My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Tiupan..



Hari itu, Hanna merasa gelisah, entah mengapa dia merasa tidak nyaman di temani oleh Aji kali ini. Semenjak terjadi ciuman antara dirinya dan Aji, Hanna jadi merasa tidak enak hati setiap kali menatap Aji, menatap bibirnya tepatnya.


" Ah... sial, kenapa malam itu aku bisa mabuk dan melakukan hal bodoh " gerutu Hanna di dalam hatinya.


Aji yang duduk jauh di sofa sedang mengecek beberapa file di laptopnya merasa sedang di awasi, ia menatap Hanna sekilas, dan ternyata benar saja, Hanna langsung memalingkan wajahnya saat kedapatan sedang memperhatikan Aji.


Tiba - tiba seseorang datang, seorang petugas menyerahkan jatah makan siang Hanna.


" Mau dimakan sekarang ?" tanya Aji.


Hanna menganggukkan kepalanya.


" Aku makan sendiri saja, aku mau makan di meja makan " ucap Hanna.


" Baiklah, sebentar " Aji menyimpan kembali nampan yang sudah di pegangnya ke atas meja, lalu menghampiri Hanna yang sudah berada di pinggir ranjang.


Hanna masih sedikit pusing dan lemas, makanya saat dia berusaha turun sendiri dari ranjangnya, dia hampir terpeleset karena terlalu fokus menatap sandalnya di bawah, sedangkan tangannya tidak memegang besi ranjangnya dengan kuat.


Untung saja Aji menghampiri Hanna di saat yang tepat. Aji menahan tubuh Hanna yang hampir tersungkur ke lantai.


" Hati - hati, kau masih terlihat lemas " ucap Aji.


Hanna tidak sengaja menatap wajahnya, maksudnya menatap bibir Aji. Dia merasa fokusnya selalu pada satu titik itu.


" Iya, makasih " ucap Hanna.


Aji terpaksa memapahnya sampai ke meja makan, dan Hanna tidak menolaknya kali ini.


Aji menemani Hanna makan siang, namun dia duduk agak jauh darinya.


Hanna terlihat malas makan, karena menu makannya masih di beri bubur. Namun ia terpaksa memasukkannya ke dalam mulut meskipun lidahnya terasa pahit.


" Kau mau makanan yang lain ?" tanya Aji.


" Kak Oz melarangku " jawab Hanna.


Aji tidak berkomentar. Dia memperhatikan Hanna yang masih menyuap makanannya sedikit demi sedikit dan tangan bergetar.


" Tanganmu kenapa ?" tanya Aji.


" Lemas bli... " jawab Hanna.


" Sini, aku saja yang menyuapi mu " sahut Aji.


Hanna pun terpaksa menurutinya, karena dia memang masih lemas, dia malah dengan percaya dirinya mau duduk dan makan sendiri di meja makan.


Sekali - kali Hanna membenamkan wajahnya di atas meja karena merasa mual.


" Kau kenapa ?" tanya Aji.


" Mual... " jawab Hanna tanpa menatap wajahnya.


" Ku buatkan teh manis, mau ya... ?" tanya Aji.


Hanna menganggukkan kepalanya.


Dengan sigap Aji langsung menadah air panas, mencelupkan teh kedalamnya beberapa kali, lalu menambah sedikit gula dan mengaduknya dengan sendok.


" Ini, minumlah... " ucap Aji.


Hanna pun mulai menyeruput air teh manis di gelas yang Aji pegang, namun tiba - tiba dia meringis.


" Huanas... bli, tiup !!" ucap Hanna.


Aji pun langsung mendekatkan wajahnya dan meniup lidah Hanna.


Sontak Hanna langsung terkejut dan mundur perlahan. Matanya jegil.


" Tehnya yang di tiup, bukan aku, bli... " ucap Hanna menahan tawanya.


" Ah... iya, maaf " Aji merasa malu dan gugup.


Tanpa mereka sadari, sejak beberapa detik ke belakang tadi, seseorang sudah berdiri di ambang pintu dan merasa shock melihat tingkah mereka.


" Oh... my... god... !!"


Hanna dan Aji menoleh perlahan pada sumber suara itu.


" Kak Oz... " Hanna.


" Oz... " Aji.


Ucap mereka hampir bersamaan.


" Kalian sedang apa ?" tanya Austin yang berjalan menghampiri mereka berdua.


" Ah, ini.. lidahnya, eh maksudku tehnya panas " jawab Aji.


Austin duduk di sisi sebelah kiri Hana di meja makan berbentuk bundar itu.


" Makanmu belum habis tuh !!" ucap Austin.


" Mual, aku gak suka bubur !!" sahut Hanna.


" Nih, minum lagi teh manisnya " timpal Aji.


Hanna pun menyeruput kembali air teh yang di sodorkan oleh Aji.


Austin menatap keduanya dengan tatapan curiga.


" Kau masuk shift malam ?" tanya Aji menatap Austin.


" Aku libur, tadi aku dari rumah langsung kesini, huh... kerja di rumah sakit, libur juga pergi ke rumah sakit, aneh kan... !!" ucap Austin.


" Siapa yang menyuruhmu datang kemari, gak ada kan ?" tanya Hanna.


" Pacarmu, dia menyuruhku menjagamu " jawab Asutin penuh penekanan dan menatap Aji dengan tajam.


" Gak usah, ada bli Aji yang menjagaku, pergilah bersenang - senang di klub, sudah sana pergi kalau gak ikhlas " ucap Hanna merajuk.


" Aku gak akan kemana - mana... hampir saja kalian berbuat sesuatu kan ?" Austin menatap keduanya dengan tatapan menusuk.


Hanna dan Aji tidak berkomentar lagi, mereka sudah mengira Austin pasti salah paham.


Hanna melanjutkan makannya sendiri, tangannya yang tadi bergetar karena lemas, kini mendadak menjadi bertenaga karena takut Austin salah paham lagi kalau Aji yang menyuapinya.


Selesai makan, Hanna pergi ke kamar mandi merayap sendirian sambil membawa botol infusannya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Austin dan Aji kini duduk di sofa. Sepintas Hanna melirik mereka, namun tanpa menghiraukan mereka yang saling diam dalam duduknya. Hanna terlihat sibuk membawa baju kotor dari dalam kamar mandi pun tidak ada yang membantunya.


Hanna bersusah payah naik ke atas ranjangnya sendirian. Aji yang tahu bahwa Hanna masih lemas ingin membantunya, hanya saja tatapan Austin selalu membuatnya urung dan hanya menghela nafas.


Hanna pun merasa kesal karena keduanya hanya menatapnya dari kejauhan, tidak membantunya sama sekali saat dia makan obat dan bersusah payah mengambil air minum di atas nakas.


Hanna merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Dia memejamkan matanya namun tak kunjung beralih ke alam mimpi.


" Shit... aku udah gak tahan lagi " Hanna membuka selimutnya yang menutupi kepalanya.


Suasana awkward di antara mereka bertiga harus segera di akhiri.


" Kalian, lebih baik tinggalkan saja aku sendiri, aku lebih baik di jaga oleh seorang perawat daripada di jaga kalian, suasana ruangan ini jadi bagaikan di kutub utara " pekik Hanna.


" Tidak usah hiraukan kami, kau istirahat saja !!" ucap Austin.


" Aku kesal, kalian ini kenapa sih, bikin aku tambah stress tahu !!" Hanna lalu merebahkan kembali tubuhnya dengan keras.


Dia merasa kesal karena Austin yang mencurigainya dan Aji berbuat hal yang tidak senonoh tadi.


Akhirnya Hanna tertidur juga dengan posisi selimut menutupi kepalanya.


Austin menghampirinya dan membetulkan selimutnya supaya Hanna bisa bernafas dengan lega saat tertidur.


" Sudah ada kabar dari kak Wan ?" tanya Austin yang kini kembali ke sofa duduk bersama Aji.


" Belum, tapi Bram bilang mereka sudah bertemu " jawab Aji.


" Bibi benar - benar turun tangan kali ini, seberapa cemasnya dia, apa mereka benar - benar tidak bisa bersama ? selamanya ?" Austin merasa prihatin, matanya tertuju pada Hanna yang sedang berbaring menyamping membelakangi mereka.


" Kami sudah saling merelakan, hanya itu satu - satunya cara agar hidup berjalan tanpa rasa cemas dan beban !!" jawab Austin.


" Really ?" Aji seolah tidak percaya.


" Of course !!"


Tiba - tiba hp Aji bergetar. Panggilan masuk dari Siwan.


Selama beberapa menit Aji mengobrol dengan Siwan yang hanya menanyakan kondisi Hanna dan aktivitas nya. Aji pun memberitahunya bahwa Austin bersamanya menjaga Hanna.


" Bagaimana, dimana dia sekarang ?" tanya Austin.


" Dia dalam perjalanan pulang kemari " jawab Aji.


" Aku tidak bisa menebak, apa yang terjadi di sana tadi, kak Wan pasti benar - benar dilema " ucap Austin.


" Bibi terlalu ikut campur, harusnya dia percaya saja pada anaknya, pekerjaanku jadi semakin banyak di buatnya " sahut Aji sambil fokus melihat pesan masuk ke emailnya di layar laptopnya.


Satu jam kemudian...


Hanna terbangun dari tidurnya, seperti biasa dia merasa kehausan, perlahan dia mencoba meraih gelas di atas nakas.


Namun, tiba - tiba dia terkejut karena seseorang lebih dulu menggapainya dan menyodorkan nya pada Hanna.


" Terima kasih " ucap Hanna, lalu meneguknya sampai habis.


" Aku mau ke toilet " ucap Hanna.


Pria itu membantunya turun dari ranjang perlahan ia pun memapahnya sampai ke depan pintu kamar mandi.


Cukup lama Hanna di dalamnya karena sedang mengganti bajunya dan menyemprotkan dryshampoo yang di bawa Austin tadi atas pesan dari Siwan. Austin datang karena Siwan yang menyuruhnya menemaninya, takutnya Aji tidak datang ke rumah sakit. Siwan juga menyuruh Austin membeli beberapa kebutuhan Hanna mulai dari pembalut ( hahaha... ), dryshampoo, tissue basah, permen jelly, camilan yang aman untuk perutnya.


Ketika Hanna keluar dari kamar mandi, dia menuju lemari yang dekat dengan sofa untuk merapihkan baju kotornya ke dalam keranjang cucian di pinggirnya. Dia juga mengambil sesuatu di meja lemari itu.


" Kak Oz, kalian sudah makan ?" tanya Hanna pada Oz yang memapahnya hingga kembali ke ranjang.


" Sudah, kau tidur kayak kebo, lama banget " sahut Austin.


" Cih... dasar... eh, kak, bawa headset gak, aku mau dengerin musik nih, bete tau daripada dengerin ocehanmu !!" Hanna menyipitkan matanya.


" Hih... tunggu sebentar, sepertinya Aji bawa " Austin pun menghampiri tas Aji yang tergeletak di sofa dan mengaduk - aduk isinya.


" Nih, ada... " Austin memberikan pada Hanna. Sebelum Hanna memakainya, Austin sempat menyuruhnya mengelap dulu headset nya dengan tissue.


" Iya pak dokter !!" ucap Hanna.


Austin kembali ke sofa dan fokus pada gawai ditangannya.


Hanna begitu fokus mendengarkan musik di hpnya. Saking fokusnya dia sampai kembali merebahkan tubuhnya dan bersantai di atas ranjangnya.


Austin berkali - kali melirik Hanna yang membelakanginya, namun lama kelamaan karena tidak ada pergerakan dari Hanna, Austin mendekat padanya dari arah depan.


Austin terkejut karena mendapati Hanna sedang berurai air mata. Begitupula dengan Hanna, ia terkejut saat Austin tiba - tiba berada di depannya. Hanna mencabut kabel headset nya secara terburu - buru.


" Kau, lagi denger lagu mellow ?" tanya Austin.


" Iya ih, ngapain sih ganggu aja !!" sahut Hanna.


" Lebay amat pake acara nangis bombay gitu " ujar Austin.


" Pergi sana... " Hanna kembali memasang headset di telinganya.


Austin menatap Hanna dengan tatapan curiga dan menusuk.


Karena terlanjur sudah ketahuan oleh Austin, jasi hancur sudab mood Hanna untuk sekedar mendengarkan lagu - lagu favorit nya di kupingnya.


Hanna pun bangun dan mengeringkan wajahnya dengan tissue.


" Hih... denger lagu apa sih ampe banjir bandang gitu... ampun deh... cewe - cewe yang patah hati kelakuannya biasanya pasti kayak gini " sindir Austin.


Hanna tidak menghiraukannya, dia hanya mendelik menatap Austin tajam.


Tiba - tiba pintu terbuka, ternyata Siwan yang datang.


" Chagiya, kau kenapa ?" ucap Siwan yang terkejut mendapati kekasihnya dengan wajah merah dan basah karena menangis.


Hanna tidak menjawabnya, dia hanya memeluk Siwan dengan sangat erat. Seolah dia takut Siwan pergi lagi jauh darinya.


Siwan menatap Austin tajam, wajahnya berkerut, lalu alisnya naik sebelah.


Austin mengangkat kedua tangan dan bahunya tak tahu menahu.


" Aku cuma kangen rumah, aku mau pulang !!" ucap Hanna.


" Iya.. sabarlah, Austin bilang besok kau bisa pulang " ucap Siwan menatap Austin tajam kembali.


Austin seperti sedang di todong, dia mendadak menjadi lemas.


" Iya, besok kau boleh pulang " ucap Austin.


" Beneran kan ? gak bohong ?" tanya Hanna melepaskan pelukannya di perut Siwan dan beralih menatap Austin.


" Iya... iya... tentu saja, makanan terbaik dan obat terbaik dari rumah sakit sudah ku berikan, dan obat paling mujarabmu sudah ada didekatmu lagi, besok pasti pulang... " ucap Austin terdengar tidak ikhlas.


" Dokternya siapa sih disini... huh.. " gumam Austin. Dan tetap tersenyum mengumbar - umbar senyum segarisnya.


Aji yang mendengar ribut - ribut pun terbangun dari tidurnya.


Saat melihat Siwan, dia langsung membereskan laptop dan berkas - berkas yang berantakan di meja, ke dalam tasnya.


" Kau sudah makan ?" Siwan menatap wajah Hanna dan menyentuh pipinya.


" Heemh, tadi siang. Ahjussi darimana saja, kenapa baru pulang sore ?" tanya Hanna.


" Aku, pekerjaan, tidak bisa ku tinggal kali ini " jawab Siwan, berbohong.


" Pembohong " gumam Hanna.


Karena Siwan sudah kembali, Aji dan Austin pun pamit pulang.


Kini, tinggal Hanna dan Siwan kembali berdua di ruang tersebut. Keadaan kembali normal, entah karena sesuatu hal atau memang karena Hanna sudah mendapatkan kembali gairahnya. Maksudnya tubuh dan pikirannya sudah mulai segar, sakit yang di deritanya sudah mulai berkurang seiring dengan aliran sungai niagaranya yang sudah mulai terkendali, tanpa adanya rasa cemas takut mengotori ranjang rumah sakit kembali.


Malam harinya, sebelum tidur, Hanna seolah sedang melakukan pillow talk bersama Siwan. Curhat sebelum bobo.


Seperti biasa, Hanna tidur di Atas, dan Siwan di bawah. Ranjangnya maksudnya. Berbeda.


" Ahjussi, apa kau masih ingat moment pertemuan pertama kita ?" tanya Hanna.


" Emh... di toko buku, betul kan ?" tanya Siwan.


" Yap... seratus persen buatmu ! hemh... lalu, apa kau masih ingat kapan kita pertama kali saling mengungkapkan isi hati kita ?" tanya Hanna.


" Tentu saja, hari itu hari jadian kita, kau menciumku duluan " ucap Siwan lalu tersenyum.


" Ih... siapa... kau yang menarikku, bibirmu seperti ada magnetnya tahu " Hanna berkilah.


" Kau kenapa chagiya, tiba - tiba membicarakan hal itu ?" Siwan memiringkan tubuhnya menghadap Hanna. Dari bawah dia seolah mencurigai sesuatu saat melihat ekspresi wajah Hanna yang tersenyum namun sendu.


" Aku hanya ingin merasakan kembali debaran dan getaran - getaran di hatiku hari itu, rasanya sungguh tak terbayangkan lagi, rasa gugup dan bahagia, antara cinta dan nafsu semua tercampur menjadi satu, rasanya seperti mimpi !!" kedua telapak tangannya menutup wajahnya karena malu.


" Memangnya perasaanmu sekarang padaku bagaimana ?" tanya Siwan.


" Aku, sekarang, yang aku rasakan hanyalah rasa takut, saat bersamamu yang ku rasakan hanyalah takut jauh darimu. Aku jadi terlalu rakus, kau selalu memberikan apapun tanpa kuminta, tapi aku tidak pernah berusaha berbaik hati memberikan apa yang kau inginkan " ucap Hanna.


" Memangnya kau tahu apa yang aku inginkan ?" tanya Siwan.


" Entahlah... memangnya aku cenayang !! jawab Hanna.


" Sudahlah, tidur saja, kau harus terlihat segar besok supaya Austin benar - benar mengizinkanmu pulang " ucap Siwan.


Tanpa di suruh pun sebetulnya Hanna sudah benar - benar sulit untuk membuka matanya. Dalam hitungan detik dia sudah tertidur lelap.


Siwan terbangun untuk membetulkan selimut Hanna.


" Yang ku inginkan hanya dirimu !!" ucap Siwan, lalu mengecup kening Hanna dan mengusap pipinya selama beberapa detik.