
WARNING,, mengandung adegan 18+..
Setelah Austin, Aji dan Siska pulang ke rumah masing - masing, kini giliran Hanna kembali sendiri. Siska sebetulnya sudah bersedia menemani Hanna, dia tadinya ingin menginap di kamar kostnya karena masih mengkhawatirkan kondisi Hanna.
" Tidak apa kak, aku sudah agak baikan kok, kakak pulang saja, kasian nanti kecapean, besok kerja kan ? Aku sih besok libur. Jangan khawatir ya.. " Ucap Hanna.
" Bener nih, tapi kalau butuh aku, langsung telepon aja ya, aku bakal langsung kesini, jam berapa pun." Pinta Siska.
" Iya kak, tenang aja. " Ucap Hanna.
" Bener ya, aku juga pernah ada di posisi kamu Han, kamu bahkan selalu di sampingku saat aku butuh, kali ini, giliranku untuk selalu mendampingi mu saat kau benar - benar butuh seseorang. Percayalah, semua akan baik - baik saja. " Ucap Siska.
" Iya kak, makasih banyak ya. Love you... " Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 23.55, tapi Hanna masih belum juga bisa memejamkan matanya.
Kali ini dia mengisi waktu dengan menonton drama Korea di layar laptop nya. Pikirnya sudah lama sekali dia tidak menonton film drama Korea.
Sebetulnya dia sedang menunggu telepon atau video call dari Siwan sedari tadi. Tapi tidak ada kabar apapun dari Siwan sudah dua hari lamanya.
" Ah, sudahlah, aku ingin menengok para oppa Korea ku yang jauh disana. " Ucapnya.
Tanpa terasa, kini waktu sudah menunjukkan pukul 04.30, saking serunya menonton drama Korea, membuat Hanna lupa waktu. Bahkan sebentar lagi akan tiba waktu sholat subuh.
Saat peringatan adzan subuh menyala di hp, Hanna baru menyudahi aktifitas menonton film nya. Dia bergegas mengambil air wudhu bersiap untuk sholat subuh.
Barulah setelah shalat dia bisa tertidur pulas karena lelah.
Saat dia terbangun, sekitar pukul 10.00 Wita, dia merasa lemas dan lapar. Dia bergegas pergi ke dapur mencari sesuatu yang instan yang bisa secepatnya di makan olehnya.
Saat sedang asyik makan, tiba - tiba hpnya berdering, ternyata panggilan masuk dari Aji.
" Hallo, bli ada apa?" tanya Hanna.
" Kau baik - baik saja? kenapa baru mengangkat panggilan dariku ? apa kau sakit lagi ?" tanya Aji.
" Tidak, aku baru bangun bli, aku juga baru sekarang pegang lagi hpku, ada apa sih ?" tanya Hanna.
" Aku akan ke kostanmu sekarang. " Ucap Aji lalu menutup teleponnya.
Hanna merasa heran, " ada apa ya kira - kira ? kelihatannya ada sesuatu yang sangat penting." Tapi Hanna tetap mencoba untuk berpikir jernih. " Ah, mungkin bli khawatir sama kondisiku gara - gara kejadian kemarin." Lalu Hanna bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, dia mendengar suara ketukan di pintu masuk tempat kostnya.
" Pasti itu bli Aji. " Hanna lalu mengintip di lubang kunci pintunya. Tapi tidak nampak wajah Aji, karena tertutup oleh badannya yang berada sangat dekat dengan pintu.
Lalu Hanna berteriak dari sela lubang pintunya. " Bli, tunggu ya, aku baru mandi, aku pakai baju dulu. "
Tapi, baru juga satu langkah, terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar. Dan Hanna kembali berteriak di lubang pintunya.
" Bli, aku pakai baju dulu. Tunggu sebentar." Ucap Hanna.
Dan, pintu kembali di ketuk.
" Apa sih, dia buru - buru banget, ada apa sih." Hanna menggerutu. Lalu karena kesal, dia membuka pintunya perlahan, hanya sedikit karena dia hanya memakai handuk kimono. Hanna tidak melihat siapa yang berada di balik pintunya di luar sana, karena dia sudah mengira bahwa itu pasti Aji, dia hanya berkata di ambang pintu " bli, kau tidak dengar, aku kan bilang tunggu, aku belum pakai baju, gak sabaran banget sih. " Ucap Hanna dengan nada kesal.
" Kau semakin cerewet ya... !!"
Hanna terkejut mendengar suara orang yang menyahutnya di balik pintu. Dan, perlahan pintu pun terbuka sedikit demi sedikit lalu nampak seseorang mulai maju dan mendekat masuk padanya. Orang itu menutup pintunya. Hanna masih berdiri di posisinya sambil masih menatap orang yang kini berdiri berada di hadapannya.
" Kau tidak merindukan ku ?"
Tanpa Hanna sadari, air mata mengalir di pipinya, dia menangis tersedu - sedu lalu memeluk orang itu.
" Kenapa lama sekali, kau bilang hanya sebentar, ahjussi." Ucap Hanna sambil menangis semakin kencang dalam pelukan Siwan.
Lalu tidak lama kemudian Hanna melepaskan pelukannya lalu berlari masuk ke dalam kamar. Dia mengunci kamarnya lalu berteriak, " pergi... aku tidak mau bertemu denganmu !!"
Siwan tidak menyangka kekasihnya akan berlaku seperti itu. Dia mendekati pintu kamar Hanna lalu mengetuk nya berulang kali.
" Bukalah, aku mohon, tidakkah kau merindukan ku ? aku sangat merindukanmu, ayo bukalah, chagiya.. " Siwan terus mengetuk pintu kamar Hanna.
" Pergi... aku tidak mau bertemu, kau pulang saja, kembali saja ke Seoul sana." Hanna masih tetap pada pendiriannya.
" Baiklah, maafkan aku, chagiya, aku benar - benar menyesalinya. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Jaga kesehatanmu !!" Ucap Siwan.
Hanna terlihat panik, dia tidak menyangka Siwan akan menyerah begitu saja. Hanna merapatkan telinganya sebelah pada pintu, tidak terdengar suara di luar sana. Dan dia dengan cepat membuka pintu kamarnya hendak menyusul Siwan.
Tapi baru satu langkah keluar dari kamarnya, tiba - tiba dari belakang Siwan menarik lengannya dan menarik kekasihnya ke pelukannya. Ternyata Siwan tidak pergi, dia bersembunyi di dekat pintu kamarnya.
Mereka berpelukan, lalu Hanna menyeka air mata di pipinya.
" Aku masih disini." Ucap Siwan lalu mencium kekasihnya dengan penuh nafsu. Begitu pula dengan Hanna. Mereka benar - benar saling merindukan, Siwan memutar badannya lalu mendorong Hanna hingga bersandar pada dinding luar kamarnya. Mereka terus saling berciuman penuh gairah, lalu Siwan mengangkat tubuh kekasihnya, menggendong nya dari depan, Siwan membawa kekasihnya ke dalam kamarnya, ia lalu menidurkan Hanna di atas kasurnya. Mereka berciuman kembali untuk beberapa detik.
Sepertinya Hanna lupa, kalau dia hanya memakai kimono handuk karena baru selesai mandi.
Dengan mudahnya Siwan menjamah tubuhnya, hanya dengan satu tarikan kimononya terlepas. Siwan kini melihat kekasihnya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
" Stop.. " tiba - tiba Hanna mengeluarkan sebuah kata. Lalu menutupi kembali tubuhnya dengan kimononya.
" Maaf, aku terlalu bersemangat." Ucap Siwan, lalu terbangun dari kasur dan berdiri membelakangi Hanna. " Kau pakailah baju dulu, aku akan mengambil sesuatu di mobil sebentar. " Ucap Siwan lalu keluar dari kamar Hanna.
Setelah Siwan keluar dari kamarnya, Hanna buru - buru memakai baju dan merias dirinya agar terlihat cantik dan segar di hadapan kekasihnya. Dia berusaha menutupi lingkaran hitam di sekitar bawah matanya.
Selesai memakai baju dan ber make up, Hanna keluar dari kamarnya dan melihat Siwan sudah terduduk di atas beanbag chairnya.
" Aku siapkan minum dulu ya !!" Ucap Hanna lalu pergi ke dapur menyiapkan teh dan camilan untuk Siwan.
Tidak lama kemudian mereka kini sedang duduk berdampingan sambil berpelukan.
" Chagiya, kau kenapa? Austin bilang kau sangat lemah akhir - akhir ini, apa itu karenaku ?" tanya Siwan sambil terus mengelus - elus rambut kekasihnya.
" Ahjussi, aku sangat merindukanmu. Aku jadi berpikiran yang macam - macam tentangmu, lalu kenapa selama tiga hari kemarin tidak memberiku kabar apapun ?" tanya Hanna.
" Maafkan aku, selama dua hari aku berada di sebuah lokasi konstruksi yang masih sulit menjangkau sinyal. Aku sedang bersama adikku mengerjakan sebuah proyek di salah satu kota dekat pegunungan. " Ucap Siwan.
" Maafkan aku yang sudah berpikir macam - macam tentangmu. " Ucap Hanna.
" Tidak apa, aku lupa memberitahu mu kalau aku akan pergi kesana, dan aku tidak tahu kalau disana masih sulit mendapatkan sinyal. " Ucap Siwan.
" Baiklah, kurasa semua sudah clear. Aku bersyukur sekarang kau ada disini. " Ucap Hanna lalu mencium tangan Siwan.
" Oh iya, ini, untukmu, aku mendadak membelinya sebelum pulang kemari. " Siwan menyerahkan dua buah paper bag besar yang ada di sampingnya.
" Wah.. terimakasih banyak ya, aku sangat tersentuh, bolehkah aku menerimanya ?" tanya Hanna.
" Tentu saja, aku malah ingin membelikanmu lebih dari ini. " Ucap Siwan.
" Tidak usah, ini juga sudah cukup." Hanna melihat isi dari dalam paper bag nya, ternyata berisi skincare dan make up produk Korea dan satu lagi sepasang sepatu sports berwarna putih. " Wah, kau tahu nomor ukuran sepatuku darimana?" Hanna terlihat sangat senang saat mencobanya karena ukurannya pas sekali dengan ukuran kakinya.
" Aku kan sering kemari, aku selalu melihat ukuran dan jenis sepatu yang sering kau pakai di rak sepatumu. " Jawab Siwan.
" Ya ampun, so romantic... thanks you so much.. i love you.. " Ucap Hanna lalu mencium pipi kekasihnya.
" Ini pasti asli kan, ini pasti mahal.. waw daebak, aku punya koleksi baru. Wuih.. kak Siska pasti akan iri padaku melihat skincare ku baru dan sangat lengkap.. " Ucap Hanna terus mengoceh sendirian.
Siwan hanya tersenyum memperhatikan kekasihnya yang sedang mengobrak abrik seluruh isi dari paper bag pemberiannya. Dia sangat senang bisa melihat lagi kekasihnya secara langsung.