My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Petjah....



Sesampainya di depan pintu kamar, Siwan langsung masuk perlahan dan mendudukkan Hanna di atas sofa yang ada di dalam kamar.


Siwan melihat Hwan terbangun dan sedang di gantikan popok dan bajunya oleh Yasmin. Lalu fokus Siwan pun tertuju pada Hwan.


"Kau bangun pasti lapar ya ?" Siwan mendekat dan menatap Hwan dengan lembut.


Hwan kecil tersenyum memandang Siwan. Chemistry di antara keduanya nampaknya sudah terjalin semenjak pertemuan pertama mereka siang tadi.


"Iya, sepertinya Hwan kecil merasa lapar, iya kan Hwan, lihat ada papa mu disini, kau mau bermain dengannya, Hwan ?" tanya Yasmin mengajak Hwan berinteraksi.


Hanna dan Karina hanya melihat mereka dari belakang, ada kehangatan yang mampu mencairkan kedinginan hati Hanna karena rasa amarah sesaatnya pada Siwan semenjak pertemuan mereka tadi.


"Rin, sepertinya aku harus mandi dulu, badanku penuh keringat, aku harus menyusui Hwan dalam keadaan bersih, kau nanti saja mengobatiku setelah aku bersih, " ucap Hanna, lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil Handuk yang ada di gantungan pintu.


Selesai membersihkan Hwan, Yasmin pun keluar dari kamar bersama Karina setelah menitipkan Hwan pada ayahnya.


Keduanya keluar dari kamar sambil kasak kusuk setelah menutup pintunya.


"Si Hanna bakal marah gak kita biarin Hwan sama papanya di kamar ?" tanya Karina.


"Udah biarin aja, mereka berdua harus banyak berdiskusi demi kedamaian, " jawab Yasmin.


"Hah, maksudnya apaan sih ?" Karina tidak memahami apa maksud Yasmin.


"Udahlah, cuma pasangan yang udah berumah tangga yang paham apa maksud dari ucapanku, makanya cepetan kawin !!" tegas Yasmin, menyindir.


"Hih... kawin kawin, emang aku domba apa, " sergah Karina yang saat itu mereka sedang menuruni tangga.


Sesampainya di lantai 1, mereka langsung menuju ruang tengah menghampiri Rayhan, Gani, Audrey serta Elsa yang masih berkumpul disana.


Saat itu, waktu pada jam dinding menunjukkan pukul 20.30 wita.


Yasmin dan Karina bertanya tentang apa yang terjadi pada Rayhan dan Hanna juga Hwan.


Dan Rayhan pun terpaksa harus mengulangi ceritanya pada keduanya.


Sebelumnya Rayhan sempat memperkenalkan Elsa pada keduanya sebagai penolong Hanna dan Hwan yang merupakan orang kepercayaan Siwan.


Di sisi lain...


Hanna mandi dengan terburu - buru di bawah kucuran shower air hangat, ia takut Hwan rewel karena sejak petang tadi dia belum minum ASI maupun makan ataupun ngemil.


Meskipun ia merasakan sakit di tubuhnya, ia menganggapnya angin lalu dan dengan kasarnya menggosok tubuhnya dengan sabun mandi agar bersih dan wangi.


Selesai mandi, saat keluar kamar, ia melihat Siwan masih ada di dalam kamar bersama Hwan sedang duduk di atas sofa menunggunya.


Ia sedikit terkejut karena saat itu ia hanya mengenakan handuk saja dalam keadaan basah dari atas sampai bawah.


Hanna pikir di kamarnya tidak ada siapa - siapa, ia pikir Siwan dan yang lainnya membawa Hwan ke bawah.


Hanna berjalan mengendap - endap melewati Siwan berniat menuju kopernya yang ada di samping lemari sudut dekat pintu kamar.


Netra Siwan sempat tertuju padanya, pemandangan yang sudah lama sekali tidak pernah ia saksikan lagi secara langsung, kini mampu membuat dadanya kembali berdebar. Sebagai seorang pria normal, hal tersebut tentu saja mampu membangkitkan gairahnya saat itu.


Setelah buru - buru mengambil piyama dan perdalaman dari dalam koper, Hanna kembali masuk ke dalam kamar mandi dan secepat kilat mengenakan piyama tidurnya karena mendengar suara Hwan yang sudah mulai rewel kembali.


Tiga menit kemudian Hanna keluar dari dalam kamar mandi, sudah mengenakan piyama tidur pendek bermotif tie dye berwarna sweet pink berkancing depan. Rambutnya yang basah di balut oleh handuk kecil di gulung ala sarang tawon.


Ia langsung menghampiri Hwan dan duduk di samping Siwan saat itu.


"Kemari sayang, mau mimi yaa ?" Hanna melayangkan lengannya bersiap mengangkat Hwan dari genggaman Siwan.


Hwan tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak yang begitu intim di depan matanya.


Hanna mulai membuka kancing piyamanya dan mengeluarkan PD nya yang sudah sangat di nantikan oleh Hwan yang kini berada dalam dekapannya.


Hwan dengan tidak sabarnya melahap dan menghisap bagian tubuh ibunya yang menjadi favoritnya semasa iya batita.


"Apa dia membuatmu kerepotan ?" tanya Siwan.


Hanna yang sedang sibuk menyentuh dan memutar sebelah PDnya yang bengkak seketika tersadar, ia nampaknya lupa bahwa di sampingnya ada seseorang selain dirinya dan Hwan.


Ia malah dengan begitu percaya dirinya melakukan kegiatan yang bisa saja membuat Siwan salah paham saat di dekatnya. Yaitu memutar sebelah payudaranya yang bengkak karena tumpukan ASI yang belum tersalurkan sejak sore tadi.


"Tidak sama sekali, aku sangat beruntung Tuhanku mengirimkan malaikat kecil di kehidupanku, dia penyemangat hidupku, " ucap Hanna.


Siwan merasa tertegun mendengar ucapan Hanna yang mulai tenang kembali di hadapannya.


"Aku terlalu lama pergi, melewatkan moment tumbuh kembangnya, maafkan aku, tidak bisa menemanimu saat berjuang melahitkan bayi kita ke dunia ini !!" Siwan menundukkan kepalanya, merasa sedih dan menyesal.


Hanna hanya menatap ke arahnya sekilas, kemudian berpaling. Hatinya sedikit mencelos melihat ekspresi wajah Siwan yang begitu sedih.


Tanpa di sadari, tangan Hwan melayang dan bergerak - gerak ke arah Siwan.


Siwan yang menyadari hal tersebut terlihat sangat senang, kepala Siwan mendekat pada tubuh Hwan kecil.


"Ada apa sayang, kau mau bermain lagi, hemh.. ?" Siwan tersenyum sambil meraih tangan Hwan dan mencium punggung tangannya.


Hwan kecil nampak terlihat senang, matanya yang sudah sayup mengantuk terlihat berbinar kembali, senyum tersirat di wajahnya meskipun mulutnya tiada henti menghisap put*ng payudara ibunya.


"Tidurlah, sudah malam, besok kita bermain lagi, yaa... !!" ucap Siwan.


Hanna sedikit menegang kala sepersekian detik Siwan mencium pipi Hwan. Kepala Siwan sedikit menelusuk pada dadanya, terlebih lagi kedua lengan Siwan melingkar seolah ingin memeluk Hanna padahal Siwan sedang menjaga keseimbangan agar ia tidak ambruk pada Hwan yang sedang di cium olehnya.


Api amarah Hanna yang sempat berkobar sejak siang tadi mungkin sudah padam oleh guyuran air mandi di malam hari.


Seketika ia melupakan kekecewaannya pada Siwan. Ia mulai menitikkan air mata. Namun, tanpa sepengetahuan Siwan. Hanna buru - buru mengusapnya, namun tetap saja meninggalkan bekas tangisan apabila orang melihatnya secara dekat.


Siwan dengan setia menunggu Hwan sampai tertidur. Hanna pun nampaknya sudah mulai mengantuk, berkali - kali ia kehilangan keseimbangan kepalanya namun kemudian terjaga kembali saat Siwan menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


Setelah Hwan tidur, Hanna berjalan perlahan menuju ranjang kemudian menidurkan Hwan di atasnya lalu menyelimutinya.


Siwan berjalan membuka pintu kamar saat seseorang mengetuknya dari luar.


Ternyata dia Rayhan.


"Apa Hanna sudah tidur ?" taya Rayhan.


"Belum, dia baru saja menidurkan Hwan, " jawab Siwan.


"Kalau begitu ini, dia belum makan sejak sore, dia harus memakan obat yang tadi ku beli, dia pasti lebih kesakitan kalau tidak meminum obatnya !" ucap Rayhan.


"Baiklah, aku akan memastikan dia meminumnya, " ucap Siwan, menerima satu buah kantong besar berisi makan malam dan kudapan serta air minum.


Setelah Rayhan pergi, Siwan pun kembali menutup pintu kamarnya.


"Chagiya, kau harus makan, tenagamu terlalu banyak terkuras, makanlah, aku takut kau jatuh sakit," ucap Siwan dengan lirih.


Hanna yang sedang duduk di bibir ranjang pun kembali menuju sofa duduk di samping Siwan.


Kemudian Siwan pun memutuskan untuk mengoleskan salep dulu di beberapa titik di wajah Hanna serta di lehernya karena sempat tergores pisau sedikit sebelum tadi Hanna melawan musuhnya kembali.


"Akan ku pastikan tangannya patah karena berani menyentuhmu, " ucap Siwan dengan sorot mata menyeramkan.


Hanna tidak menyela ucapan Siwan, karena sejak Siwan menyentuhnya, ia merasakan hatinya semakin meronta - ronta ingin menembus pertahanan yang di ciptakan oleh Hanna sendiri.


Hanna baik Siwan merasa berdebar, keduanya dapat merasakan kehangatan nafas yang keluar dari masing - masing. Kedua mata mereka sempat saling beradu, namun Hanna terus menghindari tatapan Siwan karena masih teringat oleh rasa kesalnya meskipun rasa rindunya lebih besar pada kekasihnya itu.


"Tadi sempat ku lihat perutmu juga terluka, bisa ku periksa dulu ?" tanya Siwan.


Hanna pun membuka kancing piyamanya dan melepaskannya dari tubuh kecilnya itu.


Meskipun canggung, namun karena Hanna ingin agar Siwan segera menyelesaikan pekerjaannya itu, ia menahan rasa malunya di hadapan Siwan saat itu.


Berkali - kali tangan Siwan menyentuh kulitnya, Hanna bagaikan terkena setrum berkekuatan rendah namun mampu menggetarkan hatinya.


Mulai dari menyentuh wajahnya, lehernya, tangannya, perutnya, juga betis dan kakinya, dimana luka - luka itu berada.


Selesai mengoleskan salep pada luka di tubuh Hanna, Siwan membantu menyiapkan makan malam, dan Hanna pun mulai menyuap makan malamnya tersebut.


Hanna yang sudah terlihat lelah dan mengantuk tetap memaksakan diri agar ia tersadar dan menyuap nasi ke dalam mulutnya sebelum minum obat.


Siwan mengangkat telepon dari seseorang sebentar, lalu kemudian menutupnya.


"Apa itu telepon dari bli Aji ?" tanya Hanna.


"Ia, dia bilang, Austin sudah lewat masa kritisnya, ia sempat kehilangan banyak darah tadi, tapi sekarang dia sudah baik - baik saja, " jawab Siwan.


Hanna menjadi tidak selera makan mendengar berita tentang Austin.


"Chagiya, kau baru makan sedikit, sini aku suapi, kau harus banyak makan, nutrisi di tubuhmu harus terpenuhi supaya Hwan pun sehat, " Siwan menyodorkan satu sendok penuh nasi di depan mulut Hanna.


Dengan terpaksa Hanna membuka mulutnya dengan lebar.


"Ahjussi, boleh kutanyakan sesuatu ?" tanya Hanna.


"Tanyakan saja, bertanya itu gratis !!" Siwan menyindir Hanna yang selalu berkata seperti itu. Ia masih mengingat kebiasaan kekasihnya itu rupanya.


"Kak Oz, apa dia juga si pengkhianat itu ? orang yang sudah merekayasa kecelakaan helikopter yang kau tumpangi waktu itu ?" Hanna terlihat penasaran.


Siwan tak mampu menjawabnya. Ia hanya menatap Hanna dan mulai menunjukkan ekspresi kekecewaan.


Namun, Hanna langsung bisa menangkap sinyal itu.


"Kenapa ?" tanya Hanna kembali.


"Aku pernah membuat kesalahan padanya," jawab Siwan, kemudian menatap Hanna.


"Bukan, bukan itu maksudku, kenapa bahkan bli Aji pun tidak mau menyebut siapa orang yang sudah merekayasa dan menciptakan kesengsaraan diantara kita, apa kalian tidak mau aku pun akan merasakan kekecewaan seperti kalian ?" tanya Hanna.


Siwan menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan.


"Hal yang paling tidak bisa kita sangka adalah di khianati oleh orang terdekat kita !! pasti terasa sangay menyedihkan bukan ? kau tahu, dendamnya padaku terlalu besar," kemudian Siwan pun menceritakan awal mula mengapa Austin dendam padanya.


Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wita, namun tidak ada tanda - tanda dari Siwan yang memperlihatkan kantuk di wajahnya, dan Hanna pun kini kembali bersemangat setelah mendengarkan cerita dari Siwan.


Malam itu, kehangatan tercipta kembali di antara malam - malam yang sepi untuk waktu yang sangat lama.


Tidak dengan sentuhan, kecupan dan gairah yang menjalari keduanya, namun, kebersamaan dan obrolan hangat yang tercipta, membuat keduanya sudah merasa terobati meskipun hanya sementara.


Tanpa terasa, Hanna sudah menghabiskan makan malamnya yang terlampau sangat larut malam. Bahkan Siwan secara tidak sadar sempat memasukkan beberapa kudapan ke mulutnya sendiri karena merasakan energi di tubuhnya pun sudah berkurang.


Setelah selesai makan, Hanna mengantar Siwan ke bawah sekalian mengunci pintu villa karena ia tahu yang lain pasti sudah tidur karena waktu sudah mulai menunjukkan pukul 00.05 wita.


Siwan berpamitan dan berjanji besok akan mengantar Hanna dan Hwan ke bandara.


Sebelum Siwan benar - benar pergi, Hanna melangakah maju ke depan dan membuat langkah Siwan terhenti.


Hanna memeluk tubuh Siwan dari belakang.


"Ahjussi, terimakasih !!" ucap Hanna.


Siwan melepaskan lengan Hanna yang melingkar di tubuhnya kemudian berbalik arah ke belakang.


"Terima kasih, karena kau masih hidup !!" sambung Hanna.


Siwan yang sudah kembali luluh pun akhirnya menarik Hanna ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu, chagiya !! aku ingin selalu berada di dekatmu, selalu, tapi tidak untuk saat ini, maafkan aku !!" ucap Siwan, melonggarkan pelukannya.


Ia sekuat tenaga menahan emosi perasaannya yang meletup - letup semenjak pertemuannya dengan kekasihnya itu. Rasa ingin memeluk dan mencium kekasihnya yang sudah sejak lama ia idamkan.


Siwan terus saja menahan apa yang di inginkan hatinya itu karena takut akan menggoyahkan tekadnya yang ingin menuntaskan masalahnya dengan para musuhnya di bandingkan keinginannya untuk berkumpul bersama orang - orang terkasihnya.


Kemudian Hanna berkata, "aku akan menunggumu, selama apapun waktu yang kau inginkan, aku akan tetap menunggumu menjemputku, menjemput kita, aku dan Hwan akan menunggumu,"


"Aku akan berhati - hati, aku tidak akan ceroboh lagi, secepatnya aku akan datang padamu, dan anak kita, "


Kemudian Siwan mencium Hanna, mencium bibir yang sejak tadi selalu mengganggu pikirannya dan hasratnya.


Di depan pintu villa malam itu, di bawah cahaya lampu temaram dan bulan yang menjadi saksi, Hanna dan Siwan kembali memulai menautkan hati mereka yang sempat terpecah dan terpisah oleh ruang dan waktu.


Siwan dan Hanna berciuman dalam waktu yang sangat lama.


Beberapa penjaga yang di tugaskan oleh Siwan untuk berjaga di sekitar pun mengalihkan penglihatan mereka ke arah lainnya karena merasa kikuk sendiri melihat kemesraan bos mereka bersama kekasihnya. Bukan, mereka tahunya Hanna adalah istri bosnya.


Hanna dan Siwan nampak lupa bahwa di sekeliling mereka kini ada beberapa mata yang bertugas menjaga keamanannya dari beberapa sudut, baik dari bawah, maupun dari atas.


Mereka berdua begitu menikmati gairah kerinduan mereka yang baru tersampaikan malam itu.


Pelukan dan ciuman Hanna dan Siwan malam itu menjadi pertanda awal kehidupan bahagia yang kini sudah berada di depan mata kembali.


...***...


Berharap seperti itu.


Jangan sampai othornya kesambet jin tomang dan mengobrak abrik kehidupan romantis mereka lagi.


Cukup lah mereka menderita selama hampir dua tahun ke belakang.


Viss


Jangan lupa dukungannya yaa


Ini bonus buat kalian semua, hari ini up 2 bab cukup yaa. Hehe...