
Sesampainya di rumah Hanna...
Siwan membangunkan Hanna yang nampak tertidur lelap sepanjang perjalanan.
Tanpa sepengetahuan Hanna, di perjalanan tadi, saat melewati sebuah mini market, Siwan berhenti dan turun untuk membeli tissue basah, lalu membersihkan wajah Hanna yang merah karena lipstik.
" Chagiya, bangunlah, sudah sampai !!" ucap Siwan menepuk pipi Hanna dengan lembut.
" Emh... sudah sampai !!" Hanna mulai membuka matanya dan terdiam sesaat mengumpulkan nyawanya.
Siwan, Aji dan sang supir yang sudah turun lebih dahulu terlihat sedang berdiskusi di luar. Dan, setelah Hanna turun dari mobil, mereka pun menghentikan pembicaraan dan bubar jalan.
" Mau kemana mereka ?" tanya Hanna.
" Aku menyuruh mereka istirahat !!" ucap Siwan.
Kini Hanna dan Siwan sudah berada di dalam rumah. Siwan duduk di sofa sedang menunggu makanan lewat pesanan layan antar datang. Sedangkan Hanna, saat sampai di rumah dia langsung membersihkan wajahnya dan pergi mandi.
Beberapa menit kemudian, kini keduanya sedang makan malam. Tanpa pembicaraan apapun, mereka seolah sibuk dengan isi kepala masing - masing.
" Haduh... pasti kena surat peringatan deh besok, mana pak Rama nyuruh langsung menghadap personalia lagi " gumam Hanna yang memikirkan nasibnya di tempat kerja karena seharian tadi mangkir.
Setelah mandi tadi, Hanna baru mengabari Rama sang supervisornya di tempat kerja alasan dia absen tidak bekerja hari itu.
" Apa Lee memberitahu nya tentang masa lalu ku? Apa dia jadi membenciku ?" gumam Siwan dengan pikirannya.
Siwan mengira dengan diamnya Hanna saat itu karena Hanna sudah tahu semua masa lalunya dari Lee. Dan Hanna tidak menyukai nya.
" Ahjussi, besok aku mulai bekerja lagi, aku masuk pagi, jadi setelah makan aku mau bersiap menyetrika seragamku dan beristirahat !!" ucap Hanna.
" Baiklah, aku akan langsung pulang, dan besok mungkin Aji yang akan mengantarmu bekerja, aku ada meeting " sahut Siwan.
" Ah... baiklah " ucap Hanna lalu melanjutkan makan malamnya.
Beberapa menit berlalu, kini Hanna sedang mengantarkan Siwan hingga di depan pintu.
" Tidak usah mengantarku, aku takut kau menghilang lagi " ucap Siwan, menahan Hanna agar tidak keluar dari rumahnya.
Sebetulnya begitu banyak pertanyaan di kepala Hanna saat itu. Hanya saja, dia berusaha untuk menahan dulu semuanya karena ia tahu, Siwan pasti lebih lelah di banding dirinya.
" Ahjussi, terima kasih banyak ya, maaf aku selalu merepotkan mu !!" Hanna memeluk Siwan dan terbenam di dadanya. Aroma musk begitu menenangkan di hidung Hanna. Aroma yang selama ini selalu ia hirup saat bersama Siwan. Ia jadi tergila - gila oleh bau parfum Siwan selama ini.
Siwan mengelus rambutnya lalu mencium keningnya.
" Maafkan aku, semua ini salahku, kau jadi terbawa dalam lingkaran gelap duniaku, tapi, akan ku pastikan kau tidak akan mengalaminya lagi " ucapan Siwan terdengar biasa saja di telinga Hanna. Namun tidak bagi Siwan, dia seakan sedang mengucapkan sebuah janji, mungkin lebih tepatnya salam perpisahan.
" Sudahlah, tidak apa ahjussi, kita masih bisa bertemu dan bersama lagi, aku juga baik - baik saja, masih sehat wal'afiat, aku yakin kau akan selalu melindungiku selain Tuhanku !!" ucap Hanna, semakin mempererat pelukannya.
Siwan mencium keningnya lagi, dan tanpa berkata - kata ia langsung pergi meninggalkan Hanna di ambang pintu.
Keesokan harinya....
Pukul 06.10 wita, Aji sudah berada di halaman rumah Hanna untuk mengantarkannya pergi bekerja.
" Bli, maaf ya merepotkan mu, padahal aku ingin pergi kerja sendiri saja " ucap Hanna.
" Sudahlah, ayo masuk " sahut Aji.
Kini Hanna dan Aji sedang berada di perjalanan menuju tempat kerja.
" Han, nanti pulangnya kalau bukan aku, mungkin Bram yang akan menjemput " ucap Aji.
" Bram, yang mana ya... ?" tanya Hanna.
" Yang kemarin menyetir mobil yang kita tumpangi, masih ingat ?" tanya Hanna.
" Owh... dia... iya aku masih ingat wajahnya, lagipula bli, aku pulang sendiri saja, kalian kan pasti sibuk banyak pekerjaan, nanti aku yang bilang sama ahjussi, ya... " ucap Hanna.
" Tidak, kau jangan cari masalah lagi, pacarmu pasti murka kalau kau pergi kemana - mana tanpa orang yang dia percaya, kau jangan mempersulit kami, oke !!" Aji tersenyum, tapi Hanna merasa tertekan oleh perkataannya.
" Apa aku sekarang bagai burung nuri dalam sangkar ?" gumam Hanna lalu menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya kasar di udara.
Sesampainya di tempat kerja..
Setelah menyimpan tas di dalam loker, Hanna langsung menuju ruang personalia karena sudah di tunggu oleh Rama dan Satria selaku kepala personalia.
Tok.. tok.. tok..
" Masuklah " suara Satria terdengar dari balik pintu.
Hanna masuk lalu duduk di hadapan Satria dan Rama.
" Kau baik - baik saja kan ?" tanya Rama.
" Alhamdulillah pak, saya, benar - benar minta maaf karena kemarin saya absen tanpa pemberitahuan sebelumnya !!" Hanna menundukkan kepalanya.
" Kami sudah tahu, seseorang datang kemari memberitahu dan memperlihatkan bukti - bukti penculikanmu malam itu !!" ujar Satria.
" Apa, siapa ?" tanya Hanna merasa heran.
" Seseorang yang di tugaskan kak Wan. Emh... tapi maaf, kami tetap harus memberikanmu sanksi, hanya pemotongan jatah cuti selanjutnya, kami mohon maaf karena ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan !!" ucap Satria.
" Saya pikir malah saya dapat sp 1 ( surat peringatan ), tidak apa pak, saya memakluminya " ucap Hanna merasa lega.
" Kamu baru pertama kali mangkir, kalau hal seperti ini terus berulang, misalnya izin tanpa keterangan atau pelanggaran lainnya baru kamu akan kami beri sp 1 " Satria menjelaskannya dengan santai.
" Baiklah, hanya itu yang mau kami sampaikan, tolong ke depannya lebih berhati - hati lagi !!" ucap Rama.
" Han, kau tahu, di luar sana mungkin saat ini banyak orang yang sedang mengintaimu, kau tahu kenapa, karena kau menjadi titik kelemahan Siwan kali ini, aku hanya berharap kau tidak akan mengalami hal semacam ini lagi ke depannya, berhati - hatilah !!" ucap Satria, mengakhiri percakapan pagi mereka.
Sepanjang waktu, saat sedang bekerja, Hanna menjadi tidak fokus karena ucapan Satria tadi pagi. Ia bahkan kedapatan sedang melamun oleh beberapa rekan kerja lainnya.
Saat sedang istirahat makan siang, Hanna baru bisa menceritakan semuanya pada Melly dan Teguh.
" Oh... pantes, ini toh masalahnya !!" ucap Melly.
" Susah ya, kalau berhubungan sama mafia, eh... maksudku gengster, eh bukan begitu, aduh gimana ini, jangan salah paham ya Han... " Teguh menyesali ucapannya sendiri.
Hanna tidak terlalu menghiraukannya, ia malah melamun sambil mengaduk - aduk mie ayam yang sudah hampir dingin.
" Udah lah Han, pasrah aja, aku yakin Tuhan akan melindungi mu lewat tangan pacar Korea mu itu, tenang saja, setelah kejadian ini, dia pasti bakal lebih extra jagain kamu 24 jam meskipun dari jarak jauh, gila, ampe pasang cctv di sekeliling rumah, protektif banget dia selama ini " ucap Melly, sempat menyadarkan lamunan Hanna.
" Iya, aku baru tahu pas tadi pak Rama sama pak Satria liatin buktinya ke aku kak, ahjussi tahu aku di culik dari rekaman itu " sahut Hanna.
" Dunia dia seperti apa sih sebenernya, jadi penasaran gue.. !!" ujar Teguh.
" Entahlah... selama ini, kayanya masih banyak yang belum aku ketahui, dia seolah sengaja menutupinya, tapi, sebagian sih aku tahu, sedikit demi sedikit dia kadang cerita, tapi selebihnya, ah.. sudahlah, aku jadi sedih sendiri, aku jadi ngerasa dia belum sepenuhnya percaya sama aku, padahal semua tentangku, kehidupanku, dia tahu semuanya !!" ucap Hanna.
" Sabar sayangku, mudah - mudahan ke depannya dia lebih terbuka lagi sama kamu, dan, kamu yakin bisa berlapang dada menerimanya dan menjalaninya ? persiapkan dirimu mulai dari sekarang, kalau memang kau mau bertahan dengan om Korea mu itu !!" Melly menepuk bahu Hanna.
Beberapa jam kemudian...
Aji kembali untuk menjemput Hanna. Dia menunggu di tempat penjemputan seperti biasa.
" Katanya Bram yang jemput !!" ucap Hanna yang berjalan mendekat pada Aji.
" Kau bosan padaku ?" tanya Aji.
" Cih... sudahlah, ayo masuk !!" ucap Hanna.
Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Hanna. Namun, di perempatan sebelum belok ke area komplek, Hanna mengajak Aji untuk makan bersama di luar.
" Bli, makan di luar yuk, di depan sana ada rumah makan enak loh... " ucap Hanna.
" Hemh... gak asik, bosen, suasana rumah lagi rumah lagi, pengap tau !!" Hanna menggerutu.
Aji pun akhirnya menuruti kemauan Hanna. Senyum tercetak jelas di wajah wanita bernama Hanna Anjani yang sedang duduk di samping mobil pengemudi nya.
Di rumah makan yang nampak begitu ramai di sore hari, Hanna dan Aji untungnya masih mendapatkan kursi meskipun letaknya di sudut ruangan lantai dua rumah makan tersebut.
" Mulai darimana ya.. " gumam Hanna.
" Bli, ahjussi masih meeting ? dimana dia sekarang ?" tanya Hanna di sela waktu saat menunggu pesanan tiba.
" Kau tanyakan sendiri saja !!" ucap Aji ketus.
" Ish.. hpku lowbat, lupa di cash semalam !!" " tapi boong " Hanna terkekeh di dalam hatinya.
" Meeting nya sudah selesai satu jam yang lalu, mungkin masih survey lokasi, sepertinya dia tidak akan pulang dalam dua hari, begitu katanya " ucap Aji dengan santainya.
Hanna terlihat kecewa mendengarnya. Ia memajukan bibirnya hingga terlihat seperti bebek.
" Dia bahkan tidak memberitahu ku, jadi, dia anggap aku ini apaaaaaaaaa..... ?" gerutu Hanna.
" Hey... hellow... kau tidur atau melamun " Aji menjentikkan jarinya di depan muka Hanna.
Ternyata makanan pun sudah terhidang di atas meja. Sefokus apa Hanna melamun hingga ia tidak menyadari saat pramusaji datang ke meja mereka.
Selesai makan, Hanna sengaja tidak buru - buru mengajak pulang, dengan alasan dia terlalu kenyang, kalau langsung berjalan nanti perutnya bisa sakit.
" Bli, boleh ku tanyakan sesuatu ?" Hanna mulai memasang mode bak reporter yang siap mewawancarai orang di hadapannya.
" Apa ?" jawab Aji dengan malas.
" Sebenarnya alasan penculikanku kemarin apa ? aku berhak tahu, karena aku terlibat, kalian tidak boleh merahasiakannya dariku !!" tukas Hanna.
" Sudah kuduga, pasti dia akan bertanya hal ini " gumam Aji, menyelidik wajah Hanna yang nampak penasaran.
" Oke, kalau tidak mau memberitahuku, aku pulang sendiri saja, tidak usah mengantarku, bye !!" ucap Hanna yang berdiri dari kursinya lalu melangkah pergi dengan perlahan. Sepertinya dia sengaja, dia berharap Aji menariknya untuk duduk kembali dan menceritakan semuanya.
Tapi, dasar Aji yang tidak peka, ia malah menatap punggung Hanna yang semakin menjauh.
" Ih... dasar, gak peka banget sih " ucap Hanna perlahan, lalu mempercepat langkahnya dengan rasa kesal menderu di dadanya.
Sebelum menuruni tangga, Hanna sempat menoleh pada Aji. Ia memberi isyarat dengan tangan bahwa Aji yang harus membayar semua pesanan makanan mereka. Setelah itu Hanna melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa.
" Cih... lucu sekali " Aji tertawa, namun seketika ia kembali teringat bahwa perasaannya tidak boleh kembali goyah di buat Hanna.
Aji pun turun dan menuju kasir lebih dahulu untuk membayar pesanan mereka tadi.
Di parkiran, dia sudah tidak melihat Hanna di sekitarnya, ia pun bertanya pada petugas parkir tentang Hanna, dan kebetulan sang juru parkir masih mengingat Hanna yang memang baru keluar dari area rumah makan tersebut.
Aji pun langsung masuk ke dalam mobil untuk menyusul Hanna.
Dan, beberapa meter di depan, Hanna sedang berjalan dengan gontainya sepanjang trotoar jalan di sore hari.
Tidditt....
Aji membunyikan klakson berbarengan dengan membuka kaca jendela sebelah kirinya.
" Han, ayo masuk... !!" seru Aji.
Hanna hanya menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
" Han, ayolah... jangan begitu, nanti aku jawab deh pertanyaan kamu yang tadi " ucap Aji sambil menjalankan mobilnya perlahan.
" Janji... !!" Hanna menghentikan langkahnya.
" Yup... !!" Aji pun menghentikan mobilnya agar Hanna bisa masuk ke dalam mobil.
Saat Hanna masuk ke dalam, Aji langsung menjalankan kembali mobilnya.
Sesampainya di depan rumah...
" Han, cerita di sini saja ya... !!" ucap Aji menahan Hanna yang hendak turun dari mobil.
Hanna pun kembali duduk di posisinya semula. Dan Aji mulai menceritakan duduk permasalahan yang terjadi tempo hari.
Jadi, Reno, suami Ayu, seorang pemakai obat terlarang, semenjak dia mulai menggunakan barang haram tersebut, rumah tangganya bersama Ayu di ambang kehancuran. Dia jadi sering marah - marah, banyak menuntut Ayu untuk menjadi istri impiannya, dan mulai menggila saat ia sering mabuk dan bermain wanita.
Suatu hari, Ayu mendapati Reno membawa sebuah tas berisi puluhan kilo barang haram tersebut ke rumahnya.
Ayu merasa kesal lantaran mengetahui bahwa suaminya pun menjadi seorang pengedar barang tersebut.
Ayu menyembunyikan nya, namun ia hanya berkata bahwa ia telah membuang semua barang tersebut.
Reno yang kalap semakin menjadi gila dengan menyiksa Ayu. Namun Ayu tidak pernah menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada siapapun. Ia selalu menutupi bekas luka yang ia dapat serapat mungkin. Ia masih berharap Reno mau berubah dan rumah tangga mereka terselamatkan.
Setelah di selidiki, ternyata barang haram tersebut milik Richard Lee, dan Reno terus di tagih oleh Richard tentang uang hasil penjualan barang itu. Namun Reno yang awalnya berkelit bahwa barangnya belum laku terjual pun akhirnya mengakui bahwa barang tersebut hilang, atau entah memang sudah di buang oleh istrinya.
Reno di ancam oleh Richard agar mengganti semua barang yang ia hilangkan mau berupa uang ataupun barang lagi.
Reno pulang dalam keadaan mabuk dan menyiksa istrinya agar dia mau mengganti semua barang yang telah ia hilangkan dengan uang. Namun Ayu menolak, ia berkata bahwa semua aset dan uang yang dia miliki sudah di simpan di bank dan ia tidak mau menggantinya.
Reno yang semakin kesal karena nyawanya terancam oleh Richard pun semakin beringas. Terlebih lagi saat itu Siwan sudah mengetahui segala aksi kejinya pada istrinya. Dan di tuntut agar segera menceraikan Ayu.
Dia tidak mau menceraikan Ayu karena dia masih belum bisa melunasi hutangnya pada Richard. Reno kembali menemui Ayu dalam keadaan mabuk dan menyiksanya hingga terkapar. Luka di tubuhnya yang belum sembuh sepenuhnya kini ia tambah dengan Luka baru. Saat itu untung kejadiannya pagi hari, saat Ayu sedang tidak sendiri. Arya dan karyawan lainnya menjadi saksi kekerasan fisik yang Reno lakukan terhadap istrinya.
" Jadi, mister Lee itu seorang mafia narkoba, lalu kenapa kalian tidak melaporkan nya ? atau jangan - jangan kau dan ahjussi pun... " ucapan Hanna terpotong.
" Cih... jangan suudzon ya, kami tidak berbisnis dalam bidang tersebut, percayalah !!" ucap Aji.
" Lalu, kenapa tidak melaporkannya pada polisi ?" tanya Hanna kembali.
" Kau pikir mudah, kau pikir urusan dengan seorang bandar narkoboy akan selesai dengan hanya melaporkan nya pada polisi, hemh... tidak semudah itu ferguso... " Aji tertawa sesaat.
" Cih, memangnya aku seekor anjing apa " Hanna cemberut. Namun kembali bertanya.
" Lalu, barang yang kalian bawa kemarin, darimana kalian mendapatkannya, apa itu palsu ?" tanya Hanna.
" Kalau barang yang kita bawa kemarin palsu, kau pasti akan melihat perang di depan mata kepalamu sendiri !!" jawab Aji dengan raut wajah serius.
" Hih... ngeri, jadi yang kemarin asli ternyata " ucap Hanna dengan lemas, dan, seketika merasa tertohok " apa... sebanyak itu, darimana ? kalau di ganti dengan uang, berapa banyak uang ?" Hanna mengerutkan kedua alisnya.
" Ternyata Ayu tidak membuangnya, dia menyembunyikan sementara di tumpukan karung terigu di area dapurnya di lantai dua, kalau di ganti dengan uang mungkin sekitar ratusan juta bahkan hingga 1 M " ucap Aji dengan santainya.
" What, 1 M, hanya beberapa kilogram bisa sampai 1 M " ucap Hanna terkejut.
" Ya itu perkiraanku saja, maaf yaa aku tidak tahu pastinya soalnya belum pernah bergelut di dunia barang seperti itu, lagi pula itu puluhan kilo kali, kau pikir tas kemarin muat berapa kilo " ucap Aji.
" Tapi aku melihatnya cuma tas kecil kemarin, apa salah lihat ya " sahut Hanna.
" Matamu sudah harus kau periksa ke dokter, lagi pula kemarin sisanya temanku simpan langsung ke gudang, yang aku bawa hanya sampel saja " tukas Aji.
" Owh... begitu rupanya !!" Hanna mulai paham dan tidak banyak bertanya lagi.
" Ah, aku haus " Aji mengeluarkan satu botol air mineral berukuran kecil dari dasbord mobil lalu meneguknya hingga habis.
" Terima kasih banyak ya, sudah menceritakan semuanya padaku !!" Hanna tersenyum pada Aji.
Aji yang masih belum meneguk habis air di mulutnya hampir tersedak melihat senyum manis Hanna yang begitu menggemaskan di matanya.
" Sudah ya, aku mau mandi dulu, bye... " Hanna buru - buru turun dari mobil karena tahu Aji sedang salah tingkah di buatnya.