
Pagi harinya, cahaya lembut masuk menyinari sebuah kamar yang menjadi saksi kehangatan dan cumbu mesra antara dua anak manusia. Cahaya mentari pagi di sela - sela tirai yang tidak tertutup dengan sempurna menerobos masuk melalui jendela.
Pagi itu, Hanna sudah terbangun dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, dia sibuk memakai skincare rutinnya dan riasan wajah berusaha terlihat se natural mungkin. Setelah itu dia mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecilnya. Dia lupa tidak membawa hairdryer.
Setelah menyisir rambutnya, Hanna kembali menuju ke atas ranjang, dia mendekati kekasihnya yang masih tertidur lelap, tapi tidak bermaksud membangunkannya.
Kedua mata Hanna menatap wajah Siwan yang tertidur pulas. Dia berpikir, " apa yang menyeramkan dari wajahnya, lihatlah, betapa polosnya dia saat tertidur, seperti seorang anak laki - laki biasa, yang bisa bertingkah polos dan manja, yang selalu mengharapkan kehangatan dan sentuhan dari ibunya." Ucap Hanna di dalam hati.
Bahkan hanya sorot tatapan matanya saja yang tajam yang selalu di iringi oleh kerutan kedua alisnya di wajahnya, tapi saat dia tersenyum, tidak ada sedikitpun kesan garang atau menyeramkan seperti yang pernah ia dengar dari beberapa orang.
Hanna masih menatap wajah polos Siwan saat tertidur, dia mengelus lembut pipi kekasihnya itu, kumis dan janggut tipisnya membuat dia terlihat sangat manly, dia sangat cocok menjadi ayah bagi anak - anaknya kelak. Pikiran itu terbesit di benaknya, dia benar - benar ingin mewujudkannya, tapi, apakah bisa mereka bersama selamanya ? Tiba - tiba raut wajah Hanna menjadi muram ketika memikirkan hal itu.
Dan, seketika, Siwan mulai membuka matanya, dengan tatapan lemah dia menoleh ke arah wajah Hanna yang sedang berada sangat dekat dengannya.
" Good morning, ahjussi !!" ucap Hanna lalu mengecup pipi kekasihnya itu.
Siwan tersenyum senang dengan perlakuan kekasihnya itu. Dia menarik kekasihnya dan memeluknya sangat erat dalam dekapannya.
" Emh... harum sekali, kau sudah mandi rupanya. " Siwan mencium wangi sabun sekaligus parfum dari tubuh kekasihnya itu.
Hanna terbangun dari pelukan kekasihnya,
" Iya, ahjussi, kau juga cepat mandi, ini sudah pagi !!" ucapnya.
Dan Siwan pun tersenyum lalu terbangun perlahan, menatap jam dinding yang berada di tembok atas di depannya, lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, kini Siwan dan Hanna sudah berada di meja makan, mereka sedang menunggu sarapan pagi yang tengah di siapkan oleh chef di sana.
Hanya mereka berdua yang nampak sudah bangun pagi dan keluar dari kamar. Sedangkan yang lainnya, belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
Lalu mereka berdua memutuskan untuk sarapan tanpa menunggu yang lainnya. Baru, setelah mereka selesai makan, datang lah Aji, dengan matanya yang masih sembab, dia berjalan menghampiri meja makan dan duduk di kursi samping Siwan.
" Kenapa tidak bangunkan aku ?" ucap Aji pada mereka berdua yang sedang menatapnya.
" Aku tidak mau mengganggu tidur nyenyakmu !!" jawab Siwan. Dan Aji tidak mengeluarkan kata - kata lagi, dia hanya sibuk menyendok makanan di piringnya ke dalam mulutnya.
Aji memang orang yang tidak terlalu banyak bicara bagi Hanna, tidak seperti Austin yang cerewet seperti seorang emak - emak, entah mungkin karena dia seorang dokter yang pekerjaanya selalu menasihati para pasiennya.
Tidak lama kemudian, datanglah Austin dan Patricia menghampiri mereka bertiga di meja makan.
" Hello everybody.... ' selamat pagi kakak ipar' Austin menatap Hanna, "kalian sarapan tidak menunggu kami" ucap Austin lalu duduk di kursi samping Aji.
Hanna tidak menjawab sapaan Aji, dia hanya fokus pada Patricia yang duduk di sampingnya dengan rambut basah seperti baru selesai mandi dan keramas.
" Bagaimana tidurmu, nyenyak ?" tanya Patricia pada Hanna sambil mengisi piringnya dengan menu sarapan pagi dan nasi.
" Lumayan.. Hihi.. " jawab Hanna singkat.
" Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Austin menatap Hanna.
" Tidak, kebetulan aku libur setiap hari kamis, untungnya tidak ada perubahan jadwal. " Jawab Hanna.
" Wah... bagus, bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke laut, snorkeling, diving, scuba, banana boat, surfing, sepertinya seru... " ucap Austin penuh semangat.
" Tidak mau, di laut dan pantai pasti penuh wisatawan, lain kali saja. " Aji menyahut Austin.
" Iya, betul, lagi pula kaki Hanna belum benar - benar pulih, nanti saja. " Ucap Siwan.
" Yah.. kalian tidak asik. " Austin cemberut sambil menyendok makanan ke mulutnya.
Hanna dan Patricia ikut tersenyum melihat tingkah Austin.
" Aku mau berenang disini saja." Sahut Patricia, " Aji, kau bawa kamera tidak? fotokan aku ya, aku baru membeli bikini baru. "
Aji menatap Patricia penuh semangat, " tentu saja, jangan khawatir, aku membawa kamera baru ku. " Ucap Aji merasa bangga.
" Wah... ide bagus", menatap Patricia, dan "aku juga mau di foto ya, bli" beralih menatap Aji.
" Of course !!" Aji mengacungkan kedua jempolnya.
Siwan dan Austin hanya diam diantara obrolan mereka, apalagi Austin, dia menyantap makanan sambil cemberut dan menggerutu. " Tidak asik.. huh.. !!" tanpa di hiraukan oleh yang lainnya.
Selesai makan, mereka berkumpul di ruang tengah, Aji sibuk menonton tv, Siwan dan Austin asik mengobrol dan Hanna dan Patricia, mereka sedang sibuk bertukar informasi seputar dunia sosial media, fashion dan lifestyle yang sedang menjadi trend masa kini.
Sekitar pukul 11.00 Wita, para wanita sedang sibuk bersiap - siap di kamar, sesuai rencana awal mereka akan pemotretan di pinggiran kolam lalu setelah itu mereka akan berenang.
Selesai memakai baju renang, Hanna mengetuk kamar Patricia, dan pintu kamar pun terbuka, Pat mempersilahkan Hanna masuk ke dalam kamarnya.
" Kenapa kamu menutup badanmu, santai saja, kita kan sama - sama perempuan." Ucap Patricia pada Hanna.
" Aku malu, aku jarang memakai pakaian sexy seperti ini. " Lalu Hanna membuka sehelai kain pantai berukuran besar yang menutupi tubuhnya sedari tadi.
" Ish.. kamu bilang itu sexy.." Pat menatap Hanna dari ujung rambut ke ujung kaki. " Aku masih ada bikini baru, belum pernah ku pakai tapi sudah ku cuci bersih, mau ?" tanya Pat sambil mengeluarkan barangnya dari koper miliknya.
" Apa... tidak... " Hanna merasa terkejut melihatnya. " Tidak Pat, terimakasih ya, aku tidak sanggup memakai nya" Ucap Hanna sangat yakin. Lalu meringis melihat barang yang Patricia tunjukan padanya, hanya sebuah bra bertali tipis dan celana dalam segitiga super mini dan tipis, seperti milik anak bayi saja pikirnya. Itu bahkan lebih sexy dari yang di pakai Patricia saat itu.
" Kau sudah memakai sunscreen ?" tanya Patricia sambil mengoleskan sunscreen nya ke tangan, tubuh dan kaki nya.
" Sudah Pat, merek nya sama seperti yang kau punya." Jawab Hanna.
" Ini memang merek terbaik menurutku, bisa tolong oleskan di punggungku, area belakangku sangat terbuka, harus di taburi sunscreen juga. " Pat menyerahkan botol krim tabir surya miliknya.
Setelah Selesai, mereka bergegas menuju kolam renang. Di sana, sudah ada Aji yang siap dengan kameranya, dan Siwan yang sedang duduk di gazebo bersama Austin yang sedang memainkan gitarnya.
" Oke, girls, are you ready ?" tanya Aji.
" I'm ready, boy." Jawab Patricia.
Hanna tidak menjawab, dia hanya menghela nafas, mengumpulkan keberaniannya untuk membuka kain penutup tubuhnya itu. Dan, " Kau saja duluan, aku, nanti saja.. " ucap Hanna. Lalu berjalan menuju samping Aji untuk melihat kamera yang sudah berdiri tegak memakai kaki penyangga. " Wah, kameramu bagus, ini baru ?" tanya Hanna pada Aji.
" Yups, aku baru membelinya sebulan lalu. " Ucap Aji yang sudah bersiap memotret Patricia di sebrangnya yang sudah bersiap dengan gayanya.
Patricia ternyata seorang model di negaranya, dan dia sering tinggal di Bali pun karena menyusul Austin, hubungan mereka sudah lama ternyata, sudah hampir 8 tahun, dengan berkali - kali melewati moment putus nyambung.
" Aku istirahat dulu, mana lihat hasilnya. " Patricia menghampiri Hanna dan Aji yang berada di belakang kamera.
" Waw, Pat, kau terlihat keren, lihat lah ini. " Hanna mengajak Patricia melihat hasilnya.
" Sekarang giliranmu, ayo.. " ucap Patricia memberi semangat pada Hanna. " Tenang saja, aku akan memberi arahan untukmu, nanti pasti kau akan mendapatkan gambar yang bagus di kamera." Patricia terus meyakinkan Hanna untuk lebih percaya diri di depan kamera.
Masalahnya, bukan Hanna tidak percaya diri untuk bergaya di depan kamera, tapi, itu karena pakaian renang yang dia pakai saat itu. Ini bahkan pertama kalinya dia memakainya, dia memang sengaja membelinya, tapi dia tidak berniat memakainya di hadapan para pria, sekalipun itu Siwan, pacarnya. Dia membelinya untuk di pakainya nanti saat acara liburan bersama para sahabatnya.
Setelah menarik nafas panjang dan membuang nya secara kasar, dia mulai memberanikan diri membuka kain pantai yang sedari tadi menutupi badannya itu.
Seketika, tatapan mata Aji berubah menjadi tatapan kagum pada apa yang dia lihat di depannya.
Di sisi lain, Austin yang sedang bernyanyi dan memetik gitarnya pun tiba - tiba berhenti, pandangannya tertuju ke arah Hanna yang sedang berdiri di depan kamera dengan pakaian sexy nya.
Siwan yang sedang fokus memegang hp pun merasa curiga saat Austin menepuk pundaknya berkali - kali, dan saat dia menatap ke depan, dia melihat kekasihnya sedang mulai bergaya dengan arahan Patricia di sebrangnya. Sontak Siwan langsung terperanjat dan berjalan terburu - buru menghampiri mereka bertiga.
Seketika Aji yang terus menatap Hanna dengan tatapan kagum berubah menjadi tatapan gelap dan dingin, ada sepasang mata yang balik menatap tajam ke arahnya.
" Sedang apa kau?" Siwan memiringkan kepalanya menghalangi Aji dari tatapan liarnya pada Hanna.
" Ah.. maafkan aku kak, aku, hanya terkejut melihat pacarmu seperti itu. " Aji menunjuk Hanna yang sedang berdiri di belakang Siwan.
" Ada apa, ahjussi ?" Hanna bertanya penuh kepolosan.
Siwan menoleh pada Hanna dengan kerutan di keningnya, kedua alisnya beradu, menatap tajam Hanna dengan tatapan marah.