My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Hanna with her new life



Di sudut kota lainnya pada tanggal 1 januari 2018


Pukul 06.00 wib...


Seorang bayi laki - laki terbangun dari tidurnya, di atas ranjang berukuran 180x200 cm itu dia hanya terdiam menatap wajah ibunya yang masih terlelap tidur di sampingnya.


"Aish... cucuku sudah bangun, pinter sekali ya, bangun tidur gak rewel, gak nangis, anteng sendiri liatin bubunya masih tidur nyenyak, sini yuk, sama nenek aja... !"


Tiba - tiba suara seorang wanita tua membuyarkan aktivitas paginya yang tengah asyik memandangi wajah malaikat hatinya.


"Yuk, sini, kita menghirup udara segar di pagi hari sama nenek aja yuk, bubu mu masih tidur," wanita tua itu mengangkat bayi itu dari atas ranjang.


Namun, baru juga hendak melangkah pergi, bayi itu mulai menunjukkan raut wajah sedih dan mulai menangis.


"Kenapa sayang, gak mau di gendong nenek hem... " bayi itu menangis semakin kencang.


Sang ibu yang tertidur lelap pun mulai bergerak dan menggeliat dari posisi tidurnya.


"Ada apa Hwan ?" ucapnya, dia adalah Hanna, ibu dari sang bayi yang bernama Hwan.


"Ada apa ada apa, cepet bangun lu, nih Hwan laper kayaknya mau nyusu, " wanita tua itu adalah bu Hani, ibu dari Hanna, neneknya Hwan.


Hwan di tidurkan kembali oleh bu Hani di samping Hanna.


"Sini yuk, mimi dulu oke, tidur lagi ya, masih pagi ini sayang... !" ucap Hanna dengan mata setengah terbuka karena masih merasakan kantuk yang begitu hebat.


"Ibu bilang juga apa, jangan pulang terlalu larut, kayak anak muda aja pesta tahun baruan gak inget waktu, kasihan Hwan dari malem rewel tuh pas mau tidur gak ada emaknya, ini baru pulang jam setengah empat subuh, ngapain aja sih, "


Bu Hani terus mengomeli anaknya, padahal Hanna sudah kembali ke alam mimpi sambil meringkuk menyamping mengASIhi Hwan di atas ranjangnya.


Dua jam kemudian...


Hanna dan Hwan kini sedang berada di meja makan. Masing - masing sedang mengisi energi pada tubuh mereka.


Hanna sedang makan sepiring nasi beserta lauk pauknya hasil masakan bu Hani, ibunya.


Ia duduk di kursi sambil menggendong Hwan yang sedang menyusu memakai gendongan samping.


Tidak lama kemudian datanglah pengganggu...


"Hello my boy, welcome in two thousand and eighteen yeah... sudah mandi belum, ayo kita berjemur dulu boy.. !"


"Dul, ntar siang anter ke rumah si Yasmin ya, gue mau meet up disana sama yang lain !" ucap Hanna yang sedang serah terima Hwan dengan adiknya.


"Yah, gak bisa kak, gue udah ada janji mau nganter si bebs shopping nih, jadwal gue gak bisa di ganggu gugat, !" jawab Abdul, adik Hanna.


"Yaelah, dasar bucin, anterin gue doang bentaran napa, lu mau pergi jam berapa emang ?" tanya Hanna.


"Ya, abis dzuhur sih... "


"Nah, gue anterin jam 11 aja lah, bisa keles lu anterin dulu, searah kan ke rumah si bebs lu, udah lah, gak usah banyak alesan "


"Oke, bensin full yaa... " sahut Abdul.


"Dasar matrealistis, sana pergi... " Hanna mendorong adiknya agar segera pergi dari hadapannya.


Setelah adiknya yang pergi, lalu datanglah ibunya menghampirinya yang masih asik menikmati sarapan paginya di meja makan.


"Kak, berapa hari libur kerja ?" tanya bu Hani.


"Besok juga kerja bu, makanya hari ini aku mau ketemuan sama geng KERANG, nanti siang di anterin si Dul... "


"Lah, lu, jangan kecapean lah kak, tiap hari kerja kadang lagi libur juga di susulin meeting lah hunting kain lah, ini itu, gak ada waktu buat istirahat banget, jaga kondisi dong jangan sampe drop, kasihan nanti Hwan kalo kamu sakit " bu Hani mencoba menasehati anaknya.


"Doain aja aku sehat dan kuat bu, aku kerja juga buat menafkahi Hwan kan, tenang bu, aku masih rajin makan suplemen dan vitamin lainnya, yang penting ibu jangan bikin aku stress aja ya, hehehe... "


"Dih, kamu ini, selalu begitu terus jawabannya, ibu cuma khawatir kamu kecapean, padahal kamu kan bisa aja rehat dulu beberapa hari, di toko kan banyak juga yang bisa handle kerjaan selain kamu, masa gak ada seorangpun yang bisa kamu percaya sih, !" ucap bu Hani.


"Iya bu, iya, nanti aku cari waktu dulu ya, sayang kan kalo project baruku di pending lagi !"


"Terserah kamu lah, yang penting jangan sampe lupa kalo sekarang di rumah udah ada yang selalu nunggu kamu pulang selain ibu, Hwan gak pernah mau langsung tidur kalo kamu belum pulang, selalu rewel, padahal udah berbulan - bulan kamu tinggal sibuk kerja, tapi masih aja gak betah terlalu lama di tinggal emaknya !"


"Iya bu, sabar ya, Hwan terlalu bucin sama emaknya, jadi begini, hehe... "


"Dasar... udah ah, ibu mau nyuci baju dulu, tukang cuci 3 hari libur ya, dia lagi liburan keluarga dulu katanya,"


"Baju aku sama Hwan nanti aja aku yang cuci bu ya, pulang dari rumah Yasmin, gak akan lama kok bu !"


"Preettt.... dusta, kalian kalo udah ketemuan mana bisa cuma sejam dua jam, bisa - bisa ujung - ujungnya pada nginep di rumah si Yasmin, " sahut bu Hani sambil melengos pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Dih, enggak lah bu, malu sama suami Yasmin kali ah... "


Perbincangan antara ibu dan anak pagi itu sudah di bumbui oleh perdebatan dan ceramah ala emak - emak yang sudah lumrah pada umumnya.


Selesai makan, Hanna pergi mandi dan merias dirinya, mumpung Hwan sedang asyik bermain bersama unclenya di ruang tengah.


Saat sedang duduk di depan cermin, ia melihat dengan seksama wajahnya lewat cermin.


"Sudah berapa lama ya, aku lupa, kapan aku merias wajahku ini... " ucap Hanna.


Sepulangnya ia dan Hwan ke Bandung, setelah bi Lastri pun pergi kembali ke Bali, Hanna memutuskan untuk mencari pekerjaan demi menafkahi anaknya.


Dan, akhirnya, setelah mendapatkan peluang, ia memutuskan untuk membuka sebuah bisnis bersama teman dan saudaranya. Dengan bermodal uang tabungan yang ia miliki, Hanna bersemangat memulai bisnis barunya ini.


Ia mencoba mendesaign baju maternity dan nursing wear, membuat produknya dan memasarkannya secara online maupun menawarkan barangnya ke beberapa store di daerah kota dan kabupaten Bandung.


Bisnis yang ia geluti terbilang baru, namun berkat support dari keluarga, sahabat dan tim manajemennya yang kompak membuat produk yang di ciptakan olehnya mampu bersaing di pasaran lokal.


Namun, saking antusiasnya ia menggeluti bisnisnya, kadang Hanna lupa bahwa tubuhnya butuh istirahat. Energi dan pikirannya terlalu terkuras oleh passion barunya.


Meskipun ia tidak melupakan tanggung jawabnya pada Hwan, namun waktunya bersama Hwan berkurang tidak seperti sebelumnya. Sebagai seorang single parent, memanglah harus ada sesuatu yang di korbankan, terutama waktu yang sangat sedikit untuk berkumpul bersama keluarga.


Lalu bagaimana dengan status Hanna dan Hwan di mata para tetangga dan warga setempat.


Keluarga Hanna, ayah, ibu dan bu Shinta sudah sepakat untuk melindungi mereka jauh hari sebelum Hwan lahir. Obrolan tentang hal ini sudah mereka diskusikan dan persiapkan dengan matang.


Mereka menyetujui hal ini dikarenakan untuk mencegah dan melindungi mental anak dan cucunya kelak. Mereka terpaksa berbohong pada tetangga dan pada siapa saja yang bertanya tentang Hwan.


Beberapa jam kemudian...


Kini Hanna dan Hwan sudah berada di rumah Yasmin, disana sudah hadir pula Karina dan Audrey.


"Ya ampun, anakku, tampan sekali, sini - sini sama tante yuk... " sahut Audrey menghampiri Hwan yang masih nemplok di tubuh ibunya.


Namun bayi Hwan tidak merespon, ia malah bersembunyi di ketiak ibunya lebih dalam.


"Anak gue pemalu bebs... hihihi... " ucap Hanna.


"Berarti kayak bapaknya ya, soalnya kalo emaknya mah malu - maluin,"


"Hahahaha... " gelak tawa terdengar memecah suasana di ruang tengah rumah Yasmin siang itu.


Yasmin yang juga sudah mempunyai seorang bayi perempuan lebih memahami bagaimana seharusnya menyambut bayi yang pemalu seperti Hwan. Dan, ternyata memang benar, akhirnya Hwan mau turun dari pangkuan ibunya, Hanna, dan bermain bersama Jani, anaknya yang terpaut usia 5 bulan lebih dulu lahir dari umur Hwan.


"Han, gimana bisnis loe sekarang, makin sibuk aja nih ibu muda kita yang satu ini, ampe di ajak ketemuan aja susahnya minta ampun... " ucap Karina.


"Alhamdulillah Kar, rezeki anakku ini mah... " jawab Hanna.


"Tapi Han, jangan terlalu fokus sama bisnis kali, inget Han, loe masih muda, loe dan Hwan berhak bahagia, gak selamanya kedua orangtua loe, sodara, temen loe bisa ada terus buat berbagi keluh kesah loe sama mereka, loe butuh seseorang yang lebih paham dan mengerti dari hati ke hati, paham kan maksud gue... !" ucap Audrey.


"Jiakh.... so soan loe ceramahin dia, loe sendiri gimana, mana pasangan loe, ampe skrg masih aja betah menjomblo " sahut Karina.


"Jangan sangkut pautin ama gue deh loe, pan gue mah udah mendeklarasikan diri, mau nikah pas umur 30 tahun aja, gak bisa di ganggu gugat, masih banyak planning yang belum gue capai, sebagai anak satu - satunya, gue pengen lebih dulu bahagiain nyokap bokap gue di banding ngurus kisah asmara gue sendiri !" tegas Audrey.


"Jangan gitu dong Drey, gak baik cuekin terus cowo yang udah ada di depan mata, " sahut Yasmin.


"Iya lu, denger tuh apa kata mamah dedeh, " timpal Karina.


Dan, selanjutnya, bisa kalian tebak, Karina dan Audrey melanjutkan perdebatan sengit mereka.


Hanna dan Yasmin hanya menyimak sambil sesekali mentertawakan keduanya yang bagaikan tom and jerry setiap kali mereka bertemu.


Dua jam berlalu, mereka kini sudah merasa lelah dan kenyang setelah makan bakso, seblak, boba milk, coffe, dan camilan lainnya yang mereka pesan lewat aplikasi gafood.


Hanna dan Yasmin sudah berhasil menidurkan Hwan dan Jani, kini mereka berdua mengobrol lebih fokus tanpa ada yang merecoki, anak - anak maupun Audrey dan Karina, karena mereka berdua juga sudah ikut tertidur pulas setelah melahap semua camilan.


"Han, gak ada kabar sama sekali dari Bali ?" tanya Yasmin.


"Gak Yas, terakhir aku cuma video callan sama bu Shinta, habis itu aku gak ada kontekan lagi sama ibu, " jawab Hanna.


"Bukan, bukan ibu maksudku, tapi dari ayahnya Hwan !" ucap Yasmin dengan hati - hati.


Sampai saat ini Hanna masih mempercayai hasil DNA yang menyatakan bahwa Aji adalah ayahnya Hwan. Dan tentu saja baik Yasmin dan kedua sahabatnya yang lain tahu ceritanya karena Hanna sempat memberitahu mereka beberapa bulan yang lalu saat mereka pertama kali bertemu kembali.


"Gak ada Yas !" jawab Hanna, singkat.


"Kamu gak blokir nomor dia kan ?" tanya Yasmin.


"Ya enggak lah Yas, ngapain juga blokir - blokir nomor orang, kekanakan banget sih !" jawab Hanna.


"Keterlaluan banget sih dia, gak kangen gitu sama anaknya sendiri, " ucap Yasmin, seolah dengan sengaja mengompori sahabatnya. Ia ingin agar Hanna menjadi marah dan lebih dahulu menghubungi Aji untuk bertanggung jawab pada anaknya sendiri.


"Udahlah, biarin aja lah Yas, aku gak peduli, aku kan udah pernah bilang, kalo Hwan gak butuh sosok ayah, cuma aku satu - satunya orangtua Hwan, aku bisa jadi ibu sekaligus ayah bagi Hwan " Hanna mengatakan semuanya tanpa beban.


"Terus, soal dia gimana ? udah kamu respon belum ?" tanya Yasmin kembali.


"Dia ? siapa sih ?" Hanna pura - pura tidak paham.


"Gak usah pura - pura deh, aku tahu, sebenernya kamu juga udah mulai membuka hati kan buat Rayhan !"


"Rayhan !"


Ya, Rayhan.... Dia adalah cinta pertama Hanna yang kandas di tengah jalan.


Akhir - akhir ini Hanna menjadi lebih dekat kembali bersama Rayhan karena ternyata sebelum Hanna kembali ke Bandung, Rayhan lebih dahulu kembali ke kampung halaman mereka dan membuka bisnis kuliner baru disana. Rayhan sukses membuka bisnis bersama temannya berupa kedai dimsum dan coffe shop di daerah sekitar tempat tinghal mereka.


Ia memutuskan untuk kembali dan meninggalkan Bali karena merasa sakit hati setelah mengetahui bahwa Hanna sudah benar - benar berpaling darinya.


Namun, begitu Hanna kembali ke Bandung dan ia mengetahui kisah Hanna yang begitu memilukan, ia berpikir bahwa mungkin kesempatan itu datang kembali padanya.


Rayhan kembali berusaha menyambung ikatan dengan Hanna, keluarganya dan terutama dengan Hwan.


Hanna tidak bisa menolak kehadiran Rayhan yang selalu datang berkunjung ke rumahnya untuk sekedar bermain bersama Hwan, mengajaknya jalan - jalan dan terkadang mengantar jemput Hanna yang sedang sibuk untuk berbelanja keperluan untuk bisnis yang sedang ia geluti.


Namun tidak dengan hatinya. Hanna seolah masih menutup rapat hatinya dari pria lain. Bahkan Rayhan sang cinta pertamanya sekalipun. Meskipun lambat laun ia harus mulai merelakan Siwan, melepaskan nama dan kenangan tentang Siwan yang terukir di hatinya.


"Gak tahu Yas, aku masih belum kepikiran buat menata hati kembali sama pria lain, aku belum bisa Yas... !" ucap Hanna.


"Kalo kamu memang gak mau kasih dia kesempatan, kasih dia ketegasan, jangan sampai dia terus berharap lebih sama kamu Han, kasihan dia, aku bener - bener yakin kalo Rayhan bener - bener lagi pedekatean sama kamu dan Hwan !"


"Apa sih Yas, jangan bikin aku geer deh, gak mungkin kali dia mau sama aku yang udah gak perawan ini, hahahaha.... " ucap Hanna.


"Dih, gak ada yang lucu tau, pokonya aku seratus persen dukung Rayhan, titik !" Yasmin mulai bersikap tegas.


"Cie... cie... jadi tim sukses nih... di endorse pakai apa nih, pasti di sogok dimsum sekarton yaa... hahaha... " goda Hanna kembali.


"Tau akh... diem lu, berisik tau, ntar para bocah bangun, terserah kamu aja lah pokoknya aku gak bakal berhenti dukung Rayhan yang udah terang - terangan mendeklarasikan diri sebagai calon papa Hwan di tahun 2018 ini !" ucap Yasmin kembali.


"Tuh kan, sekarang ngaku kan udah jadi tim sukses pencalonan kak Rey jadi calon papa baru buat Hwan, pasti di sogok dimsum sama kopi berbotol - botol, hemh... ketahuan deh sekarang... " Hanna masih keukeuh menggoda Yasmin yang sudah terlihat kesal.


"Serah lu aja lah, pusing gue mah !" timpal Yasmin.


Sejujurnya, bukan Hanna tidak mau menanggapi dan membalas perasaan Rayhan padanya. Hanya saja, ia tidak mudah berdamai dengan pikiran - pikirannya saat itu. Terlalu banyak ketakutan yang Hanna rasakan saat ini. Ia takut bahwa keluarga Rayhan tidak mau menerima dirinya dan anaknya apabila mereka tahu status Hanna yang sebetulnya, bahwa ia hamil diluar pernikahan dan melahirkan Hwan yang sempat di perdebatkan siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.


Tidak di pungkiri, Hanna memang sudah mulai berpikir untuk mencari pendamping hidup agar ia bisa meringankan beban di pundaknya sebagai satu - satunya orang yang menafkahi anaknya dan untuk menjadi teman hidupnya di masa tua nanti.


Namun, untuk menghindari rasa sakit hatinya kembali dan demi menjaga perasaan keluarganya, ia tidak dengan gegabah menerima perasaan pria lain, terutama pada Rayhan untuk menjadi pendampingnya.