My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Bertatap dalam kesedihan



Sreeetttt...


Pisau lipat berujung runcing yang nampak berkilau di kegelapan malam itu menembus kulit, masuk ke dalam daging dan menyayat tubuh seseorang yang melintas di depannya.


"No... " teriak Hanna, lalu menahan tubuh seseorang yang mulai terhuyung dan ambruk ke dalam pelukannya saat anak biah Tiger mencabut kembali pisau itu.


Darah mulai terlihat bercucuran.


Siwan dan Tiger yang sedang saling menyerang menoleh ke arah Hanna, dan menatapnya dengan penuh keterkejutan.


Dan, bersamaan dengan itu, suara sirine mulai terdengar, beberapa polisi datang bersama dengan Aji dan anak buahnya.


Anak buah Tiger yang lainnya terkejut dan menghentikan perkelahian dengan Elsa.


Polisi pun membekuk orang yang menusukkan pisau itu serta Tiger pun tak dapat berkutik ketika senjata api milik polisi mengarah padanya.


"Kak Oz, bertahanlah !!" Air mata Hanna mulai mengalir.


Austin menyelamatkan Hanna saat itu, ia muncul secara tiba - tiba dan berlari menghadang pisau yang tertuju pada Hanna, pisau itu mengenai punggung sebelah kiri Austin, karena saat itu Austin menghadang dengan cara memeluk Hanna berniat menyeret Hanna menjauhi pisau itu, namun sayang, jarak mereka terlalu dekat dan pisau itu pun berhasil memakan korbannya.


Siwan, Rayhan, Aji dan Elsa mendekat pada Hanna dan Austin.


Austin ambruk di pangkuan Hanna.


Siwan terlihat menahan darah yang mengalir terus menerus dari punggung Austin dengan tangannya.


Aji sibuk menelepon ambulance, sedangkan Rayhan masih terus menenangkan Hwan di dekat ibunya.


"Hanna, maafkan aku, aku yang mengubah hasil DNA Hwan saat itu, ini semua kulakukan demi keselamatan kita kalian, " ucap Austin.


"Apa yang kau bicarakan, diamlah, aku tidak mau mendengar ocehanmu, !! sahut Hanna dengan berlinang air mata.


"Kak, apa kau tidak menjelaskan padanya kalau aku yang menjadi penyebab kesengsaraan kalian ?" Austin melirik Siwan dengan ujung matanya.


"Bertahanlah Oz, ambulance sedang dalam perjalanan," ucap Siwan.


"Hanna, pergilah, aku tidak akan mati sekarang, lihat anakmu, kasihan dia berada di luar malam - malam begini, " Austin terus saja berbicara meskipun raut wajahnya terlihat menahan rasa sakit.


Tak lama kemudian, ambulance dan tim medis datang, dan menghampiri Austin dengan membawa ranjang pasien.


Siwan mulai melepaskan tangannya dari tubuh Austin saat tim medis mengambil alih tugasnya sebelum membawa Austin masuk ke dalam ambulance dan membawanya ke rumah sakit.


"Kalian pulanglah, biar aku yang mengurus Austin, !!" pinta Aji, lalu mengikuti Austin yang mulai bergerak memasuki ambulance di atas ranjang pasien itu.


Namun, sebelum masuk ke dalamnya, Aji kembali menoleh pada Siwan kembali.


"Soal Tiger, Jhony yang akan mengurusnya," ucap Aji lalu masuk ke dalam ambulance tanpa berlama - lama lagi. Jhony adalah anggota kepolisian setempat yang merupakan salah satu sahabat Siwan. Jhony pernah di ceritakan dalam season 1 sebagai orang yang merusak hp milik Hanna dulu.


Setelah ambulance pergi, Siwan menatap Hanna yang masih terlihat shock dan melamun.


"Chagiya... !!" ucap Siwan.


Hanna langsung tersadar ketika mendengar sebuah kata yang masuk ke dalam telinganya. Sebuah kata yang selama ini ia tunggu - tunggu lewat mulut seseorang yang ia rindukan.


Hanna langsung melirik Siwan, namun, tatapannya menunjukkan ekspresi menusuk, tajam, lalu matanya mendelik, membuang wajah dari hadapan Siwan dan beralih menuju Hwan yang sejak tadi bersama Rayhan di belakangnya. Hanna masih terlihat marah pada Siwan.


"Hwan, maafin bubu, ayo kita pulang, " ucap Hanna, lalu lengannya melayang hendak menyentuh Hwan.


"Hanna, tanganmu, kotor, kasihan Hwan nanti," ucap Rayhan.


Tangan Hanna tercekat dan langsung ia jauhkan dari Hwan. Kemudian ia melihat keadaan tubuhnya yang juga kacau, bajunya pun sangat kotor, kalaupun dia bercermin, dia pasti bisa melihat dengan jelas saat itu rambutnya yang ia ikat pony tail menjadi kusut berantakan, wajahnya terdapat beberapa bekas luka dan darah yang sudah mengering, serta kini, ia mulai merasakan nyeri kembali pada lengan dan kakinya.


Seorang anak buah Siwan mendekat membawakan beberapa botol air mineral.


Siwan meminta tolong untuk membukakan sebotol untuknya mencuci tangan yang berlumuran darah Austin tadi.


Setelah tangannya bersih, ia kemudian memberikan sebotol air untuk Hanna yang sudah ia buka penutupnya agar Hanna bisa langsung meminumnya.


Hanna yang memang sedang haus pun tak menolak pemberian Siwan. Ia langsung meminumnya karena rasa dahaganya sudah tak bisa di hiraukan lagi. Ia sangat lelah, tenaganya hampir terkuras akibat pertarungannya dengan Tiger dan anak buahnya tadi.


Elsa dan Rayhan pun sama, tak kalah hausnya dengan Hanna sampai - sampai mereka menghabiskan sebotol air mineral secara bersamaan.


"Chagiya, disana katanya ada toilet umum, kau bisa mencuci tanganmu dulu disana," tunjuk Siwan ke arah belakang mereka.


Hanna tak menyahutnya, ia hanya menunjukkan gestur menyetujui ajakan Siwan saat itu.


Siwan pun mengajak Hanna menuju sebuah lokasi toilet umum yang tidak jauh dari posisi mereka, agar Hanna bisa membersihakan tubuhnya supaya bisa bercengkerama bersama anaknya.


Siwan, Hanna dan Elsa membersihkan tangan serta wajah mereka secara bergantian.Rayhan yang menenteng kembali sebuah paper bag yang menjadi biang kerok kesialan mereka hari ini, masih setia menggendong Hwan yang mulai tertidur karena lelah, meskipun pundaknya sudah mulai merasakan pegal, namun ia dengan sabar dan setia menunggu mereka selesai bersih - bersih. Rayhan saat itu di temani oleh dua orang anak buah Siwan di luar, maka ia tidak perlu merasa cemas takut ada orang yang menyerangnya kembali, terlebih lagi polisi masih terlihat ada di lokasi tkp sebagian.


Selesai membersihkan tangan dan wajahnya, Hanna lantas membuka pakaiannya yang kotor karena ia tidak mau menggendong Hwan dalam kondisi seperti itu, ia membuka bajunya di hadapan Rayhan.


Sontak saja Siwan langsung merasa terkejut, kedua bola matanya membesar melihat Hanna yang kini hanya memakai tanktop crop bertali kecil.


Rayhan hanya bereaksi biasa saja, karena ia tahu maksud tujuan Hanna berbuat seperti itu.


Malah Elsa yang terlihat malu sendiri melihat kelakuan Hanna yang berbuat seperti itu di depan laki - laki, karena setahunya Hanna yang ia kenal bukanlah orang yang suka mengumbar auratnya di depan pria lain kecuali saat ia menyusui Hwan.


Siwan langsung membuka jaketnya dan menaruhnya di pundak Hanna agat tubuh indah Hanna tidak banyak di konsumsi oleh mata para lelaki yang ada di sekitarnya.


"A Rey, berikan Hwan padaku, kau pasti pegal kan, " ucap Hanna.


"Tidak apa Hanna, tubuhmu pasti lebih kesakitan di bandingkan aku, kau jangan khawatirkan aku, aku masih bisa menahannya," ucap Rayhan.


Siwan langsung maju, mendekat pada Rayhan.


"Berikan Hwan padaku saja !!" pinta Siwan.


"Baiklah, sebentar," Rayhan mencoba membuka gesper bagian belakang gendongan bayi model hipseat itu dan dengan perlahan dan hati - hati menyerahkan Hwan pada ayahnya, Siwan.


Tidak ada penolakan dari Hanna saat itu, ia hanya terlihat meringis menahan sakit yang sedang ia rasakan saat itu.


Hanna pun berjalan mengikuti Siwan yang membawa Hwan dalam dekapannya.


Sementara itu Rayhan dan Elsa di belakang mereka.


"Kak Rey, boleh aku minta tolong ?" tanya Elsa.


"Ada apa, katakan saja !" jawab Rayhan.


"Tolong bawakan mobilku, tanganku sedang sakit, aku takut celaka menyetir mobil sendirian," Elsa terlihat meringis saat ia merogoh kunci dari dalam saku celananya.


"Tanganmu, ya ampun, pasti bakalan bengkak ini, " Rayhan menyambar tangan Elsa yang sedang menyerahkan kunci mobil padanya.


"Aaww... sakit, pelan - pelan, " Elsa merasa kesakitan saat Rayhan malah menyentuh serta membolak - balik tangannya untuk melihat luka apa yang nampak di kedua tangannya.


"Maaf, aku cuma mau lihat saja seberapa parahnya lukamu, " ucap Rayhan.


Siwan dan Hanna masuk ke dalam mobil Siwan yang di bawa oleh anak buah Siwan.


Sedangkan Rayhan dan Elsa berdua menaiki mobil milik Elsa.


Sebuah mobil lainnya mengikuti perjalanan mereka dari belakang untuk berjaga - jaga.


Di dalam mobil...


Hanna dan Siwan duduk berdampingan di belakang.


Hanna menyaksikan Siwan sedang terpana menatap wajah Hwan semenjak mobil melaju di gelapnya malam mencekam, hari itu.


"Dia, mirip sekali denganku saat bayi, begitu kata ibuku !!" ucap Siwan.


Hanna hanya menyunggingkan bibirnya sedikit lalu menghindari Siwan yang kini beralih menatapnya.


"Chagiya, kumohon, maafkanlah aku, bukan maksudku tidak ingin menemui mu dan Hwan karena tidak mau bertanggung jawab, tapi aku... "


"Ya, aku paham, hal semacam ini kan yang kau takutkan, jadi sebaiknya, kita tidak usah berurusan lagi selamanya, aku akan menjalani kembali kehidupanku bersama Hwan yang damai setelah kepulanganku ke Bandung, dan aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di Bali, " ucap Hanna, terdengar agak emosi.


Sang supir yang mendengar ucapan Hanna di buat ngeri mendengarnya. Ia merasa bahwa seharusnya telinganya di buat tuli saja saat itu, ia tidak ingin mendengarkan percekcokan antara pasangan tentang masalah rumah tangha yang pelik masalah itu. Ia takut terseret ke dalamnya. Pikir sang supir.


Siwan mengambil nafas kemudian membuangnya perlahan. Ia nampaknya tahu bahwa Hanna tidak mungkin serius mengatakan hal tersebut, ia hanya sedang emosi sesaat.


Hanna menahan air matanya lalu membuang muka ke samping, fokus melihat ke arah luar melalui jendela mobil.


Hanna tidak sengaja menyentuh bibirnya yang terluka.


"Aww... ish... brengsek, sialan !!" ucapnya tanpa beban, merasakan sakit di area bibir dan pipi sebelah kirinya.


Siwan langsung menoleh kembali pada Hanna dengan tatapan heran, ia mengira ucapannya itu di tujukan padanya.


"Aku ingin mencekik pria bernama Tiger itu hingga ia mati, seenaknya saja dia ingin mengambil Hwan dariku," ucap Hanna.


"Nanti akan aku jelaskan, siapa dia dan mengapa dia ingin mengambil Hwan darimu, " ucap Siwan dengan penuh senyuman.


"Cih... bahkan kau masih bisa tersenyum di depanku, jangan harap aku akan memaafkan kesalahanmu juga !" tegas Hanna.


Sang supir menatap Siwan lewat kaca spion, ia melihat dengan jelas raut wajah bosnya seketika langsung berubah, masam dan kedua alisnya bertaut.


"Haduh... kenapa harus aku yang jadi saksi pertengkaran mereka, sabar... sabar... jangan sampai aku membocorkan rahasia ini, bisa - bisa bos menghukumku sangat berat, haish... kapan sampainya di villa sih, macet banget ini jalananan, " gumam sang supir yang merupakan anak buah Siwan.


Sesampainya di depan villa, Hanna perlahan turun keluar, dengan susah payah ia berjalan karena kakinya merasa kesakitan setelah di paksa berolahraga kasar beberapa jam yang lalu. Ia tak menyangka ilmu karatenya masih menempel dengan jelas di otaknya meskipun latihan hanya sebentar saja dulu.


Ibu mana yang tak mau berjuang melindungi anaknya dari ancaman serangan musuh, dengan atau tidak adanya ilmu bela diri yang di kuasai, tekad seorang ibu pasti akan mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya segenap jiwa dan raga demi keamanan anaknya.


Siwan turun dari mobil dengan perlahan, karena ia takut Hwan terbangun dari tidur lelapnya.


Di ambang pintu, sahabat Hanna keluar menyambut kedatangan mereka, melihat Hanna berjalan dengan terseok - seok terlihat menahan sakit, Audrey dan Karina menghampirinya dan membantunya berjalan masuk ke dalam.


"Hanna, kalian darimana, kau kenapa, apa terjadi sesuatu pada kalian, Rey mana ?" cerca Audrey.


"Ssstt... jangan berisik, Hwan sepertinya tidur, " sela Yasmin.


"Bisa minta tolong bawa Hwan ke kamar ?" tanya Siwan, menatap Yasmin.


"Ah, iya, berikan padaku !!" kedua tangan Yasmin sudah bersiap menerima Hwan dari Siwan.


Tak lama berselang, sebuah mobil lainnya berhenti di luar pagar villa, dan Rayhan muncul bersama Elsa mendekat masuk ke dalam villa.


Kini Hanna sedang duduk di sofa. Rayhan menyerahkan sebuah kantong keresek berisi obat - obatan untuk Hanna yang sempat ia beli di apotek saat perjalanan menuju villa.


"Obatilah lukamu, aku juga membeli obat anti nyeri untukmu, " ucap Rayhan.


Karina menerima keresek tersebut.


"Ayo kita ke atas, tolong bantu obati lukaku di atas, " ucap Hanna, menatap Karina, kemudian berdiri dan melangkah berniat menuju tangga.


Karina berniat memapah Hanna ke atas, namun, Siwan langsung bangkit dan memangkunya ala bridal style menuju lantai dua, kamar Hanna berada.


Hanna sedikit terkejut, ia menatap Siwan sesaat dengan tatapan tajam, namun, lama kelamaan tatapannya berubah sendu dan hatinya kembali luluh saat dengan intensnya ia melihat wajahnya orang terkasih yang selama ini ia rindukan dan hanya ia temui di alam mimpi, kini ia dapat melihatnya kembali dalam nyata.


"Kenapa kita harus bertemu kembali dalam situasi seperti ini, kau bahkan bisa saja memberiku kejutan dan membuatku shock dengan cara lain yang lebih hangat meskipun penuh haru, " ucap Hanna dengan lirih.


Siwan hanya mendengarkan dengan seksama apa yang di utarakan oleh kekasihnya saat itu tanpa banyak berkomentar, ia hanya fokus pada pijakan tangga tanpa menoleh pada Hanna sedikitpun, seolah tidak ingin hanyut dalam tatapan kesedihan yang di rasa oleh kekasihnya saat itu. Meskipun jantungnya menjadi berdebar kembali ketika harus menyentuh orang yang selama ini ia rindukan pula.


Karina yang berjalan di belakang mereka sengaja memberi jarak di belakangnya agar keduanya tidak merasa canggung dengan keberadaannya. Seolah tidak ingin mengganggu komunikasi di antara keduanya, ia sengaja menahan langkahnya beberapa meter di belakang mereka.


...***...


Kenapa atuh Siwan kamu ya malah ngumpet terus selama ini, kasihan Hanna yang tadinya harusnya bahagia mendengar kamu masih hidup, eh malah jadi kesel dan marah kan tau kamu malah sengaja menghindar meskipun demi kebaikan dan keselematan.


Zaman udah canggih kali Wan, Wan... video call an kek, teleponan kek, susah amat sih, egois banget Siwan ih gemes...