My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Where...



Malam hari tiba...


Siwan sengaja menunggu Hanna di halaman rumah, di dalam mobilnya. Berkali - kali ia melihat jam yang melingkar di tangannya namun Hanna belum kunjung pulang juga.


Sesaat Siwan menyentuh jam tangannya itu, dia mengingat kembali moment saat Hanna memberikan jam tangan itu untuknya.


Siwan senyum - senyum sendirian di dalam mobil, hingga hpnya berdering, ia mulai tersadar kembali. Ia melihat Tio mencoba meneleponnya saat itu.


" Hallo, ada apa ?" tanya Siwan pada Tio di seberang sana.


" Apa... " ekspresi wajah Siwan seketika langsung berubah.


Siwan langsung mematikan sambungan telepon di hpnya, menyimpannya di atas dashboard lalu menyalakan mesin mobilnya dan bergegas keluar dari halaman rumah Hanna.


Beberapa menit kemudian...


Mobil Siwan berhenti di samping motor seseorang di titik penjemputan Hanna di dekat parkiran departement store tempat Hanna bekerja.


Siwan turun dari mobilnya dan menghampiri orang itu yang ternyata adalah Tio.


" Kak, aku sudah bertanya pada security dan beberapa temannya yang pulang paling lambat, Hanna memang sudah pulang sejak jam 10 tadi " ucap Tio.


" Kenapa kau tidak bisa melihatnya keluar dari sini ?" tanya Siwan, matanya nyalang, tangannya mengepal, seperti menahan amarah.


" Perkiraanku, dia pulang lewat jalur belakang sana, tidak lewat jalur seperti biasanya " jawab Tio sambil menunjuk ke arah belakang Siwan.


" Kalau begitu kenapa kau tidak menyusulnya tadi ?" tanya Siwan.


" Maaf kak, aku baru tahu ada jalan selain jalur ini barusan dari security disini beberapa detik yang lalu, aku pikir jalan komplek perumahan di belakang hanya jalan buntu " jawab Tio kembali.


Siwan dan Tio pun memutuskan untuk kembali ke markas. Namun Siwan malah berhenti di halaman rumah Hanna kembali. Saat Siwan turun dari mobilnya tidak lama kemudian, terlihat motor Aji datang dan parkir di samping motor Tio.


" Bagaiamana ?" tanya Aji pada Tio.


Tio hanya menggelengkan kepalanya.


Sebelumnya, Tio yang menghubungi Aji bahwa ada masalah tentang Hanna saat Tio sedang menunggu Siwan datang menghampirinya, yang sedang menunggu di dekat parkiran departement store.


Siwan langsung mencoba masuk ke dalam rumah Hanna, paswordnya masih sama.


Begitu Siwan masuk, ia langsung menuju kamar Hanna. Ia membuka seluruh lemari pakaian Hanna, dan... tada.... kosong sebagian.


Hanya tersisa beberapa baju Siwan dan selimut serta seprai yang terlipat rapih dan bersih.


Lalu beralih ke meja riasnya, Siwan hanya melihat sebotol parfum miliknya.


Nakasnya pun kosong, berkas - berkas milik Hanna yang berada di dalamnya kini sudah tidak ada. Siwan berkeliling menelaah setiap inchi ruangan kamar Hanna, tidak ada yang berubah, hanya lemari dan nakasnya saja yang kosong, make up dan skincare milik Hanna serta beberapa alat pengering dan pelurus rambut milik kekasihnya itu kosong entah kemana.


Tio dan Aji hanya saling berpandangan di belakang Siwan.


Siwan keluar kamar, mata Siwan kembali menerawang sekitar ruangan, semua nampak masih utuh dan pada posisinya saat itu.


" Periksa ke atas... " ucap Siwan.


" Baik kak " jawab Tio, dan langsung buru - buru naik ke lantai 2.


Siwan berjalan menuju dapur, semua peralatan dapur masih lengkap, lalu dia membuka kulkas, dan isinya sudah kosong. Lemari dan laci dapur pun hanya berisi sendok, piring, gelas, semua bahan makanan sebagai stok Hanna setiap harinya sudah tidak ada.


Ketika melihat rak penyimpanan tea pot, ternyata itu juga tidak ada.


Saat masuk ke dalam kamar mandi, semua sabun, perlengkapan dan alat mandi lainnya juga tidak ada. Hanya tersisa sikat gigi milik Siwan saja.


Keluar dari kamar mandi ia mendadak lemas.


" Kak, duduk dulu " Aji memapahnya hingga ke kursi meja makan.


Tio turun dari lantai 2...


" Kosong kak, tidak ada baju - baju disana " ucap Tio.


" Aku coba telepon dia dulu " sahut Aji.


Dan...


" Tidak aktif kak " ucap Aji.


Untuk sesaat masing - masing larut dalam pikirannya sendiri.


Mereka mencoba berpikir keras, siapa.... siapa orang yang harus mereka hubungi. Lagipula ini sudah malam. Siwan dan Aji tidak punya nomor teman terdekat Hanna, rumahnya pun mereka tidak tahu.


" Kak, besok saja kita coba ke tempat kerjanya, dia mungkin masih bekerja disana, hanya pindah rumah saja mungkin " ucap Aji.


Siwan tidak bergeming, dia hanya tertunduk, dengan kedua tangan yang menahan kepalanya.


Malam itu, mereka memutuskan untuk menginap di kediaman Hanna. Bram yang di hubungi oleh Aji tetap di minta berjaga di markas, dia di minta untuk mengecek rekaman cctv beberapa hari ke belakang, apakah Hanna terlihat mencurigakan saat keluar dari rumahnya. Dan Bram di minta melaporkannya secara detail besok pagi.


Siwan berjalan menuju kamar Hanna dengan lemas.


Dia melihat ke arah ranjang yang terlihat rapih dan masih dengan seprai dan selimut yang sama seperti pagi tadi.


Siwan menyingkap selimut yang menutupi sebagian ranjang itu, dan dia melihat di atas seprai berwarna broken white itu, ada sebercak noda berwarna merah, seperti darah.


Siwan menyentuh noda itu, kemudian dia menitikan air mata.


Dia merasa berdosa karena telah menghancurkan kepercayaan Hanna dengan perbuatannya tadi pagi.


Dia mengira Hanna kabur karena kecewa padanya yang sudah berjanji tidak menyentuhnya apapun rintangan dan godaan yang melintang di depan matanya.


Namun, pada dasarnya dia hanyalah seorang pria dewasa yang normal dan penuh nafsu, logikanya terkubur begitu saja dalam hitungan detik saat berhadapan dengan hawa nafsu kala ia berdekatan dengan wanita yang ia cintai.


Keesokan paginya...


Pintu kamar Siwan di ketuk oleh Aji.


Namun tidak ada juga jawaban dari Siwan.


Perlahan Aji membuka pintu kamarnya dan masuk.


Dengan langkah yang sangat pelan ia berjalan menghampiri Siwan dan berdiri di pinggir ranjang di hadapan Siwan yang masih tertidur dengan posisi meringkuk di tengaj kasurnya.


Sepintas, Aji melihat bercak darah yang ada pada seprainya di dekat wajah Siwan, ia malah mengira Siwan mimisan.


" Kak Wan, kak kau mimisan ?" Aji menggulingkan wajah Siwan, memeriksa daerah hidungnya.


Siwan yang terbangun gara - gara kelakuan konyol Aji hanya bisa melongo menatapnya.


Nyawa Siwan masih di alam mimpi sepertinya.


Siwan duduk di bibir ranjang.


" Ada apa ?" tanya Siwan sambil mengucek matanya.


" Apa semalam kau mimisan, lihat, darah itu di dekat wajahmu, kau pusing atau kepalamu terasa berat ? aku panggilkan Oz sekarang juga " Aji mengeluarkan hpnya dari saku celananya.


" Sudah, hentikan, aku baik - baik saja, aku tidak mimisan " sahut Siwan.


" Oh... kupikir itu darah dari hidungmu !" ucap Aji yang polos dan benar - benar tidak tahu apa - apa. Hahaha...


" Ayo kita pergi ke departement store !" ucap Siwan.


" Ini masih terlalu pagi, kau harus sarapan dulu, aku sudah pesankan makanan, ada Bram menunggumu juga di luar " ucap Aji.


Siwan pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Bram yang tengah duduk di sofa sambil membaca koran, macam pegawai negeri saja, membaca koran di pagi hari sambil minum kopi.


Saat Siwan mendekat dan duduk di seberangnya, di sofa lainnya, Bram langsung melipat korannya dan mulai angkat bicara.


" Bagaimana ?" tanya Siwan.


" Berapa hari ?" tanya Siwan.


" Melihat dari rekaman, mulai dari hari jumat sampai hari kemarin " ucap Bram.


" Kenapa kau tidak melaporkannya padaku ?" tanya Siwan.


" Maaf bos, aku pikir itu sampah yang selalu mbak Hanna bawa ke TPS atau baju bekas yang masih layak pakai, soalnya beberapa kali saat saya mengantar jemput, mbak Hanna pernah menyumbangkan bajunya dan makanan pada beberapa rumah warga yang membutuhkan di jalan xxx " ucap Bram.


" Tapi Bram, selama pengintaianku mbak Hanna tidak pergi kemana - mana, dia hanya pergi ke tempat kerja, eh tapi kemarin, aku membuntutinya, dia pergi ke rumah sakit xxx, aku menunggunya di tempat parkir, tapi saat dia kembali, dia masih membawa barangnya di motor " ucap Tio.


" Rumah sakit ?" tanya Siwan.


" Iya, rumah sakit xxx, tapi aku kehilangan jejaknya, lalu aku kembali menunggunya di tempat parkir " ucap Tio.


" Kenapa kau baru mengatakannya sekarang !" ucap Aji, kesal.


Siwan langsung mengeluarkan hpnya di saku celananya.


" Cih... lowbat, Ji, telepon Oz " pinta Siwan.


Aji langsung menelpon Austin, namun tidak di angkat olehnya.


" Dia sepertinya sedang sibuk " ucap Aji.


" Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, setelah itu ke tempat kerja Hanna !" ucap Siwan.


Saat Siwan berdiri, Aji dan yang lain pun ikut berdiri hampir bersamaan.


" Kak... " semua serempak memanggilnya.


" Sarapan dulu, kau harus mengisi perutmu " ucap Aji.


" Aku tidak lapar... " jawab Siwan.


" Kak, kau harus tetap sehat supaya bisa mencari Hanna kembali " timpal Aji.


" Oke, aku makan dulu... cih.. cerewet " ucap Siwan sambil berjalan ke ruang makan.


Satu jam kemudian...


Bram menunggu Siwan dan Aji di parkiran di dekat mobilnya.


Tio menjaga markas.


Lalu Aji dan Siwan, kini mereka sedang berada di sebuah ruang istirahat khusus para dokter di rumah sakit.


Mereka sedang memandangi seorang dokter muda, multitalenta, seorang dokter jomblo berasal dari negara Australia, kini tengah asyik tertidur di ranjang susun khusus tempat istirahat para dokter.


Aji menendang kaki Austin berkali - kali.


" Diam... " ucap Austin tanpa membuka matanya.


" Heh, kriting, bangun... " Aji kembali menendang kaki Austin.


Austin yang sepertinya tahu siapa pemilik suara itu merasa kesal, dia terbangun dan terduduk di kasurnya.


" Apa... " ucap Austin dengan sewot, namun seketika matanya terbelalak kala yang ia lihat di hadapannya kini adalah Siwan.


" Kak Wan... ada apa ? apa kau sakit ?" tanya Oz gelagapan.


" Bangunlah, kita bicara di luar !" ucap Siwan.


Kini, Siwan, Aji dan Austin sedang duduk bertiga di kantin rumah sakit.


" Apa kemarin Hanna menemuimu ?" tanya Siwan.


" Ah... itu, dia hanya meminta resep vitamin padaku, soalnya dia merasa kurang fit belakangan ini " jawab Austin.


" Maafkan aku kak, aku sudah berjanji padanya !!" gumam Oz.


" Setelah itu ?" tanya Siwan penuh curiga.


" Kami sempat makan siang bersama disini, di kursi ini, soalnya dia terlihat lemas dia bilang belum makan, padahal mau langsung pergi kerja " jawab Oz.


" Itu saja ?" tanya Siwan menatap Oz dengan sebelah alisnya terangkat ke atas.


" Itu saja, ada apa memangnya ?" tanya Oz.


" Hanna sepertinya pergi dari rumah, tapi dia hanya membawa bajunya dan barang penting miliknya saja " sahut Aji.


" Apa... minggat ? kemarin dia terlihat biasa saja, dia langsung pergi kerja soalnya pakai seragam, apa kalian sudah cek ke tempat kerjanya ?" tanya Oz menatap Aji dan Siwan.


" Semalam Tio menunggunya di tempat biasa, tapi Hanna bahkan motornya tidak terlihat " jawab Siwan.


" Lalu, apa sekarang kalian sudah mencari tahu lagi ke tempat kerjanya ? siapa tahu dia memang masih kerja, hanya pindah rumah saja, begitukan... !" ucap Austin.


" Benar kak, sekarang kita cari tahu dulu ke tempat kerjanya, dia pernah bilang padaku bahwa dia tidak pernah ingin melanggar kontrak kerja, sebisa mungkin dia akan bertahan sampai kontraknya habis tahun depan " ucap Aji.


" Kalau begitu ayo kita pergi... " Siwan berdiri dari kursinya, lalu pergi di susul Aji, mereka meninggalkan Oz yang masih duduk di kursinya.


" Ji... kabari aku !" teriak Oz dari kejauhan.


Aji hanya menganggukan kepalanya.


" Ya Tuhan, pergi kemana dia ? kalau aku tau dia memang berniat kabur, harusnya aku tidak memberinya pil darurat, biarkan saja dia hamil dan membawa kenang - kenangan dari kak Wan " ucap Austin, berbicara sendiri seperti orang stress.


Setengah jam kemudian...


Siwan dan Aji kini sudah berada di ruangan Satria, sang Kepala Personalia di departement store tempat Hanna bekerja.


" Silahkan di minum dahulu " ucap Satria.


" Terima kasih, maaf kami mengganggu pekerjaanmu, kami kesini hanya ingin memastikan saja, apa Hanna Anjani masih bekerja disini ?" tanya Siwan dengan sopan.


" Maaf kak Wan, tidak udah terlalu formal padaku, aku jadi tidak enak " sahut Satria berbasa - basi.


Aji memasang wajah seram, dia masih kesal padanya mengingat kejadian tahun lalu di hotel xxx saat dia menemukan Satria tengah menggerayangi tubuh Hanna di kamar hotel.


Sekilas Satria tersenyum semringah di hadapan Siwan, namun saat menatap Aji, dia menundukkan kepalanya sejenak lalu kembali berbicara pada Siwan.


" Maaf kak, dia sudah resaign, kemarin hari terakhir dia bekerja disini !" ucap Satria.


" Apa ?" pekik Aji.


Satria pergi sebentar menuju meja kerjanya, lalu kembali sambil membawa sebuah amplop berukuran besar.


" Ini surat pengunduran dirinya, seharusnya ini tidak boleh di perlihatkan pada pihak lain selain karyawan, tapi karena hal mendesak, barangkali kak Wan ingin melihat bukti pengunduran dirinya " ucap Satria.


Aji membawa amplop tersebut secepat kilat, lalu ia membukanya.


" Kak... " Aji memperlihatkan pada Siwan sesaat.


" Baiklah, terima kasih banyak, maafkan kami sudah mengganggu pekerjaanmu, kalau begitu kami permisi dulu " ucap Siwan masih bisa menghormati Satria sebagai seorang staff di toko itu.


Saat Siwan dan Aji keluar dari ruangannya, Satria menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan, langsung mengambil amplop pengunduran milik Hanna, dia menyobeknya, dan membuangnya ke tong sampah.


Di luar gedung departement tersebut, Siwan dan Aji masih nampak berdiri menatap ke atas dinding gedung yang terdiri dari 4 lantai itu.


" Kak, sebaiknya kita menunggu disana... " tunjuk Aji pada sebuah bangku di bawah sebuah pohon rindang.


Aji dan Siwan pun menghampiri bangku itu dan duduk di atasnya. Bangku itu berada di dekat pintu keluar masuk karyawan departement store tersebut.


Mereka sepertinya masih menunggu seseorang disana. Berharap bisa bertemu dengan orang yang sedang mereka nantikan.


Tepat pukul 12.00 wita, ketika sebagian karyawan/ti keluar untuk makan siang saat jam istirahat, tiba - tiba mereka merasa senang karena orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga.