
Sesampainya di depan pintu kost, aku beberapa kali mengetuk pintu kamarnya, dan tidak lama kemudian seseorang membuka pintunya.
" Kak Mila..." aku hanya menatap wajahnya dan tercengang.
Raut mukanya seperti orang yang baru bangun tidur.
" Hanna, ayo masuklah. " Ajak Mila.
Aku pun langsung masuk ke dalam. Pikiranku sudah kacau saat itu, melihat Mila ada disana aku jadi berpikiran hal - hal aneh, apa mungkin dia pacarnya Rayhan. Sejak kemarin dia ada disini.
" Apa Rey sudah tidur ?" tanyaku padanya.
" Tadi sih, sepertinya dia sudah tidur, kamu lihat saja ke dalam. "
Aku membuka pintu kamar Rayhan perlahan, dan ternyata dia sudah tertidur.
" Bagaiman kondisinya sekarang ?" tanyaku pada Mila sambil menutup pintu kamar Rayhan.
" Sudah cukup baik, terimakasih banyak ya, saat aku tidak ada, kamu sudah menjaga Rey, bahkan membersihkan tempatnya. Kamu memang sangat baik, seperti yang selalu Rey ceritakan padaku." Ucap Mila.
" Aku tidak mengerti, apa kau teman dekatnya di kantor, sampai Rey menceritakan tentangku, padamu ?" tanyaku penasaran.
" Aku, pacarnya. Kami baru dua bulan menjalin hubungan serius, apa Rey belum sempat bercerita padamu ?"
Waw... astaga... seketika aku merasa bagai di sambar petir di malam yang gelap gulita ini. Suasana ruangan di sekitarku mendadak menjadi gelap dan petir menyambar dari segala penjuru arah.
Tapi aku hanya mematung, tetap diam membeku di posisiku saat itu.
" Hai.. Hanna.. Han.. Hellow.. " Mila melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajahku. Dan akupun tersadar.
" Oh..maaf, begitu ya, kalian ternyata pacaran. "
Aku berhenti dan berfikir sejenak, lalu..
" Kalau begitu, aku sebaiknya sekarang pulang, syukurlah kalau memang kondisi Rey sudah baik - baik saja. "
Aku langsung pergi dari hadapan Mila saat itu juga. Aku langsung pulang menuju tempat kostku sendiri, sambil berlari menahan air mata.
Sesampainya di dalam kamar tidur di tempat kostku, aku langsung menangis sekencangnya hingga, bantal dan gulingku basah dan banjir air mata. Aku merasakan hatiku sangat sakit, dari awal aku memang sudah curiga sejak melihat ada seorang wanita di kostan Rey.
Setahuku dia tidak mungkin sembarangan mengajak teman wanita yang baru dia kenal, masuk ke dalam tempat kostnya, apalagi kamarnya. Setahuku, hanya aku teman wanita yang dekat dengannya, dan beberpa kali masuk ke tempat kostnya.
Aku benar - benar menjadi wanita yang paling tahu segalanya, padahal sebetulnya tidak tahu apa - apa sama sekali.
Dan, aku tertawa seperti orang gila. Lalu aku lanjut menangis lagi, entah berapa lama sampai aku benar - benar tertidur lelap.
Esok harinya, seperti biasa alarm jam beker ku selalu berbunyi tepat pukul 05.00 Wita. Aku langsung terbangun dan pergi mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Selesai sholat subuh, aku berdzikir dan berdoa. Aku meminta pada Alloh, agar menghapus rasa cintaku terhadap Rayhan mulai saat ini, aku memintanya dengan sangat serius. Setelah mengucapkan aamiin lalu aku bersujud di atas sajadahku dan menangis lagi sejadinya.
Hingga, tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu tempat kostku. Aku langsung berlari membukanya dan ternyata, dia kak Siska, aku langsung memeluknya dengan erat sambil menangis. Masih dengan memakai mukena ku saat itu.
Lalu kak Siska masuk dan membawaku ke dalam kamar.
" Ada apa sih? Aku kaget tau !!"
" Kak, aku sedih..." aku berhenti sebentar untuk mengelap air mata dan ingusku dengan mukena.
" Ih... jorok. " Ucap kak Siska meringis.
" Ada apa sih ?" tanyanya.
" Rayhan kak... " dan aku menjelaskan semua perkara yang membuatku sampai bersedih dan menangis.
" Dasar buaya... pendusta... breng**k " ucap kak Siska dengan nada kesal.
" Kak, jangan bicara kayak gitu. " Ucapku.
" Gak usah belain dia terus. Udah, kamu lupain aja. Dia, bukan orang yang tepat buat kamu. Kamu terlalu baik. Aku kesal sebenernya selama ini. Udah lah, pokonya lupain aja. Dia cuma bisa bikin kamu sedih aja dari dulu, heran aku.... " dengan nada emosi kak Siska berbicara panjang lebar padaku.
" Iya, terus kak Siska mau apa subuh - subuh gini ke kamarku ?" tanyaku sambil menyeka air mata.
" Ya ampun, tuh kan lupa, aku mau minta odol, punyaku habis, atau kau punya cadangan, aku pinjam dulu nanti ku ganti. "
" Ada, tunggu ya. "
Aku mengambil stok odol di salah satu laci di dapurku dan memberikannya pada kak Siska. Dia lalu pergi bersiap - siap untuk mandi dan pergi kerja.
" Ingat ya... lupakan.. lupakan.. dan lupakan, masih banyak pria tampan dan baik hati di dunia ini. So... keep smile, sweety !!"
" Oke.. oke.. udah sana buruan nanti telat loh. " Sahutku.
Setelah kak Siska keluar dari ruang kost ku, aku menyimpan mukena ku kedalam keranjang cucian, aku berniat untuk mencuci baju dan membereskan ruang kostku saja, di hari liburku kali ini.
Aku teringat pada paman yang sempat mengajakku pergi jalan - jalan hari ini, tapi aku juga ingat bahwa, aku sedang kesal padanya. Di sisi lain aku juga merasa bersalah padanya, aku kemarin terbawa emosi.
"Ah.. sudahlah.. " Aku melanjutkan pekerjaanku saat itu.
Setelah selesai, aku bersiap - siap untuk bersantai sambil menikmati sarapan pagi dan menonton tv. Tapi aku tiba - tiba teringat bahwa hari ini belum sempat memeriksa hpku, eh bukan, hp orang yang sedang ku pinjam. Aku memeriksanya takut ada pesan masuk padaku.
Dan ternyata memang ada, paman mengirimku pesan semalam.
Ahjussi..
Maaf, aku hanya khawatir kau jatuh sakit. Aku takut kau kelelahan. Tolong jaga juga kesehatanmu. Sekali lagi, aku minta maaf.
23.59 Wita
Ahjussi, aku yang seharusnya minta maaf karena semalam aku terbawa emosi. Aku salah paham padamu. Terima kasih sudah mencemaskanku.
07.30 Wita
Tidak lama kemudian, paman menelponku. Dan dengan cepat aku mengangkat telponnya.
" Hallo, kau sudah bangun? " suara dari sebrang sana terdengar parau.
" Aku sudah bangun dari jam 5 pagi, sudah selesai mencuci dan membereskan ruanganku, sekarang sedang sarapan. Ahjussi, kau baru bangun tidur ?"
" Iya, aku baru bangun. Bagaimana keadaan temanmu sekarang?"
" Dia sudah sehat. Kemarin aku hanya menemuinya sebentar lalu pulang lagi ke kostanku. "
" Oh.. syukurlah, kalau begitu, apa kau mau pergi jalan denganku ? tapi aku tidak memaksamu kalau memang kau tidak mau. "
" Tidak, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku di rumah, aku bisa pergi denganmu hari ini. "
" Baiklah, nanti ku jemput sekitar dua jam lagi ya, aku mandi dulu. "
" Oke, jangan lupa sarapan ya, ahjussi !!"
" Siyap."
Klik, terdengar tombol tanda panggilan berakhir dari sebrang sana. Aku langsung tersenyum dan merasa bahagia. Entah perasaan macam apa yang ku rasakan saat itu.
Aku lanjut menikmati sarapanku dengan santai sambil menelpon ibuku di Bandung. Aku menanyakan kabar semua keluargaku disana. Setiap aku libur, aku selalu menelpon ibuku walau hanya sebentar, selebihnya aku dan ibuku selalu saling mengirim pesan lewat whatsupp.
Dua jam sudah berlalu, aku sedang menunggu paman di depan gerbang kostan ku. Karena beberapa menit yang lalu, dia menelponku, memberitahu bahwa dia sebentar lagi akan sampai.
Tiiidiiittt...
Suara klakson mobil, membuyarkan lamunan ku.
" Masuklah !!" Ahjussi turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
Seperti biasa, dia selalu terlihat rapih walaupun hanya memakai celana blue jeans dan kaos berkerah berwarna abu - abu muda.
" Ahjussi, kau potong rambut, ya ?" aku baru menyadari bahwa rambutnya terlihat agak pendek.
" Hanya sedikit, aku merapihkan bagian pinggir dan belakang nya saja. " Jawabnya.
Aku hanya tersenyum melihatnya yang terlihat lebih fresh.
Kami pergi mengelilingi kota, singgah ke beberapa tempat yang menjadi lokasi tujuan para wisatawan asing maupun domestik. Lalu membeli beberapa jajanan pasar para pedagang kaki lima di sekitar sana.
Saat sedang beristirahat sambil menikmati hasil jajanan kami, paman bertanya padaku.
" Kemarin, kenapa tidak mengangkat teleponku ?"
" Jam berapa ? aku tidak melihat ada panggilan masuk. " Jawabku.
" Sekitar... jam 5 sore, apa kau sedang istirahat atau masih jam bekerja aku hanya mengira - ngira. "
Oh... jadi, orang yang menelponku sebelum insiden hpku remuk itu adalah paman. Aku saat itu memang belum sempat menyentuh hpku dan melihat siapa orang yang menelpon.
Akupun menceritakan kejadian yang terjadi kemarin.
" Oh.. seperti itu, baiklah, ayo, sekarang, kita pergi ke toko hp. Aku akan membelikan hp baru untukmu. Nanti, kau kembalikan saja hp milik orang itu. " Ucap paman.
" Ih... jangan begitu, aku tidak mau, aku memang sudah berniat mengganti hpku. Tapi nanti, setelah aku menerima uang gaji bulan ini, aku ada tabungan kok, hanya masih kurang sedikit dari targetku. " Jawabku.
" Oke, kalau begitu, nanti kau bayar setelah uangnya terkumpul. Sekarang, aku yang akan membelikanmu dulu, aku khawatir tentang pria itu. Kau bahkan belum mengenalnya kan, jangan mudah percaya pada orang lain. "
" Emh.. aku malu padamu, ahjussi, kau sangat baik padaku. "
" Aku ikhlas membantumu. Aku hanya khawatir pria yang meminjamkan hp itu, bukan orang baik - baik. "
Lalu, kini kami sedang berada di dalam mobil, paman membawaku menuju sebuah lokasi, dia bilang akan membawaku ke sebuah toko hp milik temannya di Plaza.
Namun, di perjalanan, salah satu ban mobilnya meletus, untung saja paman mengendarai mobilnya pelan - pelan karena saat itu sedang turun hujan.
Sebetulnya, saat itu ada ban cadangan dan alat - alat lainnya di bagasi. Hanya saja, saat itu hujan turun sangat deras. Paman menghentikan mobilnya di pinggir jalan di bawah pepohonan rindang.
Aku meyuruhnya untuk menunggu saja, sampai nanti hujannya reda baru menggantikan ban mobilnya itu.
Di dalam mobil, paman mengajakku berbincang - bincang, kami bahkan sempat tertawa bersama. Ternyata dia orangnya humoris juga, bagiku, tidak ada kesan bahwa dia ini seorang gangster menyeramkan.
Sampai suatu ketika, karena merasa lelah kami terdiam sebentar sambil menatap air hujan dari dalam kaca jendela mobil.
" Ahjussi, kau sangat baik padaku, aku bahkan sampai bingung, apa kau memiliki tujuan tertentu terhadapku... ?" tanyaku.
" Tujuan, seperti apa maksudnya ? paman balik bertanya padaku.
" Ya, seperti, misalnya, apa kau sedang berusaha menarik perhatiannku ?"
Paman lalu menatapku sangat dalam selama beberapa detik, dan berkata...
" Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak akan memaksa, aku akan menunggumu. "
Aku merasa sangat tersentuh dengan kata -katanya itu. Aku balas menatapnya secara mendalam, selama beberapa detik kami saling berpandangan.
Lalu, tiba - tiba....