My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Curiga part 2



Satu jam kemudian


Hanna sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya, matanya sudah terbuka, tapi posisinya tetap tidak berubah, posisinya masih meyamping ke arah kanannya dengan di tutupi oleh selimut.


Dia berniat untuk membuka selimutnya, tapi seketika mengurungkan niatnya saat dia mendengar Aji mengangkat telepon dari seseorang.


" Hallo, kak. " Suara Aji walaupun pelan tapi tetap terdengar dari kejauhan.


" Iya, dia masih tidur, bagaimana, sudah beres semuanya ?" tanya Aji.


Hanna merasa sangat penasaran, apakah mungkin yang menelpon nya itu adalah Siwan, kekasihnya.


" Lalu, bagaimana, apa masih bisa di atasi ?"


Hanna semakin curiga, matanya melotot, kening dan alisnya mengernyit.


" Baiklah, biar aku saja dengan pasukan yang menangani nya. Kau cepat kemari saja sebelum pacarmu bangun. " Ucap Aji.


" Ternyata benar, yang menelpon nya ahjussi." Ucap Hanna di dalam hati.


Setelah Aji menutup telponnya, terdengar suara langkah kakinya berjalan mendekati Hanna. Lalu, Hanna pun memejamkan matanya kembali, pura - pura tertidur. Dia pikir Aji akan menyingkapkan selimutnya di muka Hanna, tapi ternyata tidak, dia sepertinya hanya mengambil beberapa slice brownies di meja dekat ranjang Hanna. Karena terdengar oleh Hanna suara Aji yang berbicara dengan mulut penuh oleh makanan.


" Emh.. brownies ini enak ternyata. " Ucap Aji.


Hanna yang mendengar nya bisa bernafas dengan lega, dia lalu pura - pura baru terbangun dan menggeliatkan badannya.


Saat membuka selimutnya, ternyata Aji sedang duduk di kursi dekat dengan ranjangnya.


" Tidak usah pura - pura, aku tahu kau sebenarnya sudah bangun daritadi. " Ucap Aji.


Mata Hanna terbelalak mendengar perkataan Aji.


" Kau bicara apa sih, bli ?" ucap Hanna dengan suara sayup.


" Itu, jatah makan siangmu sudah dingin, makanan nya datang saat kau tidur. Perutmu kosong, kau mau makan apa, biar nanti aku suruh seseorang membelinya dan mengantarkannya kemari. "


" Emh.. tidak apa, aku makan itu saja,mubazir tahu. " Ucap Hanna.


" Serius ? "


" Iya, cepat tolong kemarikan saja. " Ucap Hanna.


Lalu Aji melangkah menuju meja di dekat sofa, mengambilkan makan siang dari rumah sakit yang sudah di antar perawat satu jam yang lalu.


Saat sedang makan dengan lahap, Aji merasa aneh melihat Hanna bisa memakan makanan rumah sakit yang sudah dingin itu dengan lahap.


" Kau kelaparan ya ?" tanya Aji.


" Tenaga ku terkuras sepertinya saat tadi aku menjerit - jerit sampai berkeringat. " Hanna berkata dengan mulut penuh makanan.


" Tapi aku tidak mendengar ada suara jeritan dari luar tadi. "


" Itu karena perawat menyumpal mulutku dengan gulungan kain handuk supaya tidak berisik."


" Pantas saja. Emh... lalu, apa kau tidak mau tau kemana perginya pacarmu ?"


Pertanyaan Aji sebenarnya adalah pertanyaan yang ingin ia sampaikan padanya, tapi Hanna berusaha agar tidak terlihat seperti ingin tahu urusan orang lain.


" Memangnya, kalau aku menanyakan nya, kau akan menjawabnya secara jujur ?" tanya Hanna menatap Aji.


" Kau sangat pintar rupanya, pantas saja, kak Wan tergila - gila padamu, ternyata kau memang bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain." Jawab Aji membuat Hanna tersipu malu.


Hanna terdiam, dia hanya fokus makan karena lapar.


" Tapi, apa kau tidak penasaran dengan kehidupan pacarmu yang sesungguhnya ?" tanya Aji kembali.


" Tentu saja aku mau tahu semuanya, tapi, untuk apa kalau dia sendiri tidak mengizinkannya, itu sama saja dengan pelanggaran hak privasi seseorang, dan lagi aku bukan wartawan atau reporter."


" Jawaban yang sangat cerdas, padahal aku dengan senang hati loh memberitahu mu, tapi, yasudah kalau tidak mau. " Ucapan Aji membuat Hanna ingin menarik kata - katanya kembali.


" Tapi tunggu, hanya satu pertanyaan, boleh kan, pliss... " tanya Hanna mengacungkan satu jarinya di dekat matanya.


Hahahaha.... Aji pun tertawa mendengar nya.


" Emh... apa ahjussi punya pacar selain aku saat ini?" tanya Hanna.


" Tidak. " Jawab Aji singkat.


" Hei... katamu hanya satu pertanyaan." Ucap Aji.


" Ayolah... satu lagi, pliss.... " Hanna kembali mengacungkan telunjuknya di dekat matanya.


" Pernah, seorang model, cantik dan sexy. " Tangan Aji memperagakan lekukan ala - ala gitar Spanyol.


" Oke, terimakasih." Hanna langsung melanjutkan kembali melahap makan siangnya sambil cemberut.


Aji tergelitik melihat tingkah lucu Hanna.


" Kau ini, ada - ada saja. " Ucap Aji yang tidak di hiraukan oleh Hanna.


Tidak lama kemudian, datanglah Siwan, dengan membawa satu buket bunga yang lebih besar dari buket yang di bawa oleh Austin kemarin.


" Maaf, aku terlalu lama. " Siwan menghampiri Hanna dan memberikan buket bunga bawaannya.


" Wah, terima kasih ya, ahjussi." Hanna tersenyum sebentar lalu kembali cemberut lagi dan membereskan nampan makan siangnya.


" Sini, biar aku saja yang menaruhnya keluar." Ucap Aji lalu membawa nampannya keluar kamar.


" Ada apa? apa kau marah padaku?" tanya Siwan, menyadari ada sesuatu yang berbeda pada raut wajah kekasihnya itu.


" Tidak, aku biasa saja. " Ucap Hanna lalu meneguk segelas air putih.


" Hei, kau pikir aku tidak tahu, raut wajahmu yang berbicara padaku bahwa kau sedang kesal. " Ucap Siwan mengelus rambut Hanna.


" Hehe.. aku tidak kesal.. " Hanna tersenyum dengan terpaksa lalu kembali cemberut.


" Kau tidak senang dengan bunga pemberian ku, tapi kau sangat senang dengan bunga pemberian Austin. " Perkataan Siwan menusuk telinga Hanna.


" Bukan begitu, aku tidak kesal padamu. Aku, hanya kesal pada pikiranku sendiri. Itu saja. " Ucap Hanna.


" Sudah ku katakan, jangan berpikir negatif terus, belum tentu apa yang kau pikirkan itu benar adanya. " Ucap Siwan sambil mengelap mulut Hanna dengan tissue karena terlihat basah oleh air minumnya.


" Iya baiklah, aku lupa. Kau sudah makan siang ?" tanya Hanna sambil tersenyum.


" Sudah, tadi sempat makan di luar saat Aji memberitahu ku kalau kau sedang tidur. Maaf ya, aku pergi begitu saja tanpa pamit. "


" Tidak apa - apa, aku mengerti." Seketika semua pikiran negatif dan rasa kesalnya gara - gara obrolan nya dengan Aji menghilang saat tiba - tiba Siwan mencium kening Hanna.


Lalu Hanna menceritakan proses terapinya tadi pada Siwan. Dan tiba - tiba dia teringat pada Aji.


" Ahjussi, bli Aji kemana, apa dia pulang ?" tanya Hanna.


" Aku menyuruhnya pergi makan saat aku kembali kemari. " Ucap Siwan yang terduduk di atas ranjang, di samping kekasihnya.


" Emh... lalu, apa ahjussi pulang ke rumah? mengganti bajumu ?" tanya Hanna kembali.


" Ah.. ini.. tidak, aku selalu membawa beberapa baju ganti di bagasi, aku mengganti nya di mobil. Ah.. aku belum mandi, apa aku bau ?" tanya Siwan mencium bau badannya sendiri di dalam kaosnya.


" Apa kau sedang menyindirku, harusnya aku yang berkata seperti itu. Badanku berkeringat, aku belum sempat mengganti bajuku." Hanna cemberut.


" Baiklah, kalau begitu mau ku bantu menggantinya ?" Siwan menggoda kekasihnya.


" Ih... apa sih... tolong bawa aku ke kamar mandi saja, aku akan menggantinya disana. Aku juga ingin buang air kecil. " Ucap Hanna.


Lalu Siwan menggendong kekasihnya itu ke kamar mandi, sebelumnya dia sempat membantu Hanna memilihkan baju ganti di dalam lemari. Dan menjadi momen memalukan bagi Hanna saat Siwan membantu memilihkan pakaian dalam milik kekasihnya itu. Siwan menggoda kekasihnya itu dengan cara berpura - pura mencoba memakai bra milik Hanna yang berukuran besar. Hanna malu bukan kepalang, menutup wajahnya yang merah sambil marah - marah manja pada kekasihnya itu.


Setelah selesai mengganti pakaian dan menggosok giginya, Hanna lalu membuka pintu kamar mandi perlahan. Siwan yang sudah bersiap menggendong nya di tolak oleh Hanna.


Hanna ingin berjalan saja, dan dia pun mencoba untuk berjalan perlahan di bantu oleh Siwan, dia ingin bisa terus berjalan walau rasanya masih sakit, tapi Hanna terus mencoba membiasakannya, melatihnya terus supaya otot di sekitar kaki kirinya tidak kaku. Dia mencoba berjalan terus dan perlahan di dampingi oleh Siwan.


Beberapa menit Hanna berkeliling kamar dan akhirnya berhenti karena merasa lelah menahan nyeri di kakinya. Dia pun kembali terduduk di atas ranjangnya.


Terlihat keringat bercucuran di pelipisnya, Siwan membantu mengelapnya dengan tissue.


" Ahjussi, aku ingin mandi, tapi dokter belum mengizinkanku, karena luka di kaki ku belum boleh terkena air. Aku sudah lengket, padahal barusan aku sempat menyeka tubuhku dengan sedikit air dan sabun. Dan ini, rambutku, aku ingin menggaruknya terus menerus tapi aku menahannya karena malu."


" Sabar ya, emh... tapi kau bisa hanya mencuci rambutmu, mau ku bantu ?" tanya Siwan.


" Benarkah, apa kau bersedia membantuku ?" Hanna terlihat senang, ternyata kekasihnya mengerti apa yang di inginkannya.


" Baiklah, ayo kita pergi ke kamar mandi lagi. " Siwan kembali menurunkan Hanna dari ranjangnya, dan mereka berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Sebenarnya, Hanna bisa saja melakukannya sendiri, hanya saja, dia tidak kuat terlalu lama berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan tangan pada besi yang menempel pada tembok. Sedangkan dia harus memegang selang shower untuk mencuci rambutnya itu.