
Malam hari...
Selesai makan malam, Hanna hanya duduk melamun di salah satu sudut sofa ruang tengah. Suara berisik tv tak menghiraukan lamunannya saat itu. Bahkan suara tangisan Hwan yang nampam terbangun dari tidur lelapnya tak membuat Hanna menyudahi acara lamunannya.
Bi Lastri yang baru selesai membereskan meja makan serta dapur pun setengah berlari menghampiri keduanya di ruang tengah. Saat itu bi Asih sudah berada di dalam kamarnya karena sedang tidak enak badan.
Bi Lastri hanya menggelengkan melihat Hanna yang mengacuhkan bayinya yang menangis, sambil menghampiri Hwan bi Lastri mencoba menyadarkan Hanna.
"Neng, istigfar neng, Hwan bangun neng, " ucap bi Lastri.
Barulah Hanna tersadar dan setengah terkejut melihat Hwan kini sudah berada dalam dekapan bi Lastri.
"Astagfirullah bi, kenapa, kenapa Hwan ?" tanya Hanna terlihat panik.
"Kayaknya popoknya sudah penuh neng, bibi ganti dulu ya di atas, " jawab bi Lastri.
"Oh... yaudah bi, aku juga udah ngantuk, kita ke atas aja," sahut Hanna.
Beberapa menit kemudian, Hanna sudah selesai membersihkan wajahnya, juga dengan Hwan yang sudah selesai di ganti popoknya oleh bi Lastri.
Lalu, Hanna pun mengASIhi Hwan sembari berbaring menyamping di atas ranjang.
"Bi, tolong, jangan pergi dulu, aku mau tanya beberapa hal sama bibi, " ucap Hanna.
Bi Lastri yang sudah berdiri dan hendak melangkah pun kembali terduduk di bibir ranjang di sisi lainnya.
"Ada apa neng ?" tanya bi Lastri penuh curiga.
"Tapi bibi harus jawab jujur pertanyaanku, semuanya, janji ?"
"Tentu neng, tanyakan saja, apa ?"
Blablablabla.....
Malam itu, bi Lastri menemani Hanna berbicara serius hingga hampir tengah malam.
"Neng, udah malem ini, bibi udah gak kuat, ngantuk !" tegas bi Lastri.
"Yaudah bi, maaf ya aku banyak nanya, bibi tidur aja sekarang, "
"Di lanjut besok lagi aja ya neng ngobrolnya,"
"Iya bi, makasih ya bi,"
Setelah bi Lastri keluar dari kamarnya, Hanna menidurkan Hwan di atas ranjang bayi.
"Nak, maafin bubu ya, akhir - akhir ini bubu bikin kamu sedih juga, kamu harus kuat ya nak, bubu juga janji, akan tetap tegar dan kuat menghadapi kenyataan hidup ini, seberapa pahit pun itu, bubu harus menelannya sendiri dan tetap berdiri tegak, demi kamu nak, good night baby,"
Cup...
Hanna mengecup kening Hwan, lalu kembali ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur.
Namun, ia kembali teringat akan jawaban bi Lastri beberapa menit yang lalu saat ia bertanya sesuatu padanya.
"Bi, tolong jawab jujur ya, setelah kepergian ajjushi, apa bibi pernah lihat aku sama pria lain, yang mungkin aku gak inget sama sekali pernah melakukan kesalahan sama pria lain, tolong bi, jawab jujur, "
"Neng, kenapa nanya gitu ? masih kepikiran soal hasil tes dna Hwan ?"
"Aku cuma takut, aku yang terlalu percaya diri, padahal mungkin kenyataannya gak seperti yang aku harapkan dan gak bakal aku duga sebelumnya, aku takut waktu itu aku mabuk terus sampe ngelakuin hal di luar batas tanpa aku sadari bi,"
"Gak lah neng, bibi tahu persis bagaimana neng dulu, saking sedihnya gak ada waktu buat makan, minum, apalagi mabuk - mabukan, terus ketemu sama pria lain, gak begitu kok neng, pria yang selalu nemenin neng pada masa itu cuma nak Aji juga nak Austin, seringnya Aji sih, nak Austin cuma datang buat periksa kesehatan neng soalnya berkali - kali neng pingsan, "
"Pingsan ? kapan ?"
"Tuh kan gak inget, ya gak bakalan inget juga sih, orang lagi bener - bener sedih dan kalut, mana inget apa aja yang udah terjadi hari itu, "
"Bi, pas aku pingsan, siapa yang ada di sampingku saat itu ? apa bibi seorang atau... ?"
"Nak Aji gak pernah pergi neng, dia selalu nemenin neng dalam keadaan apapun, tapi kadang nak Oz juga dateng buat meriksa kesehatan neng,"
"Mereka berdua yaa... " Hanna terlihat sibuk mencerna sesuatu di dalam otaknya.
Tanpa terasa, karena terlalu lelah, Hanna pun tertidur dengan posisi masih bersandar di ranjang. Fisik dan otaknya terlalu lelah di hadapkam kembali oleh masalah terbarunya.
Ingin sekali ia memberitahu kedua orangtuanya, sahabat - sahabatnya, namun kali ini, masalah ini, ia hanya pendam sendirian.
Meskipun ingin, namun ia harus tetap menahan diri hingga situasi benar - benar sudah jelas. Ia tidak mau membuat orang lain sedih dan bingung seperti yang ia rasakan saat ini.
...***...
FLASHBACK
Setelah selesai menghitung barisan para aligator yang hampir mengelilinginya yang berjarak hanya tinggal dua meter kurang lebih, pria yang kondisi tubuhnya terlihat babak belur, berbaju lusuh, berwajah kusam penuh debu dan kotoran bercampur keringat dan darah yang sudah mengering itu hanya berdoa sekuat tenaga sambil mencoba tetap menenangkam dirinya dari rasa takut yang benar - benar menyelimuti dirinya.
Gemetar, tubuhnya gemetar, sambil menahan rasa sakit dan perih di kakinya karena luka yang entah apa penyebabnya, luka itu nampaknya masih baru, darah segar masih terlihat basah di atas robekan celana panjang berwarna coklat bercampur kotoran dan darah.
"Ya Alloh, hanya kepada-Mu, aku berserah diri, maafkanlah atas segala dosaku, aku sangat menyesali semua perbuatanku," ucap pria itu dengan lirih.
Karena merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk, ia benar - benar pasrah kali ini, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, ingin rasanya ia berlari sekuat tenaga meninggalkan rawa tersebut demi menghindari intimidasi dari mata para penghuni wilayah itu, namun lagi - lagi ia hanya bisa menelan salivanya melihat kondisi sebelah kakinya yang sudah nampak tak bertenaga dan kesakitan.
Selesai berdoa, pria itu menutup kedua matanya, kala salah satu dari kawanan aligator, mungkin sang pemimpin mereka, bersiap menyerangnya dan mendekat lebih cepat ke arahnya.
"Allohuakbar.. " teriak pria itu.
Namun, dalam hitungan detik, ia tidak merasakan apapun, tidak ada hal apapun yang terjadi padanya, bahkan ia terlambat menyadari suara berisik yang kini ada di sekitarnya. Karena ia terlalu fokus mendengar suara debarab jantungnya sendiri.
Ketika membuka mata, pria itu kini melihat ada beberapa orang pria memegang obor dan senjata laras panjang sedang mengusir kawanan aligator yang hendak memangsamya hidup - hidup beberapa menit yang lalu.
"Hia... pore... " teriak seorang pria sambil menghunuskan obor ke arah para aligator.
"Pergika... " seorang pria lainnya mencoba memukul beberapa aligator dengan kayu panjang yang berada di tangannya, mencoba mengusirnya.
Sedangkan dua orang lainnya menghampiri pria itu dan mengecek kondisinya.
"Ko rang tidak apa apaka? " tanya seorang pria.
"Saya tidak apa - apa, hanya kaki saya yang terluka," jawab pria itu.
Seseorang mengecek kakinya, dan ia mencoba membopongnya bersama temannya yang lain.
Sedangkan beberapa orang yang memegang obor juga beberapa senjata seperti tongkat dan laras panjang masih mencoba menetralisir lokasi mereka dari ancaman para aligator.
Beberapa menit kemudian, pria penuh luka itu kini sudah berada di salah satu rumah penduduk, sedang berbaring dan tertidur karena rasa lelah yang melandanya.
Pria itu sudah berganti pakaian, dan nampak lebih rapih dan bersih setelah membersihkan dirinya.
Bahkan luka - luka yang terdapat di sekujur tubuhnya sudah terlihat di obati.
Dua jam kemudian...
Pria itu sudah mulai membuka matanya, ia mencoba bergerak untuk bangkit, namun...
"Aaarrrgghhh..." pria itu berteriak kesakitan.
Lalu, ada salah seorang pria datang menghampirinya.
"Sudah bangun ? bergerak perlahan saja, tubuhmu penuh luka, "
"Aku harus segera pergi dari sini, aku harus mencari seseorang, aku harus pulang ke... " ucapan pria itu terhenti kala ia teringat sesuatu.
"Iya, nanti saja kalau kamu sudah bertenaga, lukamu harus benar - benar pulih kalau tidak, kakimu bisa - bisa tidak bisa berjalan normal kembali, "
Pria penuh luka itu menghembuskan nafas pasrah.
"Dimana ini ? aku bahkan tidak tahu sedang berada dimana,"
"NTT, Labuan Bajo, kau bukan dari daerah sini? darimana asalmu ?" tanya pria yang umurnya nampak lebih tua dari pria penuh luka itu.
"Aku dari Ba, " pria penuh luka itu terlihat berpikir sejenak, "Baaaandung, iya, saya dati Bandung, " jawab pria penuh luka itu.
"Wah, dari Jawa Barat, jauh sekali ternyata, perkenalkan, aku Joko, asalku dari Banyuwangi, bukan dari daerah sini juga, aku hanya seorang pria yang sudah lama menetap di NTT ini,"
"Aku, namaku, " pria itu kembali berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Asep, namaku Asep, "
Pak Joko nampak tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pria yang katanya namanya Asep, namun ia tidak memperpanjangnya, meskipun ia tahu ada sesuatu yang sedang Asep coba sembunyikan darinya.
"Baiklah, kau pasti belum makan, aku akan suruh istriku siapkan makanan, nanti dia akan mengantarnya kemari, kau istirahat saja disini, kau tidak boleh banyak bergerak dulu, ya Sep, "
"Ba-baik pak, terimakasih banyak, " jawab Asep.
Pak Joko bangkit dan pergi meninggalkan Asep di kamar berukuran kecilnya itu.
"Aku harus segera pergi dari sini, tapi aku terpaksa harus menyembuhkan dulu lukaku ini, semoga aku bisa kembali ke Bali dan memberitahukan semuanya pada mereka, sebelum terlambat, tapi, aku masih harus mencari seseorang dulu sebelum kembali ke Bali, dimana dia...?"
Pria bernama Asep itu menggumam, ia terlihat mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bertemu.
"NTT, jauh sekali, kenapa aku bisa ada disini, sial... dari NTB aku terhampar ke pulau ini, semakin lama lagi aku bisa kembali ke Bali," ucapnya.