My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Satu kebaikan



Beberapa jam berlalu, kini Austin sedang berhadapan dengan Patricia di dalam sebuah ruangan sempit, tempat kunjungan para tahanan di kantor polisi.


Austin menatap wajah Pat yang terlihat berantakan, wajah yang biasa ia tatap penuh keceriaan, cantik dan menawan, kini berubah menjadi wajah muram, kusam, mata merah dan bengkak karena entah berapa lama dia terus menerus menangis meratapi kesedihannya dan hidupnya yang kini menjadi berantakan.


" Pat, are you okay ?" tanya Austin.


" I'm okay." Jawab Pat singkat namun terus menghindari tatapan dari Austin.


" Ayo, kita pulang Pat." Ucap Austin.


Seketika Pat merasa heran, kenapa dia berkata seperti itu.


" Aku lebih baik disini saja." Jawab Patricia.


" Bukankah kita berjanji untuk saling melindungi, meskipun kita hanya sebagai teman." Ucap Austin.


Seketika, Pat langsung menangis tersedu - sedu. " I'm sorry, just leave me alone, please !!" seru Pat pada Austin.


Lalu, Austin pun pergi meninggalkan Pat sendirian di dalam ruangan. Dan dia menghampiri Siwan, Aji dan Hanna yang sedang menunggu di luar.


" Bagaimana keadaannya ?" tanya Aji.


" Buruk, dia masih nampak seperti bukan dirinya. Aku tidak bisa menemuinya lagi. Aji, tolong kau urus dia, aku tidak sanggup menatap wajanya lagi." Ucap Austin lalu masuk ke dalam mobil.


Dan, kini Aji dan Siwan yang masuk ke dalam kantor polisi, mereka akan menjemput Pat untuk pulang. Sedangkan Hanna, dia menyusul Austin masuk ke dalam mobilnya.


Pat hanya di tahan satu malam, karena dia hanya melakukannya secara spontanitas, lagi pula, Siwan meminta bantuan orang dalam yang kenal dengannya di kantor polisi, sehingga akhirnya Pat bisa bebas bersyarat.


Di dalam mobil, Hanna dan Austin hanya berdiam diri di kursi masing - masing. Hanna sedang asik berbalas pesan dengan ibunya di Bandung, memberitahukan bahwa besok dia baru bisa pulang kesana karena harus mengurus beberapa hal bersama temannya di Jakarta.


Sedangkan Austin, dia hanya bersandar pada kursi, dia memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.


" Aku sungguh tidak menduga semua akan seperti ini." Ucap Austin secara tiba - tiba membuat Hanna terkejut.


" Ku pikir kau sedang tidur. " Jawab Hanna.


" Aku tidak bisa tertidur dalam situasi seperti ini, Hanna, apa kau sudah mendapat kabar dari Siska ?" tanya Austin.


" Belum kak, hpnya masih belum bisa di hubungi, lalu, apa kau tidak berniat mendatangi keluarganya, siapa tahu mungkin dia memang ada di rumahnya. " Ucap Hanna.


" Tidak, adiknya menelponku, dia mengatakan bahwa Siska pergi entah kemana, membawa kopernya." Jawab Austin.


" Apa mungkin dia kembali ke Bali ?" tanya Hanna.


" Mungkin, biarkan saja, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengannya. Kini aku merasa lega, ternyata anak di dalam perutnya memang bukan anakku." Ucap Austin menghela nafas lalu membuangnya perlahan.


" Apa kau mencurigai seseorang ? maksudku, apa selain denganmu, kak Siska terlihat dekat dengan pria lain ?" tanya Hanna.


" Aku juga, setahuku, dia sudah tidak ada kontak apapun dengan mantan pacaranya, pria yang pernah dekat dengannya hanya Rayhan, tapi itu pun selalu ada aku yang berada di antara mereka, aku yakin A Rey tidak mungkin berbuat seperti itu, mabuk pun dia mana berani. Aku yakin seratus persen bukan dia, emh.. tapi, ahjussi pernah bilang padaku, dia pernah melihat Siska dan Aji makan bersama di sebuah restoran di Bali, bahkan ahjussi pikir saat itu bli Aji yang akan menikah dengan kak Siska." Ucap Hanna menatap Austin yang berada di kursi belakang.


" Aji ?" Ucap Austin dengan wajah sedikit penasaran.


" Apa ? kenapa menyebut namaku ?" tiba - tiba Aji sudah berada di ambang pintu luar mobil yang sedang mereka tumpangi, dan dari belakang terlihat Pat dan Siwan mengikutinya.


Hanna dan Austin terkejut dan refleks menatap Aji. Lalu mereka saling berpandangan kembali.


" Kenapa kalian ? sedang menggosipkanku ya ? wajah kalian seperti orang yang sedang terciduk seperti itu. " Ucap Aji lalu membuka pintu mobil belakang.


" Ah, tidak, kau jangan suudzon begitu, kita hanya sedang berdiskusi tentang orang terdekat kita, begitu kan kak Os.. " Hanna menatap Austin dan mengedipkan matanya sebelah seolah memberi isyarat untuk tidak membocorkan obrolan di antara mereka tadi.


" Iya, kami hanya berdiskusi." Sahut Austin.


" Hanna, kau pindah ke belakang, temani Pat duduk disana !!" seru Aji menunjuk kursi paling belakang.


" Oke !!" tanpa pikir panjang Hanna langsung turun dari kursi depan.


Di luar, dia menyambut Pat dengan pelukan dan senyuman.


" Ayo, kita pulang, tersenyum lah !!" Ucap Hanna pada Pat. Dan Pat hanya membalasnya dengan sedikit senyuman.


Aji duduk di kursi depan samping pak supir, di tengah, Siwan dan Austin, lalu di kursi belakang, Hanna dan Patricia. Mobil mereka melaju menuju villa.


Sesampainya di villa, Hanna membantu Pat membersihkan dirinya, dia meminjamkan beberapa potong baju dan membantu merias wajah Pat agar terlihat segar dan cantik kembali dengan beberapa make up yang di bawanya.


" Aku baru tahu, ternyata mereka tidak jadi menikah." Ucap Pat yang saat itu akan di olesi lipstik oleh Hanna.


" Takdir, tidak akan ada yang tahu bagaimana Tuhan menuliskannya untuk kita." Ucap Hanna.


" Apakah tidak bisa memiliki keturunan juga merupakan sebuah takdir ?" tanya Patricia menatap Hanna penuh kesedihan.


" Kak, kau pernah melewati masa kesedihanmu dulu kan saat pertama kali mengetahuinya, betul kan ? kau kuat dan tegar bisa bangkit kembali. Dan kali ini pun, kau harus tetap kuat dan tegar menerima semua takdir ini, Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan pada umat-Nya di luar kemampuan umat-Nya. Kau, pasti bisa menjalani hidupmu lebih baik lagi. Anak hanyalah karunia, mereka hanya titipan, mungkin, Tuhan akan menitipkan seorang anak untukmu, lewat rahim orang lain kelak." Ucap Hanna yang mencoba memberi kekuatan untuk Patricia.


" Terima kasih banyak ya, kau masih mau memberiku dukungan, padahal aku ini seorang kriminal." Ucap Patricia.


" Tidak, kau tidak boleh berkata seperti itu. Lupakanlah semuanya, setidaknya, kau sudah bisa memberikan satu kebaikan di balik semua kejadian ini. Kau paham kan maksudku ?" Hanna menatap wajah Pat.


Patricia menganggukan kepalanya lalu memeluk Hanna yang sedari tadi sudah terduduk di sampingnya.


" Iya, setidaknya, satu kebaikanmu, bagi orang terkasihmu, membuatnya gagal dalam pernikahan di depan matanya, sebuah pernikahan yang di awali dengan kebohongan, yang akan menghancurkan kehidupannya, membuatnya kecewa dan bersedih hati di kemudian hari. Kau sudah menyelamatkan Austin dari semua itu. " Ucap Hanna di dalam hatinya saat memeluk Pat untuk beberapa saat.


" Sudahlah, ayo sekarang kita keluar, kau pasti lapar kan ? jangan sampai kau jatuh sakit." Ucap Hanna lalu menarik lengan Patricia agar mau keluar dari kamar.