My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Trio Mas Muda



Di sebuah negara di benua terkecil di dunia, negara dengan sumber daya alam yang melimpah, memiliki sektor pemerintah yang efisien, serta sektor bisnis yang berdaya saing tinggi, Siwan dan Aji, serta beberapa orang yang merupakan penduduk setempat negara tersebut sedang berada di depan sebuah mansion besar, berkumpul di ruang tengah, sedang melakukan sebuah rapat dan nampak terlihat seperti sedang mengatur sebuah strategi.


Mereka berbicara dengan bahasa Inggris.


"Oke, sebisa mungkin, jangan sampai di ketahui oleh pihak kepolisian, kalaupun dia kabur menuju ke arah keramaian kota, usahakan beri jarak namun tetap harus terawasi, giring dia ke arah yang aman agar kita bisa membekuknya tanpa ada yang melihatnya," Aji memimpin rapat dan memberitahukan strategi apa saja yang harus ia dan timnya lakukan saat proses penyergapan seseorang yang tengah ia buru saat ini.


Siwan hanya duduk dan mengamati jalannya rapat tanpa banyak berbicara. Hanya amarah yang terlihat dari sorot matanya.


Selesai rapat, Aji membubarkan timnya, dan kini hanya tersisa dirinya dan Siwan.


"Kak, apa kau yakin, kau baik - baik saja ?" Aji merasa cemas melihat Siwan yang sebenarnya masih merasa trauma dengan apa yang akan dilakukan olehnya esok.


Tubuhnya sudah kembali sehat, ia sudah pulih dan semakin membaik karena obat yang tepat dan perawatan dari tangan sang dokter ternama di negara Singapura beberapa bulan yang lalu.


Tapi tidak dengan mentalnya.


Setelah Siwan kembali ke Bali, dan Aji mulai sering menemaninya kembali, ia melihat bahwa Siwan kadang secara tiba - tiba terdiam dan berkeringat, tubuhnya bergetar namun sorot matanya memancarkan aura ketakutan, ia tiba - tiba menjadi sulit bernafas, wajahnya selalu mengernyit dan seperti sedang menahan sakit.


Hal itu pertama kali Aji temukan di saat ia dan Siwan tengah melihat proses eksekusi Tio oleh anak buahnya.


Tio yang sudah berani berkhianat padanya di siksa di sebuah ruangan sempit dan gelap di ruangan bawah tanah yang ada di markas mereka.


Tio dengan senang hati menerima hukumannya saat itu, ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun apalagi mengatakan ampun pada Siwan. Ia merasa hukumannya itu setimpal dengan perbuatannya pada Siwan yang menyebabkan Siwan menderita selama hampir satu tahun lamanya.


Setelah melihat reaksi Siwan seperti itu, Aji langsung membawa Siwan untuk pergi dari ruangan tersebut, membawanya menuju ruangan yang lebih manusiawi di bandingkan ruang eksekusi tersebut.


"Kak, minumlah dulu !" Aji memberikan segelas air putih pada Siwan, ia memastikan Siwan meminumnya perlahan.


Aji tidak menyangka, bos sekaligus kakaknya yang ia ketahui sangat kuat dan tegar meskipun masalah berat selalu menghadangnya sejak dahulu kala, kini berubah menjadi seorang pria yang terlihat lemah ketika mengingat sebuah pengalaman yang membuat dirinya tersiksa, menjadi sumber kelemahannya.


"Kak, kau harus kuat, lihat aku kak, lihatla," Aji menarik wajah Siwan yang matanya masih memancarkan sorot yang sama sejak beberapa menit yang lalu.


"Lihat aku, kau tidak sendirian, ada aku disini, ada tim yang lain juga, kami akan menjadi perisai bagimu, kami akan menjadi senjatamu, tidak perlu takut, aku tidak akan membiarkanmu terperosok dalam ketakutanmu, kuatlah kak, demi dirimu dan keluargamu !"


Siwan mulai terlihat tenang, tubuhnya mulai bereaksi, sorot mata tajamnya mulai melemah. Kemudian ia melatih ketenangan dirinya dengan cara bermeditasi sebentar, menarik nafaa dalam - dalam, kemudian menutup matanya perlahan, lalu merilekskan otot - otot kaku di tubuhnya.


Sejak saat itu, Aji tidak pernah melaporkan kembali pada Siwan tentang Tio dan hukumannya, ataupun tentang berita sadis lainnya.


Aji bahkan berkonsultasi dengan bu Shinta dan psikolog bagaimana caranya supaya dia bisa membantu mengatasi trauma Siwan.


Kembali pada Siwan dan Aji.


"Aku baik - baik saja, aku justru semakin tidak sabar ingin bertemu dengannya !"


"Sebaiknya sekarang kau beristirahatlah dulu, aku sendiri yang akan memastikan persiapan untuk besok,"


Siwan pun beranjak dari ruangan tersebut, lalu masuk ke dalam sebuah kamar yang berada dilantai 2 mansion yang berada di tengah hutan tersebut.


Di dalam kamar, ia duduk di sofa, lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya.


Foto Hanna bersama bayi Hwan.


Siwan terus menatap dan menyentuh wajaj mereka yang teecetak di atas foto.


Kerinduan yang begitu menggebu membuat ia yang sebenarnya ingin segera pergi detik itu juga untuk mendatangi keduanya.


Entah kapan waktu itu akan datang, ia masih harus bersabar demi kebahagiaan masa depannya bersama orang terkasihnya.


Yang menjadi fokusnya saat ini adalah, meringkus semua musuhnya terutama seseorang yang begitu membuat dirinya emosi walau hanya dengan mendengar namanya.


AUSTIN WILL SMITH, orang yang paling ingin ia temui dan ia minta pertanggungjawaban atas segala kebohongannya dan pengkhianatannya selama ini.


Keesokan harinya...


Siwan, Aji dan timnya sedang menyusuri hutan yang berada di daerah pegunungan di salah satu negara yang berada di benua A dengan menggunakan mobil gunung.


Perjalanan mereka terbilang cukup hati - hati dan perlahan namun pasti. Sebetulnya bisa saja saat itu Siwan menggunakan kendaraan lain seperti helikopter agar cepat pada lokasi tujuan mereka saat ini. Hanya saja hal itu pasti akan cepat di ketahui oleh musuh - musuhnya yang sedang di buru saat ini.


Mereka sampai di suatu lembah. Mobil mereka berhenti, dan karena jalanan semakin menanjak dan terjal, mengharuskan mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Selama hampir 2 jam perjalanan yang cukup melelahkan itu, mereka akhirnya sampai juga di lokasi yang menjadi sarang musuh mereka.


Di bawah bukit yang berjarak sekitar lima meter, sebuah mansion sudah nampak di pelupuk mata mereka meskipun masih terlihat samar - samar.


Di balik bebatuan Aji kembali memimpin rapat dan membagi tim mereka menjadi beberapa grup untuk mengepung markas musuh mereka.


Dan, Siwan serta Aji tidak pernah terpisahkan, mereka selalu menjadi satu paket komplit bagaikan tahu dan tempe dalam sebuah menu paket nasi liwet yang selalu ada. Jikalau Bram ikut serta hari ini, mungkin Bram di ibaratkan sebagai lalapan pelengkap paket mereka. Apa sih... !


...****...


Siang itu, tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa penggerebekan markas tersebut di lakukan di saat matahari sudah naik dan bersinar sangat terang. Karena, bila melihat gaya Siwan, ia biasanya selalu melakukan pengepungan dalam keadaan gelap gulita, saat tengah malam atau subuh hari.


Seseorang berlarian dari atap mansion tersebut menuju sebuah ruangan yang ada di ujung lorong mansion tersebut.


Dia berbicara dengan bahasa Inggris.


"Sir, di bawah terlihat beberapa gerombolan mencoba memasuki wilayah kita," ucap pria berkaos abu - abu tua body fit serta celana cargo berwarna krem, terlihat ketat di tubuh kekarnya.


Pria yang sedang dicumbu mesra oleh seorang wanita bule berpakaian sexy itu hampir tersedak minuman yang baru diteguknya.


"Apa, siapa? maksudku, apa dia utusan Andrew?" tanya pria itu yang ternyata adalah Austin.


"Bukan, dia bukan komplotan Andrew Chou, aku tidak mengenali mereka, namun, mereka bersama pasukan Alpha negara ini, aku kenal salah satunya!" ucap pria berbaju darkgrey itu.


"Shit... siapa dia ?"


Austin pun keluar dari ruangan tersebut tergesa - gesa di ikuti oleh dua orang pria lainnya yang sama - sama memakai kaos slimfit berwarna darkgrey.


Raut wajah wanita cantik dan sexy yang sejak tadi menemani Austin pun berubah menjadi dingin. Ia terlihat menelepon seseorang di seberang sana, lalu mereka mengobrol dengan bahasa Indonesia. Setelah menutup teleponnya, wanita itu seolah bersiap untuk pergi, berkemas seperlunya bahkan sempat mengganti baju secepatnya. Sepertinya wanita itu merupakan seorang mata - mata.


Kedua mata Austin kini sedang fokus menatap kaca pembesar teropong itu menuju ke satu arah.


"Siwan... !"


Merasa belum cukup jelas, ia memperbesar pengaturan lensa teropongnya untuk melihat wajah orang yang ia lihat barusan sekilas lewat teropong itu.


"James, bersiaplah, kita kedatangan tamu !" ucap Austin.


Nampaknya, meskipun keamanan di sekeliling mansion tidak cukup rapat saat siang hari, namun ia memiliki beberapa penjaga pengganti para bawahannya yang sedang pergi dari mansion saat itu. Kebetulan saat siang hari beberapa bawahannya selalu di suruh untuk pergi ke kota berbelanja keperluan untuk menunjang kehidupan mereka.


Dua orang pria berkacamata hitam lengkap memakai sarung tangan tengah menghampiri sebuah kandang anjing yang ada di halaman belakang mansion itu.


Masing - masing membawa dua ekor anjing di tangannya. Anjing berjenis Belgian Malinois terlihat garang dan sangat berisik, terus menggonggong dan gelisah, seolah ingin segera di lepaskan oleh sang pemilik dan senantiasa ingin melaksanakan tugasnya.


Austin mengerahkan seluruh anak buahnya untuk maju ke depan menjaga pertahanan wilayahnya.


...***...


Sesampainya Aji dan Siwan di depan gerbang mansion, dengan menggunakan senjata api mereka memberondong kunci pagar mereka.


Setelah pagar terbuka, tiba - tiba baku hantam pun terjadi, beberapa anak buah Austin pun sudah di lengkapi senjata masing - masing. Di tambah, anjing yang telah di siapkan oleh tim Austin sudah di lepaskan dari tangan sang pemilik lalu berlari sekencangnya menyambut tamu mereka.


Namun, karena bekal pengalaman serta peralatan yang telah di siapkan dengan lengkap, Anjing milik anak buah Austin berhasil di taklukan tanpa harus menyakiti sang anjing tersebut. Juga beberapa anak buah Austin berhasil di pukul mundur dan bersembunyi di dalam mansion.


Salah satu tim Alpha mengikat dan memasukkan kembali mereka ke kandang.


Aji masuk ke dalam mansion dan mencari keberadaan Austin sambil bermain kucing - kucingan dengan anak buah Austin.


Dari arah samping, muncul seseorang yang sudah berpakaian serba hitam serta memakai masker dan pelindung badan.


Saat dia membuka maskernya, ternyata dia adalah wanita mata - mata itu.


Wanita itu menghampiri Aji dan Siwan.


"Dia kabur lewat belakang, dengan beberapa orang anak buahnya, kemungkinan belum jauh darisini, ikutlah denganku !" ucap wanita bule itu, lalu berjalan menuju ke arah belakang di ikuti oleh Aji dan Siwan.


Sedangkan urusan di dalam mansion sudah di serahkan oleh tim Alpha.


...***...


Austin berjalan menyusuri hutan dan menuruni bukit secara perlahan. Jalan setapak dengan bebatuan yang di pinggirnya merupakan jurang yang sangat curam, membuat siapa saja yang melintasinya dengan tidak hati - hati, maka akan berakhir dengan kematian detik itu juga.


"Sial, aku pikir dia tidak akan menemukanku secepat ini, padahal aku belum lama menikmati kebebasanku dari si cecunguk Chou,"


Austin terlihat berkeringat, serta nampak kelelahan, berkali - kali ia berhenti sejenak dan mengatur jalan nafasnya.


"Bos, di bawah sana ada tim Alpha, kita harus memutar jalan menuju gua yang ada di samping tebing itu, !" ucap seorang anak buahnya.


"Apa, naik lagi ke atas? sial ! nafasku hampir habis, tau begini aku tidak akan minum - minum dengan wanita jalang itu tadi !" Austin mendengus kesal dan penuh amarah.


Namun ia terus melanjutkan perjalanan di pimpin oleh salah seorang anak buahnya.


Sesampainya di dalam gua, dengan susah payah ia menuju kesana, namun, disana, ternyata sudah ada orang yang menunggu dan menyambutnya.


...***...


Suara tepuk tangan menggema di langit - langit gua, membuat Austin serta ketiga orang anak buahnya terkejut dan bersiap dengan senjatanya.


Begitu pula dengan tim Alpha yang mendampingi Siwan dan Aji, mereka masing - masing mengarahkan pistol pada musuh di depannya.


"Hallo... apakabar ?" tanya Siwan.


Austin yang terlihat masih terasa sesak terpaksa harus tersenyum sambil menepis rasa takut di hati kecilnya yang semakin menggebu.


"Cih... tidak usah berpura - pura, kau merasa kecewa tentunya, melihatku sehat dan hidup senang dan bahagia seperti ini, iya kan ?" ucap Austin.


"Well, benarkah ? hidup senang dan bahagia ? lalu, untuk apa kau bersembunyi sampai sejauh ini ? bersembunyi di bawah ketiak ibumu ?" maksudnya Austin bersembunyi di negara asalnya, negara kelahirannya.


Siwan memasang ekspresi wajah tenang dan penuh senyuman, namun dalam hatinya ia sungguh tidak sabar ingin menghajar habis - habisan pria bule berambut kriting yang kini berdiri hanya dua meter di depannya.


"Aku hanya sedang merasa bosan dengan kehidupan di perkotaan, anggap saja aku sedang menikmati suasana sejuk dan damai di daerah pegunungan ini !" bela Austin, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan sedikit berimprovisasi dengan Siwan sebelum nasib buruk menimpanya.


"Tidakkah kau merindukanku ? sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kalau kita berbincang dengan santai, sambil meminum kopi, misalnya !" ajak Siwan.


"Kopi Vietnam ?"


Hahahaha.... Siwan dan Austin tertawa bersama - sama.


Orang - orang di belakang mereka terlihat begitu terheran - heran melihat tawa keduanya yang memecah keheningan.


Aji sudah mengerutkan keningnya, ia sudah gemas dan kesal sendiri melihat kelakuan bosnya dan mantan sahabatnya yang malah mengumbar senyuman dan berbincang santai. Tangannya sudah merasa gatal ingin meninju wajah mantan sahabatnya itu.


Saat anak buah Austin mulai lengah, Siwan yang sudah tak di sadari berjarak hanya satu meter dari Austin, langsung meninju Austin sekencangnya hingga terjatuh dan terkapar di lantai.


Baku tembak pun terjadi antara anak buah Austin dan tim Alpha. Suara pistol mengagetkan penghuni gua di atas pegunungan itu. Kawanan kelelawar pun berbondong - bondong berterbangan di atas kepala para manusia.


Ketiga anak buah Austin langsung terkapar saat kakinya di tembaki oleh tim Alpha yang berjumlah lebih banyak. Ketiganya pun di bekuk dan di lucuti senjatanya. Mereka kalah jumlah.


Sedangkan antara Austin maupun Siwan, tidak ada yang melerai mereka.


Aji bahkan hanya bagaikan wasit, bergulir ke kanan dan ke kiri mengamati dan mengikuti arah keduanya. Ia tidak bisa mengeroyok Austin bersama Siwan, karena, sebagai pria gentle man, ia hanya menunggu giliran saat Siwan kelelahan, maka ia yang akan menggantikannya untuk menghabisi Austin.


POV Author


"Sa ae lu dah, Ji, "