My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Kembali



" Selamat pagi, nona Hanna... " ucap seorang pria berkacamata memakai seragam dokter dan melingkarkan stetoskop di lehernya.


" Pa-gi, pak dokter !!" ucap Hanna.


" Wah, pagi - pagi sudah mesra sekali pasangan yang satu ini " ucap sang dokter menggoda.


Hanna dan Aji merasa malu mendengar perkataan sang dokter.


Aji menurunkan Hanna di atas ranjangnya kembali. Dan, mengatur posisi nya senyaman mungkin.


" Saya periksa dulu ya... " ucap sang dokter.


Aji berdiri di samping ranjang Hanna memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang memeriksa Hanna.


Saat dokter meminta Hanna membuka kancing piyama nya untuk memeriksa dadanya, Hanna langsung melirik pada Aji.


" Tidak apa, saya hanya mau memeriksa kondisi dadamu, kemarin kau menghantam mobil dengan keras, saya takut benturan yang terjadi di dadamu terlihat parah " ucap sang dokter.


Aji mampu menangkap sinyal dari raut wajah Hanna. Ia langsung pamit pada Hanna, akan menunggu hingga proses pemeriksaan selesai.


Saat Hanna sudah memastikan Aji keluar dari ruangan itu, ia pun mulai membuka kancing atas piyamanya.


" Kau terlihat masih malu - malu di hadapan pasanganmu, apa kalian pasangan baru ?" tanya sang dokter.


" Dia bukan pacarku dok, bli sudah ku anggap sebagai kakakku !!" jawab Hanna.


Aji yang merapatkan telinganya di pintu luar, sehingga mampu mendengar pembicaraan mereka, karena sebetulnya dia tidak menutup secara rapat pintu ruang kamarnya.


Hatinya merasa sakit mendengarnya.


" Kenapa seperti ini rasanya, padahal aku memang bukan siapa - siapa, dia hanya menganggapku seorang kakak pun harusnya aku merasa tersanjung " gumam Aji yang kini sedang duduk dan bersandar di kursi dekat pintu.


Selesai pemeriksaan, setelah dokter keluar, Aji pun masuk kembali ke dalam ruangan dengan membawa satu nampan berisi jatah sarapan pagi dan snack milik pasien.


" Makanlah, kau harus minum obat nanti !!" seru Aji.


Hanna pun berusaha sekuat tenaga menyendok makanan ke mulutnya sendiri, ia tidak mau di suapi meskipun tangan kanannya sedang sakit. Ia tidak mau menambah kecanggungan lagi di antara mereka.


Aji duduk di kursi di samping ranjang Hanna sambil mengecek pekerjaan lewat ipad nya.


" Bli, kau juga harus sarapan !!" seru Hanna.


" Nanti saja, sebentar lagi bi Asih akan kemari membawa bekal untukku dan baju ganti untukmu " jawab Aji.


" Maaf ya, aku selalu merepotkan !!" ucap Hanna menundukkan kepalanya selama beberapa detik.


Aji hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada ipad nya.


" Tidak apa, kau makan saja yang banyak !!" ucap Aji.


Hanna masih tertunduk di atas piringnya, ternyata, dia sedang meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Aji awalnya.


Lalu, tidak lama kemudian Aji yang baru menyadari keanehan yang terjadi pada Hanna pun merasa terkejut. Ia mendapati Hanna sedang menangis tersedu - sedu tanpa suara.


Aji langsung menyimpan ipadnya di atas nakas dan refleks memeluk Hanna.


" Sudahlah, bersabarlah, dia sedang dalam perjalanan menuju kemari !!" ucap Aji mencoba menghibur Hanna. Ia terus mengusap kepala Hanna. Ia tidak pandai merangkai kata sebagai bentuk penghiburan bagi siapapun. Makanya ia hanya diam dan fokus membelai rambut dan kepala Hanna selama beberapa menit.


Tanpa disadari, di belakang mereka kini berdiri seseorang, matanya menatap tajam ke arah keduanya yang sedang berpelukan.


" Ji... " suara seorang wanita paruh baya membuat Aji dan Hanna terkejut dan gelagapan.


" Bi Asih... !!" ucap Hanna.


Bi Asih yang berada di ambang pintu pun berjalan mendekat pada ranjang Hanna, dia menyerahkan barang bawaanya pada Aji, berupa satu tas berukuran sedang dan satu rantang makanan.


" Kenapa menangis cah ayu ?" tanya bi Asih yang kini berada di samping Hanna dan mengusap air mata di pipinya.


" Bi... " ucap Hanna lalu memeluk bi Asih dengan erat.


" Kenapa nduk, cerita sama bibi... !!" seru bi Asih.


Namun, Hanna tidak kunjung berbicara sepatah kata pun. Nampan yang berada di pangkuannya kini sudah di pindahkan ke atas meja oleh Aji.


Selama beberapa detik Hanna memeluk bi Asih, lalu melepaskan pelukannya perlahan setelah hatinya merasa tenang.


" Yasudah kalau tidak mau bercerita, lanjutkan sarapanmu ya, kau baru makan sedikit kan, biar bibi yang suapi " ucap bi Asih.


Aji menyerahkan kembali nampan makanan pada bi Asih.


" Kau juga Ji, sarapan dulu, bibi sudah masak untukmu !!" seru bi Asih.


" Baik bi, terima kasih !!" jawab Aji dan duduk di kursi meja makan menyantap bekal yang di bawa oleh bi Asih.


Setelah selesai makan, selang beberapa detik Hanna mulai minum obat. Sambil mendengarkan cerita dari bi Asih, ia merasa reaksi obat menjalar di sekujur tubuhnya, ia meras lemas, matanya semakin berat untuk berkedip, dan tidak lama kemudian, Hanna pun tertidur. Bi Asih menyelimutinya, dan meminta Aji membetulkan kembali posisi ranjangnya seperti semula.


" Apa den Wan dalam perjalanan kemari ?" tanya bi Asih.


" Iya, dia baru mendapat tiket penerbangan tadi subuh bi, mungkin beberapa jam lagi dia sampai " jawab Aji.


" Kalau kau mau mandi dulu, pulanglah, bibi yang akan menjaganya di sini " ucap bi Asih.


" Baiklah, aku hanya akan mandi dan ganti baju, secepatnya aku akan kembali " sahut Aji. Lalu berjalan menuju pintu, keluar dari ruang kamar tersebut.


1 jam kemudian, Hanna mulai terbangun kembali dari tidurnya, karena dia mimpi begitu seram, jadi ia terbangun seperti orang linglung. Tubuhnya berkeringat.


Bi Asih yang duduk di sofa melihat Hanna nampak begitu ketakutan, ia langsung menghampiri Hanna secepat kilat.


" Kenapa cah Ayu ?" tanya bi Asih.


" Aku... ' Hanna menelan ludah, ' aku mimpi seram bi " ucap Hanna.


" Ini, minum dulu, nduk !!" ucap bi Asih, menyodorkan segelas air putih pada Hanna.


Bi Asih pun kembali menaikan ranjang sedikit supaya Hanna merasa nyaman saat bersandar.


" Baju mu basah nduk, mau ganti baju ?" tanya bi Asih.


" Boleh bi, maaf yaa merepotkan !!" ucap Hanna.


" Tidak apa " jawab bi Asih lalu mengambil tas milik Hanna dan mengeluarkan satu setel baju dan membantu Hanna menggantinya. Sebelumnya bi Asih membantu menyeka keringat di wajah dan tubuh Hanna dengan air hangat yang sudah di sediakan pada sebuah baskom.


Bahkan bi Asih membantu mengepang rambut Hanna yang panjang agar terlihat rapih. Setelah itu Hanna memakai sedikit riasan dan parfum.


" Duh, cantiknya, wangi lagi... pasti karena mau ketemu pujaan hati !!" ucap bi Asih.


Namun, Hanna hanya sedikit tersenyum mendengar ucapan bi Asih, dan raut wajahnya kembali sedih.


" Lho... kenapa nduk, tenang saja, den Wan sedang dalam perjalanan kemari " ucap bi Asih.


Hanna mulai tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.


" Non, boleh bibi bertanya ?" tanya bi Asih.


" Silahkan bi... " jawab Hanna.


" Beberapa waktu yang lalu, apa nyonya berkunjung ke rumahnu ?" tanya bi Asih.


Hanna menganggukkan kepalanya.


" Maaf ya, dia memaksa bibi, meminta alamat rumahmu !!" ucap bi Asih.


" Aku malah berpikir beliau tahu alamatku bukan dari bi Asih, tidak apa - apa bi !!" sahut Hanna.


" Apa yang terjadi, apa nyonya mengatakan sesuatu ?" tanya bi Asih.


" Se-suatu, seperti apa maksudnya bi ?" tanya Hanna.


Bi Asih tidak menjawabnya, ia hanya mencoba memalingkan wajah dari tatapan Hanna.


" Bi, tidak apa - apa, tidak usah merasa bersalah seperti itu, apa mungkin ahjussi maupun bli dan kak Os tidak tahu ibu datang ke tempatku waktu itu ?" tanya Hanna.


" Mereka tidak tahu, apalagi den Wan, kalau sampai dia tahu, mungkin dia sudah berpikir nyonya sedang berusaha memisahkan kalian berdua " ucap bi Asih dengan nada merasa menyesal.


" Bibi hanya akan selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatan kalian !!" ucap bi Asih.


" Terima kasih banyak bi !!" ucap Hanna.


Lalu, sepersekian detik, seseorang mengetuk pintu kamar, dan menggeser pintu yang tidak terlalu tertutup itu perlahan.


Saat Hanna melirik ke arah pintu, ia begitu terkejut, yang ia tatap saat itu adalah orang yang baru saja mereka bicarakan, antara rindu dan cemas berkecamuk di dalam hatinya. Namun, ia berharap bahwa Siwan tidak mendengar percakapan antara dirinya dan bi Asih barusan.


" Ah-ju-ssi... " ucap Hanna terbata - bata.


Siwan berjalan mendekat dengan penuh senyuman.


Bi Asih pun nampak terkejut, ia berpikiran yang sama dengan Hanna. Saat Siwan sudah berada di pinggir ranjang, bi Asih pun mundur perlahan, dan meninggalkan mereka berdua di ruangan.


Siwan tak mampu menahan lagi perasaannya, ia langsung memeluk Hanna dengan erat, lalu tanpa terasa air mata sudah mulai memenuhi sudut kedua matanya.


" Chagiya, maafkan aku... !!" ucap Siwan.


" Ahjussi, aku masih hidup, aku baik - baik saja !!" jawab Hanna.


" Maaf, aku baru menemuimu sekarang, aku bahkan tidak mengabarimu sedetikpun selama berhari - hari, aku tidak akan melakukannya lagi, maafkan aku !!" ucap Siwan.


" Ahjussi, tidak apa - apa, aku tahu kau sedang sangat sibuk, bli menceritakan semuanya padaku, dan aku percaya padanya terutama padamu, aku mempercayaimu, ahjussi !!" ucap Hanna.


Siwan melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


" Jangan menangis, kau sudah tua, harga dirimu turun satu tingkat di depanku !!" ucap Hanna.


Siwan pun tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Hanna.


" Beberapa hari tidak bertemu, kau terlihat sangat cantik, apa bi Asih yang membantu mengepang rambutmu ?" tanya Siwan sambil memainkan ujung rambut Hanna.


Hanna hanya menganggukan kepalanya. Dan menatap Siwan penuh kerinduan.


Siwan pun sama, ia menatap Hanna begitu dalam, hingga ia tak tahan lagi rasanya menahan gairahnya pada kekasihnya lalu mencium bibirnya dengan penuh kemesraan.


Hanna membalas ciumannya, ia pun merasakan rindu yang menggebu pada kekasihnya.


Hingga tanpa mereka sadari, di amabang pintu, seseorang hampir menerobos masuk ke dalam ruang kamar itu. Namun, kakinya yang baru satu langkah pun ia tarik kembali, berjalan mundur dan menutup pintu dengan rapat.


Ia menghela nafas dengan kasar lalu terduduk di kursi panjang yang ada di samping luar kamar.


" Ji, kenapa tidak masuk ?" tanya bi Asih yang tiba - tiba sudah berada di hadapannya.


" Sstt.... biarkan saja mereka berduaan dulu bi !!" sahut Aji dengan nada lemas.


Bi Asih yang paham akan permintaan Aji pun kini duduk di sampingnya.


" Sebaiknya kau harus mempertegas batasanmu pada nona Hanna, kau mengerti kan maksudku ?" tanya bi Asih.


" Apa bi Asih tahu bagaimana perasaanku ?" tanya Aji balik.


" Kau pun berhak bahagia Ji, tapi mungkin kau belum menemukan wanita yang tepat, dia, hanya seseorang yang kau jaga, tapi bukan milikmu !!" ucap bi Asih.


Aji nampak sangat mengerti setiap arti di balik kata yang bi Asih ucapakam padanya. Ia tidak menimpalinya, kepalanya bersandar pada tembok, ia tersenyum lalu tertawa dengan seringai seperti seorang psikopat.


Hatinya merasa sudah kalah sebelum memasuki medan perang, ia benar - benar harus merelakan lagi perasaannya kali ini. Karena dia sendiri tahu, bahwa memang tidak ada sedikitpun kesempatan untuknya melanjutkan perasaannya pada wanita itu, pada Hanna.


Setelah beberapa menit menunggu, bi Asih mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu. Ia rasa situasi sudah cukup aman baginya dan Aji untuk masuk ke dalam ruangan.


Hanna kini sedang mengobrol santai bersama Siwan. Ia melupakan sejenak apa yang menjadi kekhawatiran nya akhir - akhir ini. Saat bersama Siwan, setidaknya ia ingin menikmati waktu sebaik mungkin.


" Nduk, waktunya makan siang !!" ucap bi Asih yang berada di ambang pintu membawa nampan berisi menu utama dan snack. Aji mengikuti nya dari belakang.


" Ji, terima kasih banyak kau sudah membantu ku menjaganya !!" ucap Siwan pada Aji yang kini sudah berada di sampingnya.


" Maaf kak, aku bahkan tidak menjaganya dengan baik, dia celaka saat dalam pengawasan ku !!" ucap Aji.


" Kau bukan Tuhan, semuanya sudah terjadi sesuai kehendak Tuhan, tidak usah merasa bersalah !!" seru Siwan.


" Iya bli, aku sendiri yang tidak berhati - hati, jangan terus - terusan merasa bersalah begitu " timpal Hanna.


Beberapa menit kemudian, Aji dan bi Asih pamit pulang, Siwan mengingatkan mereka untuk makan siang.


Kini, yang menemani Hanna di rumah sakit adalah Siwan.


" Ahjussi, kau juga pasti belum makan siang kan ?" tanya Hanna.


" Sebentar lagi, Os akan mengirim kemari " jawab Siwan.


" Ahjussi, bli dan kak Os sangat perhatian padaku, aku sampai tidak enak hati selalu merepotkan mereka, bahkan kemarin malam, seharusnya kak Os sudah pulang dan tidur lelap di rumah, tapi sepertinya bli menelponnya saat terjadi kecelakaan malam itu !!" ucap Hanna.


" Mereka tulus melakukannya, kau sangat beruntung " sahut Siwan.


...****...


Beberapa jam yang lalu, saat sedang pemeriksaan dokter berlangsung, Hanna seperti sedang di wawancara oleh sang dokter. Dia yang notabene nya adalah teman Austin seolah membanggakan Austin yang mau terburu - buru datang kemari untuk menemuinya padahal dia baru saja pulang dari rumah sakit menyelesaikan operasi besarnya.


Hanna pun jadi tertarik ingin mengetahui kronologis yang sebenarnya, karena setahunya, kemarin malam Austin hanya memberitahu nya kalau dia sedan bertugas jaga malam.


Hanna seketika merasa bersalah, sekaligus senang mendapat perhatian dari Austin yang sudah ia anggap seperti seorang kakak. Meskipun mereka kadang selalu terlihat seperti sedang cek cok, namun hati mereka saling menyayangi.


" Kak Os pasti saat ini masih tidur pulas, pasti dia tidak bangun sejak kemarin pulang menemuiku " gumam Hanna lalu tersenyum.


Di sisi lain...


Saat itu, pukul 07.30 wita, Austin memang masih tidur dengan posisi yang tak karuan di ranjang khusus istirahat para dokter di rumah sakit. Sepertinya dia tidak pulang karena sangat kelelahan.


...*****...


" Jadi... bagaimana pekerjaan mu di Seoul ?" tanya Hanna mencoba mencari topik pembicaraan lainnya.


" Lancar, hampir selesai, tapi adikku sudah bisa mengatasinya sekarang, aku memang berencana pulang besok, tadinya !!" jawab Siwan.


" Maaf ya, membuatmu cemas !!" ucap Hanna.


" Tidak apa, aku lebih cemas saat kau tidak memberiku kabar sedikitpun " sahut Siwan.


" Kau yang tidak meneleponku, bahkan biasanya kau selalu mengajakku video call, apa semarah itu padaku saat itu ?" tanya Hanna menggoda Siwan.


" Jujur saja, aku tidak suka mendengarmu membicarakan wanita lain, di hatiku hanya ada dirimu, kau tidak percaya padaku ? kau bahkan membahas tentang perpisahan, aku sedang mengusahakan untuk tidak berpisah darimu !!" ucap Siwan penuh penekanan.


" Bagaimana, caranya bagaimana ? apa kau sudah tahu caranya ?" tanya Hanna sangat penasaran.


" Caranya.... " Siwan menggantung perkataannya dengan sengaja.


" Apa ?" mata Hanna nampak berbinar, bagaikan seekor kucing yang sedang mengharap sentuhan dari sang tuan.


" Aku, akan menculikmu, membawamu pergi jauh hingga tidak ada orang yang mengenalimu dan diriku " ucap Siwan dengan raut wajah yang serius.


" Serius ?" tanya Hanna. Tanpa di sadari bulu kuduk nya berdiri, ia merasa ngeri mendengar pernyataan Siwan.


" Dua rius !! i swear !!" ucap Siwan.


Hanna terpaku seketika, wajahnya jadi pucat. Ia tahu, Siwan adalah orang yang mungkin saja akan melakukan hal seperti itu.


Hahahaha.....


Siwan tertawa melihat ekspresi wajah tegang kekasihnya.


" Ih... kau, bercandamu tidak lucu, ahjussi !!" ucap Hanna merasa kesal karena Siwan berhasil menggodanya.


" Seandainya tanganku tidak sedang sakit, aku pasti sudah meninjumu sedari tadi " ucap Hanna.


" Seandainya tubuhmu sedang tidak sakit, aku pasti sudah menggelitik perutmu sedari tadi " timpal Siwan.


Mereka berdua nampak masih bersenda gurau satu sama lainnya, hingga terdengar suara ketukan di pintu kamarnya, barulah mereka menghentikannya dan terdiam sesaat.


" Permisi.... boleh kami masuk ?" tanya seseorang di ambang pintu.