My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Tamu tak di undang



Siang hari, di mansion tua milik raja vampire...


Siwan sedang berdiskusi bersama Aji di taman belakang mansion milik ayahnya itu. Mereka membahas tentang pekerjaan dan hal-hal yang harus di lakukan Aji saat ia kembali pulang ke Bali sore hari nanti.


Hanna dan bi Lastri sedang mengasuh Hwan bersama beberapa maid yang bekerja di mansion itu. Kelucuan Hwan benar-benar membuat semua orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Hwan bukanlah termasuk anak yang rewel, terkecuali saat ia sedang merasa tidak enak badan.


Saat kedatangannya untuk pertama kali di mansion itu Hwan sangat terlihat rewel dan gelisah. Hal tersebut hanya di pengaruhi oleh instingnya yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya yang sangat merindukannya dan juga mungkin sedikit pegal karena terlalu lama berada di atas pesawat.


Siang itu, Hanna mendapat sebuah panggilan video call dari ibunya dan adiknya di Indonesia.


Saat mereka sedang asyik berkomunikasi lewat layar ipad, tiba-tiba suasana di antara maid dan para pengawal yang menjaga mereka dari jarak dekat menjadi tegang. Semuanya mendadak berdiri tegak dan menjauh dari Hanna, Hwan dan bi Lastri.


Salah seorang maid berlari ke suatu tempat.


"Waw... siapa ini... " ucap salah seorang wanita cantik berkulit putih seputih susu menggunakan bahasa Korea. Wanita itu nampak sudah berusia tua, kerutan pada leher dan di sudut matanya tak bisa di cegah, namun pesona cantik masih terpancar dari sorot mata dan mimik wajahnya.


Hanna lantas langsung mengakhiri panggilan video call bersama ibu dan adiknya.


Lalu ia berdiri sambil menggendong Hwan, ia mendekapnya sangat erat. Bi Lastri pun mrngikuti gerak tubuh Hanna.


Hanna memberi salam hormat pada wanita itu. Ia membungkukan badannya sambil masih mendekap Hwan dalam pelukannya.


Siapa dia? Tentu saja Hanna tahu siapa wanita di hadapannya kini. Karena ia baru saja melihay wajahnya lewat file foto yang ada di laptop suaminya pagi tadi. Siwan memberitahu Hanna siapa saja anggota keluarga Im yang harus ia waspadai.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah beberapa orang berlarian dan mendekat ke arah mereka.


Siwan baru saja tiba bersama Aji di ruang keluarga mansion raja vampire itu.


Nafasnya terengah-engah, sepertinya Siwan berlari sekencang mungkin ketika salah seorang pelayan memberitahunya bahwa ada seseorang yang datang ke mansion siang itu.


"Chagiya, pergilah ke kamar !!" pinta Siwan.


Hanna pun menganggukkan kepalanya, sebelum pergi, ia kembali membungkukkan badannya memberi hormat pada wanita itu dan berlalu menuju lantai dua di ikuti oleh bi Lastri di belakangnya.


Saat Hanna sudah di lantai dua, dari balkon ia melihat wanita itu duduk di atas sofa dengan begitu santainya dengan cara yang sangat anggun dan terhormat bak bangsawan wanita.


"Sudah lama tidak berjumpa, kau masih memperlakukanku seperti penjahat rupanya, " ucap wanita itu dengan bahasa Korea.


"Ada apa?" ucap Siwan, acuh.


Siwan masih tetap berdiri di tempatnya, tak beranjak sedikitpun.


"Aku hanya ingin berkenalan dengan keluarga barumu, tidak boleh?" tanya wanita itu.


"Apa kau sedang mencari mangsa baru?" tanya Siwan dengan sorot mata tajam.


Wanita itu bangkit dari duduknya, berjalan secepat mungkin menghampiri Siwan dengan sorot mata penuh amarah, lengan kanannya melayang ke atas dan telapak tangannya sudah hampir mendarat di pipi Siwan.


Siwan hanya diam saja dengan wajah menantang wanita tersebut.


Sebelum telapak tangan wanita itu mendarat pada pipi Siwan, seseorang lebih dahulu menahannya.


"Nyonya, anda tidak di izinkan membuat keributan di rumah ini !!" ucap salah seorang pengawal pria yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Siwan.


"Lepaskan tanganku !!" wanita itu menarik lengannya dari cengkeraman pengawal itu dengan paksa.


"Beginikah caramu menyambut kedatanganku !!" sambung wanita itu.


"Aku tidak yakin kau di izinkan masuk ke dalam mansion ini saat ayahku tidak ada," sahut Siwan dengan nada menyindir.


Faktanya, wanita itu memang tidak di izinkan masuk, hanya saja ia terus menerobos penjaga di depan pintu setelah ia menendang kaki para penjaga.


"Awas kau !!" ancam wanita itu, lalu pergi meninggalkan Siwan, di ikuti oleh seorang wanita muda yang terlihat seperti pengawalnya.


Setelah wanita itu berlalu dari pandangannya, barulah Siwan bisa kembali bernafas.


"Kak, apa kau yakin tidak akan pulang denganku hari ini?" tanya Aji.


"Kalau aku pulang, pria tua bangka itu pasti akan kembali menculikku dan keluargaku dengan cara yang sangat kejam, kau tidak usah khawatir, masih ada beberapa pengikut pria tua itu yang setia, kau urus saja bisnisku di Bali, kabari aku secepatnya kalau ada sesuatu yang tidak beres !!" seru Siwan.


Aji menganggukkan kepalanya.


Siwan menepuk pundak Aji, lalu pergi ke lantai dua menyusul anak dan istrinya.


Saat ia sudah berada di lantai dua, ia baru melihat ibunya berdiri di balkon dan melihat ke bawah.


"Bu... " ucap Siwan. Ia tidak menyadari kehadiran ibunya yang sudah sejak beberapa menit yang lalu melihat anaknya berinteraksi dengan seorang wanita di lantai satu mansion itu.


"Apa kau yakin, dia akan melepaskan kalian semudah itu ?" tanya bu Shinta.


"Bu, jangan terlalu di pikirkan, fokuslah pada kesehatanmu, aku tidak akan tinggal diam, percayalah !!" pinta Siwan, lalu merangkul ibunya.


Elsa yang masih berdiri beberapa meter dari bu Shinta pun masuk ke dalam kamar Siwan dan Hanna.


Elsa memberitahu Hanna bahwa wanita tadi sudah pergi.


"Alhamdulillah.... !!" ucap Hanna, ia baru bisa bernafas dengan lega.


"Siapa wanita itu neng?" tanya bi Lastri.


"Dia Mrs. Seo In Jae, istri kedua Mr. Im Jaewon, mantan suami ibu mertuaku !!" ucap Hanna.


Wanita itu adalah kakak ipar Hanna. Yang orang lain dan sebagian keluarganya ketahui adalah ibu mertua Hanna.


Sampai detik ini, status Siwan sebagai anak kandung Mr. Im Jaehyun hanya beberapa orang yang mengetahuinya.


Mr. Im Jaehyun dan mendiang istrinya Mrs. Park Shin Hye, Mr. Im Jaewon dan istrinya Mrs. Seo In Jae, bu Shinta, Siwan sendiri dan beberapa orang kepercayaan dari masing-masing yang namanya di sebutkan di atas.


Bahkan, anak-anak dari pasangan Mr. Im Jaewon dan Mrs. Seo In Jae masih belum mengetahuinya.


Kedua anaknya yaitu Im Seokhoon dan Im Seokyung masih menganggap Siwan sebagai kakak mereka, bukan paman mereka.


Siwan masuk ke dalam kamar Hanna setelah mengantar ibunya ke dalam kamar.


Bi Lastri dan Elsa pun keluar dari kamar.


"Mas, kau baik-baik saja ?" Hanna melihat raut wajah suaminya menjadi tegang. Ia dapat menangkap rasa khawatir yang tersirat di wajah Siwan.


"Chagiya, apa kau takut?" tanya Siwan.


"Apa kau tidak merasa kehadiran wanita itu sedang memperingatkanmu, memperingatkan kita?" tanya Siwan.


"Aku percaya dengan takdirku, aku selalu di kelilingi oleh orang yang akan melindungiku, begitu juga pada Hwan, putra kita !!" Hanna tersenyum. Membuat hati Siwan yang menengang mendadak menjadi melunak.


"Kau masih bisa tersenyum di saat keadaanmu sedang terancam," ucap Siwan.


"Sayang, aku tidak boleh memperkeruh keadaan, aku percaya dengan kekuasaan Alloh Tuhanku, dia akan mengirimkan pelindung lewat tangan seseorang untukku, untuk putraku, dan untuk kita sekeluarga, yakinlah pada kekuatan doa, mintalah doa yang tulus dari kedua orangtuamu, karena doa yang tulus yang keluar dari mulut kedua orangtua kita, adalah doa yang akan di kabulkan oleh Alloh dengan cara apapun itu, " ucap Hanna, dengan penuh senyuman.


"Haish... aku tidak salah memilikimu, terima kasih, chagiya, kau selalu menjadi obat penawarku, seharusnya aku yang menjadi penenang hatimu, bukan sebaliknya, maafkan aku !!" ucap Siwan, kemudian memeluk Hanna.


"Tidak apa, kita harus seperti Yin dan Yang, dua unsur yang berbeda namun tetap berdampingan untuk menciptakan keseimbangan, sifat kita seperti Yin dan Yang, meskipun berbeda, kita harus tetap bersama agar saling melengkapi demi membangun sebuah kesatuan dan harmonisasi yang seperti kita inginkan," ucap Hanna, dengan gaya menyerupai seorang cendekiawan dari negeri tirai bambu.


"Baiklah... aku mengerti, aku mengerti, terima kasih banyak atas materi pembelajaran kita hari ini !!" Siwan lantas mengecup bibir istrinya yang semakin imut di matanya. Ciuman mesra pun tak dapat di cegah.


Namun, mereka nampaknya melupakan kehadiran seseorang di kamar itu, yaitu si kecil Hwan.


Ia tiba-tiba merengek melihat kemesraan yang di lakukan kedua orangtuanya.


"Lihatlah, anakmu cemburu, dia pikir kau merebutku darinya, dia fans beratku !!" seru Hanna, yang masih saling berpelukan dengan Siwan, sambil menyaksikan si kecil Hwan berjalan terburu-buru mendekati kedua orangtuanya, lalu, kemudian ia menempel pada kaki Hanna seolah tidak rela membiarkan ibunya bermesraan dengan pria lain selain dirinya.


"Kau cemburu padaku bayi kecil !!" Siwan kemudian berjongkok dan menarik tubuh Hwan dari kaki Hanna.


"Kau, tidak mau berbagi ibumu denganku," Siwan menjahili anaknya dengan cara menggelitik tubuhnya dengan lembut, hingga Hwan tertawa terpingkal - pingkal di buatnya.


Hanna yang menyaksikan interaksi keduanya pun tersenyum lebar merasa bahagia dapat merasakan moment indah dalam hidupnya ini.


...***...


Sore harinya....


Siwan, Hanna, dan Elsa mengantarkan Aji ke depan hingga ia memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh salah satu supir Mr. Im. Aji pergi di antarkan oleh seorang supir dan dua orang pengawal Mr. Im.


Sebelumnya, Aji sempat berpamitan pada bu Shinta di dalam rumah yang sedang mengasuh Hwan bersama bi Lastri.


Aji sempat menggendong Hwan dan menciumnya. Ia sangat menyayangi Hwan seperti anaknya sendiri, ia bahkan sempat meneteskan air mata saat mengucapkan kata perpisahan padanya.


"Jangan terlalu lama, cepatlah pulang, paman tidak mau tersiksa karena merindukanmu, janji yaa !!" Hwan kecil hanya tersenyum menatapnya sambil menggigit jari-jari mungilnya. Bayi yang belum mengerti apapun yang di katakan oleh orang dewasa itu cukup pengertian, ia tersenyum mencoba menghibur Aji dan mengeluarkan suara celotehan khas bayi yang selalu membuat orang di sekitarnya merasa gemas terhadapnya.


Bagaimana Aji bisa mengabaikannya, saat ia menjadi orang pertama yang menyentuh tubuh mungil Hwan saat lahir ke dunia ini selain tangan dokter dan perawat saat itu. Ia menjadi saksi bagaimana perjuangan Hanna saat dengan sekuat tenaga antara hidup dan mati, berjuang mengeluarkan Hwan dengan selamat dari dalam perutnya ke dunia ini.


...***...


Malam harinya, karena Mr. Im tidak ada di rumahnya, bu Shinta pun akhirnya mau kembali bergabung untuk makan malam bersama anak, cucu dan menantunya.


Bi Lastri dan Elsa pun ikut bergabung bersama mereka.


Di sela acara makan malam mereka yang begitu tenang dan damai, tiba-tiba salah seorang maid menghampiri Siwan dan memberikan sebuah hp padanya sambil membisikkan sesuatu.


Siwan langsung menerima hp yang di berikan oleh maid itu dan beranjak dari kursinya untuk berbicara dengan seseorang yang menelepon lewat hp tersebut.


Tidak lama kemudian, Siwan kembali ke meja makan.


"Aku harus pergi ke rumah sakit !!" ucap Siwan.


"Ada apa?" tanya Hanna, terlihat panik.


"Pria tua itu, terjadi kecelakaan saat dia dalam perjalanan pulang barusan, asisten Lee barusan menelepon memberitahuku, " jawab Siwan.


"Berhati-hatilah, kau tidak boleh pergi sendirian !!" seru bu Shinta.


Siwan kembali bangkit dan pergi menuju kamarnya untuk mengambil mantel dan dompetnya.


Hanna menyusulnya setelah menitipkan Hwan pada ibu mertuanya dan bi Lastri.


Di dalam kamar, Siwan hanya mengenakan matel panjang dan tebal serta syal, lalu membawa hp serta dompetnya.


"Mas, kau berhati-hatilah !!" Hanna kemudian memeluk suaminya dengan erat. Ia begitu khawatir, karena setiap suaminya meninggalkan rumah, ia tidak tahu apakah suaminya itu akan kembali secepatnya dengan selamat atau tidak. Buktinya, saat terakhir kali dia berpamitan pergi ke Korea, dia hanya menjanjikan dua hari tapi tidak kunjung pulang juga hingga Hanna menyusulnya ke Korea.


"Doakan aku, ya... sesampainya disana, akan aku kabari secepatnya !!" Siwan membalas pelukan istrinya dan mengecup pucuk kepalanya.


Hanna mengantarkan Siwan sampai ke depan mobil. Ia melambaikan tangannya saat mobil Siwan mulai melaju meninggalkan halaman mansion itu.


Dan, sesuai janjinya, setelah sampai di rumah sakit beberapa menit yang kemudian, Siwan menelepon Hanna dan memberitahunya bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, juga mengabarkan tentang kondisi ayahnya.


"Bu, katanya ayah baik-baik saja, dia hanya mengalami cedera di kepalanya karena benturan, hanya tensi darahnya sedang naik, jadi dia harus di rawat, supir dan asisten Lee tidak terlalu parah," ucap Hanna, memberitahukan ibu mertuanya yang sedang melamun menatap gelapnya malam lewat jendela yang ada di kamarnya.


"Baiklah, terimakasih, kalau begitu, kau tidurlah, sudah malam, jangan tunggu Siwan, mungkin dia tidak akan pulang malam ini," ucap bu Shinta.


"Baik bu, aku pergi dulu !!" Hanna pun kembali ke kamarnya, dan melihat Hwan sudah terkulai lemas di atas ranjang di temani oleh bi Lastri yang sedang menina bobokan putranya itu.


"Bibi sudah ganti popoknya, tapi nak Hwan tidak mau minum susu dan langsung tidur !!" ucap bi Lastri.


"Sipp... terimakasih ya bi, kalau begitu bibi tidur saja ke kamar, pasti sudah lelah kan !!"


"Neng tidak apa tidur berdua sama den Hwan ?" tanya bi Lastri.


"Gak apa-apa lah bi, di luar ada penjaga yang bertukar shift kan, jangan terlalu mencemaskan kami, sudah istirahat saja sana !!" ucap Hanna.


Bi Lastri pun keluar dari kamar Hanna.


Dan kini, tinggallah Hanna yang masih merenung di atas ranjangnya sambil menatap wajah anaknya.


"Bubu tidak akan pernah bisa tertidur, kalau ayahmu tidak ada disini, rasanya, bubu terlalu takut, takut kembali di hantui mimpi - mimpi buruk yang selalu menghantui malam - malam bubu saat jauh dari ayahmu,"


Hanna menengadahkan kepalanya ke atas, menatap cahaya rembulan yang mengintip lewat celah jendela kamarnya.


"Kapan hidupku akan kembali merasa damai?" batin Hanna menjerit, seperti inikah kehidupan yang sesungguhnya, bahagiakah yang ia dapatkan? tapi, hanya kekhawatiran yang selalu menghantuinya.


...***...


Kasian banget sih Hanna, udah nikah sama Siwan, tapi belum pernah benar-benar merasakan kebahagiaan dan ketenangan.


Namanya juga hidup, apalagi sudah berumah tangga, semua rasa jadi bercampur nano nano rasanya deh pokonya.


Tenang, berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian, begitulah alur cerita hidup Hanna.