna menjauh dari Siwan.


" Baiklah, sana mandi, kalau sudah wangi aku tidak akan melepaskanmu " ucap Siwan.


Hanna pun pergi menuju kamarnya dan menjinjing tas perlengkapannya yang di bawa dari rumah sakit.


Di dalam kamar...


Hanna duduk di meja rias dan menatap cermin dengan penuh amarah.


" Aku tidak suka, dia selalu seenaknya, hih... aku semakin tercekik " Hanna mencekik lehernya sendiri dengan ekspresi meneyeramkan sampai dia terbatuk - batuk.


" Hah... sudahlah... " Hanna pun mengambil piyama handuknya dan pergi ke kamar mandi.


Hanna sekilas melihat meja makan yang sudah tertata beberapa menu makanan di atasnya. Hanna tertarik ingin melihatnya. Satu persatu ia membuka penutup piring dan mangkuknya.


" Ekhem... katanya mau mandi !" Siwan mengagetkan Hanna dari belakang.


" Iya, aku mau mandi, sekarang !" Hanna pun masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi, entah karena terlalu lama atau memang badannya belum benar - benar fit, Hanna menggigil kedinginan. Setelah masuk ke dalam kamar, dia buru - buru mencari kaos turtleneck miliknya di tumpukan lemari. Dia pun memakai celana training panjang dan tebal serta kaos kaki.


" Ahjussi... " Hanna berteriak di pintu ambang kamarnya.


Siwan yang sedang membaca file lewat ipadnya langsung bergegas menghampirinya dengan masih menenteng ipad di tangannya.


" Ada apa ?" tanya Siwan.


" Aku menggigil, bisa bantu aku keringkan rambut ?" Hanna memasang wajah puppy eyes.


Siwan tersenyum karena melihat wajah Hanna yang lucu.


Sebelum membantu mengeringkan rambut, Siwan mengoleskan minyak angin di punggung Hanna.


" Bagian depan aku saja, ahjussi oleskan punggungku saja !!" ucap Hanna, mencegah Siwan melakukan stimulasi dadakan di tubuhnya.


Siwan tertawa terkekeh - kekeh mendengar perkataan Hanna.


Hanna mengkerut di atas kasurnya dengan memakai selimut, kepalanya di ujung kasur, sedangkan rambut panjangnya terurai ke bawah sedang di keringkan oleh Siwan yang duduk di lantai.


Setelah rambutnya kering, Siwan menyisirnya perlahan sampai rapih, lalu mengepang rambut Hanna. Meskipun hasilnya berantakan, tapi Hanna cukup puas dengan kinerjanya, yang penting rambutnya jadi rapih.


" Makan dulu, setelah itu minum obat lalu tidur " ucap Siwan.


" Gendong... " Hanna merengek bak bocah piyik.


Siwan pun menyerahkan punggungnya dengan ikhlas di hadapan kekasihnya.


Secepat kilat Hanna menggelayutkan tubuhnya dan mengunci leher Siwan hingga tercekik.


" Kau kehilangan beberapa kilo sepertinya, kau sangat ringan, aku seperti hanya menggendong tumpukan bantal " ucap Siwan.


" Ish... jahat... " Hanna mengigit telinga Siwan.


" Aww... ampun... " Siwan merasa sakit, salah satu bagian sensitif tubuhnya di kasari oleh kekasihnya.


Sesampainya di meja makan, Hanna sudah siap melahap makanan yang ada di meja. Namun...


" Stop... " Siwan menjegal tangan Hanna yang hendak mengambil sepotong ayam krispy di sebuah piring.


" Kenapa ?" kedua alis Hanna mengkerut.


" Yang ini bagianmu, itu punyaku... " Siwan menyodorkan sepiring makanan yang sudah lengkap dari mulai protein hewani dan nabati sayur, serta nasi lembek, terlihat seperti sebuah bento hanya saja sudah di pindahkan ke atas piring.


" Ih... jahat, kau sengaja mau membuatku meneteskan air liur berember - ember " ucap Hanna cemberut.


" Kau belum boleh makan yang seperti ini ' Siwan menggigit ayam krispy di hadapan Hanna ' nanti kau bisa di marahi Austin " Siwan terus menggoda Hanna.


" Oke, tidak apa, ini juga kelihatannya enak " Hanna mulai menyendok makanan ke mulutnya.


Namun, seketika ia meringis..


" Ini sama seperti makanan rumah sakit... siapa yang memasak ini, ayolah ahjussi, satu gigitan saja, aku mau itu... " tunjuk Hanna pada ayam krispy milik Siwan, dia merengek seperti anak kecil.


" Tidak bisa, aku sudah memesannya untuk besok juga, itu dari katering diet and healthy food langganan member gym di tempatku " ucap Siwan.


" What.... " Hanna terbengong - bengong.


" Rasanya aku sepertinya ingin menangis berguling - guling... hiks... " gumam Hanna.


" Oke... sabar, aku akan bersabar, demi bisa makan seblak dan cilok goangkembali, aku akan bersabar, ayo makan... hahaha... " Hanna tertawa palsu, padahal dalam hatinya sedang merana.


Saat mereka makan, bi Lastri yang baru selesai mencuci baju di atas kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan lainnya yang tertunda.


" Bi Lastri, sudah makan ?" tanya Hanna.


" Belum mbak, nanti saja ini tanggung sedikit lagi selesai " jawab bi Lastri.


" Ih... jangan nunggu perut sakit, ayo sini duduk makan bareng, mau coba makanan ini, enak sekali loh " ucap Hanna menunjuk menu makanan sehatnya.


Siwan mengedipkan matanya berkali - kali pada bi Lastri dan sedikit menggelengkan kepalanya tanpa sepengetahuan Hanna.


Bi Lastri yang paham maksud dari Siwan kembali menolak ajakan Hanna dengan dalih lupa belum mengunci pintu lantai 2. Dengan terburu - buru bi Lastri berjalan menuju tangga naik ke lantai 2.


Selesai makan, Hanna yang ingin mencuci piring langsung di tarik oleh Siwan menuju ruang tengah. Bi Lastri menahan tawa karena melihat percekcokan antara Siwan dan Hanna yang terdengar lucu.


" Duduk, istirahatlah, kau harus makan obat sebentar lagi... " Siwan mendudukkan Hanna yang terlihat cemberut, di sofa.


Hanna tidak berkomentar, dia langsung menyalakan tvnya dan fokus pada layar kaca itu. Sedangkan Siwan, dia memasang kacamatanya dan mengecek beberapa berkas yang dia keluarkan dari tas kerjanya.


Hanna mengecilkan volume tvnya, meskipun dia sedang kesal, namun dia cukup pengertian.


" Maaf ya, aku mau mengecek beberapa berkas dulu !!" ucap Siwan.


" Tidak apa ahjussi, padahal sebaiknya kau pergi ke kantor saja kalau memang sibuk, aku sudah mendingan kan, jangan terlalu cemas !" ucap Hanna.


" Aku hanya ingin terus di sampingmu, jangan hiraukan aku, kau menonton saja " mata Siwan terus tertuju pada lembaran berkas - berkas yang ada pada sebuah map.


Setelah minum obat, Hanna berbaring di pangkuan Siwan di tutupi selimut kecil yang ada di atas sofa.


Sesekali Siwan mengelus - elus kepalanya, dan mencium keningnya, dia sungguh bahagia bisa melewati masa - masa krisis hubungannya selama ini bersama Hanna. Meskipun tentang masalah terakhir dia belum membahas kembali bersama kekasihnya itu, namun dia merasa bersyukur keadaan kembali mulai normal, terlebih lagi kekasihnya mulai sembuh dari sakit yang di deritanya.


Dua jam berlalu...


Hari sudah berganti malam. Saat Hanna mulai membuka matanya, dia mendapati dirinya sudah berada di atas ranjangnya di dalam kamar.


Dia terbangun dan mencari Siwan di sekitarnya. Namun dia tidak menemukan batang hidungnya.


Hanna turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Hanna mendengar suara tv menyala.


Secepatnya Hanna menuju ruang tengah.


" Astagfirullah... " Hanna terkejut karena melihat seseorang tengah terduduk di tutupi kain berwarna putih di sofa.


" Eh, mbak, kaget ya, maaf nih bibi abis sholat maghrib langsung nonton tv, soalnya sinetron favorit udah mulai " ucap bi Lastri.


" Iya gapapa bi, santai aja !!" jawab Hanna dan duduk di sofa lainnya di sebrang bi Lastri.


" Mbak, boleh kan saya nonton sebentar aja, soalnya di rumah ini cuma ada satu tv " ucap bi Lastri.


" Udah bi, santai aja, lagian aku jarang nonton tv kalo di rumah "


Setelah itu Hanna pergi ke dapur membuat teh hangat dan mencari makanan di kulkas.


Saat melihat isi kulkas, betapa senangnya Hanna melihat ada rujak cuka miliknya masih tuh, serta nanas madu yang dia beli di supermarket sebelum hari dia jatuh sakit.


Hanna mengambil nya dan meneliti kondisi nanas yang di wrapping di kotak tersebut.


" Wah... masih segar, iihh... gemes, aku ileran gini... " ucap Hanna.


Dan, tiba - tiba...


" Mbak.. "


" Astagfirullah, bi Lastri... aku kaget... " Hanna kembali terkaget - kaget di buat bi Lastri.


" Hehe... maaf mbak, itu, ' bi Lastri menunjuk sekotak nanas potong di tangan Hanna ' mbak jangan dulu makan itu sekarang, nanti den Siwan marah sama bibi " bi Lastri memasang wajah memelas.


" Huft... nasib - nasib, sial pisan urang mah euy... " ucap Hanna. ( sial banget aku nih )


" Saya ngerti mbak, saya juga dari Jawa Barat " sahut bi Lastri.


" Wah, maenya ? ti mana ?" tanya Hanna.


" Wah, masa ? dari mana ?"


" Muhun neng, bibi ti Sukabumi " jawab bi Lastri


" Iya neng, bibi dari Sukabumi "


" Asik... aya batur nyeblak " ucap Hanna.


" Asik... ada temen makan seblak "


" Tapi neng, kata den Siwan, neng gak boleh makan sembarangan dulu sebulan ini, neng kan belum sembuh total, sakit tipes itu harus bener - bener di jaga makanan, nanti kalo kambuh lagi malah lebih parah dari sebelumnya, neng mau ?" tanya bi Lastri.


" Gak, gak mau aku, malea aku di rawat di rumah sakit lagi, serem ih... " ucap Hanna.


" Bagus kalo neng paham " raut wajah bi Lastri memberi isyarat agar Hanna kembali meletakkan sekotak nanas itu ke dalam kulaks.


" Pinter... sini, bibi udah siapin makanan di meja makan yang aman buat perut neng Hanna " ucap bi Lastri.


" Apa itu bi ?" Hanna mengikuti bi Lastri yang masih memakai mukena atasan berwarna putih itu.


Bi Lastri mengingatkan Hanna pada ibunya yang setiap selesai sholat maghrib tidak pernah melepas mukenanya sepanjang wudhunua belum batal. Biasanya menunggu hingga isya tiba, ibu selalu membaca alquran, berdzikir, atau di hari tertentu ibu juga selalu menonton tv acara favoritnya sambil menunggu adzan isya berkumandang.


" Ini bubur sumsum, gulanya asli, ada candilnya jug, ini enak loh, kalau lagi cari makanan yang aman buat perut, tanya bibi aja, selain ini masih banyak jenisnya, cuma tadi bibi kesorean pesennya, jadi cuma ada bubur sumsum, yang lainnya sudah habis " ucap bi Lastri panjang lebar.


" Wah, aku coba ya... " Hanna mulai memasukkan bubur beserta hiasannya ke dalam mangkuknya.


" Emh... enak juga, makasih ya bi " ucap Hanna.


" Iya neng, kalau mau makan dari katering juga masih ada satu kotak lagi, mau bibi siapin gak ?" tanya bi Lastri.


" Emmh... jangan, nanti aja, biar aku yang siapin sendiri, bibi sana aja nonton lagi " ucap Hanna.


" Beneran neng, gak akan makan macem - macem kan di dapur ?" tanya bi Lastri penuh curiga.


" Insyaalloh bi, aku bakal jadi anak nurut sama bi Lastri, tenang aja ya.. " ucap Hanna.


Bi Lastri pun pergi meninggalkan Hanna sendirian di meja makan.


Tidak lama kemudian, hp Hanna bergetar, Siwan menelponnya, dia meminta maaf karena pergi saat Hanna masih tertidur, dia pergi karena harus mengerjakan sesuatu yang penting. Katanya.


Hanna memaklumi nya, karena dia tahu Siwan memang sedang mengerjakan proyek baru di kantornya.


Sebetulnya Siwan ingin kembali ke rumah Hanna, hanya saja karena ada bi Lastri Siwan merasa tidak enak.


" Hihi... bi Lastri pengganti ibuku, kau harus waspada, jangan macam - macam di depannya " ucap Hanna pada Siwan di seberang sana.


" Kalau begitu aku suruh dia kembali bekerja di gym center saja, supaya aku bebas berduaan denganmu " jawab Siwan.


" Ih... ngarep, pokonya bi Lastri tidak bisa pergi dari rumahku tanpa seizinku " sahut Hanna.


" Emh... kalau begitu, kau yang membayar upahnya yaa... " timpal Siwan.


" Idih... jadi perhitungan sekarang ?" Hanna terperanjat.


" Kalau begitu bi Lastri harus menurut padaku, soalnya aku yang memberinya pekerjaan " ucap Siwan.


" Iya deh... terserah kamu, hehe... sudah ya, aku mau makan dulu, nanti aku jadi tidak fokus makan "


" Baiklah, jangan makan sembarangan ya, makan saja yang sudah ku belikan tadi, jangan lupa minum lagi obatnya " ucap Siwan.


" Siap bos... !"


" Chagiya, i love you "


Hanna merasa terkejut, seolah baru pertama kali mendengar Siwan mengucapkannya di telinganya. Iya, memang sudah lama sekali dia tidak mengucapkannya, tidak sempat karena belakangan ini masalah selalu datang bertubi - tubi.


Selama beberapa detik Siwan menunggu respon dari Hanna.


" Chagiya... " Siwan kembali memanggil Hanna.


" Ah... iya, i love you too, bye... " ucap Hanna secara terburu - buru. Lalu menutup sambungan teleponnya.