My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 The Real Sureprise



Keesokan harinya...


Setelah selesai sholat subuh, Hanna tidak kembali tidur seperti hari-hari kemarin. Karena ibunya menugaskannya untuk membuat cake dan pastry untuk acara syukuran sore hari nanti.


Hanna tidak banyak bertanya lagi tentang apa yang masih mengganjal di hatinya. Acara syukuran yang belum benar-benar membuat dia yakin apa tujuan dari acara syukuran kali ini di banding acara syukuran yang sebelumnya pernah di laksanakan di keluarganya. Karena acara kali ini bagaimana tidak membuatnya merasa terheran-heran dan curiga, karena kedua orangtuanya tidak mengajaknya berunding terlebih dahulu, bahkan sekedar mengutarakan rencana mereka saja pada Hanna tidak sama sekali.


Untungnya kali ini ada yang membantu pekerjaannya, sehingga saat Hwan terbangun, pukul 07.30 wib, Hanna sudah selesai dengan tugasnya.


Empat loyang cake berukuran 30x30 centimeter. Dua loyang merupakan fudge brownies dengan topping chocochip, almond slice, serta keju, dan dua loyang lagi red velvet gulung dengan filling keju dan whipcream. Cake yang di buat oleh Hanna selalu berhasil membuat siapa saja yang melihatnya selalu meneteskan air liur. Dari wanginya saja sudah mampu memancing keributan para penghuni rumah saat loyang cake tersebut baru keluar dari oven.


Begitu juga dengan pastry yang di buat oleh Hanna, risoles dengan isian suwiran daging ayam dan sayur selalu terasa nikmat di lidah apalagi bila di cicipi dengan sebuah cabe rawit yang wajib ada dalam setiap satu bungkusan plastik risoles tersebut.


Dan, beberapa menit kemudian, datanglah seseorang ke rumah membawa satu buah kantong keresek berwarna hitam berukuran besar yang entah apa isinya.


"Assalamualaikum... " ucap seorang pria paruh baya di depan pintu rumah.


"Waalaikum salam," Hanna yang sedang menyuapi Hwan pun bangkit dari duduknya, menyimpan mangkuk berisi mpasi sarapan Hwan di atas meja lalu melangkah ke depan pintu.


"Neng, ini bapa cuma mau mengantar pesanan ibu Hani, silahkan di terima, semuanya sudah saya hitung, dan ada bonusnya juga di dalam !!" ucap pria itu.


"Oh... begitu, maaf, ini apa ?" tanya Hanna, lalu melihat ke dalam kantong kresek tersebut yang kink sudah berada di tangannya.


"Ini kue basah neng, buat acara nanti sore katanya, " jawab pria itu.


"Oh... begitu, terimakasih banyak ya pak !! eh.. tapi, ini sudah di bayar lunas belum pak ?" tanya Hanna.


"Sudah neng, alhamdulillah, saya dan istri saya yang terima kasih banyak atas orderannya, semoga rasanya tidak mengecewakan," sambung pria yang seumuran dengan pak Bagyo itu.


"Masuk dulu pak, minum dulu, " Hanna memang selalu ramah terhadap tamunya, siapa saja yang datang ke rumahnya, bahkan tukang ojeg online yang mengantarkan makanan ke rumah pun selalu ia tawari minum dan makan dahulu sebelum mereka pergi lagi.


"Tidak usah neng, terimakasih lain kali saja ya, semoga acara lamarannya nanti sore lancar yaa neng, bapak permisi dulu, assalamualaikum !!" ucap pria itu, lalu pergi dari hadapan Hanna.


"Waalaikum salam," jawab Hanna. Ia masih mematung di depan pintu dan belum mencerna apa yang di katakan oleh pria itu. Dan, sepersekian detik kemudian...


"Wait... omo omo... jinjja, lamaran, nanti sore? siapa? siapa yang mau di lamar, dan oleh siapa?" kedua pupil Hanna membesar, dahinya terangkat keatas, mulutnya sedikit terbuka, rasa keterkejutannya saat itu benar-benar membuat ia merasa seperti orang bodoh.


"Mana yang benar ini, syukuran atau lamaran ?" Hanna masih terlihat penasaran.


Lalu, dari arah belakang pun seseorang memanggilnya dan menyadarkan pikirannya yang sibuk menerka-nerka.


"Hanna, siapa barusan ?" ucap Yani, bibi Hanna yang merupakan adik ibu Hani yang kini tinggal di Bekasi karena mengikuti suaminya yang bekerja disana setelah menikah.


"Ini bi, kue basah pesanan ibu," jawab Hanna, lalu mendekat pada bibinya itu.


"Oh iya, tadi kak Hani juga bilang sama aku kalau ada yang mau mengantar pesanan kue basah, sini, biar bibi yang urus, kau lanjutkan saja menyuapi Hwan, " bibi Yani mengambil alih satu kantong kresek besar dari tangan Hanna. Saat itu, bu Hani, ibunya sedang pergi, kembali berbelanja mencari sesuatu yang kemarin tidam di temukan di pasar.


Hanna hanya menganggukan kepalanya dan berbalik arah kembali pada Hwan yang masih menantinya di ruang tamu yang kini sudah kosong melompong, karena semua sofa sudah di tata rapih di halaman rumah dan kini hanya terpasang beberapa karpet menutupi lantai dingin rumah mereka.


Sepanjang waktu menyuapi anaknya makan pagi hingga habis, pikiran Hanna terus melayang dan menerka - nerka, tentang acara apa yang akan di lalui sore nanti.


Ia tidak bertanya pada orang-orang yang berada di dalam rumahnya, ia hanya ingin bertanya langsung dan mendapatkan jawaban secara gamblang dari mulut ibunya.


Selesai makan pagi, ia dan Hwan mandi, lalu pada pukul 09.30 wib, ia berjemur sebentar di halaman sekedar menghangatkan tubuh yang sebelumnya terasa dingin oleh air yang mengguyur seluruh tubuhnya di kamar mandi tadi.


Adik sepupunya (Vanya) yang beda usia dua tahun darinya yang kini sudah memiliki anak yang usianya tidak jauh dari Hwan, hanya beda lima bulan, mereka berdua bersama-sama berjemur dan memperhatikan kelucuan anak mereka masing-masing.


Anak vanya yang kini baru menginjak usia enam bulan berbaring di atas stroller bayi sedangkan Hwan tengah berlatih berjalan dengan merayap-rayap pada tembok pembatas rumah Hanna. Ia terlihat seperti spiderman yang menempel pada dinding melangkah bagaikan kepiting menyamping secara perlahan.


Hanna terlihat mengabadikan moment kelucuan anaknya lewat kamera hp barunya. Ia terpaksa mengganti hpnya beberapa hari ke belakang karena hpnya yang dulu rusak akibat tangan usil Hwan yang menjadikannya seolah alat pemukul ulat yang melintas di hadapannya, sewaktu mereka berdua bermain di halaman rumah.


"Vanya, tolong rekam ya, aku ingin membuat video saat Hwan belajar berjalan, " Hanna menyerahkan hpnya pada Vanya, kemudian mendekat pada Hwan dan menuntunnya.


Awalnya ia menuntun Hwan, lalu beberapa detik kemudian melepaskan tangannya agar Hwan belajar berjalan sendiri tanpa bantuan apapun darinya.


Berkali-kali Hwan mencoba, jatuh dan bangun lagi, ia nampak bersemangat. Apalagi di belakang terdengar sorak sorai dari sepupu dan paman serta bibi ibunya yang kini ikut bergabung, berjemur di halaman rumah bersamanya.


"Ayo Hwan, semangat, kamu pasti bisa berlari kencang... " teriak Rudy, paman Hanna.


"Come on Hwan... kemari, kejar bubu, " Hanna beranjak dari posisinya, dari belakang Hwan, ia kini sudah berada di depan Hwan beberapa meter, menjauh dari Hwan, sambil menggerakan mainan favorit Hwan agar Hwan termotivasi untuk mendapatkannya.


Hwan yang sedang berjongkok pun kemudian berdiri, terdiam sesaat untuk mengatur keseimbangan tubuhnya, kemudian ia mencoba sekuat tenaga mengangkat kakinya, melangkah dengan lebar dan berat seperti robot, dengan wajah yang tidak sabaran ia ingin segera meraih ibunya dan mainan yang ada di depannya itu. Hwan sempat kembali berjongkok dan memasang posisi ingin merangkak saja sepertinya, namun kakek dan nenek mereka terus menegakkan tubuhnya sehingga ia kembali berdiri dan mendapatkan kembali semangatnya untuk melangkahkan kakinya.


"Ayo Hwan, berjalanlah... kemari... " teriak Hanna dengan penuh senyuman.


Hwan kembali mengangkat kakinya yang masih terasa berat baginya, kemudian melangkah ke depan.


"Berhasil... Hwan, kau bisa... !" Haru terlihat di wajah Hanna saat itu. Ia tidak menyangka anaknya kini sudah semakin pintar, ia sudah bisa berjalan sendiri. Vanya terus merekam moment langkah pertama Hwan dengan kamera hp milik Hanna.


Hwan semakin mendekat, dari kejauhan ia seolah mengucapkna sesuatu dari mulutnya. Saat Hwan sudah dekat sekali dengan ibunya, barulah Hanna bisa mendengat dengan jelas apa yang di ucapkan anaknya itu.


"PA-PA... PA-PA... "


Dan, yang anehnya lagi, pandangan mata Hwan tidak tertuju pada Hanna dan mainan di tangannya lagi, namun kedua bola matanya yang membulat sempurna itu tertuju pada seseorang yabg berada tepat di belakang Hanna.


Hwan berhambur ke pelukan seorang pria yang berjongkok di belakangnya sambil merentangkan kedua tangannya.


Hwan menjatuhkan wajahnya pada dada bidang pria yang memakai kemeja santai ala korean style berwarna biru langit. Kini Hwan terkungkung dalam dekapan pria itu dengan penuh senyuman dan terus berkata 'PAPA'.


"Papa disini sayang, " ucap pria itu.


"Ahjussi... " Hanna seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. Di detik itu, matanya nyalang, tak berkedip sedetikpun, tanpa ia sadari mulutnya terbuka.


"Ahjussi..." sekali lagi ia mengucapkan kata yang sempat terlontar dari mulutnya beberapa detik yang lalu.


Ya, pria yang kini sedang memeluk Hwan adalah Siwan, kekasihnya yang pernah menghilang selama satu tahun bahkan lebih.


Siwan berdiri tegak sambil menggendong Hwan. "Ya, ini aku, chagiya !! aku disini !!" ucap Siwan sambil tersenyum bagaikan bunga yang baru bermekaran, merekah.


Rasa senang tercampur rasa gelisah, betapa banyaknya pertanyaan yang memenuhi seluruh otaknya saat itu.


"Kenapa dia disini? bagaimana kalau ayah dan ibu melihatnya, apa mereka akan marah padanya? lalu, bukannya dia kemarin berkata sedang berada di Seoul, apa dia berbohong padaku?" batin Hanna.


Siwan mendekat padanya, tangan kanannya melayang dan mendarat di atas kepala Hanna.


Hanna merasa terharu, airmata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ingin rasanya ia memeluk Siwan saat itu juga, namun...


"Eits... tunggu... kalian belum muhrim, " paman Hanna bernama Rudy tiba-tiba sudah berdiri disamping mereka mencoba menengahi.


Hanna pun tersipu malu, pipinya yang putih pun memerah. Ia lupa bahwa saat itu bukan hanya dia saja yang ada di halaman rumahnya. Bahkan selain keluarga, mata beberapa tetangga yang melintas pun sempat tertuju pada mereka.


Siwan memperkenalkan dirinya dan berjabat tangan dengan paman Rudy.


"Assalamualaikum, saya Siwan !!"


"Waalaikum salam wa rahmatullah, saya Rudy, paman Hanna, saya adik bu Hani, ayo masuk nak, tifak enak berdiri terus di depan pagar !!" ajak paman Rudy.


Hanna membelalak, mendengar pamannya menambahkan kata wa rahmatullah saat menjawab salam dari Siwan.


"Kenapa paman menjawab salam ahjussi layaknya ia seorang muslim," batin Hanna kembali bertanya-tanya.


Bagi seorang muslim, menjawab salam dari orang yang merupakan non muslim tidak memperbolehkan menambahkan kata lain selain kata waalaikum salam.


Hanna pun mengikuti Siwan dan paman Rudy dari belakang dengan wajah berkerut penuh teka-teki di dalam pikirannya.


Siwan duduk di atas karpet sambil terus memeluk Hwan di pangkuannya. Bahkan Hwan sendiri pun seolah tidak mau terlepas dari dekapan Siwan meskipun hanya sedetik, terbukti saat Hanna ingin membawanya untuk mengganti bajunya karena penuh keringat dan kotor karena tadi Hwan berkali-kali terjatuh saat belajar berjalan.


"Tidak apa, biarkan saja, dia sangat merindukanku sepertinya, " ucap Siwan.


Hanna pun pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Siwan dan kedua pamannya yang sejak tadi sudah bergabung bersama mereka di ruang tengah mewakili pak Bagyo yang tidak berada di rumah.


"Nak Siwan sendirian ?" tanya paman Rudy.


"Saya di antarkan oleh pak Andi, supir saya, beliau menunggu di mobil !!" jawab Siwan.


Hanna yang sudah berada di antara mereka kembali pun menyahut, sambil menaruh nampan yang berisi teh hangat.


"Pak Andi? kenapa tidak di ajak masuk ?" tanya Hanna.


"Tadi dia sedang menelepon, kau lihat saja apa dia sudah keluar dari mobil, " pinta Siwan.


Hanna pun melangkah keluar dan menghampiri mobil yang terparkir di lapangan kosong samping rumahnya.


Setelah berjumpa dan bertanya kabar masing-masing, Hanna dan pak Andi pun masuk ke dalam rumah dan kembali bergabung.


Tak lama terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah Hanna.


Saat Hanna melihat keluar, ia melihat ayah, ibu, serta adiknya masuk menuju ke dalam rumah.


"Assalamualaikum... " ucap ketiganya secara bersamaan.


"Waalaikum salam, " jawab semua orang yang berada di dalam rumah.


Hanna seketika merasa gugup, jantungnya berdebar lebih cepat. Ia tidak tahu harus memperkenalkan Siwan dengan cara yang bagaimana.


Bu Hani dan Pak Bagyo duduk di dekat Hanna setelah bersalaman dengan Siwan.


Sedangkan adik Hanna pergi ke dapur membawa belanjaan setelah bersalaman dengan Siwan dan saling bertanya kabar.


"Loh... nak Siwan sendiri saja ?" tanya pak Bagyo.


"Berdua pak, sama pak Andi, " jawab Siwan.


Hanna melirik ke arah Siwan kemudian pada ayah ibunya secara bergantian dengan tubuh yang agak gemetar.


"Apa ayah dan ibu sudah tahu kalau ahjussi masih hidup, mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda keterkejutan sama sekali saat melihat ahjussi sejak awal, mencurigakan sekali, " gumam Hanna.


"Maksud saya, tidak dengan ibunya, bu Shinta dan Aji ?" tanya pak Bagyo.


"Apa... ibu dan bli juga ada di Bandung ?" tanya Hanna secara spontan.


"Ish... " bu Hanni mencolek tubuh Hanna, merasa risih dan malu dengan sikap anaknya yang tidak sopan di saat orangtua sedang berbicara dengan tamunya.


"Ibu, Aji dan yang lainnya akan datang saat acara sore nanti pak, saya datang kesini sepagi ini karena tidak bisa menahan rasa rindu saya ingin segera bertemu dengan Hwan, sejak tiba di Bandung, saya tidak bisa berkonsentrasi karena ingin memeluk bayi mungil ini, " Siwan mengangkat tubuh Hwan agar kepalanya sejajar dengannya. Lantas ia mencium Siwan yang kini sedang menggigit jari jemari mungilnya.


"Tunggu... maksudnya ini ada apa? acara sore nanti syukuran apa sebenarnya? ayah, ibu, kalian belum menjelaskan sesuatu padaku, kalian membiarkanku terus sibuk dengan berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di dalam isi kepalaku sejak kemarin, tolong, beri aku jawaban !!" tatapan Hanna memberi isyarat penuh harap dan rasa kasihan.


"Baiklah... baiklah... bapak menyerah... maaf, kami bersekongkol di belakangmu selama ini," ucap pak Bagyo, lalu menghembuskan nafas lega. Karena sebelumnya ia terlihat sangat sesak di saat harus berakting di belakang anak sulungnya selama ini, berakting seolah ia tidak mengetahui hal apa yang terjadi di kehidupan anaknya beberapa bulan ke belakang.


Suara tawa kecil terdengar di telinga Hanna, suara tawa itu berasal dari sepupunya Vanya dan suaminya, serta adiknya yang ada di area menuju dapur yang sedang mengintip ke arah Hanna dari kejauhan.


Setelah menarik nafas dan menghembuskannya kembali.


""Kami sudah tahu, bahwa Siwan masih hidup dan dia adalah ayah kandung Hwan, kami juga tahu kalau kalian bertemu dengannya saat di Bali kemarin, itu pertemuan kalian yang pertama kan ?" tanya pak Bagyo.


Hanna nampak benar-benar merasa di bodohi, tak heran ia mendengar suara tawa dan melihat ekspresi adiknya yang terlihat mengolok-olok dirinya dari kejauhan.


"Maksudnya 'kami' siapa?" Hanna masih juga belum paham.


"Ya kami, aku, ibumu, adikmu, dan saudaramu yang sekarang ada disini, mereka sudah tahu semuanya, mereka disini hari ini juga ingin menjadi saksi hari bahagia yang akan menghinggapimu, sore nanti, Siwan, secara resmi ingin melamarmu, dia akan datang bersama keluarganya kemari, untuk meminangmu, apa kamu bersedia ?" tanya pak Bagyo.


Air mata yang sejak tadi sempat tertahan kini tumpah ruah tanpa penyekatan. Hanna menangis sejadinya di hadapan keluarganya dan orang yang ia sayangi dan cintai selama ini.


Rasa tangis bahagia yang benar-benar tak dapat ia sangka akan ia ungkapkan di depan kedua orangtuanya kini. Sebenarnya ingin sekali ia mengatakan hal-hal yang paling membahagiakan di hidupnya yaitu bertemu kembali dengan kekasihnya kepada kedua orangtuanya setelah ia pulang dari Bali, namun ia sekuat tenaga menahannya. Dan kini, di hadapan saudara yang lainnya, ia benar-benar sudah merasa lega keinginannya itu sudah terpenuhi.


"Chagiya, apakah kau setuju, sore nanti aku akan melamarmu?" Siwan menatap Hanna penuh harap.


Hanna menyeka air mata di pipinya, kemudian membuka mulutnya dan berkata, "TIDAK, aku tidak mau !!" jawab Hanna.


Sontak semua orang yang berada di dalam ruangan rumahnya itu merasa terkejut mendengar jawaban Hanna yang lantang dan penuh percaya diri.


...***...


Ada apa denganmu Hanna ??